Kepler

Konfrontasi dua pandangan tentang kosmos - yang berpusat di bumi dan berpusat di matahari - yang merupakan konfrontasi besar pada zaman pertengahan mencapai puncaknya pada abad ke-16 dan ke-17 pada seseorang, yang seperti Ptolomeus, adalah seorang astrolog dan astronom. Ia hidup di suatu masa di mana jiwa dan pikiran manusia terbelenggu. Pernyataan gereja tentang masalah2 ilmiah yang berasal dari seribu atau dua ribu tahun sebelumnya lebih dianggap masuk akal daripada penemuan baru yang diperoleh menggunakan teknik2 yang belum ada pada orang2 kuno. Suatu masa dimana penyimpangan, bahkan pada masalah2 teologi yang dianggap sebagai misteri, dari perumusan liturgi menurut pandangan Katolik atau Protestan dapat dihukum dengan pajak, pengasingan, penyiksaan atau kematian. Surga didiami oleh para malaikat, setan dan Tangan Tuhan yang memutar bola2 kristal planet. Ilmu menjadi gersang akan gagasan2 bahwa yang mendasari gejala2 alam adalah hukum2 fisika. Tetapi perjuangan orang yang kesepian dan berani ini akan menyulut api revolusi ilmiah modern. Ia adalah Johannes Kepler.

Johannes Kepler lahir di Jerman pada tahun 1571 dan waktu masih anak2 dikirim ke sekolah seminari Protestan di kota kecil Maulbronn untuk dididik menjadi pendeta. Ini semacam tempat latihan bagi orang2 muda, yang melatih mereka memakai senjata teologis dalam perjuangan melawan orang2 Katolik. Kepler yang merupakan seorang yang cerdas, keras kepala dan independen, mengalami masa dua tahun tak berteman di kota Maulbronn yang muram. Ia menjadi terisolasi dan mengasingkan diri dari pergaulan. Pikirannya berpusat pada dirinya yang merasa sangat tidak berharga di hadapan Allah, ia bertobat seribu kali pada dosa yang tidak lebih jahat dari yang dilakukan orang2 disekitarnya. Bahkan ia ingin memperoleh penebusan.

Tetapi bagi Kepler Tuhan menjadi lebih sebagai suatu kemurkaan ilahi yang mendambakan perdamaian. Tuhan menurut Kepler adalah kekuatan kreatif kosmos. Keingin tahuan anak ini mengatasi ketakutannya. Ia ingin mempelajari eskatologi dunia, ia berani mengkontemplasi pikiran Tuhan. Bayangan yang berbahaya ini, yang pada mulanya tidak berarti seperti sebuah kenangan, menjadi obsesi yang berlangsung seumur hidup. Kerinduan seorang seminaris muda akan membawa Eropa keluar dari kungkungan pemikiran abad pertengahan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License