Penyembahan kontainer

Di Madang, di pantai papua nugini, kedatangan kapal kargo dari eropa di abad ke-19 membuat para papua memandang langit sebagai gudang raksasa dimana Tuhan membagikan makanan, barang2, senjata dan benda2 lain bagi manusia di bumi. Keyakinan ini bermula saat emreka menyimpulkan bahwa pendatang pertama, seorang russia, adalah tuhan dari bulan, setelah melihatnya membawa lentera di pantai waktu malam hari. Pengalaman lebih lanjut dari para pedagang menyarankan bahwa orang kulit putih mencuri kargo yang Tuhan kirimkan buat mereka. Keinginan untuk meyakinkan bahwa kargo itu dikirimkan dengan benar membangkitkan pemujaan yang meluas di daerah itu. Upacara, doa dan aturan moral yang bertentangan dengan agama tradisional diciptakan untuk memperbaiki dislokasi kosmik. Misionaris kristen, bukannya menghapuskan sekte ini, memberikan wadah baru. Dari Injil orang papua menyimpulkan bahwa Tuhan menghukum mereka atas dosa anak Nuh, Shem, yang mereka lihat sebagai nenek moyang mereka. Ini mendorong mereka untuk bersahabat dengan para misionaris; mereka berharap bila mereka menghapuskan perdukunan, poligami dan praktek lain yang dipandang jahat di mata tuhan orang eropa yang berhasil, kargo pada akhirnya datang kepada mereka. Mereka mengirim anak2 mereka ke sekolah katolik, tidak sebagai orang ynag berpindah agama sebagai orang kristen, tapi untuk memata2i rahasia orang kristen. Pada saat yang sama mereka membunuh babi2 mereka, mentelantarkan ladang mereka dan memusnahkan tanaman mereka untuk mendapatkan belas kasihan dari tuhan. Sampai sekarang mereka masih menatap dan mencari2 ke laut dan langit, berharap suatu saat kapal kargo akan datang.

Sumber : halaman 182 The Indonesian Tragedy oleh Brian May

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License