Yesus

Yesus sebagai tokoh etika
Terdapat isu kalau sejarah yesus disimpangkan. Gospel penuh dengan kontradiksi dan non-sekuitur, namun apa yang jelas yesus tidak lakukan adalah menyatakan dirinya sendiri sebagai messiah – orang lain cenderung menganggapnya messiah (paling jelas adalah Saul dari Tarsis).
Lebih jauh, bahkan bila yesus mengklaim sebagai anak tuhan, tidaklah cukup jelas (hampir mustahil) kalau ia akan percaya kalau ia suci –faktanya, dalam beberapa ayat, ia menolaknya dengan jelas. Jadi bahkan bila ia adalah messiah yahudi, tidak ada alasan menganggapnya mengklaim kesucian. Dan messiah (bahkan yang dibangkitkan) adalah dua sisi mata uang. Bukan salah yesus kalau pengikut-pengikutnya menyimpangkan bukan hanya pesan dan etikanya, namun pribadinya sendiri.
Yesus adalah yahudi, mengikuti tradisi Galilean Hasid (baca "Jesus the Jew" oleh Geza Vermes untuk lebih lanjutnya). Ia bukan orang pertama yang memiliki gagasan ini, namun ia tampak menarik hati masyarakat. Faktanya, bila ada (menurut injil) yesus menerima tantangan pembuktian, dan dengan ibarat Samaritan yang baik adalah jelas kalau agama baginya sepenuhnya tidak penting; etika kita pada sesama manusia yang penting.
Yesus mesti diselamatkan dari Kristen, apakah oleh yahudi atau ateis itu masih pertanyaan. Dengan mengatakan kalau ia adalah orang yang baik lebih dari cukup.
Bila yesus hidup di masa kita, ia pastinya ateis.
Yesus dapat disetarakan dengan kong hu cu, Buddha atau lao tzu sebagai tokoh pembaharu moral. Penafsiran humanis atas hidup yesus adalah mungkin. Perlu hati yang sangat mulia bila mati demi orang lain.
Menolak yesus sebagai tuhan tidak ada hubungannya dengan menerima beliau sebagai guru. Guru menyampaikan apa yang telah diajarkan kepadanya dan memberi tambahannya pada generasi selanjutnya. Yesus lebih dari baik dalam melakukan ini, bila ia disalah kutip hingga pada titik pembaca masa kini tidak mampu memahami konteks sesungguhnya yang sesungguhnya diajarkan yesus 2000 tahun lalu, itu karena injil telah berulang kali di tulis ulang. Yesus tidak dapat disalahkan untuk itu.
Dipercaya oleh kaum teis kalau yesus akan kembali di masa kini untuk membersihkan apa yang telah diperbuat orang pada namanya, dari gereja katolik hingga fundamentalis sayap kanan. Bila benar kalau yesus akan kembali, maka yesus akan memilih ateis sebagai masyarakatnya.
Yesus memang tidak setara dengan orang super baik lainnya seperti Mahatma Gandhi (bukan Bunda Teresa yang beriman). Ateis berhutang pada yesus untuk memisahkan etika radikal dan murni beliau dari omong kosong supernatural yang meliputinya. Dan mungkin ini akan memicu meme super kebaikan dalam masyarakat pasca-kristen.
Bagi Romawi dimasanya, yesus adalah ateis, karena tidak percaya pada tuhan-tuhan mereka.
Tentu saja yesus adalah teis, namun itu hal yang tidak terlalu menarik. Ia merupakan teis, karena dimasanya, semua orang teis. Ateisme bukanlah pilihan, bahkan untuk pemikir yang begitu radikal seperti yesus. Apa yang menarik mengenai yesus adlah fakta yang tidak jelas kalau ia percaya pada tuhan agama yahudinya, namun ia memberontak melawan banyak aspek keburukan dari Yahweh. Paling tidak dalam ajaran yang diatributkan kepadanya, ia secara public mengajak pada kebaikan dan yang pertama kali melakukan hal itu. Bagi mereka yang berpijak pada kekejaman mirip-syariah dari Leviticus dan Deuteronomy; bagi mereka yang ketakutan dari tuhan mirip-ayatollah dari ibrahim dan ishak, seorang pendeta karismatik muda yang mengajak pada ampunan yang baik mesti tampak radikal hingga titik penghianatan. Tidak heran kalau pemerintah memakunya.
