Kesalahan-kesalahan umum yg dijumpai dalam berargumentasi (logical fallacy)

1). Circular Reasoning (pembuktian berputar): Tuhan ada karena begitulah kata kitab (…..), dan kitab (…..) pasti benar karena merupakan tulisan / kata-kata Tuhan.

2). No True Scotsman - Kejahatan yang dilakukan oleh sebagian Muslim/Kristen/ Buddhis/Hindu dikarenakan mereka bukanlah Muslim/Kristen/ Buddhis/Hindu sejati.

3). My weakness is your weakness - Agama didasarkan pada iman, jadi science pun didasarkan pada iman. Agama memiliki organisasi /
terorganisasi dan memiliki dogma sehingga Ateisme pun pastilah terorganisasi dan memiliki dogma.

4). Negative proof - Sesuatu benar karena anda tidak dapat membuktikan bahwa sesuatu tersebut tidak benar.

5). Pembuktian berdasarkan asumsi - misal: Diasumsikan bahwa Allah adalah tuhan yang benar, sehingga menguntungkan bila anda memeluk Islam. Diasumsikan bahwa beragama tidak membawa kerugian, sehingga menguntungkan bila anda memeluk agama. Diasumsikan bahwa Tuhan akan menghukum pendosa, sehingga menguntungkan bila anda memeluk agama.

6). Berhubungan dgn poin 4, kritik pada evolusi dianggap sbg bukti penciptaan, padahal bukan hanya ada 2 kemungkinan yg ada, bukan hanya A benar B salah, atau A salah B benar. (A=evolusi, B=kreasionisme)

7). Kitab suci agama tertentu adalah benar 100%, lainnya adalah salah/ penyimpangan, kitab suci tsb adalah bukti yg lebih kuat daripada eksperimen science apapun.

8). Bila teori science sesuai atau bisa dicocok2kan dengan isi kitab suci tertentu maka kitab suci tsb meramalkan kenyataan pengetahuan yg diberikan oleh science. Bila bertentangan, maka science yg salah, kitab suci tsb tetap selalu benar.

9). Mendeskripsikan Tuhan/ mempercayai Tuhan yg berupa pribadi, pribadi yg memiliki kesempurnaan yg diimpikan oleh manusia. Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Tahu. Ironisnya dgn begitu maka Tuhan tsb memiliki sifat2 mirip manusia (cemburu, marah, sedih, senang, pengasih, berkuasa, berpengetahuan).

10). a). Moral dianggap berasal dari kitab tertentu/ ajaran agama tertentu. Semua ateis akan berbuat jahat tidak terkontrol (merampok, mencuri, memperkosa, dsb).
b). Masih berhubungan dengan moral: dengan agama mempromosikan kebaikan maka agama tsb benar dan harus dipelihara dan dikembangkan. Meski sebuah agama berguna (poin a).), bukan berarti bhw agama tsb memberikan kebenaran, nilai kebenaran tidak dipengaruhi oleh nilai kegunaan.

11. God of the Gaps Fallacy. Kalau science tidak bisa menjelaskan
sesuatu, maka langsung didaulat penyebabnya adalah Tuhan. Kalau sebabnya
akhirnya ditemukan sebagai bukan Tuhan, maka Tuhan berpindah ke "gap"
atau misteri yang lain.

12). Terutama dalam evolusi, "saya tidak melihatnya, maka saya tidak percaya". Padahal penglihatan manusia hanyalah satu cara di antara berbagai cara observasi lain yg bahkan jauh lebih akurat.

13). Lempar argumen satu, kemudian lempar argumen lain. Seolah2 ada kumpulan argumen yg diambil dari berbagai tokoh spt Harun Yahya, Plato, Agustinus, dsb. Misal: tanya "bagaimana terjadinya mata", sementara kita sibuk menjelaskannya secara detil, argumen berikut dilempar: "mana itu fosil perantara (intermediate fossil)", itu susah payah dijelaskan, muncul lagi argumen berikutnya. Kebanyakan pertanyaan hanya digunakan sbg amunisi, bukan rasa keingintahuan sejati.

14). Percaya pada otoritas/ karisma dari tokoh2 agama tertentu. Dalam mempelajari science tentu kita membaca dan percaya isi buku2 teks science, tapi (1). kita lihat content-nya - jalan pemikiran dan data2 pendukungnya. (2). mekanisme komunitas science sendiri menerapkan sistem verifikasi yg sangat ketat, yg masuk textbook tentu adalah teori yg sudah lolos melewati proses verifikasi tsb.
Dalam dunia agama tentu otoritas/ karisma sangat berpengaruh, baik otoritas dari tokoh tertentu maupun otoritas ajaran doktrin tertentu. Karena itu tentunya beragama tertentu butuh "iman" tertentu.

15). Highly imaginative. Dan ini mungkin satu yg positive dari sekian banyak poin sebelumnya. Ini berhubungan dgn God of the Gaps pd poin 11. Untuk menempatkan Tuhan pada gap suatu misteri yg ada, maka imajinasi yg tinggi digunakan. Ntah seberapa rumit atau seberapa desperate penjelasan yg diperlukan, selalu saja ada cerita yg bisa menyambungkan suatu misteri dgn Tuhan.

16). Mysteries are good. Sesuatu yang misterius atau belum ada penjelasannya langsung didaulat sebagai "teritori" Tuhan. Kalau ada sesuatu yang belum bisa dijelaskan oleh sains, para Teis langsung kegirangan, "Aha! Para Ateis ternyata tidak bisa menjelaskan ini dan itu, ini bukti adanya Tuhan", tanpa sama sekali berusaha mencari penjelasan alternatif tentang fenomena tersebut. Bagi para Teis jawaban "tidak tahu" rupanya tidak bisa diterima, dan harus diganti dengan "Tuhan". Ada kesan bahwa misteri-misteri ini harus dipertahankan, jangan sampai penjelasan yang non-Tuhan muncul. Dan dengan niat memperkuat Tuhan, mereka mencari-cari misteri yang belum bisa dipecahkan sebagai tropi kemenangan Tuhan, tanpa niat untuk membantu memecahkan misteri-misteri tersebut. Padahal, misteri-misteri yang mereka kumpulkan sebagai "amunisi" itu berasal dari para ilmuwan yang mereka anggap sebagai "musuh" Teisme.

17). Burden of proof (beban pembuktian). Terutama pada keberadaan Tuhan. Argumen yg sering sekali saya dengar: Buktikan kalau Tuhan itu tidak ada!. (bisa juga: buktikan kalau dimensi gaib itu tidak ada, fenomena paranormal, dsb). Tidak ada yg namanya membuktikan bhw sesuatu tidak ada. Bebannya terletak pd yg percaya utk membuktikan bhw sesuatu itu ada (dlm kasus ini Tuhan).
—> (terkait dgn poin ke 4: negative evidence).

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License