Hasil Dari Program Weasel Dawkins Ditentukan Sebelumnya

Klaim
Richard Dawkins [1996] menunjukkan sebuah program yang dimulai dengan untaian huruf acak dan, lewat kesalahan penyalinan acak, berevolusi menjadi frase "Methinks it is like a weasel" dalam hanya beberapa generasi, menunjukkan kekuatan seleksi alam tanpa bantuan kecerdasan. Namun kecerdasan terlibat dalam menentukan kalimat targetnya.

Sumber
• Gitt, Werner, and Carl Wieland, 1998 (Sep/Nov). Weasel words. Creation Ex Nihilo 20(4): 20-21. [1]
Respons
1. Dawkins tidak mengklaim dalam The Blind Watchmaker kalau program WEASEL menunjukkan kalau evolusi dapat menghasilkan informasi tanpa kecerdasan. Tapi menekankan kalau satu aspek penting evolusi : seleksi kumulatif. Program WEASEL megingat untai huruf yang terbaik (yaitu paling sama) yang ia hasilkan sejauh ini dan memakainya untuk mewnghasilkan untai baru dalam langkah selanjutnya. Maka, untai ini akan semakin sama dengan untai tujuan setelah tiap langkah, dan akan identik dengan untai tujuan jauh lebih cepat daripada program yang tidak mengingat untai terbaik (seleksi langkah tunggal). Adalah tingkat konvergensi yang tinggi pada target saat seleksi kumulatif dipakai yang merupakan hasil penting disini. Apakah target ditentukan selanjutnya oleh Dawkins, dibangkitkan secara acak atau diperoleh dengan cara lain adalah tidak relevan.
2. Ini adalah sebuah usaha nyata untuk meletakkan evolusionis pada situasi tanpa kemenangan: baik mereka dituduh tidak memiliki bukti percobaan seleksi alam, atau bila mereka telah, seperti dalam kasus ini, dituduh merancang secara cerdas percobaannya, maka membuktikan kalau tanpa rancangan cerdas, tidak ada yang terjadi.
3. Walau ia merupakan program berbeda dari yang dijelaskan Dawkins, menambahkan pindah silang (rekombinasi) pada perilaku standar algoritma genetik mencapai konvergensi yang lebih cepat lagi. Pindah silang lebih sesuai dalam menyajikan seleksi alam.
4. Dawkins tidak mengklaim kalau evolusi memiliki target. Evolusi tidak memiliki tujuan akhir.
5. Kreasionis terkenal karena salah mengartikan asumsi keacakan evolusi tertentu yang menjadi argumen strawman dan lari dari maksud sesungguhnya seleksi, jafi adalah mudah melihat penekanan utama Dawkins, yaitu algoritma seleksi alam berlaku secara polinom, bukan waktu eksponensial, dan respon kreasionis pada buktinya hanyalah sebuah usaha mengalihkan pembaca dari fakta kalau ia telah menyanggah hipotesis waktu eksponensial dimana banyak argumen kreasionis berlandaskan.

Referensi
1. Dawkins, 1996. The Blind Watchmaker, W.W. Norton & Company.
2. Lenski, R.E., C. Ofria, R.T. Pennock & C. Adami, 2003. The evolutionary origin of complex features. Nature 423: 139-144. [2] See also: National Science Foundation, 2003. Artificial Life Experiments Show How Complex Functions Can Evolve. [3]

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License