Tidak ada fosil transisi

Klaim:

Tidak ada fosil transisi. Evolusi meramalkan sebuah kontinum antara masing2 organisme fosil dan nenek moyangnya. Malahan, kita melihat celah2 sistematis dalam rekaman fosil.(Harun Yahya dalam bab 'TRANSITIONAL FORMS THAT NEVER EXISTED' pada buku 'THE TRANSITIONAL - FORM DILEMMA'

Sanggahan:

1. Ada banyak sekali fosil transisi. Satu2 alasan bahwa klaim Harun Yahya benar, selain ketidak peduliannya pada bukti yang ada, adalah mendefinisi ulang "transisi" menjadi sebuah fosil yang merupakan nenek moyang langsung dari satu organisme dan sebuah keturunan langsung dari organisme. Walaupun begitu, pewarisan langsung tidak dibutuhkan; mereka tidak dapat diverifikasi bahkan bila memang ada. Apa yang diterima sebagai fosil transisi oleh ilmuwan adalah, sesuai dengan yang diprediksi teori evolusi, adalah sebuah fosil yang menunjukkan fitur mosaik dari sebuah organisme yang lebih awal atau lebih tua.

2. Fosil transisi dapat ada bersama2 dengan gap. Kita tidak mengharapkan menemukan barisan fosil yang detil sekali setelah terkubur dalam jutaan tahun. Walaubegitu, kita benar2 menemukan gradasi mulus dari fosil antara spesies dan genera, dan kita menemukan banyak barisan antara taksa yang lebih tinggi yang masih sangat baik untuk di isi.

Berikut adalah fosil transisi antara spesies dan genera:

Nenek moyang manusia. Ada banyak fosil nenek moyang manusia, dan perbedaan antara spesies begitu gradual sehingga tidak selalu jelas dimana harus menarik garis di antaranya.

Tanduk Titanotheres (mamalia Kenozoikum yang telah punah) tampak secara progresif membesar, dari tidak ada menjadi jelas. Kepala dan leher juga berevolusi. Fitur ini adalah adaptasi untuk perkelahian adu kepala analog seperti perilaku domba (Stanley 1974).

Sebuah barisan fosil transisi secara gradual menghubungkan foraminifera Globigerinoides trilobus dan Orbulina universa (Pearson et al. 1997). O. universa, fosil terakhir, menunjukkan sebuah bentuk bola mengitari sebuah cangkang "Globigerinoides-like", menunjukkan bahwa sebuah fitur ditambahkan, bukan hilang. Bukti terlihat dalam semua dasar samudera tropis utama. Beberapa morfospesies intermediet menghubungkan kedua spesies, seperti dapat dilihat dalam gambar yang di sajikan Lindsay (1997).

Rekaman fosil menunjukkan transisi antara spesies Phacops (sejenis trilobita; Phacops rana adalah fosil negara bagian Pennsylvania; Eldredge 1972; 1974; Strapple 1978).

Foraminifera Planktonik (Malmgren et al. 1984). Ini adalah contoh gradualisme terpunktuasi. Sebuah rekaman fosil foraminifera berusia 10 juta tahun menunjukkan periode lama stasis dan periode lain yang relatif cepat namun tetap mengalami perubahan morfologi gradual.

Fosil diatom Rhizosolenia sangatlah umum (mereka ditambang sebagai tanah diatomik), dan mereka menunjukkan sebuah rekaman kontinyu dari hampir dua juta tahun yang melibatkan rekaman peristiwa spesiasi (Miller 1999, 44-45).

Spesies Molluska danau Turkana(Lewin 1981).

Ostracoda laut Kenozoikum(Cronin 1985).

Primata genus Cantius dari masa Eocene (Gingerich 1976, 1980, 1983).

Kepah dari genus Chesapecten menunjukkan perubahan gradual dalam salah satu "kuping" dari cangkang mereka dalam sekitar 13 juta tahun. Rusuk juga berubah (Pojeta and Springer 2001; Ward and Blackwelder 1975).

Gryphaea (tiram putar) menjadi semakin besar dan lebar namun semakin tipis dan datar pada Jurassik awal (Hallam 1968).

Fosil transisional berikut antara familia, ordo dan kelas:

Nenek moyang manusia.Australopithecus, walau tulang kaki dan pinggulnya menunjukkan ia berjalan tegak, memiliki sebuah tonjolan tulang di lengan depan, kemungkinan vestigial, indikasi dari berjalan dengan buku jari (Richmond and Strait 2000).

Transisi dinosaurus-burung.

Haasiophis terrasanctus adalah ular laut dengan anggota tubuh belakang yang berfungsi baik. Walau ular tanpa anggota tubuh lainnya dapat lebih kuno, fosil ini menunjukkan sebuah hubungan antara ular dengan nenek moyang beranggota tubuh (Tchernov et al. 2000). Pachyrhachis adalah ular lain dengan kaki2 yang terkait dengan Haasiophis (Caldwell and Lee 1997).

Rahang Mososaurus juga merupakan intermediet antara ular dan kadal. Seperti rahang ular yang dapat merenggang, mereka memiliki raham bawah yang sangat fleksibel, namun tidak seperti ular, mereka tidak memiliki rahang atas yang sangat fleksibel. Fitur Tengkorak lainnya dari mososaurus adalah intermediet antara ular dan kadal primitif(Caldwell and Lee 1997; Lee et al. 1999; Tchernov et al. 2000).

Transisi antara mesonychids dan paus.

Transisi antara ikan dan binatang berkaki empat.

Transisi dari condylarths (sejenis mamalia darat) menjadi duyung yang akuatik. Secara jelas, Pezosiren portelli adalah binatang air, tapi kaki dan pinggulnya tidak berkurang (Domning 2001a, 2001b).

