Fosil Hominid

Fosil-Fosil Hominid Penting

Daftar ini mencakup fosil-fosil yang penting secara keilmuan atau historis, atau karena mereka sering disebut-sebut oleh kreasionis. Kadang kita baca bahwa semua fosil-fosil hominid bila digabungkan cukup bila ditaruh di sebuah peti mati, atau di atas meja, atau di atas meja bilyar. Ini gambaran yang salah, karena sekarang ada ribuan fosil hominid. Kebanyakan dari fosil-fosil ini memang serpihan, dan seringkali terdiri dari satu tulang atau gigi saja. Tengkorak atau kerangka yang lengkap jarang ditemukan.

Daftar ini di urutkan berdasarkan spesies, dari yang spesies tertua hingga ke yang termuda. Dalam tiap spesies, temuan diurutkan berdasarkan mana yang lebih dulu ditemukan. Tiap spesies memiliki tipe spesimen yang digunakan untuk mendefinisikannya.

Setiap entri akan terdiri dari nomor spesimen bila diketahui (atau nama tempat / situs, bila banyak fosil ditemukan di satu tempat), nama populer - ditulis dalam tanda kutip, dan nama spesies. Nama spesies akan diikuti oleh ‘?’ bila masih meragukan. Bila fosil tadinya ditempatkan di spesies yang berbeda, nama tersebut juga akan dituliskan.

Terminologi berikut digunakan disini: Tengkorak artinya semua tulang kepala. Kranium adalah tengkorak tanpa rahang bawah. Tempurung otak (braincase) adalah kranium tanpa muka dan rahang atas. Skullcap (batok) adalah bagian atas dari tempurung otak.

Daftar singkatan:

ER East (Lake) Rudolf, Kenya
WT West (Lake) Turkana, Kenya
KP Kanapoi, Kenya
SK Swartkrans, South Africa
Sts,Stw Sterkfontein, South Africa
TM Transvaal Museum, South Africa
OH Olduvai Hominid, Tanzania
AL Afar Locality, Ethiopia
ARA-VP Aramis Vertebrate Paleontology, Ethiopia
BOU-VP Bouri Vertebrate Paleontology, Ethiopia
TM Toros-Menalla, Chad

toumai_small.jpg

TM 266-01-060-1, “Toumai”, Sahelanthropus tchadensis
Ditemukan oleh Ahounta Djimdoumalbaye tahun 2001 di Chad, bagian selatan gurun Sahara. Perkiraan umur antara 6 dan 7 juta tahun. Ini terdiri dari kranium yang hampir lengkap dengan otak kecil (antara 320 dan 380 cc). (Brunet et al. 2002, Wood 2002) Memiliki banyak fitur-fitur primitif mirip kera, seperti otak kecil, dan juga ciri-ciri lain seperti tulang alis dan gigi taring kecil, yang merupakan karakteristik hominid yang muncul kemudian.

“ARA-VP, Situs 1, 6 & 7”, Ardipithecus ramidus
Ditemukan oleh tim yang dipimpin oleh Tim White, Berhane Asfaw dan Gen Suwa (1994) tahun 1992 dan 1993 di Aramis, Ethiopia. Diperkirakan berumur 4.4 juta tahun. Temuan terdiri dari fosil-fosil 17 individu. Kebanyakan terdiri dari gigi, tapi ada juga sebagian rahang bawah anak-anak, sebagian kranium, dan sebagian tulang lengan dari 2 individu.
ARA-VP-6/1 terdiri dari 10 gigi dari satu individu.
ARA-VP-7/2 terdiri dari bagian-bagian dari ketiga tulang lengan kiri satu individu, dengan campuran fitur kera dan hominid.

KP 271, “Kanapoi Hominid”, Australopithecus anamensis
Ditemukan oleh Bryan Patterson tahun 1965 di Kanapoi Kenya (Patterson dan Howells 1967). Merupakan bagian kiri bawah humerus yang berumur 4.0 juta tahun.

KP 29281, Australopithecus anamensis
Ditemukan oleh Peter Nzube tahun 1994 di Kanapoi Kenya (Leakey et al. 1995). Merupakan rahang bawah bergigi lengkap berumur 4.0 juta tahun.

