Teori Informasi

Secara teknis, informasi adalah berkurangnya ketidak pastian. Bila anda memiliki dua catatan dengan hal yang sama tercatat dikeduanya, anda mungkin mengatakan kalau ini ada banyak informasi, namun secara teknis: saat anda membaca kalimat pertama, membacanya lagi tidak akan memperoleh sesuatu yang baru, maka berarti tidak ada ‘informasi’. Artinya, informasi di ukur berdasarkan berapa banyak pemberitahuan yang ia berikan.

Saat kita mengambil penerapan teori informasi pada genetika dan mengembalikannya ke teori informasi, kita mendapatkan hasil yang aneh dan menakjubkan: saat anda belajar sesuatu, anda mendapat informasi. Sekarang, dalam teori tipe meme, anda cenderung memikirkan pikiran sebagai organisme, karena itu bagus dan intuitif. Namun, pikiran manusia mampu memuat jauh lebih banyak ketidakpastian daripada satupun gen organisme tunggal.
Lebih aneh lagi saat kita memeprtimbangkan informasi dalam genotype meningkat karena tekanan seleksi. Informasi dalam pikiran meningkat karena belajar; maka, belajar menjadi ekuivalen- meme untuk tekanan seleksi.

Teori informasi dapat dipakai untuk menguji argument formal Pascal berikut:
1. Seseorang tidak tahu apakah tuhan ada atau tidak
2. Tidak percaya tuhan ada adalah buruk untuk roh abadi manusia bila Tuhan ternyata ada.
3. Percaya adanya tuhan tidak memiliki konsekuensi bila Tuhan memang tidak ada.
4. Maka adalah lebih baik untuk percaya tuhan ada.

Salah satu Pendekatan pada masalah ini adalah dengan melihat penyataan pertama sebagai sebuah asumsi, dan pernyataan 2 sebagai konsekuensinya.
Satu masalah dengan pendekatan ini, adalah ia menciptakan informasi dari ketiadaan informasi. Ini dipandang tidak sahd alam teori informasi. Pernyataan 1 menunjukkan seseorang tidak memiliki informasi mengenai tuhan – namun pernyataan 2 menunjukkan kalau ada informasi menguntungkan yang dapat diperoleh dari tidak adanya informasi mutlak mengenai tuhan. Ini melanggar entropi informasi – informasi telah diperoleh dari ketiadaan informasi, tanpa “pengorbanan”.

Kreasionis sering memakai teori informasi untuk menyerang evolusi. Dengan menganggap kalau evolusi membahas mengenai asal-usul kehidupan secara acak, mereka menerapkan teori informasi dalam anggapan yang salah ini. Bila keacakan adalah faktor dominant dalam asal-usul kehidupan, maka adalah mudah untuk menghitung kalau kemungkinan sebuah organisme terbentuk dari pengocokan molekuler acak adalah sangat kecil. Tentu saja mereka mengambil ekstrim paling jauh dalam beragam teori abiogenesis yang merentang dari keacakan mutlak hingga determinisme mutlak. Untuk dapat menggugurkan abiogenesis, mereka mesti meruntuhkan pula abiogenesis yang melibatkan determinisme yang signifikan, bukan hanya menunjukkan kalau abiogenesis tipe keacakan mutlak hampir mustahil.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License