Kita dapat membaca gospel, membuang semua supernaturalisme dan demonology dan muncul dengan gagasan kalau yesus adalah reformer idealistic dan pencinta mereka yang tertindas.
Yesus tampaknya wafat tanpa menulis sebuah buku atau mengumpulkan pengikut yang banyak (dua belas yang sepenuhnya, mungkin beberapa lusin pengikut biasa dan beberapa dadakan), jadi mudah untuk membuat rekayasa atas dirinya dalam beragam cara.
Yesus adalah individu dengan rasa kasih yang besar; pejuang sejati perdamaian di bumi, dan pendukung kuat orang miskin dan menderita yang terlalu sering diabaikan oleh masyarakat maju.
Pandangan mengenai yesus dan ajarannya yangdipegang oleh orang-orang yang mengenalnya secara pribadi (12 rasul) telah disimpangkan oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu atau memahaminya dan ajarannya (dari Paul hingga Constantine hingga sekarang).
Ada tiga tahap berbeda dalam perkembangan sejarah yesus dan ajarannya (dalam injil dan dokumen lain).
Tahap awal adalah yang dijelaskan oleh orang yang punya hubungan pribadi dengan yesus (12 rasul dan pengikutnya, Ebionites).
Tahap kedua disajikan oleh paul, yang mempelajari kekristenan darinya (perlu diingat kalau paul tidak pernah bertemu dengan yesus, namun mengklaim [seperti halnya David Koresh dan Jim Jones] dikunjungi oleh yesus dalam sebuah visi).
Tahap ketiga adalah usaha untuk mempermulus perbedaan antara para pengikur rasul asli dengan pengikut paul, dengan menjadikan paul seolah diterima oleh rasul asli sebagai rasul yang setara (Nyata dalam kitab kejadian yang ditulis teman Paul, Luke).
Carl sagan mengatakan kalau kitab perjanjian baru menjadi hasil kompromi antara agama yesus dan agama paul dalam suratnya ke Ken Schei.
Keyakinan dari ebionites adalah:
Mereka percaya adanya satu tuhan saja, dan menolak ketuhanan yesus. (Irenaeus, Tertullian, Hippolytus)
Mereka melaksanakan hukum Musa (versi yang telah diperbaiki oleh yesus) sebagai sayarat untuk pengorbanan (Hippolytus, Eusebius)
Mereka menolak kelahiran yesus dari perawan (Irenaeus, Tertullian, Hippolytus, Eusebius, Epiphanius)
Mereka percaya kalau yesus hanya manusia biasa. (Irenaeus, Tertullian, Hippolytus, Eusebius, Epiphanius)
mereka mengatakan kalau yesus mendapat pangkat anak tuhan setelah memenuhi sebuah hukum (Hippolytus, Epiphanius)
Mereka mengklaim kalau yesus adalah nabi sejati (Epiphanius)
Ebionites menjelaskan pertarungan doktrin yang muncul setelah kematian yesus antara para rasul awal dengan paul mengenai ketuhanan yesus.
Rasul awal mengirim pesan ke gereja paul memberi tahunya kalau paul mengajarkan doktrin yang salah (yang disebut “rasul istimewa" [2 Cor 11:5] yang dikatakan paul kalau itu adalah dirinya sesungguhnya adalah rasul asli (Peter dan John, dan James saudara Yesus)
Saat para rasul asli tampak akan menang, Romawi menaklukkan Yerusalem dan rasul asli (bersama sebagian besar populasi yahudi) bertebaran ke gurun.

