Perang salib

Perang salib adalah perang yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa melawan kekuatan luar. Perang salib memiliki pengaruh politik, ekonomi dan sosial, sebagian berlangsung hingga kini. Karena konflik internal antar kerajaan kristen dan kekuatan politik, sebagian ekspedisi salib berubah dari tujuan asalnya, seperti perang salib IV yang menghasilkan pemisahan kekaisaran Byzantium menjadi Venice dan Pasukan salib. Perang Salib VI dilancarkan tanpa persetujuan Paus. Perang Salib VIII dan IX menghasilkan kemenangan di pihak Mamluk dan Hafsid, dan Perang salib ke IX menandai selesainya perang salib di timur tengah.

Sebab langsung

Sementara Reconquista adalah contoh paling jelas dalam reaksi eropa terhadap penaklukan Muslim, ini bukan satu-satunya contoh. Penjelajah Norman, Robert Guiscard menaklukkan “jari kaki Italia,” Calabria, tahun 1057 dan mendirikan wilayah Byzantium melawan muslimin Sisilia. Negara maritim seperti Pisa, Genoa dan Catalonia semua secara aktif memerangi kekuasaan Islam di Majorca dan Sardinia, membebaskan pantai Italia dan Catalonia dari serangan muslim. Lebih awal lagi, tanah Kristen di Syria, Libanon, Palestina, Mesir dan lainnya telah ditaklukkan tentara muslim. Sejarah panjang kehilangan wilayah dari musuh religius menjadi motif yang kuat dalam merespon seruan Kaisar Byzantium, Alexius I, untuk melakukan perang suci mempertahankan kristen dan mendapatkan kembali tanah yang hilang diawali dengan Yerusalem.
Bagi penerus Paus Gregory yang lebih moderat, Paus Urban II, sebuah perang salib akan menyatukan kembali kristen, mengangkat kepausan dan mungkin menjadikan daerah timur berada dalam kendalinya. Pihak Jerman dan Norman yang bertikai tidak terhitung, namun jantung dan tulang punggung perang salib dapat ditemukan di tanah kelahiran Urban sendiri dan begitu pula Perancis utara.

Kronologi

Perang Salib pertama, 1095-1099

Bulan maret 1095, di Konsili Piacenza, duta-duta besar dikirim oleh Kaisar Byzantium, Alexius I, untuk meminta bantuan mempertahankan kekaisarannya atas Turki Seljuk. Setahun kemudian, pada Konsili Clermont, Paus Urban II menyerukan umat kristen untuk ikut dalam perang melawan turki, menjanjikan bagi mereka yang mati sebuah remisi atas dosa-dosa mereka. Sigurd I dari Norwegia adalah raja Eropa pertama yang pergi memenuhi seruan itu dan tentara salibnya mengalami kekalahan melawan kekuatan Turki di Dorylaeum dan Antiokia.

Pengepungan Yerusalem

Tanggal 15 Juli 1099, 120 ribu pasukan salib berhasil memasuki kota Yerusalem. Mereka membunuh semua orang dan menghancurkan kota. Pasukan salib kemudian mendirikan kerajaan Yerusalem.

Perang salib kedua, 1147–1149

Pasukan salib gagal memasuki Damaskus, tapi di timur, pasukan salib berhasil merebut Lisabon tahun 1147.

Perang Salib ketiga, 1187–1192

Tahun 1187, Salahuddin al Ayuubi berhasil merebut kembali Yerusalem. Pasukan islam, sebaliknya, tidak melakukan pembunuhan pada penduduk dan tetap menjaga bangunan-bangunan di kota, demi mendapatkan pajak (jizyah). Salahuddin terkenal sebagai tokoh yang sangat bermoral dalam standar seorang penakluk. Pasukan salib merespon kekalahan dengan brutal menaklukkan Syprus dan mendarat di pantai barat Israel. Mereka tidak berhasil merebut Yerusalem, namun sebuah perjanjian antara Richard the Lion Heart dengan Salahuddin al Ayyubi memperbolehkan orang kristen tanpa senjata untuk berziarah di Yerusalem.

Perang Salib keempat, 1202–1204

Perang salib keempat dimulai tahun 1202 oleh Paus Innocent III, dengan tujuan menguasai Yerusalem dari Mesir. Karena pasukan salib kekurangan biaya untuk pasokan tentara yang mereka kontrak dari Venetian, Doge. Enrico Dandolo meminta pasukan salib merenovasi kota kristen Zara (Zadar). Namun kekurangan makanan dan perlengkapan membuat mereka beralih haluan ke Konstantinopel dimana mereka berusaha menjadikan seorang pelarian dari Byzantium menjadi raja. Setelah sederetan kekerasan dan pertikaian, pasukan salib menguasai kota tahun 1204, mengakhiti Kekaisaran Latin Timur dan mendirikan Kekaisaran Byzantium Yunani. Ini dikenal sebagai titik keruntuhan akhir dari Schisme besar antara Gereja Ortodok Timur dan Gereja Katolik Roma.

