Payasi Sutta

Pada suatu ketika, Ayasma Kumara Kassapa sedang mengembara dari kota ke kota
si negara Kosala, dengan diiringi lima ratus orang bhikkhu, dan tibalah
mereka disebuah hutan dekat kota Setavya. Dikota Sethavya juga bertempat
tinggal seorang raja muda, panglima perang, yang bernama Payasi. payasi ini
menganut pandangan (keliru) sebagai berikut:

"Tidak ada dunia lain (halus), tidak ada tumimbal lahir secara spontan
(opapatiko), tidak ada penanaman bibit dan pemerikan buah (hasil) dari
perbuatan-perbuatan baik dan buruk."

Ketika mendengar bahwa Ayasma Kassapa berdiam dihutan dekat kota Setavya,
payasi memutuskan untuk pergi menjumpainya. Setelah memberi hormat
sebagaimana layaknya, Payasi lalu memberitahukan Ayasma Kassapa tentang
pandangannya yang sudah dikenal oleh khalayak ramai.
Ayasma Kassapa menjawab:"Akupun sudah mendengar tentang hal itu. Tetapi
bagaimanakah orang dapat mempunyai pandangan seperti itu? Apakah anda
mungkin mempunyai alasan-alasan tertentu?"
"Memang demikianlah halnya", jawab Payasi, dan kemudian
melanjutkan:"Kawan-kawanku, keluargaku dan saudara-saudaraku yang biasa
membunuh, mengambil barang-barang yang tidak diberikan (mencuri), pikirannya
penuh keserakahan, kebencian dan kegelapan bathin, pada suatu hari sakit
parah dan sangat menderita. Ketika aku mendengar bahwa ajalnya akan segera
tiba, aku memerlukan menjenguknya untuk menitipkan pesan:'Saudaraku yang
tercinta. Para pertapa dan bhikkhu percaya, bahwa siapa yang suka membunuh,
mencuri, melakukan perbuatan asusila, berdusta, memfitnah, suka bertengkar
dan berbicara hal-hal yang tidak berguna, pikirannya penuh keserakahan,
kebencian dan kegelapan bathin; kalau mereka kelak meninggal dunia dan badan
jasmaninya hancur, roh mereka akan melalui sebuah lorong gelap amsuk kedalam
neraka. Dan begitu pulalah kehidupan saudaraku. Kalau sekiranya uacapan para
pertapa dan bhikkhu itu benar dan saudaraku betul-betul masuk kedalam
neraka, aku mohon dengan sangat agar saudaraku mau kembali lagi kedunia
untuk memberi kabar kepadaku :'Memang benar ada dunia lain…'
Saudaraku yang tercinta. Aku percaya penuh kepada anda; apa yang anda lihat
sama juga seperti aku melihatnya sendiri. Mohon dengan sangat agar harapanku
tidak sia-sia hendaknya. Dengan kata-kata: 'Tentu saja tidak', ia dengan
khidmat berjanji kepada ku. tetapi kenyatannya tidak seorangpun pernah
kembali untuk memberi kabar kepadaku. Inilah salah satu sebab yang
memperkuat pandanganku."