Runcaria, sejenis tanaman Devonian tengah, adalah nenek moyang dari tanaman berbiji. Ia memiliki kualitas biji kecuali sebuah mantel biji padat dan sebuah sistem untuk membimbing serbuk sari ke biji(Gerrienne et al. 2004).

Sejenis lebah, Melittosphex burmensis, dari batu amber Kretasius awal, memiliki ciri primitif yang diduga merupakan transisi antara tawon crabronid dan lebah sekarang (Poinar and Danforth 2006).

Berikut adalah fosil transisi antara kingdom dan filum:

Fosil Halkiera dan Wiwaxia dari era Kambria memiliki fitur yang menghubungkannya satu sama lain dan dengan filum modern Molluska, Brachiopoda, dan Annelida. Secra jelas, satu spesies hakieriid memiliki cangkang mirip-brachiopoda dan sisi dorsal pada tiap ujung. Ia memiliki setae identik dalam struktur pada polychaetes, satu kelompok annelida. Wiwaxia dan Halkiera memiliki susan dasar sclerites yang bolong,
sebuah susunan yang sama dengan susunan chaetae dari polychaetes. Bawahpermukaan dari Wiwaxia memiliki sepatu halus seperti kaki molluska, dan rahangnya mirip mulut molluska. Aplacophorans, yang merupakan satu kelompok dari molluska primitif, memiliki tubuh lembut ditutupi dengan spikula serupa dengan sclerites pada Wiwaxia (Conway Morris 1998, 185-195).

Fosil Kambria dan prakambria Anomalocaris dan Opabinia adalah transisi antara arthropoda dan lobopoda.

Sejenis echinodermata purba telah ditemukan yang menjadi bentuk intermediet antara echinodermata modern dan deuterostoma lainnya (Shu et al. 2004).

Referensi

Caldwell, M. W. and M. S. Y. Lee, 1997. A snake with legs from the marine Cretaceous of the Middle East. Nature 386: 705-709.

Conway Morris, Simon, 1998. The Crucible of Creation, Oxford University Press.
Cronin, T. M., 1985. Speciation and stasis in marine ostracoda: climatic modulation of evolution. Science 227: 60-63.

Domning, Daryl P., 2001a. The earliest known fully quadupedal sirenian. Nature 413: 625-627.

Domning, Daryl P., 2001b. New "intermediate form" ties seacows firmly to land. Reports of the National Center for Science Education 21(5-6): 38-42.

Eldredge, Niles, 1972. Systematics and evolution of Phacops rana (Green, 1832) and Phacops iowensis Delo, 1935 (Trilobita) from the Middle Devonian of North America. Bulletin of the American Museum of Natural History 147(2): 45-114.

Eldredge, Niles, 1974. Stability, diversity, and speciation in Paleozoic epeiric seas. Journal of Paleontology 48(3): 540-548.

Gerrienne, P. et al. 2004. Runcaria, a Middle Devonian seed plant precursor. Science 306: 856-858.

Gingerich, P. D., 1976. Paleontology and phylogeny: Patterns of evolution of the species level in early Tertiary mammals. American Journal of Science 276(1): 1-28.

Gingerich, P. D., 1980. Evolutionary patterns in early Cenozoic mammals. Annual Review of Earth and Planetary Sciences 8: 407-424.

Gingerich, P. D., 1983. Evidence for evolution from the vertebrate fossil record. Journal of Geological Education 31: 140-144.

Hallam, A., 1968. Morphology, palaeoecology and evolution of the genus Gryphaea in the British Lias. Philosophical Transactions of the Royal Society of London B 254: 91-128.

Lee, Michael S. Y., Gorden L. Bell Jr. and Michael W. Caldwell, 1999. The origin of snake feeding. Nature 400: 655-659.

Lewin, R., 1981. No gap here in the fossil record. Science 214: 645-646.

Lindsay, Don, 1997. A smooth fossil transition: Orbulina, a foram. http://www.don-lindsay-archive.org/creation/orbulina.html

Malmgren, B. A., W. A. Berggren and G. P. Lohmann, 1984. Species formation through punctuated gradualism in planktonic foraminifera. Science 225: 317-319.

Miller, Kenneth R., 1999. Finding Darwin's God. New York: HarperCollins.

Pearson, P. N., N. J. Shackleton and M. A. Hall. 1997. Stable isotopic evidence for the sympatric divergence of Globigerinoides trilobus and Orbulina universa (planktonic foraminifera). Journal of the Geological Society, London 154: 295-302.

Poinar, G. O. Jr. and B. N. Danforth. 2006. A fossil bee from Early Cretaceous Burmese amber. Science 314: 614.

Richmond B. G. and D. S. Strait, 2000. Evidence that humans evolved from a knuckle-walking ancestor. Nature 404: 382-385. See also Collard, M. and L. C. Aiello, 2000. From forelimbs to two legs. Nature 404: 339-340.

Shu, D.-G. et al., 2004. Ancestral echinoderms from the Chengjiang deposits of China. Nature 430: 422-428.

Stanley, Steven M., 1974. Relative growth of the titanothere horn: A new approach to an old problem. Evolution 28: 447-457.

Strapple, R. R., 1978. Tracing three trilobites. Earth Science 31(4): 149-152.

Tchernov, E. et al., 2000. A fossil snake with limbs. Science 287: 2010-2012. See also Greene, H. W. and D. Cundall, 2000. Limbless tetrapods and snakes with legs. Science 287: 1939-1941.

Ward, L. W. and B. W. Blackwelder, 1975. Chesapecten, A new genus of Pectinidae (Mollusca: Bivalvia) from the Miocene and Pliocene of eastern North America. U.S. Geological Survey Professional Paper 861.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License