Siwa
Siwa
275px-Sivakempfort.jpg
Patung di Bangalore India menggambarkan
Siwa sedang meditasi

Siwa adalah salah satu tuhan yang disembah umat hindu. Orang hindu dapat hidup dengan tenang dengan menyembah Siwa, namun tidak menyembah Jehovah atau Allah, sama seperti umat lainnya menyembah Tuhannya masing-masing dan tidak menyembah Siwa.

Dalam agama vedic kuno, Tuhan ditampilkan memiliki tiga sifat. Pencipta, pmelihara dan penghancur. Seiring waktu sifat ini dipersonalisasi dan menjadi terkenal dengan Tuhan Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Siwa (penghancur). Siwa adalah tuhan yang jahat. Gambaran favorit dari Siwa adalah tuhan yang melakukan meditasi sendirian di keluasan himalaya. Ia duduk diatas kulit harimau, memakai hanya kain saja, tertutup debu suci yang membuat kulitnya berwarna abu-abu. Disekitar lehernya melingkar seekor ular. Dari rambutnya yang tebal, terikat di ujungnya, sungai Gangga turun ke bumi. Lehernya biru, mengingatkan saat ia meminum racun yang muncul saat para tuhan dan para iblis berebut untuk mendapatkan samudera susu. Siwa sering muncul dalam gambaran ini sebagai tuhan yang anti social, yang memusnahkan karma, tuhan cinta, dengan seketika. Namun dibalik gambaran ini ia adalah tuhan kosmik yang, lewat kekuatan kesadaran meditasinya, memperluas seluruh alam semesta dan seluruh isinya. Walau ia tampak sulit diterima, kenyataannya Siwa adalah tuhan yang maha pengasih yang menyelamatkan mereka yang tulus menyembah kepadanya.

Sastra bhakti dari India selatan, dimana Siwa sangat penting, menunjukkan beragam cara mengabdi yang suci kepada tuhan yang indah ini dan wahyu akhir dirinya sendiri sebagai Siwa setelah menguji para pengikutnya. Siwa sering tampi di bumi sebagai pendeta Brahman, untuk menantang kedermawanan atau keyakinan dari seorang abdi yang menderita, hanya untuk tampak dalam ujud sejatinya. Banyak permainan suci ini terkait langsung dengan orang atau tempat tertentu, dan hampir setiap kuil Siwa kuno dapat mengklaim sebuah puisi atau mukjizat terkenal dalam sejarahnya. Ratusan kuil abad pertengahan di tamil nadu, hampir semuanya diperuntukkan pada Siwa, memuat panel pahatan menunjukkan beragam bentuk tuhan ini: Bhikshatana, tuhan yang mengharap; Bhairava, gambaran penghancur; atau Nataraja, tuhan tarian, memukul genderang yang menjaga waktu sementara ia menciptakan alam semesta.

Siwa mampu merubah energi seksual menjadi daya kreatif, dengan membangkitkan panas yang tinggi. Faktanya, panas yang dibangkitkan oleh para rasul dan pertapa dipandang sebagai sumber pembangkit semua penyembahnya, dan dalam pandangan ini Siwa sering dikaitkan dengan ordo pendeta peziarah di India modern. Untuk penganut rata-rata, kekuatan seksual Siwa tampak dalam gambaran biasa mengenainya, lingam. Ini adalah batu berbentuk tabung beberapa kaki tingginya, dengan ujung bulat, berdiri di atas landasan melingkar. Pada satu tingkat, ini adalah gambaran paling dasar dari ketuhanan, memberi focus pada para penyembah dengan sapuan seni minimal, berusaha menyajikan yang maha tak terhingga. Penambahan detik anatomis berukir pada banyak lingam, tidakdiragukan bagi para penyembah kalau ini adalah organ kelamin laki-laki yang sedang ereksi, menunjukkan kekuatan penciptaan tuhan pada asal usul segalanya. Konsep kenyataan sebagai hubungan seks antara prinsip-prinsip berlawanan, laki-laki dan perempuan, mendapat bentuk tertinggi dalam mitologi Siwa dan wanitanya Parwati (dikenal juga sebagai Shakti, Kali atau Durga), anak perempuan dari pegunungan. Tuhan yang paling dikendalikan ini, Siwa yang bermeditasi, masih memiliki bentuk lain, sebagai kekasih erotis Parwati, memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Putra dari Siwa

