Perang Suku

Perang untuk menyenangkan roh
Sekelompok orang mengendap-endap, mengintip posisi lawan. Dengan coreng moreng dan aksesori di badan, mereka siap meluncurkan anak panah. Tak terbayangkan kengerian yang terjadi. Ketika aba-aba menyerang diteriakkan, mereka berhamburan menyerbu lawan. Namun karena posisi kurang menguntungkan, aba-aba mundur pun terdengar. Gantian pihak musuh yang menekan.
Anak panah dan tombak berhamburan menuju sasaran. Ada yang tepat, namun tidak sedikit pula yang meleset. Tak beberapa lama, perang itupun usai. Suasana kembali sepi. Tidak ada korban jiwa dari kedua belah pihak.
Menurut pemerintah orde baru, perang antar suku memiliki nilai positif dan negati. Positif, karena bisa membangkitkan semangat hidup dan agresifitas yang bisa ditransfer menjadi kegiatan produktif sejalan dengan derap pembangunan. Negatif, karena perang selalu menimbulkan korban dikedua pihak.
Masyarakat Dani percaya, orang yang meninggal rohnya dekat dengan mereka. Roh-roh itu harus dibuat senang, dengan jalan memberi korban pada waktu-waktu tertentu. Korban bisa berupa babi atau manusia. Melalui perang itu pula, seseorang bisa menjadi Kain (Orang besar).
Persiapan perang dilakukan dengan mengadakan pesta babi (wam awe) dan menari-nari selama 1-2 minggu, sehingga membuat mereka langsing dan lincah. Pada saat inilah, kepala suku akan melihat berapa banyak sumbangan klan sponsor.
Pemerintah mengambil langkah untuk menghilangkan perang suku. Benda-benda apwarek yang dapat memicu perang ditarik dari rumah-rumah adat dan disatukan di lantai 2 pilamo adat di desa Waisaput, kecamatan Wamena. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk, misalnya para bupati yang dipandang sebagai dumo kesoho, orang yang tidak memihak, orang yang bijaksana.
Langkah selanjutnya adalah dengan mengalihkan sementara semangat bertarung mereka. Para kepala suku sebagai pemimpin informal yang masih memiliki wibawa, didekati dan diikut sertakan dalam perumusan konsep perang-perangan.
Sifat perang ini sepihak. Jadi, jika bentrokan senjata sudah terjadi antara kedua kubu, maka yang menjadi mangsa anak panah dan sege bukanlah manusia. Tapi batang-batang pisang yang ditaruh ditengah arena dengan dibatasi oleh tali plastik. Mereka boleh membunuh ‘musuh’ hanya dari batas yang ditentukan. Banyaknya anak panah dan sege yang mengenai ‘musuh’ menentukan apakah mereka bisa menjadi yang terbaik atau tidak.
Menurut para wisatawan, acara ini sangat menarik. Ada kemungkinan membuka lokasi-lokasi baru ‘padang kurusetra’. Perubahan terus berlangsung, misalnya para peserta sebagian sudah ada yang memakai celana pendek. Perang sungguhan patut dihilangkan, namun nilai-nilai seni perang tidak ada salahnya tetap dilestarikan.
(Intisari)

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License