KP 29285, Australopithecus anamensis
Ditemukan oleh Kamoya Kimeu tahun 1994 di Kanapoi Kenya. Tulang tibia, bagian tengah tulang hilang, berumur 4.1 juta tahun. Merupakan bukti tertua dari bipedalisme hominid.

AL 129-1, Australopithecus afarensis
Ditemukan oleh Donald Johanson tahun 1973 di Hadar, Ethiopia (Johanson and Edey 1981; Johanson and Taieb 1976). Perkiraan umur adalah 3.4 juta tahun. Temuan ini terdiri dari bagian-bagian kedua tungkai, termasuk sambungan tulang lutut yang hampir-hampir merupakan miniatur lutut manusia, tapi jelas berasal dari orang dewasa.

lucy_small.gif

AL 288-1, “Lucy”, Australopithecus afarensis
Ditemukan oleh Donald Johanson dan Tom Gray tahun 1974 di Hadar Ethiopia (Johanson and Edey 1981; Johanson and Taieb 1976). Berumur sekitar 3.2 juta tahun. Lucy adalah wanita dewasa berumur sekitar 25 tahun. Sekitar 40% tengkoraknya ditemukan, dan tulang panggul, femur (tungkai atas) dan tibianya menunjukkan bahwa ia bipedal. Tingginya sekitar 107 cm (3’6”) (kecil untuk ukuran spesiesnya) dan berat sekitar 28 kg (62 lbs).

AL 333 Situs, “The First Family”, Australopithecus afarensis?
Ditemukan tahun 1975 oleh tim Donald Johanson di Hadar, Ethiopia (Johanson and Edey 1981). Berumur sekitar 3.2 juta tahun. Temuan ini terdiri dari tulang-tulang setidaknya 13 individu dari berbagai usia. Ukuran spesimen ini sangat bervariasi. Para ahli berdebat tentang apakah spesimen-spesimen ini berasal dari satu, dua atau bahkan tiga spesies. Pendapat Johanson bahwa spesimen berasal dari satu spesies dimana yang laki-laki jauh lebih besar dari yang perempuan. Yang lain berpendpat bahwa spesimen yang lebih besar berasal dari spesies Homo yang primitif.

“Jejak kaki Laetoli”, Australopithecus afarensis?
Ditemukan tahun 1978 oleh Paul Albell di Laetoli, Tanzania. Diperkirakan berumur 3.7 juta tahun. Jejak terdiri dari fosil jejak kaki dua atau tiga hominid bipedal. Ukuran dan jarak mengindikasikan bahwa tinggi badan mereka sekitar 140 cm (4’8”) dan 120 cm (4’0”). Banyak ilmuwan mengklaim bahwa jejak kaki tersebut identik dengan manusia modern (Tatterstall 1993; Feder and Park 1989), sementera beberapa ilmuwan mengklaim bahwa ibu jari kaki agak melebar (seperti kera) dan bahwa panjang jari-jari kaki lebih panjang dari manusia tetapi lebih pendek dari kera (Burenhult 1993). Jejak kaki ini secara sementara dianggap sebagai milik A. afarensis, karena tidak ada spesies homonid lain yang diketahui berasal dari masa itu, walaupun beberapa ilmuwan tidak setuju dengan klasifikasi ini.

AL 444-2, Australopithecus afarensis
Ditemukan oleh Bill Kimbel dan Yoel Rak tahun 1991 di Hadar, Ethiopia (Kimbel et al. 1994). Diperkirakan berumur 3 juta tahun. Terdiri dari 70% tengkorak lengkap dari laki-laki dewasa, dianggap sebagai tengkorak afarensis yang paling lengkap, dengan ukuran otak 550 cc. Menurut penemunya, fosil ini memperkuat dugaan bahwa fosil First Family berasal dari satu spesies yang sama, karena perbedaan antara AL 444-2 dengan tengkorak yang lebih kecil di koleksi tersebut konsisten dengan hominoid yang dimorphic secara seksual lainnya.

wt40000_small.jpg

KNM-WT 40000, Kenyanthropus platyops
Ditemukan oleh Justus Erus tahun 1999 di Lomekwi, Kenya (Leakey et al. 2001, Lieberman 2001). Diperkirakan berumur 3.5 juta tahun. Cukup lengkap, tapi sangat rusak, kranium dengan muka besar dan rata, gigi kecil. Ukuran otak sama dengan australopithecus. Fosil ini memiliki persamaan yang cukup banyak dengan, dan kemungkinan berhubungan dengan fosil habilis ER 1470.

