Tuhan

Tuhan adalah kekuatan tunggal atau jamak yang dipandang sebagai pencipta atau pengatur alam semesta. Dalam definisi ini maka tuhan berujud sebagai persona yang memiliki sifat-sifat yang sedikit banyak mirip dengan manusia. Dengan cara ini pula, hukum alam tidak dapat dipandang sebagai tuhan karena tidak memiliki kehendak sendiri.
Ateis bersikap skeptis untuk segala bentuk tuhan karena tidak adanya bukti keberadaan tuhan.
Berikut adalah daftar keberatan ateis yang menunjukkan kemustahilan beberapa sifat tuhan.

1. Tuhan yang Maha Adil

Hampir semua agama mengatakan kalau tuhan bersifat: “Lakukan ini, dan engkau akan menghadapi murka tuhan”. “Bertakwalah kepada tuhan, mintalah ampunan dan engkau akan selamat.” Adalah aneh kalau tuhan maha kuasa ingin dan membutuhkan pernyataan demikian dari ciptaanNya dan bahkan mengancam agar ciptaannya tunduk. Ini adalah tanda kalau kekuasaanNya telah lenyap dan kita, ciptaan Tuhan, tidak lebih baik daripada budak. Tuhan dikatakan memiliki kekuasaan besar karena telah menciptakan alam semesta dimana mahluk diciptakan dengan nafsu di dalamnya dan ia akan menghukum mahluk ini karena menuruti hawa nafsunya dan tidak meminta ampunan.
Maha kuasa atau tidak, tuhan manapun yang memilih mengatur mahluk yang ia ciptakan dengan cara demikian adalah tidak adil karena Dialah yang menciptakan mahluk dengan sifat demikian.

2. Tuhan yang mengatur moral manusia

Setelah keberatan di atas, apa yang memberi tuhan kekuasaan (kecuali kekuatan fisik) untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah bagi ciptaanNya? Tuhan mana yang mengatakan tindakan a, b, dan c itu salah dan harus dihukum dan tindakan x, y, dan z itu baik dan harus diberi hadiah?
Etika bersifat relatif. Kita tahu apa yang benar dan salah untuk diri kita, sejauh kita konsisten. Ada dua aksioma dasar etika: jangan perlakukan sesuatu kepada orang lain bila engkau tidak ingin diperlakukan demikian oleh orang lain, dan hanya lakukan apa yang engkau ingin agar orang lain lakukan pula kepadamu. Bahkan sebuah kekuatan yang lebih kuat dapat menghukum kita atas melakukan sesuatu yang ia tidak sukai, tidak ada landasan moral, etis atau logis untuk membalasnya.
Maka dengan ini, tidak hanya ateis keberatan kalau tuhan itu lebih berkuasa dari dirinya sendiri dan berarti meminta ketaatan ateis, namun ateis juga melihat kalau kekuatan (termasuk ciptaan ateis sendiri) tidak menjamin superioritas apapun atas seorang ateis pada tingkat etika.

3. Tuhan yang maha bertanggung jawab

Ini mengikuti keberatan moralitas di atas. Percaya kalau seseorang selain anda dapat menentukan apa yang benar dan salah bagi anda mendorong konformitas dan hilangnya tanggung jawab atas tindakan sendiri. Pertimbangkan konsep “pengampunan atas dosa seseorang”, dimana segala kesalahan telah lenyap dan anda mulai dari nol, keadaan suci/fitri, saat anda melakukan ritual tertentu, seperti puasa, atau memasuki agama tertentu, seperti kristen. Bagaimana ini dapat mendorong tanggung jawab pribadi atas tindakan seseorang? Bagaimana ini mendorong berpikir sendiri, menentukan cara yang sulit apakah itu benar atau salah, ketimbang sekedar melakukan apa yang disuapkan kepada anda?
Inilah mengapa Nietzche mengatakan “tuhan telah mati”, ia tidak bergembira namun bersedih atas fakta ini. Dengan kata lain, ada masa dimana konsep tuhan dapat bagus dalam menjaga manusia dalam jalurnya, namun saat ini, karena sebagian besar manusia mengikuti standar ganda, adalah lebih mudah membuang tanggung jawab dengan memakai tuhan sebagai alasannya.

4. Tuhan yang maha pengasih

Anggaplah kalau tuhan sebenarnya adil. Bila ini kasusnya, tuhan demikian paling tidak apatis, membuat segala kejahatan di dunia ini terjadi sementara ia tidak berbuat apa-apa untuk menghentikannya (kecuali tuhan memperoleh kesenangan dengan melihat penderitaan umat manusia, dimana dalam hal ini berarti tuhan itu kejam). Ini bukan hal buruk, namun menggambarkan kalau relevansi keberadaan tuhan dalam hidup kita mendekati nol dan tidak ada alasan untuk mempercayainya.

