Hidup sesudah mati

Kelangsungan hidup sesudah mati

Semenjak zaman dahulu sampai sekarang, orang bertanya: Jika seseorang meninggal, apakah ia akan hidup kembali? Pertanyaan tentang ada atau tidak adanya hidup sesudah mati telah menarik perhatian dan pikiran manusia semenjak dahulu kala. Percaya pada kelanggengan, bangkit kembali atau suatu macam hidup baru, tersiar pada zaman dahulu dan tetap ada pada agama teistik masa kini. Kepercayaan ini banyak sangkut pautnya dengan kepercayaan kepada tuhan, walaupun kedua kepercayaan tersebut dapat dipisahkan. Jika kita percaya tuhan ada, maka akan lebih mudah bagi kita untuk percaya kepada suatu kehidupan baru sesudah mati. Jika kita tidak percaya kepada tuhan atau sesuatu dasar eksistensi yang non material, maka percaya kepada hidup sesudah mati akan sulit diterima.
Adalah jelas bahwa hidup sesudah mati bagi seseorang adalah suatu persoalan yang tak dapat dibuktikan secara tuntas dengan jalan apapun. Sains tidak dapat menyajikan data yang dapat diterima oleh banyak orang, dan ahli-ahli sains dapat dimintai bantuan oleh kedua kelompok yang bertentangan. Pemuka-pemuka agama dahulu dan sekarang hamper semuanya memihak kepada pihak yang percaya kepada hidup sesudah mati. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kepercayaan itu adalah lamunan dan akibat dari pikiran harapan (wishful thinking). Kesulitan muncul sebagai akibat beberapa interpretasi ilmiah tentang alam yang mengatakan bahwa alam itu bersifat material dan mempunyai hokum-hukum sendiri. Beberapa interpretasi bilogi, fisiologi dan psikologi tentang manusia tidak memberi tempat kepada jiwa dan kesadaran; jika badan mati, maka orang itupun tiada lagi.
Pada tahun-tahun terakhir, beberapa dokter mengumpulkan data dari orang-orang yang hamper mati atau telah dianggap mati tetapi dapat hidup kembali. Adalah suatu hal menarik bahwa diskusi itu datang dari kelompok ilmuan. Suatu makalah dari seorang filosof psikolog menyebutkan sebagian dari kesulitan-kesulitan metoda dari penelitiannya, akan tetapi makalah tersebut memperingatkan kita agar jangan meremehkan batas-batas penelitian yang bertentangan.
Percaya kepada kehidupan seseorang sesudah mati mungkin mempunyai arti lain. Ada kelangsungan hidup dalam arti biologi, yakni kelangsungan benih dari generasi ke generasi lain. Dalam arti ini, tak ada kelangsungan hidup di hari kemudian. Ada pula kelangsungan hidup secara social, atau warisan pengaruh atau sumbangan social. Hal ini biasanya tidak menjadi masalah. Terdapat sedikit orang yang menjadi tersohor dalam sejarah, pengaruhnya atau sumbangannya tetap berlangsung walaupun ia mati. Ada pula kelanggengan impersonal, yang berarti orang atau jiwa menjadi satu dengan asalnya, atau jiwa alam, atau zat yang mutlak. Dalam agama-agama timur, jiwa dapat menjelma dalam bentuk yang lebih rendah dari manusia, menurut ketetapan hukum karma, tentang menanam dan mengetam. Tetapi manusia akhirnya dapat selamat dari roda lahir kembali dan bersatu lagi dengan Brahma. Doktrin tentang karma, reinkarnasi dan pemindahan jiwa terdapat dalam agama-agama yang berasal dari India, khususnya hinduisme, Buddhism, dan jainisme. Akan tetapi pandangan-pandangan yang tersebut diatas bukannya yang dimaksud oleh agama-agama barat (Yahudi, islam, Kristen) sebagai hidup sesudah mati. Orang-orang barat mengatakan bahwa kesadaran personal mencakup kelangsungan identitas personal dalam suatu tempat di luar bumi. Apakah anda atau saya sebagai jiwa yang sadar akan langsung hidup sesudah mati?