Setelah mendengar uraian tersebut, Ayasma Kassapa lalu menceritakan satu
perumpamaan tentang seorang penjahat dan algojonya.
"O, payasi, andaikata pada suatu hari seorang penjahat dibawa kehadapan anda
dan anda diminta untuk mengadilinya; dan anda memerintahkan agar penjahat
itu dipenggal lehernya sekarang juga. Andaikata penjahat itu memohon kepada
algojo agar pelaksanaan hukuman ditunda dulu hingga ia sempat memberi kabar
kepada kawan-kawan dan keluarganya. Apakah menurut pendapat anda, algojo itu
mau menunda pelaksanaan hukuman orang itu ataukah ia segera melaksanakan
hukuman mati tersebut?"
Payasi harus mengakui bahwa algojo apsti tidak mau meluluskan permohonan
penjahat itu.
"Nah, Payasi yang terhormat. Kalau seorang penjahat tidak diberi ampun oleh
algojo didunia ini, apakah anda mengira bahwa kawan-kawan anda yang terdiri
dari pembunuh, pencuri, orang cabul, pendusta, pemfitnah dan yang suka omong
kosong, pikirannya penuh dengan keserakahan, kebencian dan kegelapan bathin
diberi ampun"
Setelah meninggal dunia, roh mereka akan melalui sebuah lorong gelap masuk
ke dalam neraka. Dineraka mereka memohon kepada para algojo dengan
kata:'Mohon dengan hormat kepada Bapak Algojo agar sudi menunda dulu
pelaksanaan hukuman kami hingga kami dapat memberi kabar kepada raja muda
Payasi didunia, bahwa setelah mati memang benar masih ada dunia lain
(halus).' Apakah anda berpendapat bahwa para algojo mau meluluskan
permintaan mereka?"

Karena payasi rupa-rupanya masih belum dapat diyakinkan, maka Ayasma
Kassapa lalu menanyakan tentang kemungkinan masih ada sebab-sebab lain.

Atas pertanyaan ini payasi menceritakan, bahwa ia pun mempunyai kawan dan
sanak keluarga yang belum pernah membunuh makhluk-makhluk hidup dan selalu
melaksanakan tata hidup yang saleh dan terpuji. Kepada merekapun diminta
untuk memberi kabar setelah mereka mati dan kelak masuk sorga. Tetapi mereka
tidak pernah kembali atau kirim berita.

"Baiklah, Panglima yang terhormat. Sekarang aku ingin menceritakan sebuah
perumpamaan, yang daripadanya banyak orang pintar dapat menangkap arti yang
sesungguhnya dari sebuah khotbah.
Andaikata ada orang yang terjatuh kedalam jamban dan anda memerintahkan
budak anda untuk menariknya keluar dari jamban tersebut. Lalu orang itu
disikat dan dicuci bersih, kemudian disiram tiga kali dengan minyak wangi,
rambut serta janggutnya disisir rapi, diberi pakaian bagus dan dibawa
kesebuah istana dimana ia dapat menikmati kesenangan dari kelima indriyanya.
Sekarang aku ingin bertanya:Apakah orang itu ingin kembali ke dalam jamban?
Mengapa tidak? Jamban adalah kotor dan berbau busuk, memualkan, mengerikan
dan memperlihatkan perbedaan seorang manusia biasa dari seorang dewa.
O, Payasi yang baik. dari jarak seratus mil bau seorang manusia dapat
mengusir para dewa. bagaimana mungkin sahabat-sahabat anda yang menyukai
kehidupan saleh dan sekarang masuk ke surga, ingin kembali ke dunia untuk
memberi kabar kepada anda:'Memang benar terdapat suatu dunia lain (halus),
memang benar terdapat tumimbal lahir spontan…."

"Selain dari itu" Ayasma Kassapa melanjutkan :" Kalau kita didunia ini satu
abad, dialam surga dari Tiga Puluh Tiga Dewa berarti satu hari satu malam.
Tiga puluh malam demikian itu merupakan satu bulan, dua belas bulan
merupakan satu tahun; dan kehidupan dialam dari Tiga Puluh Tiga Dewa
tersebut berlangsung selama seribu tahun yang demikian itu.

Nah kawan-kawan serta sanak keluarga anda yang tidak pernah membunuh makhluk
hidup, tidak pernah berdusta,…setelah badan jasmani mereka hancur pasti
masuk ke alam surga.
Andaikata mereka berpikir:'Setelah kami berdiam di alam surga ini untuk dua
atau tiga hari dan menikmati dulu kesenangan kelima indriya kami, maka kami
baru kembali ke dunia untuk memberitahukan Payasi bahwa memang benar
terdapat sebuah dunia lain (halus), bahwa tumimbal lahir spontan memang
benar adanya dan menanam bibit serta memetik buahnya (hasil) dari
perbuatan-perbuatan baik dan burukpun merupakan kenyataan.' Apakah mereka
dapat melaksanakan apa yang mereka pikir?"