5. Tuhan yang maha mengetahui

Pada dasarnya keberatan ini sama dengan keberatan moral, tapi berlaku pada tingkat mendasar, pada kenyataan itu sendiri. Ini adalah penjelasan paling baik hati untuk keberadaan tuhan yang dapat kami berikan. Dalam penjelasan ini, tuhan tidak juga apatis atau tidak adil, tapi menciptakan alam semesta yang ia tidak mampu kendalikan.
Walau pengetahuan kita sangat sedikit dan apa yang kita tidak tahu itu tak terbatas, sains telah menunjukkan sesuatu yang jelas: pada tingkat kuantum, alam semesta ini non deterministik/acak. Ini adalah kesimpulan yang muncul bukan karena teori kuantum, namun dari fakta kuantum, yaitu, apa yang kita amati falam perilaku partikel kuantum. Dengan kata lain, bahkan kalau tuhan ada, tuhan telah menciptakan alam semesta yang tidak memiliki kendali deterministik. Einstein adalah salah seorang yang menolak gagasan ini dengan mengatakan tuhan tidak bermain dadu, walau ia adalah salah seorang yang menyumbangkan banyak ide yang membawa pada kesimpulan ini. Namun ada akhirnya Einstein salah dan tuhan memang bermain dadu.

Salah satu keberatan pada argumen di atas adalah itu tidak berlaku untuk tuhan, dan/atau kalau ada kenyataan deterministik yang kita belum ketahui. Sebagai contoh, bisa jadi kalau alam semesta adalah simulasi komputer besar dimana tuhan memasok keaakan pada kita lewat barisan acak yang tidak ditentukan (ditentukan, katakaanlah, oleh sumber alami keacakan dalam lingkungan tuhan dan disimpan pada alat tertentu). Bahkan bila ini kasusnya, masih menunjukkan kalau tuhan tidak punya kendali atas bilangan yang muncul. Tuhan akan tahu apa bilangan selanjutnya, tapi tidak mampu mempengaruhi perilaku partikel yang merupakan fungsi acak. Bila tuhan mempengaruhinya dengan mengganti barisan acak untuk menunjukkan kehendakNya, manusia tidak akan memandangnya sebagai accak. Jadi, bahkan kalau ada kenyataan deterministik dibalik dunia kuantum, determinisme pada tingkat kuantum adalah mustahil, bahkan untuk tuhan.

6. Tuhan yang maha mengendalikan

Keberatan mekanika kuantum di atas juga dapat dinyakatan sebagai keberatan kehendak bebas, didalamnya bila anda menganggap kalau kita punya kehendak bebas, maka Tuhan menciptakan alam semesta dimana ia tidak dapat mengendalikan perilaku manusia (perlu di ingat kalau kita tidak perlu menganggap partikel kuantum itu non deterministik dalam perilakunya). Tanpa melihat bagaimana pandangan kita, kesimpulan yang tak terelakkan adalah tidak ada alasan untuk percaya pada keberadaan atau relevansi Tuhan demikian. Tidak masalah lagipula.

7. Tuhan yang Maha misterius

Berkali-kali saat tipe keberatan ini diangkat, teis akan mengatakan kalau pikiran kita tidak akan mampu memahami tindakan tuhan yang maha kuasa; dengan kata lain, kita seperti semut yang ingin memahami perilaku manusia. Dalam peristiwa ini, Ateis berpendapat kalau bagi tuhan, kita juga seperti semut dengan manusia. Saat semut datang ke rumah kita, mereka dapat berdoa kepada saya sepanjang hari, tapi adik saya membunuh mereka secara acak tanpa perduli apakah semut itu baik atau jahat. Yang akan menjelaskan kenapa manusia "dihabisi" berkali-kali tanpa alasan yang jelas.

8. Tuhan yang Maha Pencipta

Yang ini sangat sederhana: siapa atau apa yang menciptakan Tuhan?

9. Tuhan yang Mesti disembah

Dengan anggapan kalau tuhan itu ada, sangat antroposentris dan mengganggu kalau memikirkan adanya tuhan maha kuasa menciptakan manusia agar manusia dapat menyembah dan memuliakanNya. Faktanya, ini benar-benar menunjukkan kegalauan manusia. Keberadaan manusia mungkin tanpa tujuan dan acak, dengan bakteri sebagai organisme pusat ketertarikan Tuhan, namun ssebagian besar manusia tidak akan senang dengan itu. Bahkan lebih jelasnya, konsep tuhan tidak akan ada bila manusia tidak ada, jadi tuhan adalah ciptaan antroposentris manusia (dengan diciptakan sesuai gambaran kita).

10. Tuhan yang Maha Abadi

Bila ada tuhan yang maha kuasa dan maha abadi, kenapa tuhan demikian perlu menciptakan sesuatu? Kesenangan? Kebosanan? Ketidak amanan? Ini akan mencerminkan kejiwaan aneh dari Tuhan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License