Perang Salib kelima, 1217–1221

Pasukan Salib mengalami kekalahan besar di mesir dalam menghadapi Sultan Al Kamil.

Perang salib keenam, 1228–1229

Kaisar Frederick II berhasil menguasai sebagian besar Yerusalem. Daerah muslim al Aqsa tetap menjadi wilayah kekuasaan Al Kamil. Tahun 1244, dalam sebuah pengepungan, pasukan muslim berhasil merebut seluruh kota.

Perang Salib ketujuh, 1248–1254

Pasukan salib gagal dalam menaklukkan mesir. Dalam peperangan ini terjadi pula perang salib Gembala tahun 1251.

Perang Salib kedelapan, 1270

Louis IX berusaha menyerang Syria lewat Afrika. Namun di Tunisia, Lousi IX menderita sakit parah dan meninggal. Pasukan ditarik mundur.

Perang salib kesembilan, 1271–1272

Pasukan salib mengalami kekalahan besar dan mengakhiri perang salib di timur tengah. Pada tahun-tahun terakhir, menghadapi ancaman Mamluk Mesir, pasukan salib berharap pada persekutuan Franco-Mongol. Ikhanate dari Mongol bersimpati terhadap kristen dan para pangeran Frank mampu memperoleh bantuan mereka dan menyusun kekuatan untuk menguasai timur tengah. Walau Mongol berhasil menyerang hingga ke Damaskus, kerjasama mereka dengan pasukan salib menjadi ricuh dan berakibat kekalahan besar dalam perang Ain Jalut tahun 1260. Mamluk kemudian membersihkan timur tengah dari Frank. Dengan jatuhnya Antiokia (1268), Tripoli (1289), dan Acre (1291), umat kristen yang tidak dapat menginggalkan kota dibantai atau dijadikan budak dan kekuasaan kristen terakhir di Levant lenyap.

Perang Salib Utara (Baltik dan Jerman) 1147- 1242

Perang ini bertujuan menjadikan penduduk di kedua wilayah memeluk agama kristen.

Perang Salib Tatar, 1399

Perang salib ini melawan serbuan pasukan Tatar dari Mongol. Dimulai dari serangan Tatar tahun 1259 di Halych-Volynia, Lithuania dan Polandia. Tahun 1398, pasukan sekutu bergerak dari Moldavia dan menaklukkan stepa selatan hingga sungai Dnieper dan Krimea utara. Karena kemenangan ini, Vyatauta menyatakan perang salib melawan Tatar dengan dukungan Paus. Maka, tahun 1399, pasukan Vyatauta kembali bergerak. Pasukannya bertemu dengan Tatar di sungai Vorskla, di daerah Lituania. Namun pasukan ini mengalami kekalahan besar. Namun pemimpin Tatar juga terbunuh dan terjadi konflik di dalam tubuh pasukan Tatar sendiri yang membuat mereka menghentikan invasi.

Perang Salib Balkan (1396-1456)

Terjadi dalam mempertahankan Balkan dari kekaisaran Usmaniyah dan berakhir gagal.

Perang Salib Aragon (1284-1285)

Antara Paus Martin IV melawan Raja Aragon, Peter III.

Perang Salib Iskandariah (oktober 1365)

Antara Peter I dari Siprus melawan muslim Iskandariah.

Perang Salib Hussite (1420-1434)

Antara sesama fraksi di Bohemia.

Perang Salib Swedia (1249-1293)

Bukan perang bermotif agama tapi penaklukkan wilayah oleh Swedia ke Finlandia.

Pengaruh perang salib

Sudut pandang Sejarah

Historiografi barat dan timur memberikan beragam pandangan mengenai perang salib, karena perang salib memiliki dua arti, pertahanan diri dan penyerangan serta barbarisme. Pandangan yang bertentangan ini telah berlangsung lama karena umat kristen sendiri memiliki ketegangan antara aktivitas militer dan ajaran Kristus untuk mencintai musuh dan memberikan pipi yang satunya lagi. Untuk alasan inilah terdapat banyak kontroversi.