"Tentu saja tidak", jawab payasi,"sebab kami semua pasti sudah meninggal
dunia. Tetapi, Ayasma Kassapa, siapakah yang memberitahukan anda tentang
adanya alam dari Tiga Puluh Tiga Dewa dan bahwa mereka dapat hidup sampai
sekian lama? Aku menyesal harus tidak percaya apa yang anda katakan."
Ayasma Kassapa lalu menjawab:"O, Payasi, Anda mirip dengan seorang yang
sejak lahir buta matanya, seorang yang tidak dapat melihat benda-benda yang
berwarna hitam, putih, biru, kuning, merah atau hijau; tidak dapat melihat
apa yang sama dan apa yang tidak sama; tidak dapat melihat bintang-bintang,
bulan dan matahari. Orang itu kemudian berkata:'Aku tidak tahu tentnag hal
itu; aku tidak melihat apa-apa, karena itu benda-benda terebut tidak munkin
ada.' Cobalah anda pikir, apakah orang buta yang mengucapkan kata-kata
tersebut diatas, mengatakan sesuatu yang benar?"
"Tentu saja tidak", jawab Payasi.
"Nah, demikianlah sebenarnya keadaan anda, Payasi yang terhormat. Anda mirip
dengan seorang yang sejak dilahirkan buta matanya. Ketahuilah bahwa alam
halus tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Para pertapa dan bhikkhu yang
hidup menyepi dan melakukan meditasi untuk waktu yang lama, telah melatih
mata bathin mereka sehingga dapat melihat hal-hal yang tidak terlihat dengan
mata biasa. Dengan mata bathin mereka dapat melihat dunia ini dan juga alam
halus dan mereka yang bertumimbal lahir secara spontan."

Payasi masih saja belum dapat diyakinkan dan mmberi bantahan baru, bahwa
melihat para pertapa dan bhikkhu yang saleh dan selalu mempunyai itikad
baik; tetapi mereka memilih untuk tetap hidup dan tidak ingin cepat-cepat
mati. Mereka tetap ingin menikmati hidup dan membenci kematian. Karena itu
aku berkata kepada diriku:"Kalau saja para pertapa dan bhikkhu yang
terhormat itu benar-benar tahu bahwa keadaan mereka setelah mati akan
menjadi lebih baik, maka pastilah sekarang juga mereka akan minum racun atau
membunuh diri dengan menggunakan senjata tajam atau menggantung diri atau
menjatuhkan diri mereka dari atas batu karang yang tinggi. Tetapi justru
karena sangsi, apakah kelak setelah mereka mati dapat masuk surga, maka
mereka memilih untuk hidup lebih lama dalam dunia ini dan tidak ingin cepat
mati; mereka memilih hidup senang dan mengelakkan penderitaan."
Inilahs ebab lain lagi, sehingga aku percaya bahwa dunia halus tidak ada dan
tumimbal lahir secara spontan tidak ada.

Ayasma Kassapa kemudian menceritakan sebuah perumpamaan dari seorang yang
mempunyai dua orang istri. Istri pertama mempunyai anak laki laki berumur
dua belas tahun, sedang istri kedua sedang hamil ketika suaminya meninggal.
Setelah ayahnya meninggal dunia, anak laki-laki itu menagih warisan kepada
istri kedua dari mendiang ayahnya. Atas tagihan ini istri kedua itu mohon
ditunda dulu sampai bayi yang sedang dikandungnya itu lahir. Kalau bayi itu
seorang anak laki-laki, maka bayi itu berhak atas sebagian warisan ayahnya.
Kalau bayi itu perempuan, maka warisan seluruhnya akan menjadi milik si anak
laki-laki dari istri pertama.
tetapi si anak laki-laki itu tidak sabar menanti dan terus menerus mendesak.
Karena kesal, istri kedua itu lalu masuk ke kamarnya dan membedah perutnya
sendiri untuk melihat apakah bayi yang sedang dikandungnya itu laki-laki
atau perempuan. Dengan demikian tentu saja ia kehilangan nyawa bayinya,
kehilangan nyawanya sendiri dan kehilangan bagian dari warisan mendiang
suaminya.