Hidup sesudah mati menurut berbagai kebudayaan

1. Siriono dari Bolivia Timur
Tidak memiliki keyakinan mengenai hidup sesudah mati
2. Suye mura dari jepang
Masyarakat Suye Mura menyusun dunia orang mati sepanjang garis keanggotaan sosio-religius di dunia ini. Kebanyakan gagasan-gagasan surga dan neraka datang dari pembicaraan pendeta dan tidak banyak diajarkan mengenai orang-orang kecuali saat mereka mulai tua. Salah satu perilaku ciri adalah menurut keyakinan seseorang dalam hidup, jadi demikian pula jiwa seseorang dibuang saat kematian – bila sekte Shin, ia pergi ke surga Amida; bila sekte Zen, ke tipe lain surga; bila Shinto ke desa kebaikan (Embree 1946: 195). Suye mura tampaknya percaya akan adanya surga dan neraka namun sebagian orang muda (20-40 tahun) yakin bahwa tidak ada surga ataupun neraka kecuali dalam dirinya sendiri.
3. Tallensi dari Gold Coast utara
Masyarakat Tallensi mengambil perhitungan penuh akan “lawan dari kerabat berurutan dalam jumlah…jalan. Jadi, keturunan berurutan (hal ini biasanya saudara laki-laki) tidak akan dikubur di kuburan yang sama. Bila demikian tidak dilakukan, ruh mereka akan berkelahi dan menghukum keturunan mereka hingga mereka dipisahkan (Fortes 1949: 254)
4. Tanala dari Madagaskar
Jiwa-jiwa yang telah diterima oleh kehidupan leluhur di desa-desa dan melakukan keberadaan tepat seperti saat hidup. Mereka memiliki ketua, menikah, memiliki anak, membangun rumah, menanam padi dan menggembala ternak, melakukan perjalanan, dan seterusnya. Masyarakat Tanala tidak membagi dunia sesudah mati menjadi tempat-tempat terpisah, namun seseorang yang telah di ingkari secara resmi, seorang penyihir jahat, atau seorang yang sangat jahat, dapat ditolak oleh roh leluhurnya dan ditolak untuk tinggal di desa mereka. Jiwa demikian akan menjadi setan gentayangan di antara dunia manusia dan bergantungan sebagai pengorbanan dan menghalang-halangi jiwa-jiwa baik dan membujuk mereka untuk menyakiti keturunan mereka. (Linton 1933: 167)
(Linton 1933: 167)
5. Pukapuka
Dunia bawah adalah dunia api panas abadi, dimana orang-orang dewasa, contohnya, dianggap akan dilemparkan (Beaglehole 1938: 329).
6. Siuai dari Solomon
Siaui memiliki tiga tempat tinggal bagi jiwa-jiwa orang mati. Salah satunya adalah untuk ‘hantu-hantu beruntung, yang kematiannya membuat orang banyak berkabung dan yang berkabung telah dihadiahi”(Oliver 1955: 176). Suatu tempat tinggal kedua adalah bagi mereka yang tidak dikabung dengan sewajarnya, dan yang ketiga adalah bagi mereka yang gugur dalam perang/perkelahian.
7. Chencu
Masyarakat Chencu tidak membagi dunia sesudah mati menjadi tempat-tempat terpisah. Jiwa-jiwa berbeda memiliki nasib berbeda. Mereka yang hidupnya jahat ditolak untuk tinggal di tanah para roh dan dikutuk untuk hidup di sekeliling tanah asalnya di dunia sebagai hantu jahat (Furer- Haimendorf 1943: 196)
8. Tarascan
Tarascan tampak telah meyakini keyakinan katolik roma mengenai pembagian dunia akhir ke keyakinan mereka (Beals 1946: 207, Foster 1948a: 269)
9. Yurok
Yurok tidak hanya membagi tanah orang mati menurut tingkatan, moralitas dan kekayaan, namun orang-orang yang terbunuh dengan senjata pergi ke sebuah tempat terpisah di pohon, disini mereka selamanya berteriak dan menarikan tarian perang (Kroeber 1925: 47)
10. Alor dari NTT
Orang Alor berpikir bahwa masing-masing orang memiliki dua jiwa. Salah satunya pergi ke desa bawah bila matinya wajar, dan ke desa atas bila matinya tidak wajar (Du bois 1944: 119)
11. Chamorros dari Guam
