Resolusi 2009

Menjadi atheist tidak memerlukan usaha yang banyak. Tidak ada ayat2 yang mesti di hapalkan atau ritual2 agama yang mesti dilakukan setiap waktu tertentu. Sejauh anda tidak percaya pada Tuhan manapun, bahkan bila anda tidak mempelajari subjek ini mendalam, anda aldalah atheist. Tidak pernah memikirkannya mungkin bukan merupakan tindakan yang terbaik dalam masyarakt modern tentunya. Ada alasan2 baik untuk membuat usaha sadar untuk terbuka dan membebaskan kembali ke atheist an anda untuk anda dan orang2 disekitar anda.

Skeptisisme dan berpikir kritis:
Prinsip terpenting yang mesti dipatuhi oleh atheist adalah skeptisime dan berpikir kritis. Salah satu kegagalan intelektual yang terjadi saat orang2 menerima begitu saja suatu kalim sebagai sebuah kebenaran, tanpa melihat dukungan logika dan empiris yang dimiliki (atau tidak dimiliki klaim tersebut). Skeptisisme berarti tidak menerima apapun yang di dengar; berpikir kritis artinya memeriksa klaim dan gagasan2 untuk menentukan sah tidaknya ia.

Refleksi diri dan introspeksi:
Adalah mudah untuk menjadi skeptis dan kritis pada gagasan orang lain, namun lebih sulit lagi melatih hal yang sama pada apa yang telah kita yakini sebelumnya. Bila kita terlibat dalam refleksi dan introspeksi diri, kita dapat secara skeptis memeriksa gagasan yang telah kita terima tanpa kritik untuk waktu yang lama. Bila gagasan kita sendiri tidak dapat bertahan pada kritik yang sama yang kita pakai untuk mengkritik orang lain, kita berprilaku munafik. Semakin kita memahami diri kita sendiri dan kenapa kita percaya pada sesuatu, semakin baik kita dapat memahami orang lain pula.

Membaca, Belajar dan meneliti:
Kita tidak pernah cukup tahu - selalu ada hal2 baru untuk diselidiki. Bila kita berhenti belajar, maka kita berhenti tumbuh dan kita kehilangan kemampuan untuk maju dan membuat keputusan yang lebih baik tentang hidup kita. Terlalu banyak orang memperlakukan belajar sebagai sesuatu yang berakhir setelah kita tamat sekolah; kenyataannya, apa yang kita pelajari di sekolah hanyalah persiapan untuk mempelajari apa yang harus kita pelajari pada sisa hidup kita. Bahkan bila kita tidak punya cukup waktu untuk belajar di kelas, kita harus berusaha membaca secara non fiksi beragam topik.