"Dengan cara yang sama, Payasi yang terhormat, Anda akan mengalami
malapetaka hanya karena keingintahuan anda tentang alam halus. Para pertapa
dan bhikkhu yang saleh dan mempunyai itikad baik tidak akan memetik buah
yang belum matang. Mereka menunggu hingga buah itu matang benar. Lagipula,
lebih lama mereka hidup didunia ini, lebih banyak dapat mereka manfaatkan
hidup mereka untuk kepentingan para manusia dan para dewa. Ini merupakan
bukti pula Payasi, bahwa memang benar terdapat dunia lain…"

Namun Payasi masih mempunyai alasan lain untuk membela pendiriannya. Ia
mengatakan bahwa ia pernah menyuruh membakar seorang penjahat sampai mati
dalam sebuah tempayan besi yang ditutup rapat dan disegel. Sesudah itu
dengan hati-hati ia menyuruh buka tempayan itu, tetapi tidak ada roh yang
tampak keluar dari tempayan tersebut.

Ayasma Kassapa lalu bertanya kepada Payasi apakah ia pernah mimpi waktu
tidur.
"Sering", jawab Payasi. "Siang hari ini aku mimpi tentang sebuah taman yang
indah, juga sebuah hutan dengan pemandangan alam yang menarik dan laut yang
tenang."
"Akan tetapi",Ayasma Kassapa bertanya:"Apakah anda ketika itu dijaga oleh
badut-badut istana, orang-orang kerdil istana, dayang-dayang yang ditugaskan
untuk mengipas dan gadis-gadis lain?Apakah mereka tidak melihat roh anda
keluar dari badan anda? Demikian pula, mana mungkin anda dapat melihat roh
yang masuk dan keluar dari orang yang sudah mati?"

Tetapi Payasi masih memiliki alasan lain untuk membenarkan pandangannya. Ia
pernah menyuruh untuk menimbang seorang penjahat ketika masih hidup dan
kemudian memerintahkan para algojo untuk menjerat leher penjahat itu sampai
mati. Dan ternyata bahwa ketika masih hidup timbangannya lebih ringan
dibandingkan dengan ketika sudah menjadi mayat. Karena itu dapat ditarik
kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang hilang, bahkan roh pun tidak.

Ayasma Kassapa lalu membuktikan, bahwa jalan pikiran yang demikian itu salah
dengan menuturkan cerita tentang sebuah bola besi.
"Bila sebuah bola besi dibakar sampai mebara, maka timbangannya akan
berkurang dibandingkan ketika masih belum dibakar. Begitu pula bila seorang
manusia masih hidup, masih berhawa panas dan memiliki kesadaran, ia akan
lemas dan lebih ringan daripada sesosok tubuh manusia yang mati, dingin dan
tidak memiliki kesadaran lagi. Tubuh ini akan menjadi kaku dan berat."

