Spiritual

Spiritual dan ateis
Sebuah klaim teis mengatakan:
Ateis, bahkan yang paling humanis sekalipun, memiliki spiritual yang kosong.
Well, saya tidak tahu sebenarnya apa yang dimaksud spiritual oleh orang ini. Namun kalau itu adalah rasa kekaguman kita pada keluasan jagad raya dan keindahan alam, saya punya. Saya dapat membayangkan mengendarai cahaya, masuk kedalam void antara superkluster galaksi hingga sampai di ranjang saya kembali. Melihat betapa kecilnya bumi ini sehingga ia laksana debu di pantai super luas. Bahkan dengan menatap tenggelamnya matahari saat sunset dipantai, saya dapat terharu. Saya daapt menciptakan puisi indah tanpa perlu tuhan sebagai inspirasi. (lihat <a href=http://puisitanpatuhan.blogspot.com>puisitanpatuhan.blogspot.com</a>)
Masalahnya manusia mengkait-kaitkannya dengan tuhan. Saya malah ketakutan kalau membayangkan itu, membayangkan mahluk raksasa di langit yang mengamati semua tindak tanduk kita. Bila saya sungguh percaya dia ada, saya mungkin tidak dapat berdiri dan beraktivitas karena takut berbuat salah. But hell, dia tidak masuk akal. Apa susahnya bagi tuhan untuk menuliskan bilangan Pi sebanyak seratus decimal misalnya di dalam kitabnya. Dengan demikian saya sungguh percaya kalau dia ada. Atau membuat petunjuk tentang adanya meteor sebagai sisa supernova ketimbang mengatakannya alat untuk mengusir setan yang ingin mencuri berita di langit.
Dan yang lebih membuat saya kesal adalah gagasan mengenai ESQ-nya Ary. Kenapa seseorang harus dinilai kecerdasan spiritualnya dengan menunjukkan seolah-olah islam adalah agama untuk orang dengan spiritual quotient tertinggi. Kenapa harus kita memandang keluasan alam semesta ini dengan rasa kagum akan adanya mahluk imajiner sambil hati kita dijalari virus untuk melecehkan manusia lain yang tidak seiman, memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak tahu rasa terima kasih pada mahluk imajiner yang menciptakan alam semesta ini dan dengan demikian tidak sederajat dengan kita? Kenapa tidak berdiri di puncak gunung menatap keluasan lautan yang membentang di depannya sambil merenungi betapa bodohnya kita dalam merusak alam yang tidak ada gantinya di masa hidup kita dan mengatur cara melestarikannya dan menjadikannya lebih baik? Why don’t you just … wake up?

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License