taung_small.gif

“Taung Child”, Australopithecus africanus
Ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1942 di Taung, Afrika Selatan (Dart 1925). Temuan terdiri dari muka penuh, gigi dan rahang, tutup endocranial otak. Berumur antara 2 dan 3 juta tahun, tapi fosil ini dan fosil-fosil Afrika Selatan lainnya ditemukan di gua-gua yang menyulitkan pengukuran umur. Gigi dari tengkorak ini menunjukkan seorang anak berusia sekitar 5 atau 6 tahun (sekarang dipercaya bahwa australopithecus tumbuh lebih cepat dari manusia, dan bahwa Taung child berusia 3 tahun). Volume otak 410 cc, dan dalam usia dewasa akan bervolume 440 cc. Otak yang bulat dan besar, gigi taring yang kecil dan tidak mirip kera, serta posisi dari foramen magnum(*) meyakinkan Dart bahwa ini merupakan nenek moyang bipedal manusia, yang dinamakannya Australopithecus africanus (Kera Afrika Selatan). Walaupun penemuan ini terkenal, interpretasi Dart ditolak oleh komunitas keilmuan hingga pertengahan 1940-an, setelah ditemukannya fosil-fosil serupa.

(*) Penyimpangan Anatomis: foramen magnum adalah lubang di tengkorak dimana tulang belakang lewat. Pada kera, arahnya adalah ke belakang tengkorak, karena postur quadrupednya. Pada manusia letaknya di bagian bawah tengkorak karena kepala kita terletak diatas kolom vertikal. Pada australopithecus ini juga terletak di depan dari posisi kera walaupun tidak sejauh seperti pada tulang manusia.

TM 1512, Australopithecus africanus (tadinya Plesianthropus transvaalensis)
Ditemukan oleh Robert Broom tahun 1936 (Broom 1936). Fosil australopithecus kedua yang ditemukan, terdiri dari sebagian muka, rahang atas dan tempurung otak.

sts5_small.gif

Sts 5, “Mrs Ples”, Australopithecus africanus
Ditemukan oleh Robert Broom tahun 1947 di Sterkfontein Afrika Selatan. Kranium dewasa yang sangat terjaga utuh. Dulunya dianggap milik perempuan, tetapi klaim terakhir menyebutkannya sebagai milik laki-laki. Merupakan spesimen africanus terbaik. Berumur sekitar 2.5 juta tahun, dengan volume otak sekitar 485 cc. (terakhir di klaim bahwa fosil Sts 5 dan Sts 14 (lihat berikut) berasal dari individu yang sama)

sts14_small.gif

Sts 14, Australopithecus africanus
Ditemukan oleh Robert Broom dan J.T. Robinson tahun 1947 di Sterkfontein (Broom and Robinson 1947). Diperkirakan berumur 2.5 juta tahun. Temuan ini terdiri dari tulang belakang yang hampir lengkap, tulang panggul, serpihan tulang iga, dan bagian femur dari orang dewasa yang amat kecil. Tulang panggul lebih mirip manusia daripada kera, dan merupakan bukti kuat bahwa africanus bipedal (Brace et al. 1979), walaupun mungkin tidak memiliki cara berjalan yang sama kuat dengan manusia modern (Burenhult 1993).

BOU-VP-12/130, Australopithecus garhi
Ditemukan oleh Yohannes Haile-Selassie tahun 1997 di Bouri Ethiopia (Asfaw et al. 1999). Merupakan sebagian tengkorak dan rahang atas dengan gigi yang berumur kira-kira 2.5 juta tahun.