Payasi lalu bercerita tentang suatu percobaan lain. Seorang penjahat dihukum
mati tanpa merusak kulit, daging dan tulang atau sumsum. Setelah orang itu
mati, Payasi memerintahkan orang-orangnya untuk membaringkan mayat itu
terlentang lalu menelungkup, miring, dan ditartuh dengan kepala dibawah.
Setelah itu digosok-gosok, dipukul dengan batu, disikat dengan kayu lalu
dengan pisau. Namun yang hadir tidak dapat melihat ada roh yang keluar dari
mayat itu.
Ayasma Kassapa lalu menceritakan sebuah kisah dari seorang peniup suling
keong yang mengembara kesuatu negara asing, dimana para penduduknya belum
pernah melihat orang meniup suling keong. Ia meniup tiga kali lalu
meletakkan keong itu disampingnya. Penduduk setempat berduyun-duyun datang
untuk melihat keong tersebut. Mereka miringkan keong itu ke kiri, kemudian
ke kanan; mereka menggosok-gosok, menekan-nekan dan mengocok-ngocok, tetapi
tidak ada suara yang keluar dari keong tersebut.
Akhirnya dengan tertawa peniup suling itu mengambil keong tersebut dan
meniup tiga kali. Para penduduk setempat sekarang tahu bahwa hanya dengan
ditiup keong itu dapat mengeluarkan suara.
Demikian pula halnya dengan tubuh manusia. Digabung dengan kehidupan,
digabung dengan hawa panas, digabun dengan kesadaran, tubuh seorang manusia
dapat berjalan, berdiri, duduk, berbaring, melihat bentuk-bentuk dengan
mata, mendengar suara dengan telinga, mencium wewangian dengan hidun,
menyentuh dengan jari tangan serta merasakan benda-benda dengan badan dan
dapat mengerti paham dengan pikiran.Tetapi kalau tubuh kosong dari
kehidupan, hawanya tidak lagi panas dan tidak lagi bergabung dengan
kesadaran, maka tubuh ini tidak lagi dapat berjalan, berdiri….Ini
merupakan bukti pula untuk anda, bahwa seyogyanya anda harus percaya bahwa
ada dunia lain…….

Sekali lagi Payasi menceritakan Ayasma Kassapa tentang percobaan lain yang
ia lakukan untuk menemukan roh manusia. Ia memerintahkan membedah seorang
penjahat dengan cara memotong kulitnya, dagingnya, tulangnya dan sumsumnya,
tetapi lagi-lagi tidak dapat ditemukan roh yang dicari.

Dalam hubungan ini Ayasma Kassapa menceritakan sebuah perumpamaan tentang
seorang pemuja api yang telah memungut seorang anak yatim piatu yang
ditinggal dari sebuah kafilah. Ketika anak itu berumur dua belas tahun,
pemuja api itu (yang juga seorang pertapa) inin berkelana untuk beberapa
waktu lamanya. Ia memesan kepada anak itu untuk menjaga api baik-baik dan
jangan sampai padam. Tetapi kalau padam ia harus menyalakan kembali dengan
menggosok-gosok dua batang kayu terus menerus hingga keluar api.
Ketika pertapa itu sudah pergi, anak itu sepanjang hari terus bermain,
sehingga api pemujaan benar-benar padam. Anak itu ingat apa yang dikatakan
ayah angkatnya, tetapi lupa cara menggunakan alat pembangkit api tersebut.
Batang kayu itu dipotong-potong menjadi potongan-potongan kecil dan kemudian
ditumbuk dalam sebuah lumpang. Tentu saja dnegan cara itu ia tidak dapat
menyalakan api. Ketika ayah angkatnya pulang dan melihat api pemujaan padam,
ia lalu mengambil dua batang kayu dan digosok-gosok terus menerus hingga
panas dan akhirnya keluar api.

"Oh, Payasi, dalam hal yang sama adalah bodoh untuk mencari dunia halus
dengan memakai cara yang salah seperti yang anda lakukan hingga kini. O,
Payasi, lepaskanlah pandangan keliru anda agar anda tidak tertimpa
malapetaka dan penderitaan."