Yesus bukan tokoh etika
Ateis yang menolak yesus menganggap kalau sebaik apapun ia, ia tetap produk teis yang ilusif. Mereka juga menyangkal kalau yesus memiliki etika yang bagus. Ia menyebut wanita yang bukan bangsanya sebagai anjing dan menolak menyembuhkannya, dan hanya mau setelah wanita itu memohon dan meratap.
Yesus versi injil ini bahkan lebih buruk dari tuhan yahudi, karena membawa konsep neraka ke dalam injil dan mengenai hari kiamat pula. Yesus versi injil ini mengajarkan kalau ketidak yakinan kepadanya akan membawa pada siksaan di Gehenna/neraka. Yesus versi injil juga mengajarkan konsep setan, dengan gagasan iblis dan kiamat. Ini bukan ibarat atau simbolik tapi dianggap benar-benar nyata.
“Lakukan apa yang ingin orang lain lakukan kepada anda” merupakan ungkapan yang bagus, tapi telah ada jauh sebelum yesus.
Selain itu, yesus mungkin merasa kalau ia terpanggil untuk melakukan pekerjaan tuhan dalam apa yang ia katakan, seperti jutaan orang religius lainnya yang menghuni planet kita. Dengan kata lain, yesus juga berkhayal.
Doktrin yang dinisbahkan kepada yesus bukanlah etika tapi kemunafikan.
Bila tidak ada tuhan maka yesus jelas telah berbohong saat ia mengklaim sebagai anak tuhan. Bila hukum fisika tidak berubah maka jelas yesus, baik sendiri maupun lebih mungkin bersama-sama, berbohong saat ia mengklaim telah melakukan mukjizat seperti penyembuhan, kebangkitan dan berjalan di air dan mukjizat lainnya.
Studi yang serius pada apa sesungguhnya yesus membawa pada tiga kesimpulan yang mungkin: Ia pembohong, orang gila yang berilusi, atau sang messiah, putra tuhan. Dalam pandangan ini adalah konyol kalau mengambil posisi kalau yesus hanyalah seorang guru dan figur yang baik. Dan ateis semestinya tidak mendukung yesus.
Ateis yang mengklaim mendukung yesus dapat diuji dengan menemui beliau di depan umum lalu memukul pipi kirinya, maukah ia berputar kemudian menyerahkan pipi kanannya juga? Tentu tidak. Ia akan berusaha mempertahankan diri, atau melaporkan pelaku kepada polisi dan menuntutnya.
Kenapa kita memanggil pembohong ini “Guru yang baik” dan mengapa atas nama nalar, rasionalitas dan kemanusiaan seorang yang bermoral –ateis atau teis - mengatakan mereka untuk yesus?
Yesus adalah pemimpin sekte. Kelompoknya menunjukkan semua karakteristik sekte berbahaya. Filosofi pasif dan penyerahannya, mungkin bagus dalam membantu orang yang sangat sombong dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang anda menciptakan tentara budak yang pasif. Adalah tidak bagus membawa pada kebaikan ekstrim.
Mengatakan kalau bila yesus hidup sekarang, ia akan menjadi ateis sama artinya dengan mengatakan kalau yesus hidup sekarang, ia tidak akan percaya dengan keberadaan dirinya sendiri. Mengatakan kalau ateis mendukung yesus sama artinya dengan vegetarian yang mendukung tempat pemotongan sapi. Kontradiktif.