Jiwa orang mati secara tak wajar diyakini pergi ke sejenis neraka yang disebut sasalag uan, galian iblis yang memasak mereka dalam sebuah kawah, yang ia siram secara terus menerus. Siapa yang mati secara wajar diyakini tinggal di sebuah surga di bawah tanah (Thompson 1941: 137)
12. lndian Chimaltenago dari Santiago, Guatemala
Mereka membagi tanah orang mati menjadi kesatuan-kesatuan terpisah, nasib jiwa-jiwa individual tampaknya ditentukan secara acak (Wagley 1949: 67)keyakinan akn hidup sesudah mati telah berpengaruh kuat oleh Katolik. Namun tetap ada suatu konsepsi dari sebuah dunia orang mati dalam cerita rakyat dan tradisional, konsepsi ini terlihat mencerminkan pembagian sosial sepanjang garis strata ekonomi: tidak seorangpun yakin sebenar-benarnya akan surga tempat orang-orang pergi setelah mati. Ada beberapa jenis kehidupan setelah mati dan Chimaltenago tidak jelas mengenai kenapa orang-orang dirancang untuk pergi ke satu tempat atau lainnya. Beberapa orang disebut penjaga pegunungan atau gunung-gunung berapi, bekerja sebagai mozos (pekerja sewaan) didalam berbagai pegunungan. Kedua orang baik dan jahat disebut, terlihat, dan hanyalah kemungkinan menentukan siapa yang terpilih. Dalam beragam insiden dikutip, kita memiliki gambaran kejadian di dalam pegunungan dimana orang-orang mati tinggal dan bekerja, namun terdapat sebuah perbedaan dalam perlakuan yang mereka terima di berbagai pegunungan. Di dalam Santa Maria, dengan Juan Nag (pemiliknya), orang-orang mati bekerja tetap dan selamanya. Ini adalah jenis kehidupan setelah mati yang terburuk. Dalam gunung api Takana, seseorang tetap muda, hidup dan bekerja seperti saat di bumi. Ini tidak buruk.
13. Lakher dari India timur
Lakher memiliki satu tempat tinggal untuk semua roh asalai dan sebuah dunia kedua untuk orang-orang yang mati secara tidak wajar dan … yang mati karena beberapa penyakit masyarakat tertentu. Mensejajarkan pembagian tripartit dari organisasi sosial politik Lakher menjadi kasta kerajaan, brahmana dan orang biasa, diyakini bahwa terdapat tiga tempat terpisah dimana roh-roh orang mati dikirim.(Parry 1932: 396)
14. Marquesans
Dunia roh Marquesans terbagi tidak menurut cara mereka mati, tidak pula menurut kualitas moral mereka sebelmnya; ada tiga tingkatan , disusun menurut tingkat sosial dan kekayaan mereka (Hardy 1925: 251). Mereka yang tidak mendapat tempat di dunia langit pergi ke salah satu dari tiga tempat di dunia bawah. Yang terendah adalah yang paling diinginkan, sementara yang tertinggi, yang bergabung dengan dunia mahluk hidup dan yang termudah dicapai sangat tidak mengenakkan, gelap dan berlumpur dan sedikit sekali makanan. Dunia dimana seseorang pergi tergantung pada jumlah babi yang dikorbankan pada hari peringatan kematiannya. Siapa yang hanya memiliki satu babi, atau tidak ada sama sekali, pergi ke dunia termiskin (Linton 1939: 184)
15. Malekula dari Hebrida Baru
Masyarakat Malekula tidak membagi orang-orang di tanah orang mati menurut cara mereka mati, namun memiliki tempat-tempat tinggal terpisah di dunia akhir bagi mereka yang hidup secara baik dan bagi mereka yang dulunya hidup jahat (Deacon 1934: 557)
16. Navaho dari Arizona
Navaho tidak senang berpikir dan bicara mengenai kematian, memiliki gagasan sangat kabur mengenai dunia orang mati. Dunia tersebut adalah tempat seperti bumi, berada di utara dan dibawah permukaan bumi. (Kluckhohn dan Leighton 1946: 126)
17. Okinawa dari kepulauan Ryu Kyu
Kehidupan akhir Okinawa sama besar dan merupakan tiruan kehidupan di bumi. Kuburan, contohnya, sering didirikan di desa kuburan, tiap makam dibangun seperti rumah adat, semua makam ini disusun dengan gaya dan pola yang sama dengan dunia biasa.