Hasil perang Salib bagi dunia islam

Perang salib memiliki dampak di dunia islam, khususnya pada pandangan mereka terhadap barat dan kristen. Faktanya bahkan saat ini sebagian muslim memandang kalau perang salib adalah simbol kekerasan barat terhadap islam. Muslim ketakutan atas kebrutalan Frank dan bagaimana mereka membantai penduduk Yerusalem dan mengkhianati perjanjian. Hal ini bertentangan dengan sikap Salahuddin al Ayyubi yang membiarkan penduduk Yerusalem hidup saat menguasai kota itu. Fakta kalau Franks lebih termotivasi oleh politik dan ketamakan ketimbang alasan murni religius membuat umat islam memandang kalau imperialisme barat setelah itu sebagai bagian dari perang salib. Pandangan ini menyebabkan muslimin membuat halangan intelektual dan menjadi isolasionis dalam kebijakan mereka dan menyebabkan mereka tertinggal dalam dunia global. Kini ekstrimis dari islam maupun kristen memandang konfrontasi tidak dapat dielakkan dan karena pandangan terhadap perang salib inilah, terjadi kekerasan dalam politik kontemporer antara Barat dan Islam masa kini.

Eropa dan Barat

Hingga saat ini, perang salib dipandang sangat membantu dalam peradaban Eropa (untuk negara yang merupakan negara katolik roma dimasa perang salib), dan negara yang sebagian besar dihuni penduduk dari eropa barat, termasuk AS. Walau begitu, ada banyak kritik pada perang salib di eropa barat sejak Renaissance, dan tahun-tahun terakhir.

Para pendukung perang salib memandang kalau tindakan menekan minoritas yang menentang pandangan standar perang salib adalah bentuk agresi berdarah dan tidak manusiawi. Pandangan lain bahkan mengatakan kalau kebrutalan dan motivasi religius perang salib sesungguhnya “sangat mulia dan suci”.

Politik dan Kebudayaan

Pengalaman militer dari perang salib memiliki pengaruh besar bagi eropa: sebagai contoh, kastil-kastil eropa dibuat sangat masif seperti di timur, bukan lagi bangunan kayu seperti yang mereka buat sebelum perang salib.

Perdagangan

Pada zaman pertengahan, daerah perdagangan kunci di bumi adalah Laut hitam-laut tengah-laut merah. Ini sebelum perang salib pertama, dan pada masa perang salib pula, yang memungkinkan Eropa Barat menguasai perdagangan di Laut Tengah dan Laut Hitam, sebuah penguasaan yang terjadi sejak tahun 1000an hingga diancam oleh kekaisaran Usmaniyah Turki di pertengahan 1400an. Kendali Eropa barat pada jalur laut vital memungkinkan ekonomi Eropa Barat maju pesat, terutama untuk republik maritim seperti Venice, Genoa dan Pisa. Bukan kebetulan kalau Renaissance berawal di Italia, sebagai republik-republik maritim, dalam penguasaan Laut Tengah bagian timur dan Laut Hitam, mampu mengembalikan kebudayaan Romawi dan Yunani, begitu juga produk dari Asia Timur. Namun karena kekalahan perang salib, Eropa Barat terpaksa mencari jalur perdagangan baru ke Asia Timur, membawa pada penemuan Amerika, perjalanan mengelilingi bumi dan berujung pada kolonialisme dan imperialisme Barat.

Dunia islam

Konsekuensi jangka panjang dari perang salib pada dunia islam menurut sejarawan Peter Mansfield, adalah terciptanya mentalitas islam yang menarik diri dari globalisasi. Beliau mengatakan “Diserang dari semua penjuru, dunia islam memandang dirinya sendiri. Mereka menjadi konservatif dan defensif …. Perilaku yang tumbuh semakin memburuk saat evolusi globalisasi, sebuah proses yang dipandang tidak melibatkan dunia islam, berlanjut.”

Referensi:

1. The Crusades: The Essential Readings, ed. Thomas F. Madden, Blackwell, 2002
2. Fundamental Historical Research by Yang Xianyi
3. "Les Croisades, origines et consequences", p.62, Claude Lebedel, ISBN 2737341361
4. The Damascus Chronicle of the Crusades, Extracted and translated from the chronicle of Ibn Al-Qalanisi, translated by H.A.R. Gibb (London: Luzac & Co., 1932).
5. Third Crusade: Siege of Acre
6. Jonathan Riley-Smith. The First Crusaders 1096–1131, New York, NY: Cambridge University Press 1997, 99.
7. Atwood, Christopher P. (2004). The Encyclopedia of Mongolia and the Mongol Empire. Facts on File, Inc. ISBN 0-8160-4671-9.
8. Wikipedia.org

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License