Pendapat yang netral terhadap yesus
Ateis yang berpandangan ini menganggap kalau yesus hanyalah tokoh imajiner yang tidak terbukti ada. Dalam pandangan sains (dalam hal ini, kebenaran sejarah) mesti dikatakan kalau kita tidak dapat lagi membicarakan mengenai yesus sebagai tokoh sejarah bila kita jujur secara intelektual pada diri sendiri. Buku berjudul "Did Jesus Ever Live?" karya L. Gordon Rylands dicetak tahun 1930an sangat menarik untuk dikaji.
Wacana ateis yang mendukung yesus diajukan sebagian ateis dengan memandang kalau yesus adalah tokoh nyata, sementara wacana kalau yesus mencintai ateis memandang kalau yesus adalah tokoh fiksi.
Yesus bukan hanya tidak ada, namun ia jelas bukan model peran etika modern yang baik.

Kenyataannya, Yesus tidak ada.
Di kitab perjanjian lama tidak ada petunjuk mengenai adanya yesus. Mereka “yang dijanjikan” dalam perjanjian baru sebenarnya adalah penguasa dunia yahudi. Menyatakan ini meramalkan yesus adalah konyol karena sangat mengambang. Thomas Paine, penulis besar revolusi amerika menunjukkan ketidak-relevan-an ini dalam bukunya An Examination of the Prophecies, di Bab III The Age of Reason.
Perjanjian baru terbagi atas dua tipe dokumen: surat dan biografi belum jadi (gospel). Kategori ketiga tulisan yang memuat kitab wahyu, juga ada, namun tidak membahas sejarah yesus. Faktanya, jelas tampak kalau ia adalah fosil intelektual yahudi yang dikerjakan ulang demi kepentingan Kristen. Karakter utama kitab ini adalah domba, mahluk astral yang muncul dalam visi (tidak diragukan lagi kalau ia imajiner), dan kitab itu penuh dengan astrologi purba.
Nama yesus muncul tujuh kali dalam seluruh kitab, kristus hanya empat kali, dan yesus kristus hanya dua kali. Sementara Wahyu kemungkinan besar diperoleh dari periode paling awalnya (berbeda dengan pandangan sebagian besar sarjana injil, yang berurusan dengan kitab hanya pada bentuk finalnya), yesus jelas bukan manusia. Ia mahluk supernatural. Ia tidak memiliki sifat metabolisme dan fisiologis yang dapat kita baca di gospel. Yesus dalam kitab wahyu adalah tuhan yang kemudian dijadikan manusia – bukan manusia yang dijadikan tuhan, sebagaimana sarjana religius liberal yakini.
Gospel sendiri tidak berasal dari masa Kristen awal. Walau dikatakan penulisnya Matthew, mark, Luke dan john, kata-kata “menurut Matthew” dll baru ditambahkan hingga akhir abad kedua masehi. Jadi, walau Papias ca. 140 M mengetahui semua gospel namun hanya mengenal Matthew dan Mark, Justin Martyr (ca. 150 M) tidak mengenal keempat pengarang itu. Hanya tahun 180 M, dengan Irenæus of Lyons, kita belajar siapa yang menulis keempat gospel dan menemukan tepat ada empat sesuai dengan empat bagian bumi dan empat angin semesta. Hanya bila kita menerima argument Irenæus yang konyol ini, kita dapat menyimpulkan kalau pengarang dan asal dari gospel adalah misterius, dan tidak ada alas an yang bagus untuk menganggap mereka adalah saksi mata atas orang bernama Yesus dari Nazareth. Minimal, ini memaksa kita memeriksa gospel untuk melihat isnya apakah sesuai kalau ia ditulis oleh saksi mata. Kita bahkan tidak dapat menganggap masing-masing gospel memiliki satu pengarang atau redaktur.

