Kerumitan Yang Tak Teruraikan Menunjukkan Desain

Klaim:

"Pada tingkat biokimia khususnya, sistem-sistem berfungsi dengan kerjasama sejumlah bagian terpisah dan tak bisa dengan cara apa pun diuraikan menjadi lebih sederhana. Fakta ini membantah Darwinisme, yang mencoba menjelaskan rancangan pada kehidupan oleh kekuatan-kekuatan alamiah." (Harun Yahya pada bab 'KERUMITAN TAK TERURAIKAN' dalam buku 'DARWINISME TERBANTAHKAN')

Sanggahan:

Fakta:

1. Kerumitan yang tak teruraikan dapat berevolusi. Ia didefinisikan sebagai sebuah sistem yang kehilangan fungsinya bila salah satu bagiannya dibuang, jadi itu hanya mengindikasikan bahwa sistem tersebut tidak berevolusi dengan penambahan bagian2 tunggal tanpa merubah fungsi. Hal demikian meninggalkan beberapa mekanisme evolusioner lainnya:

a. penghapusan bagian

b. Penambahan bagian rangkap; sebagia contoh, duplikasi dari banyak atau semua sistem (Pennisi 2001)

c. Perubahan fungsi

d. Penambahan fungsi kedua pada suatu bagian (Aharoni et al. 2004)

e. Modifikasi bertahap bagian2

Semua mekanisme ini telah diamati dalam mutasi genetik. Nyatanya, penghapusan dan duplikasi gen adalah umum(Dujon et al. 2004; Hooper and Berg 2003; Lynch and Conery 2000), dan bersama2 mereka menciptakan kerumitan yang tak teruraikan yang tidak hanya mungkin tapi diharapkan. Faktanya, itu di prediksi oleh ahli genetika peraih nobel Hermann Muller hampir seabad lalu (Muller 1918, 463-464). Muller merujuk padanya sebagai kerumitan yang saling kunci (Muller 1939).

Asal evolusioner dari sebagian sistem yang tak teruraikan telah dinyatakan dalam beberapa detail. Sebagai contoh, evolusi siklus asam sitrat Krebs telah dipelajari dengan baik (Meléndez-Hevia et al. 1996), dan evolusi sebuah sistem "yang tak teruraikan" dari sebuah sistem reseptor hormon telah pula dilaporkan(Bridgham et al. 2006). Kerumitan yang tak teruraikan bukanlah hambatan bagi pembentukannya.

2. Bahkan bila kerumitan yang tidak teruraikan benar menghalangi evolusi Darwinian, kesimpulan bahwa itu dirancang tidak mengikutinya. Proses lain dapat saja menghasilkannya. Kerumitan yang tak teruraikan adalah salah satu contoh dari sebuah argumen ketidakpedulian yang gagal.

3. Kerumitan yang tak teruraikan didefinisi secara buruk. I didefinisi dalam istilah bagian, namun ia jauh dari menjelaskan apa "bagian" itu. Secara logis, bagian haruslah atom individual, karena itu adalah tingkat organisasi yang tidak dapat dibagi lebih lanjut dalam biokimia, dan itu adalah tingkat terkecil dimana ahli biokimia melakukan analisis mereka. Behe (yang di sebut Harun Yahya sebagai pukulan telak bagi Darwinisme) , walau begitu, memandang bagian2 molekul sebagai bagian individual, dan ia tidak memberi indikasi bagaimana ia menentukan itu.

4. Sistem yang telah dipandang rumit tak teruraikan bisa jadi tidak. Sebagai contoh:
Perangkap tikus yang Behe pakai sebagai contoh kerumitan yang tak teruraikan dapat disederhanakan dengan membengkokkan pelan lengannya dan membuang grendelnya.

Flagel Bakteri tidaklah rumit tak teruraikan karena ia dapat kehilangan banyak bagian dan tetap berfungsi, baik sebagai sebuah flagel sederhana atau sebuah sistem sekresi. Banyak protein dari flagel eukariotik (juga disebut silium atau undulipodium) diketahui dapat dibuang, karena flagella berenang fungsional yang tidak memiliki protein ini diketahui ada.

Disamping kerumitan contoh transpor protein Behe, ada protein lainnya yang tidak memerlukan transpor sama sekali (lihat Ussery 1999 sebagai referensi).
Contoh sistem kekebalan yang Behe masukkan tidaklah rumit tak teruraikan karena antibodi yang menandai sel penyerang untuk kerusakan dapat dengan sendirinya merintangi fungsi sel2 tersebut, memungkinkan sistem berfungsi tanpa molekul penghancur dari sistem pelengkap.

Referensi :

Aharoni, A., L. Gaidukov, O. Khersonsky, S. McQ. Gould, C. Roodveldt and D. S. Tawfik. 2004. The 'evolvability' of promiscuous protein functions. Nature Genetics [Epub Nov. 28 ahead of print]

Bridgham, Jamie T., Sean M. Carroll and Joseph W. Thornton. 2006. Evolution of hormone-receptor complexity by molecular exploitation. Science 312: 97-101. See also Adami, Christopher. 2006. Reducible complexity. Science 312: 61-63.

Dujon, B. et al. 2004. Genome evolution in yeasts. Nature 430: 35-44.

Hooper, S. D. and O. G. Berg. 2003. On the nature of gene innovation: Duplication patterns in microbial genomes. Molecular Biololgy and Evolution 20(6): 945-954.

Lynch, M. and J. S. Conery. 2000. The evolutionary fate and consequences of duplicate genes. Science 290: 1151-1155. See also Pennisi, E., 2000. Twinned genes live life in the fast lane. Science 290: 1065-1066.

Meléndez-Hevia, Enrique, Thomas G. Waddell and Marta Cascante. 1996. The puzzle of the Krebs citric acid cycle: Assembling the pieces of chemically feasible reactions, and opportunism in the design of metabolic pathways during evolution. Journal of Molecular Evolution 43(3): 293-303.

Muller, Hermann J. 1918. Genetic variability, twin hybrids and constant hybrids, in a case of balanced lethal factors. Genetics 3: 422-499. http://www.genetics.org/content/vol3/issue5/index.shtml

Muller, H. J. 1939. Reversibility in evolution considered from the standpoint of genetics. Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society 14: 261-280.

Pennisi, Elizabeth. 2001. Genome duplications: The stuff of evolution? Science 294: 2458-2460.

Ussery, David. 1999. A biochemist's response to "The biochemical challenge to evolution". Bios 70: 40-45. http://www.cbs.dtu.dk/staff/dave/Behe.html

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License