Stw 573, “Little Foot”, Australopithecus
Ditemukan oleh Ron Clarke antara 1994 dan 1997 di Sterkfontein Afrika Selatan. Diperkirakan berumur 3.3 juta tahun. Fosil ini terdiri dari, sejauh ini, tulang-tulang kaki, tungkai, tangan, dan lengan dan sebuah tengkorak lengkap. Lebih banyak tulang diperkirakan masih tertimbun batu. (Clarke and Tobias 1995, Clarke 1998, Clarke 1999)

(Semakin banyak ilmuwan menempatkan ketiga spesies, aethiopicus, robustus dan boisei, dalam genus Paranthropus)

KNM-WT 17000, “The Black Skull”, Australopithecus aethiopicus
Ditemukan oleh Alan Walker tahun 1985 dekat West Turkana, Kenya. Perkiraan umur 2.5 juta tahun. Temuan ini utuh, kranium yang hampir lengkap. Volume otak sangat kecil untuk ukuran hominid, sekitar 410 cc, dan tengkoraknya memiliki campuran yang membingungkan antara fitur primitif dan modern. (Leakey and Lewin 1992)

TM 1517, Australopithecus robustus (dulunya Paranthropus robustus)
Ditemukan seorang anak sekolah, Gert Terblanche, tahun 1938 di Kromdraai, Afrika Selatan (Broom 1938). Terdiri dari serpihan tengkorak, termasuk lima gigi, dan beberapa serpihan rangka. Ini merupakan spesimen pertama robustus.

SK 48, Australopithecus robustus (dulunya Paranthropus crassidens)
Ditemukan oleh Mr. Fourie tahun 1950 di Swartkrans, Afrika Selatan (Johanson and Edgar 1996). Sebuah kranium, kemungkinan milik wanita dewasa, berumur 1.5-2.0 juta tahun. Merupakan tengkorak robustus paling lengkap.

eurydice_small.jpg

DNH 7, “Eurydice”, Australopithecus robustus
Ditemukan oleh Andre Keyser tahun 1994 di gua Drimolen, Afrika Selatan. Perkiraan umur antara 1.5 dan 2.0 juta tahun. Merupakan tengkorak hampir lengkap seorang wanita, dan salah satu tengkorak hominid paling lengkap yang pernah ditemukan, dan juga fosil signifikan wanita robustus pertama. Sebuah fosil rahang bawah laki-laki robustus, diberi nama Orpheus (DNH 8) ditemukan beberapa inci dari fosil ini. (Keyser 2000)

zinj_small.gif

OH 5, “Zinjanthropus”, “Nutcracker Man”, Australopithecus boisei
Ditemukan oleh Mary Leakey tahun 1959 di Olduvai Gorge, Tanzania (Leakey 1959). Diperkirakan berumur 1.8 juta tahun. Kranium hampir lengkap, dengan volume otak 530 cc. Ini merupakan spesimen pertama dari spesies ini. Louis Leaky pernah mempertimbangkan ini sebagai nenek moyang manusia, tetapi klaim tersebut kemudian dibatalkan ketika Homo Habilis ditemukan tak lama kemudian.

406_small.gif

KNM-ER 406, Australopithecus boisei
Ditemukan oleh Richard Leakey tahun 1969 dekat Danau Turkana, Kenya. Temuan ini merupakan kranium utuh dan lengkap tetapi tanpa gigi (Lewin 1987). Perkiraan umur 1.7 juta tahun. Volume otak sekitar 510 cc. (Lihat juga ER 3733)

KNM-ER 732, Australopithecus boisei
Ditemukan oleh Richard Leakey tahun 1970 dekat Danau Turkana, Kenya. Kranium mirip dengan OH 5, tetapi lebih kecil dan memiliki perbedaan-perbedaan lain seperti tidak ditemukannya sagittal crest. Diperkirakan berumur 1.7 juta tahun. Volume otak sekitar 500 cc. Kebanyakan ahli berpendapat ini merupakan kasus dimorphisme seksual, dimana wanita lebih kecil dari pria.

KGA10-525, Australopithecus boisei
Ditemukan oleh A. Amzaye tahun 1993 di Konso, Ethiopia (Suwa et al. 1997). Fosil ini terdiri dari sebagian besar tengkorak, termasuk rahang bawah. Perkiraan umur 1.4 juta tahun. Volume otak diperkirakan 545 cc. Walaupun memiliki banyak fitur spesifik boisei, fosil ini juga terletak di luar daerah variasi spesies yang diketahui sebelumnya dalam banyak hal, yang menyiratkan bahwa boisei (dan mungkin spesies hominid lain) mungkin lebih bervariasi daripada yang sebelumnya diperkirakan (Delson 1997).

Homo habilis

Ditemukan suami-istri Leakey di awal tahun 1960-an di Olduvai Gorge, Tanzania. Beberapa serpihan spesimen ditemukan (Leakey et al. 1964).