Siwa dan Parwati memiliki dua putra, yang memiliki seluruh pemujaan siklus mitos dan legenda dan bhakti sendiri. Satu putra disebut Karttikeya (dilambangkan sebagai planet mars) atau Skanda (tuhan perang atau Subrahmanya). Ia luar biasa tampan, membawa tombak dan mengendarai merak. Menurut beberapa tradisi, ia lahir dari Siwa tanpa ibu pada saat para tuhan membutuhkan seorang pejuang besar untuk menaklukkan iblis yang tak dapat dihancurkan. Di India selatan, dimana ia dikenal sebagai Murugan, ia adalah tuhan dari pegunungan dan teman terbaik bagi mereka yang mengabdi kepadanya. Sebagian pengabdi membawa pada bahu mereka benda dari kayu untuk menentukan jumlah minggu, tidak pernah melepaskannya dimasa itu. Yang lain dapat bertindak lebih jauh, dan memasukkan pisau atau pin panjang kedalam tubuh mereka pada waktu tertentu.

Anak lain dari Siwa dan Parwati adalah Ganesh, atau Ganapati, tuhan para gana (inang dari Siwa), yang memiliki tubuh laki-laki dengan empat tangan dan kepala gajah. Satu mitos mengklaim kalau ia berasal langsung dari tubuh Parwati dan bertarung dengan Siwa yang memotong kepala manusianya dan kemudian menggantikannya dengan kepala hewan yang pertama ia temukan, yang kebetulan adalah gajah. Bagi sebagian besar para penyembahnya, Ganesha adalah tuhan pertama yang dilibatkan dalam upacara karena ia adalah tuhan kebijaksanaan dan penghilang segala rintangan. Orang yang menyembah ganesh saat memulai sesuatu, sebagai contoh, di awal perjalanan atau hari pertama tahun ajaran baru. Ia sering digambarkan disamping tikus, symbol kemampuan untuk bergerak ke mana saja. Ganesha adalah figure yang cerdas, cerdik dalam banyak kisah, yang menyajikan gambaran maha pengasih dan bersahabat bagi mereka yang menyembahnya. Gambarnya mungkin yang paling tersebar luas dan umum di India, tampak di jalan dan terminal transportasi dimana saja. Ganesha, Karttikeya dan interaksi Siwa-Parwati telah membangkitkan sederet mitos menghibur dari Siwa sebagai suami yang akan memilih tetap bermeditasi dan menghindari masalah keluarga, memberikan sederetan dongeng moralitas dalam rumah tangga di India.

Kitab Veda mengatakan kalau Siwa adalah Narayana (siwascha…) dan sebagian orang mengatakan kalau Buddha adalah inkarnasi dari Narayana itu sendiri. Dari sini terdapat kaitan antara agama Hindu dan Buddha. Veda juga mengatakan kalau Rudra adalah satu-satunya Tuhan dan tidak ada Tuhan kedua (Eko Rudro Na Dvityaya…) dan untuk menghindari kontradiksi, Rudra dianggap sama dengan Narayana dan sama dengan Siwa. Kitab suci juga mengatakan kalau khrisna menyembah Tuhan Siwa dan juga Narayana menyembah Tuhan Siwa di pegunungan Meru. Kitab juga mengatakan kalau Tuhan Wisnu menjadi mohini dan menjadi istri Tuhan Siwa dan melahirkan Sashta. Akibatnya kontradiksi di dalam Veda tidak dapat dielakkan.

Hindu liberal

Seperti pada agama lainnya, Hindu liberal menganggap tuhan adalah tidak dapat dibayangkan dan bermanifestasi dalam bentuk energetic seperti pada Brahma, Wisnu, Siwa dll. Tidak semua Tuhan dianggap sebagai bentuk energetic walau begitu. Indra dan Vayu tidak termasuk. Hal ini untuk menghindarkan kesalah pahaman pada pengikut Ramanuja dan Madhva yang merasa kalau satu-satunya bentuk energetic ‘Narayana’ (Wisnu) adalah Tuhan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License