Adalah jelas kalau gospel Matthew dan Luke tidak mungkin ditulis oleh saksi mata dari dongeng yang mereka ceritakan. Kedua penulis mencontek (kata demi kata) hingga 90% dari gospel Mark, dimana mereka menambahkan kata-kata Yesus dan detil sejarah palsu. Mengabaikan fakta kalau Matthew dan Luke berkontradiksi satu sama lain dalam detil kritis seperti silsilah keluarga yesus – dan berarti keduanya tidak mungkin benar sekaligus- kita mesti bertanya mengapa saksi mata sejati mesti mencontek seluruh ceritanya, dengan menambahkan sedikit kata-kata saja. Seorang saksi mata sejati semestinya memulai ayat dengan mengatakan “sekarang, saya akan menceritakan kepada anda semua kisah yesus sang messiah yang sesungguhnya….”. dengan begini kisahnya akan unik. Adalah signifikan kalau hanya dua gospel ini yang menceritakan mengenai kelahiran, masa anak-anak dan leluhur yesus. Semuanya dapat diabaikan karena tidak sesuai karena tidak sah tanpa perlu panjang lebar. Akibatnya kita tidak tahu apa-apa tentang masa kecil dan asal usul yesus.
Lalu bagaimana dengan gospel Mark, gospel tertua? Bentuk finalnya ada pada 90 M namun memuat materi inti sejak 70 M, yang memuat seluruh biografi tradisional yesus, dimulai dari kisah dimana John sang pembaptis memandikan yesus dan berakhir –pada manuskrip tertua – dengan wanita-wanita yang lari ketakutan melihat kuburannya yang kosong. (Pasca kebangkitan dilaporkan pada 12 ayat terakhir Mark dan tidak ditemukan pada naskah yang lebih tua). Sayangnya Mark bukan orang palestina dan bukan dari 12 rasul sehingga detail sejarah yang ia sajikan tidak dapat dipercaya.
Hal ini terbukti kalau Mark tidak memahami situasi social di palestina. Ia jelas orang asing yang terpisah jauh dari kejadian yang ia ceritakan. Sebagai contoh dalam mark 10:12, ia mengatakan kalau yesus mengatakan bila seorang wanita menceraikan suaminya dan menikahi yang lain, ia telah berzinah. G. A. Wells, penulis The Historical Evidence for Jesus mengatakan kalau hal demikian tidak ada artinya di palestina, karena hanya laki-laki yang bisa menceraikan perempuan.
Bukti lain ketidak sahan Mark adalah fakta kalau di bab 7, dimana Yesus berdebat dengan kaum farisi, yesus mengutip versi Septuagint yunani dari yesaya untuk menang dalam debat. Sayangnya, versi yahudi mengatakan berbeda dari yunani. Yesaya 29:13, dalam bahasa Hebrew berarti “rasa takut mereka atas ku adalah perintah manusia yang belajar” sementara versi yunani mengatakan “mereka menyembahku dengan kesulitan, mengajarkannya sebagai doktrin untuk manusia”.
Argument kuat lain yang menolak Mark sebagai saksi mata keberadaan yesus adalah pengamatan kalau pengarang Mark menunjukkan ketidakpahamannya atas geografi palestina. Bila ia benar-benar tinggal di palestina, tentunya ia tidak akan membuat kesalahan-kesalahan dalam gospelnya. Bila ia tidak pernah tinggal di palestina, ia tidak dapat menjadi saksi mata yesus.
Kesalahan geografi paling fatal yang dilakukan Mark adalah saat ia bercerita tentang Yesus yang menyeberangi laut Galilee dan mengusir setan dari manusia (dua orang dalam versi Matthew) dan membuat setan itu pergi ke dalam kerumunan sekitar 2 ribu babi dimana, sebagai mana versi Raja James sebutkan, “sehingga semua babi itu lari dengan begitu kencang hingga sampai ke tepi laut yang curam dan tercebur kedalamnya.”
Raja james mengatakan kalau kejadian ini berlangsung di Gadarenes, sementara naskah yunani mengatakan terjadi di Gerasenes. Luke mengatakan hal yang sama karena tidak tahu geografi palestina. Matthew yang mengetahuinya, merubah namanya menjadi Gadarene, namun di versi raja james malah diganti menjadi Gergesenes.
Gerasa, tempat yang disebutkan dalam naskah tertua mark berada 31 mil dari pantai laut galilee. Tidak mungkin babi dapat berlari sejauh itu. Dan bila kecuraman adalah paling tidak 45 derajat, maka itu akan membuat ketinggian gerasa paling tidak enam kali ketinggian gunung everest.
Saat pengarang Matthew membaca versi mark, ia melihat kemustahilan kalau yesus ada di gerasa saat itu (yang juga merupakan bagian Negara lain, yang dikenal sebagai Decapolis). Karena satu-satunya kota yang lebih dekat ke laut galilee yang ia tahu berawalan G adalah Gadara, ia merubah Gerasa menjadi Gadara. Tapi bahkan Gadara masih lima mil dari pantai – dan juga di Negara lain. Penyalin naskah yunani selanjutnya dari ketiga gospel pengusir babi (Matthew, mark dan Luke) merubah Gadara menjadi Gergesa, daerah yang sekarang benar-benar menjadi bagian dari pantai timur laut galilee. Anda lihat dimana letak kejujuran para penulis ini?
