Katolik

Sejarah pemakaian kata “Gereja KAtolik” pertama kali ditemukan dalam surat Ignatius dari Antiokia yang ditulis tahun 107 M pada umat Kristen di Smyrna. Santo Ignatius memakai istilah ini untuk Gereja Kristen yang mempertahankan tradisi aslinya, termasuk heretic, seperti mereka yang “mengakui kalau Eukaristi bukan daging dari penyelamat kami Yesus KRistus, yang menderita karena dosa kita, dan sebagai Bapa, yang Maha Baik, lahir kembali.” (Smyrnaeans, 7). Menghimbau agar umat kristen tetap bersatu dengan bishop mereka, beliau menulis: “Dimanapun para bishop muncul, begitu pula para masyarakat; sebagaimana dimanapun Yesus Kristus berada, ada Gereja Katolik. (Smyrnaeans 8).

Perpecahan

Tahun 431 Konsili Ephesus mengatakan kalau perawan Maria tidak dapat dianggap melahirkan Tuhan. Mereka yang menolak kesepakatan Konsili ini kemudian mendirikan Gereja Timur Assiria atau sering disebut Gereja Timur Purba.
Tahun 451, konsili Chalcedon menyatakan kalau kristus, memiliki sifat ganda, sebagai tuhan sekaligus manusia. Gereja Iskandaria menolak keputusan ini dan mendirikan Gereja Ortodoks timur atau sering disebut Gereja Pra Chalcedonia.
Perpecahan selanjutnya dalam Gereja Katolik terjadi abad ke 11. perdebatan doktrinal dan konflik antara metode pemerintahan gereja, dan evolusi berbagai ritual dan praktek, berpuncak pada perpisahan tahun 1054 yang membagi gereja antara “Barat” dan “Timur”. Inggris, Perancis, Kekaisaran Romawi Suci, Polandia, Bohemia, Slowakia, Skandinavia, negara-negara Baltik, dan Eropa Barat secara umum berpihak ke Barat, dan Yunani, Romania, Rusia dan banyak negeri Slavic, Anatolia dan Syria serta Mesir kristen yang menerima konsili Chalcedon berpihak ke Timur. Pembagian ini disebut Schisme Barat-Timur.
Perpecahan terbesar terjadi di abad ke-16, saat gerakan protestanisme berdiri. Mereka menolak kekuasaan Paus atas umat Kristen.

Anglikan

Sifat Katolik dari tradisi Anglikan dinyatakan secara doktrinal, ekumenikal (terutama lewat organisasi seperti Komisi Internasional Katolik Roma Anglikan), eklesiologikal (lewat pemerintahan episkopal dan pelestarian episkopat historis). Dam dalam liturgi dan doa. Anglikan (kecuali neo evangelikal) menjaga keyakinan pada sakramen ketujuh, persembahan Marian Anglo-Katolik, pembacaan rosario dan angelus, pemujaan Eukaristik, dan mencari santo. Dalam istilah liturgi, sebagian besar Anglikan memakai lilin di altar, banyak gereja memakai wangi-wangian dan lonceng sanctus di Eukaristi, yang sering dipandang sebagai kata “Massa” dari latin. Dalam beberapa gereja. Eukaristi masih dilakukan menghadap altar (sering dengan tabernakel) oleh gereja yang dibantu oleh seorang deacon dan subdeacon. Anglikan percaya pada kehadiran nyata Kristus saat Eukaristi.

Keyakinan

Hanya bila katolik dipandang sebagai bentuk pembedaan Kalvinsitik atau Puritan dari Protestanisme maka dapat ditarik keyakinan dan praktek umum Katolik. Dalam penafsiran ini, Katolik termasuklah Gereja Katolik Roma, beragam Gereja Kristen timur, Gereja Katolik lama, Anglikan dan beberapa “Gereja Katolik Independen”.
Keyakinan dan praktek Katolik antara lain:

• Keberlangsungan warisan organisasi dari gereja asal yang didirikan Yesus Matius 16:18 yang, menurut tradisi, menjadikan Petrus sebagai pemimpin pertamanya.
• Keyakinan kalau Yesus Kristus adalah ilahiah, sebuah doktrin yang secara resmi dijelaskan pada Konsili pertama Nicea dan dinyatakan dalam Ketetapan Nicea.
• Keyakinan kalau Eukaristi adalah sepenuhnya benar dan objektif sebagai jasad dan darah Kristus, lewat kehadiran nyata. Banyak keyakinan tambahan Katolik mengatakan kalau penyembahan pada Eukaristi sebagai jasad dan darah Kristus.
• Kepemilikan “ministri terurut tiga lipat” dari Bishop, pendeta dan Deacon.
• Semua minister diatur oleh, dan menjadi subjek pada, Bishop, yang menurunkan kekuasaan sakramentalnya dengan “menyerahkan tangan”, menjadikan mereka sendiri diatur oleh pewarisan langsung dari para rasul.
• Keyakinan kalau gereja adalah wadah dan kendaraan kesempurnaan ajaran Yesus dan para rasul dimana kitab suci dibentuk. Ajaran ini dijaga dalam kitab tertulis dan tradisi tidak tertulis, keduanya saling ketergantungan.
• Keyakinan pada perlunya sakramen.
• Pemakaian gambar, lilin, musik dan wadah, serta kadang wangi-wangian dan air suci, dalam penyembahan.
• Venerasi Maria, ibunda Yesus sebagai Perawan Suci Maria atau Theotokos, dan venerasi para santo.
• Pemakaian doa untuk orang mati.
• Permintaan pada santo yang telah meninggal agar doa terkabul.