Keterbukaan dan kejujuran:
Banyak orang tertutup dalam kebaikannya. Ini sering sering dijadikan alasan yang baik, namun menjadi terbuka, umum, dan tidak mencari2 alasan mengenai atheisme seseorang adalah penting: pertama, karena ini membantu seseorang merasa lebih nyaman dengan diri sendiri, dan kedua, agar orang dapat melihat atheisme bukanlah monster tak bermoral. Masyarakat atheist di indonesia mestinya memberi contoh yang baik mengenai makna atheisme, dan tidak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang memalukan mengenainya sehingga menyembunyikannya.
Keterlibatan dan diskusi:
Atheist seharusnya mengakui untuk terlibat dengan umat beragama dalam diskusi mendasar. Termasuklah diskusi mengenai agama, namun tidak harus terbats pada subjek tersebut. Kita harus terlibat pula dalam diskusi dalam hal filosofi, keluarga, politik, dan lainnya - segalanya dari sudut pandang atheisme. Kita dapat membuat jelas bahwa tidak dibutuhkan tuhan atau agama untuk memperoleh posisi yang diperhitungkan dalam beragam topik.
Aktivisme politik:
Politik dan agama di indonesia telah menjadi begitu berhubungan, namun ini dapat berubah bila atheist indonesia ambil bagian dalam politik lokal. Kita tidak harus memaksa, namun kita tidak perlu juga bersembunyi dari fakta bahwa kita atheist. Kita dapat membangun sudut pandang atheist dalam lingkup politik dan membantu umat beragama terbiasa dengan fakta bahwa kita ada dan perlu diperhitungkan. Atheisme dapat menyumbang pada masyarakat dan membuat perbedaan dalam segala aspek hidup kita.
Kesamaan dan Hak asasi:
Sebuah isu penting untuk semua atheist adalah status kesamaan warga negara dan hak2 asasi. Atheist seringkali menjadi korban diskriminasi dan prasangka dan kita harus berusaha memperoleh hak2 yang sama dengan umat beragama. Mesti ada sebuah komponen moral untuk ini karena untuk mendorong kemajuan masyarakat, atheist harus mengenalkan moral dan konsepsi dalam masyarakat kita. Kesamaan dan hak2 sipil yang penuh harus didirikan untuk semua warga negara, apapun keyakinannya.
Pemisahan agama dari pemerintahan demi kebebasan beragama:
Salah satu isu paling signifikan dimana semua orang atheist akan setuju adalah, apapun persuasi politik umum mereka, adalah perlu memisahkan agama dari pemerintahan. Tidak boleh kekuatan pemerintah dipergunakan untuk mendukung satu kelompok agama, keyakinan atau tradisi. Memisahkan agama dari pemerintahan berarti memisahkan agama dari otoritas sipil; atheist menerima otoritas pemimpin2 sipil, namun tidak otoritas dari pewmimpin agama.
Atheisme untuk masa depan masyarakat:
Sebagian apologis untuk keterlibatan agama dalam politik menekankan bahwa agama ada dan tidak akan menyerahkan klaimnya pada kepemilikan suara publik. Ini benar, namun hal ini juga benar untuk atheist: kita ada disini, kita tidak kemana2, dan kita tidak akan menyerahkan klaim2 kita untuk kesamaan sipil penuh dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat disisi orang lain. Kita memiliki sesuatu untuk di tawarkan kepada masyarakat untuk di perdebatkan dan dibahas, namun bila kita akan berpartisipasikita harus melakukannya dalam cara yang positif dan mendasar.

Memiliki sebuah "Tahun Baru Atheisme" bukanlah merayakan tahun baru tanpa tuhan dan agama, karena sebagian besar orang melakukan itu. Namun, ini artinya membuat tahun baru secara murni baru dengan melakukan sesuatu yang berbeda dan membuat perbedaan - baik dalam hidup kita maupun hidup orang lain. Kita harus memiliki sebuah tahun baru atheist dengan membawa atheisme agar diperhatikan orang dan melayani komunitas publik kita. Atheisme bukanlah filosofi atau ideologi namun sudut pandang tanpa tuhan pada isu2 dan kehidupan masih memiliki sesuatu untuk ditawarkan - bila tanpa alasan lain daripada karena ia begitu langka.

Ada masyarakat atheist dimana2 di dunia ini, menyumbang pada masyarakat dan membantu membuat masyarakatnya hidup lebih baik. Sayangnya, sebagian besar tidak dikenali sebagai atheist karena mereka tidak mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka yakini. Situasi untuk atheist tidak seperti yang dialami kaum homoseksual: dalam rasa takut dan malu atas apa yang orang lain akan katakan. Ini harus di ubah - bila berhasil, Atheist indonesia harus mampu menyumbang lebih banyak lagi pada masyarakat.

Atheisme, bebas dari kebencian masa lalu dan absolutisme tradisi agama, berdiri dan siap melayani perdamaian dan keselarasan dalam masyarakat beragam keyakinan. Menjadi atheist tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi rasional, beralasan dan damai, namun agama seringkali membuat segala hal menjadi lebih buruk. Melakukan prinsip2 di atas sebagai bagian dari resolusi Tahun Baru seseorang adalah langkah yang baik menuju masa depan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License