"Meskipun Ayasma Kassapa berkata demikian, namun aku tetap tidak dapat
melepas pandangan tersebut. Raja Pasenadi dari kosala dan semua raja tahu,
bahwa Payasi memiliki pandangan tersebut.Yaitu, bahwa tidak ada dunia lain
(halus), tidak ada tumimbal lahir dengan spontan dan tidak ada penanaman
bibit dan pemetikan buah (hasil) dari perbuatan-perbuatan baik dan buruk.
Kalau sekarang aku melepaskan pandanganku tersebut, tentu mereka akan
berkata:'Sungguh bodoh Payasi itu dan ia sangat bebal untuk diberi
pengertian. Untuk mencegah cemoohan orang, untuk menjaga kewibawaan (gengsi)
dan sebagai tipu daya aku akan terus menganut pandanganku tersebut."

"Kalau demikian halnya", berkata Ayasma Kassapa,"aku akan menceritakan lagi
sebuah perumpamaan, yang daripadanya banyak orang pintar dengan jelas dapat
melihat arti dari suatu persoalan.
pada suatu ketika sebuah kafilah yang terdiri dari seribu kereta melakukan
perjalanan dari negara timur ke negara barat. Dimanapun mereka tiba,
biasanya rumput, air, rumput kering dan makanan habis terkuras.Karena itu
mereka memutuskan untuk memecah kafilah mereka menjadi dua rombongan dari
limaratus kereta yang masing-masing dikepalai seorang kepala rombongan.
Kafilah pertama berangkat lebih dulu dengan membawa cukup bekal rumput, air,
rumput kering dan makanan. Baru saja berjalan beberapa hari lamanya mereka
bertemu dengan hantu jahat yang menyamar sebagai manusia. Kulitnya hitam,
matanya merah, rambutnya awut-awutan dan dihias dengan bunga lotus.
Pakaiannya basah dan ia mengendarai sebuah kereta bagus yang roda-rodanya
basah dan penuh lumpur. Ketika ditanya darimana ia datang, ia menjawab dalam
perjalanan dilanda hujan lebat. Jalanan menjadi berlumpur dan rumput, kayu
serta air dapat dijumpai dalam jumlah yang berlimpah-limpah. Pemimpin
kafilah itu lalu memerintahkan untuk membuang semua persediaan rumput, kayu
dan air, agar dapat berjalan lebih cepat karena lebih ringan. Mereka
melanjutkan perjalanan satu hari, dua hari….hingga enam hari. Tetapi
mereka gagal menemui rumput, kayu atau air, sehingga pada hari ketujuh
semuanya mati karena kehausan. hantu jahat lalu datang makan daging mereka,
sehingga dari mayat-mayat orang dan binatang, yang tertinggal hanyalah
tulang belulang saja.
Beberapa hari kemudian, kafilah kedua berangkat dengan membawa bekal rumput,
kayu dan rumput kerin dengan cukup. Baru berjalan beberapa hari, hantu jahat
yang sama dengan menyamar sebagai manusia, kembali mencegat perjalanan
kafilah kedua dan menuturkan kisah yang sama. Kemudian ia membujuk agar
semua persediaan rumput, kayu dan air dibuang saja. Tetapi pemimpin
rombongan kafilah yang kedua ini adalah seorang cerdas dan berpengetahuan
luas yang tidak begitu saja mau percaya omongan orang yang tidak dikenal. Ia
memerintahkan melanjutkan perjalanan dan jangan membuang persediaan kayu,
rumput dan air mereka. Perjalanan dilanjutkan selama enam hari tanpa
menemukan rumput, kayu dan air. Pada hari ketujuh mereka menjumpai
reruntuhan serta tulang belulang dari kafilah pertama. Pemimpin rombongan
lalu berkata:'Kafilah ini telah musnah, karena kebodohan dari pemimpinnya.
Sekarang tukarlah barang-barnag yang kurang berharga dari keretamu dengan
barang-barnag yang lebih berharga yang dapat diketemukan dari kafilah
pertama dan kemudian marilah kita lanjutkan perjalanan kita.'

