Hitler

Keyakinan agama Adolf Hitler adalah meragukan, sebagian dikarenakan pernyataan-pernyataanya yang tidak konsisten. Hubungan antara Nazisme dan agama sangat rumit dan bergeser pada periode keberadaan partai Nazi dan pada tahun-tahun kekuasaannya. Hitler dibesarkan dan dianggap sebagai Katolik, namun ia telah meninggalkan keyakinan Kristen pada saat ia berkuasa di Jerman. Lebih penting lagi, ia juga bukan seorang ateis.

Adolf Hitler dibaptis di sebuah gereja katolik tahun 1889 dan tidak pernah dibuang atau di tentang secara resmi oleh gereja katolik. Hitler berulang kali merujuk pada tuhan dan agama Kristen dalam beragam pidato dan tulisannya. Pada pidato tahun 1933, ia mengatakan kalau “Untuk bersikap adil kepada tuhan dan diri kita sendiri, kita harus kembali pada budaya jerman.” Dalam kesempatan lain ia mengatakan: “Kami yakin kalau manusia memerlukan keyakinan ini. Maka dengan itu kami mengadakan pertarungan melawan gerakan ateistik, dan itu tidak hanya sekedar deklarasi teoritis semata: kami telah meresmikannya.”

Walaudemikian, ditemukan sebuah salinan “Germans with God”, sebuah versi injil yang ditulis oleh Reich ketiga dan disebarkan di gereja-gereja jerman tahun 1941. Versi Nazi memuat dua perintah tambahan untuk menambah sepuluh perintah standar, tidak satupun diantaranya cukup mengejutkan: “Muliakan Fuhrer dan tuanmu” dan “Tetap jaga agar darahmu murni dan engkau muliakan yang suci”. Ini adalah dekalog aslinya:

Muliakan tuhan dan yakin kepadanya sepenuh hati,
Carilah kedamaian tuhan,
Jauhi kemunafikan,
Sucikan kesehatan dan kehidupanmu,
Sucikan keberadaan dan martabatmu,
Sucikan kebenaran dan pikiranmu,
Muliakan ayah dan ibumu – anak-anakmu adalah teladanmu,
Jaga dan lipatgandakan warisan para bapak sebelummu,
Bersiaplah untuk menolong dan memaafkan,
Layanilah orang dengan kerja dan pengorbanan secara gembira.

“Untuk ini, agar yakin, dari anak perdana menteri hingga Koran terakhir, setiap teater dan setiap bioskop, setiap tiang iklan dan setiap baleho, harus ditekan untuk melayani misi besar ini, hingga doa para patriot kita: ‘Tuhan, jadikan kami bebas!’ diubah dalam otak anak terkecil menjadi doa berapi-api: ‘Tuhanku yang maha kuasa, berkati senjata-senjata kami bila saatnya tiba; adillah karena engkau selalu adil; putuskan sekarang apakah kami berhak mendapatkan kebebasan; Tuhan, berkahi pertarungan kami!”

( Adolf Hitler, Mein Kampf, Ralph Mannheim, ed., New York: Mariner Books, 1999, pp. 632-633. )

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License