18. Omaha dari Iowa dan Nebraska
Lingkungan di dunia roh sama dengan di bumi. Jabatan-jabatan sama dan akan tampak seperti jabatan yang diperebutkan di bumi (Fletcher dan La Flesche 1911: 590)
19. Papago dari Arizona dan Meksiko
Jiwa dalam perjalanannya harus melewati sebuah celah yang sangat berbahaya. Dibalik celah terdapat kota dimana manusia-manusia mati tinggal, seperti halnya di bumi. Kehidupan tidak jauh beda, kecuali disana banyak sekali turun hujan yang datang dari timur (Underhill 1939: 191-192)
20. Kurtatchi dari bougenville di melanesia
Jiwa-jiwa manusia (urar) dapat menjadi mirip dengan hidup biasa dalam berbagai cara dan bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan jiwa-jiwa orang mati Kurtatchi. Mereka berbeda dalam berbagai hal dengan manusia, khususnya yang mereka makan. Sebaliknya, mereka dipandang hidup lebih mirip dengan tempat-tempat disaat mereka hidup (Blackwood 1935: 508)
21. Lambas dari rhodesia utara
Lambas tampak mencerminkan struktur sosial mereka hanya sebagian dalam gagasan-gagasan mereka mengenai sifat dunia orang mati. Ini adalah tempat besar yang naik. Dalam ichiyawafu tidak ada perbedaan status sosial; tidak ada perbedaan antara ketua suku, orang biasa atau budak (Doke 1931: 231)
22. Lepcha dari Sikkim di pegunungan himalaya
Terdapat dua set keyakinan terpisah mengenai nasib jiwa setelah kematian fisik. Set pertama terdiri dari doktrin formal lama, yang menjaga sebuah hipotesis reinkarnasi dalam bentuk manusia atau hewan. Dalam keyakinan tradisional, jiwa dikirim ke rumlyang, anak-anak tumbuh remaja dan memimpin sebuah kehidupan sejahtera dan abadi diantara orang-orang mati, sebuah kehidupan yang sama seperti di bumi kecuali tidak ada kematian atau penyakit ataupun keinginan (Gorer 1938: 346)
23. Bena dari Tanganyika
Kihoka, roh atau jiwa adalah abadi dan setelah mati, pergi ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Mulungu (tuhan). Biasanya ini dianggap bahwa status seorang kihoka manusia di dunia baru terkait kurang lebih dengan statusnya saat hidup. Tidak seorangpun benar-benar tahu apakah seseorang memiliki status sama setelah ia mati seperti saat ia hidup di bumi, namun Mulungu tidak akan membuat seorang kepala suku menjadi budak, atau sebaliknya (Cutwick 1935: 101)
24. Nomaden Arunta dari Australia
Semua orang memiliki jiwa. Namun arunta tampak tidak percaya dalam hidup sesudah mati, berpegang pada dalil bahwa kematian fisik membawa pada penghancuran total jiwa. Masyarakat Arunta tidak memiliki ilusi mengenai kematian sejauh yang diperdulikan manusia individual; kematian adalah, bagi mereka, kehancuran besar terakhir yang membawa pada kehancuran total tubuh dan rohnya sendiri. Kerja hidupnya telah selesai, leluhur pergi tidur; namun seseorang harus mati, dan kematiannya menyelesaikan segalanya (Strchlow 1947: 43)
25. Bali
Orang Bali telah mengembangkan teori-teori yang cukup teliti mengenai reinkarnasi jiwa. Kelahiran seseorang menjadi suatu kasta inferior atau superior tergantung pada perilakunya sebelumnya di bumi. Seseorang yang bersalah atas kejahatan-kejahatan serius dihukum dengan dilahirkan kembali, sering dalam periode ribuan tahun, sebagai seekor harimau, anjing, ular, cacing atau jamur racun. Antara inkarnasi-inkarnasi, hingga saatnya tiba untuk kembali ke bumi, jiwa berada di surga Indra, Swarga, sebuah tungku dimana kehidupan sama seperti di Bali, namun tanpa masalah dan penyakit (Covarrubias 1947: 361)