Gospel John bahkan lebih konyol. “Di awalnya adalah kata, dan kata itu dengan tuhan, dan kata itu adalah tuhan,” pembukaan gospel itu. Tidak ada bintang Bethlehem, tidak ada kelahiran perawan, tidak ada petunjuk kalau yesus memakai popok: roh murni dari awal. Gospel John adalah yang terakhir dari semua gospel yang sah. Dibuat tahun 110 M. Sehingga mustahil kalau penulis merupakan saksi mata saat Yesus hidup.
Ketidaksahan Gospel John akan tampak jelas dengan penemuan kalau pada bab pertama penulis mengklaim sebagai “murid yang dicintai Yesus” [John 21:20] yang ditambahkan kemudian. Para sarjana mengatakan kalau gospel ini sesungguhnya berakhir di bab 20 ayat 30-31. bab 21 dimana ayat 24 mengatakan “inilah murid yang menjadi saksi hal ini, dan menulis hal ini: dan kita tahu kalau kesaksiannya benar” – bukanlah karya saksi mata. Seperti banyak hal lain dalam injil, ia kebohongan. Kesaksian tidaklah benar.
Bukti selain perjanjian lama dan gospel yang diajukan adalah surat-surat saint Saul. Namun seperti telah disebutkan, saint saul atau paul tidak pernah bertemu dengan yesus dan hanya bertemu lewat visi.
Menurut G.A. Wells, surat-surat Paul sepenuhnya tidak bercerita tentang kejadian yang kemudian di catat dalam gospel sehingga menunjukkan kalau Paul tidak mengetahui peristiwa ini, yang, bila ia tahu, tidak mungkin ia tidak perduli dengan kejadia-kejadian luar biasa itu.
Bagaimana dengan sumber-sumber Yahudi? Penulis Talmud (abad ke4 dan ke5 M) tidak memiliki pengetahuan independent mengenai yesus dibuktikan oleh fakta kalau mereka menyertakan dua orang lain yang keduanya tidak mungkin yesus yang dimaksud. Tidak ada yesus yang lain yang dapat mereka kenali daru gospel yesus yang dikenal mereka. Salah satunya, yesus ben Pandira, seorang pekerja terkenal yang dikatakan telah dirajam hingga mati lalu digantung di pohon pada fajar saat wafatnya penguasa Alexander Jannæus (106-79 SM) di Yerusalem. Yang satunya lagi, yesus ben Stada, yang masanya tidak pasti, namun kemungkinan hidup pada abad pertama atau kedua masehi, juga diraja dan digantung, namun di Lydda. Mungkin mereka bingung; namun ini jelas menunjukkan kalau para Rabbi tidak tahu apa-apa tentang yesus selain apa yang mereka baca dalam gospel.
Sumber lain yang diajukan apologis adalah Josephus, seorang Farisi dan Tacitus, seorang pagan. Karena Josephus lahir tahun 37 Masehi dan Tacitus 55 Masehi jelas mereka bukanlah saksi mata Yesus yang disalib tahun 30 masehi. Fakta kalau Josephus sendiri tidak dapat dijadikan sumber adalah pernyataan jelas dari gereja bapa Origen (154-185M ) – yang berurusan dengan Josephus – kalau Josephus tidak percaya pada yesus sebagai messiah, yaitu sebagai kristus. Lebih lanjut, kesaksian josephus tidak dipakai bahkan oleh apologis awal seperti Clement dari Alexandria (150- 215 M), yang jelas bakal menggunakannya bila ia tahu.Tapi tetap saja para Apologis, saat mereka mencoba meraih sumber untuk mendukung keberadaan yesus mengutip kesaksian josephus dalam Antiquities of the Jews.
Sekarang kita melihat pada Tacitus, kita menemukan kalau sejarawan Romawi ini menulis pada tahun 120 M sebuah pernyataan dalam bukunya Annals (buku 15, bab 44, memuat kisah mengerikan tentang pembantaian orang Kristen oleh nero) mengatakan “kristus, pendiri nama kristen, telah mendapatkan hukuman mati di masa kekuasaan Tiberius, dengan hukuman yang dilaksanakan oleh Pontius Pilatus…" G.A. Wells [hal 16] berkomentar adanya tiga alasan kenapa ini menunjukkan kalau Tacitus sesungguhnya mengulang apa yang orang Kristen katakan kepadanya. Pertama ia memberi title procurator pada pilatus yang sesungguhnya title itu baru ada pada paruh kedua abad pertama, dan title yang benar adalah prefect. Kedua, tacitus tidak menyebutkan kalau nama orang yang dihukum itu yesus, tetapi kristus yang berarti messiah, dan bukan nama. Ketiga tacitus tampak senang dengan Kristen padahal pemerintah romawi menolak keyakinan baru.
Apologis dapat mengatakan kalau ketiadaan bukti bukan bukti dari ketiadaan. Bayangkan kalau seseorang mengklaim kalau AS telah melakukan uji coba senjata nuklir di sebuah pulau di karibia tahun 1943. apakah ketiadaan laporan pengamatan awan jamur pada waktu itu adalah bukti ketiadaan atau ketiadaan bukti? (Ingat kalau karibia di masa perang dunia berada dalam banyak pengawasan berbagai pihak.) perlukah ke pulau itu sekarang dan memeriksa permukaannya dari kontaminasi radioaktif yang pasti ada disana bila ledakan nuklir terjadi? Bila ya, kita kesana dengan penghitung Geiger kita dan tidak menemukan jejak kontaminasi radioaktif, apakah itu bukti ketiadaan atau ketiadaan bukti? Dalam kasus ini, kita melihat ketiadaan bukti sebagai bukti yang sangat negative, dan dengan demikian sah kalau kita menyebutkan sebagai bukti ketiadaan. Bisakah bukti negative diatas mengenai Yesus dipahami.