• OH 7, “Jonny’s Child”, ditemukan oleh Jonathon Leakey tahun 1960 (Leakey 1961), terdiri dari rahang bawah dan dua serpihan kranium seorang anak, dan beberapa tulang tangan. Diperkirakan berumur 1.8 juta tahun, volume otak sekitar 680 cc.
• OH 8: ditemukan tahun 1960, terdiri dari satu set tulang kaki, lengkap kecuali belakang tumit dan jari-jari kakinya. Perkiraan umur 1.8 juta tahun. Memiliki campuran ciri-ciri manusia dan kera, tetapi konsisten dengan cara gerak bipedal. (Aiello and Dean 1990)
• OH 13, “Cindy”: ditemukan tahun 1963, terdiri dari rahang bawah dan gigi, serpihan rahang atas dan serpihan kranium. Diperkirakan berumur 1.6 juta tahun, volume otak sekitar 650 cc.
• OH 16, “George”: ditemukan tahun 1963, terdiri dari gigi dan beberapa serpihan tengkorak. (Sayangnya George diinjak oleh ternak orang Masai sebelum ditemukan, dan banyak bagian tengkoraknya hilang). Diperkirakan berumur 1.7 juta tahun, dan volume otak sekitar 640 cc.

oh24_small.gif

OH 24, “Twiggy”, Homo habilis
Ditemukan oleh Peter Nzube tahun 1968 di Olduvai Gorge, Tanzania. Terdiri dari kranium yang hampir lengkap tapi hancur serta tujuh gigi. Diperkirakan berumur 1.85 juta tahun dan memiliki volume otak sekitar 590 cc.

1470_small.jpg

KNM-ER 1470, Homo habilis (atau Homo rudolfensis?)
Ditemukan oleh Bernard Ngeneo tahun 1972 di Koobi Fora, Kenya (Leakey 1973). Diperkirakan berumur 1.9 juta tahun. Ini merupakan tengkorak habilis paling lengkap yang diketahui. Volume otak 750 cc, besar untuk ukuran habilis. Awalnya diperkirakan berumur 3 juta tahun, sebuah angka yang menimbulkan kebingungan karena pada saat itu lebih tua dari australopithecus manapun, padahal habilis diperkirakan turunan dari australopithecus. Debat pun terjadi tentang umur 1470 (Lewin 1987; Johanson and Edey 1981; Lubenow 1992). Tengkoraknya secara mengejutkan modern dalam beberapa hal. Tempurung otak lebih besar dan lebih tipis dari tengkorak australopithecus, dan juga tanpa tulang alis besar yang sering ditemui pada Homo erectus. Akan tetapi tengkorak ini sangat besar dan tebal di bagian muka. Beberapa tulang tungkai ditemukan dalam jarak beberapa kilometer, dan diperkirakan berasal dari spesies yang sama. Yang paling lengkap KNM-ER 1481, terdiri dari femur kiri lengkap, kedua ujung dari tibia kiri dan bagian bawah dari fibula kiri (bagian yang lebih kecil dari dua tulang tungkai bawah). Ini cukup mirip dengan tulang manusia modern.

KNM-ER 1805, “The Mystery Skull”, Homo habilis??
Ditemukan oleh Paul Abell tahun 1973 di Koobi Fora, Kenya (Leakey 1974). Diperkirakan berumur 1.85 juta tahun. Fosil ini terdiri dari sebagian besar kranium yang tebal dan mengandung banyak gigi. Volume otak sekitar 600 cc. Beberapa fitur, seperti sagittal crest, mirip dengan A. boisei, tetapi gigi terlalu kecil untuk spesies itu. (Willis 1989; Day 1986) Aneka pekerja telah menempatkannya pada hampir semua spesies yang diketahui, tetapi banyak studi menempatkannya sebagai Homo habilis (misal Wood 1991). Studi cladistic terakhir telah menempatkannya diluar Homo dan mirip dengan australopithecus yang besar, walaupun berbeda dengan spesies-spesies yang diketahui. (Prat 2002)