Sakramen

Sakramen adalah praktek katolik yang dipandang sebagai tanda nyata keberadaan dan kasih Tuhan. Ada dua sakramen pada inisiasi kristen. Pertama adalah Baptisme, yaitu menjadikan seorang suci dari dosa asal karena dilahirkan dengan memeluk Katolik. Kedua adalah Konfirmasi atau Krismasi, yang berarti menyegel keyakinan seorang yang telah dibaptis. Dalam tradisi barat, biasanya ia berbentuk ritual yang terpisah dari baptisme, diikuti dengan periode pendidikan yang disebut katekesis, pada mereka yang setidaknya telah mencapai usia diskresi (sekitar 7 tahun) dan kadang ditunda hingga usia dimana seseorang telah mampu membuat pengakuan keimanan secara mandiri. Ia dipandang berbeda dengan Krisme (atau disebut juga myrrh) yang merupakan bagian dari ritual baptisme. Dalam tradisi timur biasanya ia disatukan dengan baptisme, sebagai pelengkap, tapi kadang juga dilakukan terpisah pada mereka yang kembali pada ortodoks. Sebagian teologi memandang ini sebagai tanda “Baptisme Ruh Kudus “, hadiah khusus (atau charismata) atau yang tetap laten dan termanifestasi seiring waktu sesuai dengan kehendak Tuhan. Pemimpin sakramen adalah seorang bishop. Bila seorang pendeta (presbyter) melakukan sakramen (sebagaimana diijinkan pada beberapa gereja katolik) kaitan dengan ordo lebih tinggi diindikasikan dengan pemakaian krisme yang diberkati oleh seorang bishop. (Dalam gereja Ortodoks Timur, hal ini merupakan kebiasaan, namun tidak wajib, dilakukan oleh primate dari gereja autocepahalous setempat.)
Sakramen penyembuhan memiliki dua jenis yaitu pengakuan dan Unction. Pada Unction, mereka yang menderita sakit diberi minyak yang telah diberkati oleh seorang bishop khusus. Pada abad lalu, saat penafsiran ini umum, sakramen ini disebut dengan "Extreme Unction", yaitu "Final Anointing", sebagaimana masih dilakukan pada katolik tradisional. Ia kemudian dipandang sebagai ritual terakhir. Ritual terakhir penyembuhan (bila orang yang sekarat tidak mampu mengaku) dan Eukaristi, dilakukan Viaticu,. Kata yang berarti “persiapan untuk perjalanan.”
Sakramen ordo suci adalah yang menyatukan seseorang pada ordo suci para bishop, pendeta (presbyter), dan deacon, ordo tiga lipat dari “para pengatur misteri Tuhan” (1 Corinthians 4:1), memberikan orang ini misi untuk mengajar, memberi hukuman dan memerintah. Hanya seorang bishop yang boleh memimpin sakramen, dan hanya seorang bishop yang berhak mempimpin Ministri Apostolik. Pemberian pangkat sebagai bishop menjadikan seseorang sebagai pewaris dari para rasul. Pemberian pangkat sebagai pendeta menjadikan ia pemimpin dari Gereja dan menjadi asisten dari bishop, memimpin perayaan penyembahan suci, dan bertindak sebagai "in persona Christi" (kristus) pada perayaan eukaristi. Pemberian pangkat sebagai deacon menjadikannya pelayan gereja, khususnya dalam ritual dan pengumpulan derma. Deacon lebih lanjut menjadi seorangrahib, namun hanya bila ia tidak memiliki istri. Dalam beberapa tradisi (seperti Katolik Roma dan Ortodok Timur), seorang pria yang telah menikah dapat diangkat, tapi orang yang telah diangkat tidak dapat menikah lagi. Dalam gereja lain (seperti Anglikan) pernikahan diizinkan.

Referensi:
ANF01. The Apostolic Fathers with Justin Martyr and Irenaeus | Christian Classics Ethereal Library http://www.ccel.org/fathers2/ANF-01/anf01-21.htm
(Mt 16:18)

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License