catatan :
kadang di klaim kalau penyebaran luar biasa dari agama Kristen di kekaisaran romawi awal adalah bukti adanya yesus – bahwa gerakan demikian tidak akan begitu cepat bila tidak ada keterlibatan orang yang nyata. Argument yang sama dapat dibuat dalam kasus persebaran yang cepat dari mithraisme. Saya tidak menemukan adanya apopogis kriten yang mau mendukung gagasan mithra yang ada secara nyata!
Menariknya, ayat yang memalukan dalam gospel dimana yesus berbuat kasar pada ibundanya tampak diambil dari masa dimana pertarungan politik berkembang antara sekte yang diatur secara apostolic dan yang diatur oleh “anak-anak Tuhan,” yang mengklaim kalau mempunyai hubungan darah dengan yesus – dan demikian merupakan cucu tuhan. Politik apostolic penulis gospel tidak dapat menolak godaan untuk meletakkan para cucu ini kedalam ayatnya dengan menjadikan yesus tidak mengakui keluarganya sendiri. Bila yesus tidak memperhatikan keluarganya sendiri, apalagi keturunannya? Demikian argument mereka. Ini adalah satu-satunya penjelasan atas adanya ayat seperti John 2:4 ("Perempuan, apa lagi yang harus kuperbuat padamu?”) atau Mark 3:33 ("Siapa ibuku dan siapa cucuku?).