Akhirnya tibalah mereka dengan selamat ditempat tujuan berkat pemimpin
mereka yang pintar dan berpengetahuan luas. Begitu pulalah Payasi,
sebagaimana juga pemimpin rombongan kafilah pertama anda akan hancur dengan
mencari dunia lain (halus) dengan memakai cara yang salah. Lepaskanlah
pandangan keliru anda agar anda kelak tidak mengalami celaka."
"Meskipun Ayasma Kassapa berkata demikian, namun aku tetap tidak mau
melepaskan pandanganku tersebut untuk menjaga kewibawaan dan mencegah
cemoohan orang dan sebagai tipu daya", jawab Payasi.

Lalu Ayasma Kassapa menceritakan lagi sebuah perumpamaan dari seorang
peternak babi yang dalam perjalanan pulang ke rumah dari sebuah kampung lain
melihat timbunan besar kotoran yang sudah kering. Ia berpikir:"Kotoran ini
merupakan makanan yang baik untuk babi-babiku." Kemudian ia membuat
bungkusan besar dari kotoran kering tersebut dan dipikul dipundak untuk
dibawa pulang. Tetapi dalam perjalanan pulang ia ditimpa hujan lebat,
sehingga ketika tiba dirumah pakaian dan badannya basah kuyup dan berlumuran
kotoran. Orang kampung yang melihat kejadian tersebut menertawakan peternak
tersebut atas ketololannya.
Peternak babi itu dengan marah menjawab:"Kamu sendiri yang tolol. Kotoran
itu merupakan makanan baik untuk babiku."
"Dalam hal yang sama, anda mirip dengan orang yang memikul kotoran itu,
Payasi."

Tetapi Payasi tetap tidak mau melepaskan pandangannya yang keliru untuk
mencegah cemoohan orang, untuk menjaga kewibawaannya dan sebagai tipu daya.

Ayasma Kassapa kemudian menceritakan sebuah kisah tentang dua orang pemain
dadu. Salah seorang pemain setiap kali sebelum bermain memasukkan biji dadu
kedalam mulutnya dan ia selalu menang. Karena itu pemain kedua berkata
kepadanya:"Kamu selalu menang. Marilah sekarang kita saling tukar biji dadu
dulu". Biji-biji dadu mereka ditukar.Pemain kedua lalu mengoleskan racun
pada biji dadu tersebut. Kemudian mengajak pemain pertama untuk bermain dadu
lagi. Biji-biji dadu mereka kembali ditukar. Seperti biasa ia memasukkan
biji dadu itu sebelum bermain ke dalam mulutnya dan tentu saja ia mati
keracunan.

"Nah, anda mirip dengan pemain dadu tersebut. Lepaskanlah pandangan keliru
anda, sehingga anda kelak tidak mengalami celaka."

Tetapi Payasi tetap kukuh pada pendiriannya, sehingga Ayasma Kassapa
terpaksa menurutkan sebuah perumpamaan lagi.

Karena sesuatu sebab, pada suatu hari seluruh penduduk dari suatu kampung
pergi mengungsi. Seorang penduduk kampung lain berkata kepada kawannya:"Hai
kawan, mari kita mengunjungi kampung tersebut. Barangkali saja kita akan
menemukan sesuatu yang berharga yang tertinggal disana." Berangkatlah kedua
kawan tersebut ke kampung yang telah kosong itu.Disana mereka menemukan
setumpuk rami. Mereka masin masing lalu membuat dua ikatan besar,
masing-masing memikul sebuah ikatan dan kemudian melanjutkan perjalanan
mereka. Tidak lama kemudian mereka menemukan tumpukan kulit kayu.Orang yang
pertama mengatakan kepada kawannya:"Hai,kawan, lebih baik kita buang saja
ikatan rami yang kita bawa sekarang dan menukarnya dengan kulit kayu ini
yang lebih berharga." Tetapi kawannya menjawab, bahwa ia sudah puas denan
ikatan rami dan tidak ingin menukarnya dengan kulit kayu.
Setelah itu mereka menemukan kemeja-kemeja berbulu, kemudian kain linen.
Seterusnya mereka menemukan timah putih, tembaga, perak dan akhirnya
emas.Setiap kali orang yang pertama menukar bawaannya dengan yang lebih
berharga, hanya kawannya yang kukuh tetap saja memikul ikatan rami.