Sumber: Introduction to Cultural Anthropology. Houghton Miffin Co. Boston 1968. editor: James A Cliffin. Chapter “Macroethnology: Large Scale Comparative Studies” by Yehudi A Cohen (p 407-414)

Pandangan agama-agama barat barat pada hidup sesudah mati

Kepercayaan terhadap hidup sesudah mati dalam agama yahudi, Kristen dan islam tegak bersama dengan kepercayaan mereka tentang watak manusia. Dalam bagian-bagian terdahulu dari injil dan beberapa ayat al quran, manusia dilukiskan sebagai “jiwa yang hidup”, badan yang dihidupkan oleh nyawa dan kesatuan psiko fisik. Manusia tidak dilukiskan sebagai jiwa yang immaterial (tidak bersifat materi) yang disimpan dalam badan yang dapat dipisahkan. Dalam doktrin quran dikatakan kalau masalah roh adalah urusan tuhan. 1
Kepercayaan tentang kehidupan sesudah mati dalam hubungannya dengan watak manusia mendapat tempat dalam tradisi yahudi dalam dua bentuk:
1. Pandangan yahudi kuno menekankan keangsungan hidup bangsa yahudi sebagai umat, bukan dalam arti mencapai kehidupan di hari kemudian, dan bersifat individual dan personal. Oleh sebab jiwa tidak dapat dipisahkan dari badan, maka mati mengakhiri kehidupan individual. Mereka yang langsung hidup, termasuk anak cucu serta amal orang yang mati adalah penting. Dalam bentuk yang kurang berkembang, orang yahudi percaya secara kabur bahwa orang yang sudah mati berkeliaran di luar dan dibawah tanah dan bukan dihadirat tuhan. Istilah-istilah yang dipakai untuk menunjukkan tempat nyawa orang yang sudah mati mencakup: “parit”,”lobang”, “tempat kematian dan kuburan”. Kepercayaan sampingan tersebut mencegah kemusnahan manusia dan memberi perhatian yang besar pada kehidupan duhnia dan memberi gambaran walaupun sedikit, tentang kelangsungan watak manusia. Watak yang pasti tentang usur tersebut tidak penting untuk diperhatikan. Sebelum zaman perjanjian baru, peradaban yahudi memberi gambaran tentang kehidupan baru sesudah mati, mencakup persatuan dengan tuhan. Seperti yang terjadi pada waktu-waktu sebelumnya, pemikiran filsafat tentang watak eksistensi manusia di akhirat tidak dianggap penting.
2. Adalah sangat penting dalam teologi Kristen dan islam bahwa manusia akan menghadapi kehidupan kedua yang abadi. Bentuk-bentuk tentang kelangsungan kesadaran telah mewarnai pemikiran yahudi. Walaupun kepercayaan tentang cara-cara hidup pada hari kemudian berbeda-beda, cara memahami ketiga tradisi agama barat sangat berbeda dengan kelangsungan hidup jiwa yang abadi secara otomatis. Berdasarkan atas kesatuan psikosomatik, tradisi agama-agama barat menegaskan terjadinya penciptaan baru dari personalitas manusia dengan badan dan dapat dikenali kembali. Pokok tujuan disini adalah bahwa pemikiran keagamaan barat, dalam bentuknya yang paling kuno menekankan watak manusia sebagai suatu kesatuan organic; suatu macam transfigurasi adalah perlu (bukannya jiwa meninggalkan badan) untuk kehidupan yang kekal. Pikiran-pikiran tentang “keabadian nyawa” telah masuk tradisi yahudi bukan dalam kitab suci mereka, akan tetapi pada pemikiran selanjutnya. Tetapi dalam sejarah mereka tidak pernah menggambarkan jiwa yang “kekal dan lestari” di alam baka berlalu tanpa perubahan.

Referensi
1. QS Al isra: 85

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License