Semua tulisan diatas, dibawah subjudul kenyataannya, yesus tidak ada adalah terjemahan dari DID JESUS EXIST? Karya Frank R. Zindler dalam The American Atheist, Summer 1998.

Yesus dalam Injil

Jutaan orang mengklaim kalau mereka beragama Kristen, namun sedikit dari mereka yang tahu tentang hidup pendiri agama mereka, sesosok tokoh mitologis bernama yesus. Karena sejarah sekuler diam pada aktualitas sejarah hidup dan ajaran yesus, satu-satunya sumber informasi kita adalah injil. Dengan ini, mari kita periksa injil untuk melihat apa yang ia katakan tentang yesus.

“Bila aku [yesus] bersaksi atas diriku sendiri, kesaksianku tidaklah benar.” (John 5:31)

"Aku [yesus] bersaksi atas diriku sendiri…” (John 8:18)
Jadi, menurut kitab ini, yesus adalah saksi palsu.

"dan yesus sendiri mulai pada sekitar usia 30 tahun, anak dari yusuf, yang merupakan anak dari heli…"(Luke 3:23)
"Yesus menjawab mereka, apakah itu tidak tertulis di hukummu, aku katakan, kalian tuhan?” (John 10:34)
menurut kitab ini, yesus berpikir kalau hukum yahudi (yaitu perjanjian lama) melaporkan kalau ia mengatakan bahwa orang yahudi adalah tuhan.

"Mengenai anaknya yesus kristus tuhan kita, yang membuat benih daud sesuai dengan daging (Romans 1:3)

"dan aku [yesus] mengatakan padamu sahabat-sahabatku, jangan takut dengan mereka yang membunuh raga, dan setelah itu tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan." (Luke 12:4)

"Mereka mengambil batu untuk melemparinya: namun yesus bersembunyi, dan pergi ke kuil…" (John 8:59)

"Setelah ini semua Yesus berjalan di Galilee: ia tidak akan berjalan di Jewry, karena yahudi akan mencari untuk membunuhnya ." (John 7:1)
"Engkau menganggap aku daptang untuk membawa damai di bumi? Aku [yesus] beritakan, tidak; namun pembagian: untuk lima dalam satu rumah terbagi, tiga melawan dua, dan dua melawan tiga." (Luke 12:51-2)

"jangan berpikir kalau aku [yesus] datang membawa damai di bumi:Aku datang, tidak membawa damai, tapi membawa pedang." (Matthew 10:34)
"Aku [yesus] datang agar seorang laki-laki menentang ayahnya, dan anak perempuan menentang ibunya, dan menantu melawan mertuanya. Dan seorang sahabat harus memiliki rumahnya sendiri." (Matthew 10:35-6)
"Semua yang pernah datang kepada ku [yesus] adalah pencuri dan perampok”(John 10:8)
"Siapapun yang melakukan apa yang aku katakan, aku [yesus] akan menjadikannya orang yang bijaksana”(Matthew 7:24)“Dan bila mata kananmu menghina, cungkillah, dan buang dari depan: karena itu bermanfaat…" (Matthew 5:29)
"lalu terpenuhi [oleh yesus] yang dikatakan oleh nabi Yeremia…" (Matthew 27:9). Tapi sesungguhnya bukan yeremia, tapi zakaria yang membuat ramalan itu. Lihat (Zechariah 11:12)

"…dan akan terpenuhi apa yang diucapkan oleh apra nabi, ia [yesus] akan disebut Nazarene." (Matthew 2:23). Tapi tidak ada dalam perjanjian lama kalau yesus disebut Nazarene.
"aku [yesus] katakan padamu, generasi ini tidak akan berlalu, hingga semua ini [kiamat] terjadi." (Matthew 24:34, Mark 13:30, Luke 21:32)

"Dan siapapun yang meminta dalam doa, akan dikabulkan." (Matthew 21:22)
Para pengikut awal yesus meninggal sambil menunggu kiamat, bahkan sekarang, 2000 tahun kemudian, masih ada Kristen yang percaya kalau kiamat ada pada generasi mereka, dan kalau yesus akan memberi apa saja yang ia pinta dalam doa
Sahabatnya datang ke kuburan yesus, namun pintu batunya bergulir dan satu malaikat duduk diluar memberitakan sebelum mereka masuk. (Matthew 28:1-8)

sahabat-sahabat mereka datang ke kuburan, tidak menemukan siapapun, bingung, lalu dua laki-laki datang memberi berita. (Luke 24:1-4)
berita kebangkitan lainnya juga berbeda

Kisah injil mengenai yesus adalah kontradiktif dan membingungkan. Injil menunjukkan kalau yesus mengajarkan banyak hal yang absurd dan bodoh, dan sering merasa kalau ia berbicara dengan setan.
Kita diajarkan dalam kebudayaan kita kalau yesus adalah pahlawan suci, tapi kebudayaan lain memiliki penyelamat yang berbeda. Bila kita tinggal di kebudayaan lain, kita akan mendengar cerita penyelamat berbeda, bukan kisah yesus.
Yesus adalah mitos sama seperti semua penyelamat dan tuhan lainnya.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License