Akhirnya mereka tiba kembali dikampung tempat tinggal mereka.Orang yang
memikul rami tidak disambut oleh istri, anak-anak dan kawan sekampung.
Sebaliknya kawannya yang membawa pulang emas disambut dengan meriah oleh
istrinya, anak-anaknya dan kawan-kawans ekampung, sehingga ia merasa bahagia
sekali.

"O,Payasi, anda mirip dengan si keras kepala yang memikul terus ikatan
rami.Lepaskanlah pandangan anda yang keliru dan janganlah menunggu ia kelak
mengakibatkan anda celaka."

Akhirnya Payasi mengaku, bahwa sejak mendengar perumpamaan pertama ia sudah
merasa gembira dan mengerti, namun ia ingin mendengar lebih banyak
penjelasan dan keterangan. Karena itulah ia bersikeras dan tetap ingin
berdebat dengan Ayasma Kassapa.

"Mengagumkan, Bhante, mengagumkan sekali! Bagaikan orang yang menegakkan
kembali apa yang telah roboh, atau memperlihatkan apa yang tersembunyi atau
menunjukkkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan lampu diwaktu
gelap gulita, sambil berkata:' Siapa yang punya mata, silahkan melihat'.
Demikianlah Dhamma telah dibabarkan dalam berbagai cara oleh Bhante. Karena
itu aku ingin mencari perlindungan kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Mohon
Bhante berkenan menerima diriku sebagai siswa mulai hari ini hingga meningal
dunia. Mohon dengan hormat Bhante memberikan petunjuk kepadaku yang dapat
digunakan untuk kesejahteraan dan keselamatanku."

Ayasma Kassapa lalu meberikan petunjuknya.
"Apabila ada persembahan (dana) diberikan dengan jalan membunuh sapi,
kambing, babi dan makhluk-makhluk lain, dan para pemberi dana masih
dihinggapi pandangan salah dan pikiran salah, mengucapkan kata-kata salah,
melakukan perbuatan dan mempunyai mata pencaharian salah, maka dana itu tak
bernilai tinggi, tak dapat membawa kemajuan apa-apa, tidak cemerlang dan
tidak bercahaya. Seperti juga halnya seorang petani, dengan membawa bibit
dan luku, ingin menanam sesuatu ditanah buruk yang belum dibersihkan dari
belukar berduri dan akar-akar. Kalau bibit itu kelak menjadi kering oleh
hembusan angin dan teriknya sinar matahari, sedang hujan tidak kunjung turun
untuk menyiram tanah yang kering itu.Apakah mungkin bibit itu dapat bersemi
dan menjadi besar?"

"Tidak mungkin, Bhante."

"Sebaliknya, Payasi.Apabila persembahan (dana) diberikan dengan tidak
membunuh binatang-binatang dan para pemberi dana memiliki pandangan benar,
pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya
upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar, persembahan (dana)
demikian itu membawa pahala besar sekali, bercahaya, cemerlang dan bersinar
hingga jauh. Kalau seorang petani menanam bibit ditanah yang subur dan hujan
sewaktu-waktu turun, apakah bibit itu akan bersemi dan dapat menjadi besar
kelak? Dan apakah pak tani itu tidak akan mendapat panen yang baik?"

Payasi, setelah pandangan kelirunya diluruskan oleh Ayasma Kassapa, setelah
wafat masuk dalam alam surga dari Empat Dewa Raja.

Sumber: Aneka Sutta, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis NALANDA, 1989

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License