1813_small.gif

KNM-ER 1813, Homo habilis?
Ditemukan oleh Kamoya Kimeu tahun 1973 di Koobi Fora, Kenya (1974). Spesimen ini mirip dengan 1470, tetapi jauh lebih kecil, dengan volume otak 510 cc. Perkiraan umur adalah 1.8-1.9 juta tahun. Beberapa ilmuwan berpendapat ini adalah kasus dimorphisme seksual, beberapa yang lain berpendapat bahwa arsitektur otak berbeda dan bahwa 1813 adalah spesies lain dari Homo, sebagian lain berpendapat ini adalah australopithecus. Seperti tengkorak sebelumnya, 1805, fosil ini masuk ke dalam “Suspense Account”. (Willis 1989)

stw53_small.jpg

Stw 53, Homo habilis?
Ditemukan oleh Alun Hughes tahun 1976 di Sterkfontein, Afrika Selatan (Hughes and Tobias 1977). Diperkirakan berumur 1.5 hingga 2 juta tahun. Terdiri dari beberapa serpihan kranium termasuk gigi. Banyak alat-alat batu ditemukan di lapisan yang sama.

OH 62, “Dik-dik hominid”, Homo habilis
Ditemukan oleh Tim White tahun 1986 di Olduvai Gorge, Tanzania (Johanson and Shreeve 1989; Johanson et al. 1987). Diperkirakan berumur 1.8 juta tahun. Terdiri dari bagian tengkorak, lengan, tulang tungkai dan gigi. Hampir semua fitur tengkorak mirip dengan fosil-fosil habilis seperti OH 24, ER 1813 dan ER 1470, daripada seperti australopithecus. Akan tetapi perkiraan tinggi badan sangat pendek, mungkin sekitar 105 cm (3’5”), dan lengan sangat panjang secara proporsional dibanding tungkai. Ini merupakan ciri dari australopithecus, dan tulang kerangka sangat mirip dengan Lucy. Temuan ini signifikan karena ini satu-satunya fosil dimana tulang lengan-tungkai telah dengan pasti di klasifikasikan sebagai habilis. Karena ukurannya yang kecil, hampir dipastikan berasal dari wanita. Seperti pada australopithecus, pria diperkirakan lebih besar.

oh65_small.jpg

OH 65, Homo habilis
Ditemukan tahun 1995 di Olduvai Gorge, Tanzania. Fosil ini terdiri dari rahang atas lengkap dan sebagian dari muka bawah, berumur sekitar 1.8 juta tahun. Karena kemiripannya dengan fosil ER 1470, penemunya meramalkan bahwa OH 65 akan menyebabkan reklasifikasi fosil-fosil habilis. (Blumenschine et al. 2003, Tobias 2003)

java_small.jpg

Trinil 2, “Java Man”, “Pithecanthropus I”, Homo erectus (tadinya Pithecanthropus erectus)
Ditemukan oleh Eugene Dubois tahun 1891 dekat Trinil di pulau Jawa, Indonesia. Umurnya tidak jelas, tetapi diperkirakan sekitar 700,000 tahun. Temuan terdiri dari batok tengkorak yang rata dan sangat tebal, dan beberapa gigi (yang mungkin milik orang utan). Tahun berikutnya sebuah femur ditemukan sekitar 12 meter jauhnya (Theunissen 1989). Volume otak sekitar 940 cc. Femurnya sangat modern, dan banyak ilmuwan menyimpulkan bahwa femur tersebut milik manusia modern.

peking_small.gif

“Peking Man Site”, Homo erectus (tadinya Sinanthropus pekinensis)
Antara 1929 dan 1937, 14 kranium sebagian, 11 rahang bawah, banyak gigi, beberapa tulang kerangka dan banyak peralatan batu ditemukan di Gua Bawah pada Locality 1 di situs Peking Man di Zhoukoudian (dulu Choukoutien), dekat Beijing (Peking), Cina. Umurnya sekitar 500,000 hingga 300,000 tahun. (Beberapa fosil manusia modern juga ditemukan di Gua Atas pada situs yang sama di tahun 1933.) Fosil-fosil yang paling lengkap, semuanya tempurung otak atau batok kepala, adalah:

• Tengkorak III, ditemukan di Locus E tahun 1929 adalah dewasa atau remaja dengan volume otak 915 cc.
• Tengkorak II, ditemukan di Locus D tahun 1929 tapi diakui tahun 1930, adalah dewasa dengan volume otak 1030 cc.
• Tengkorak X, XI dan XII (kadang disebut LI, LII dan LIII) ditemukan di Locus L tahun 1936. Diperkirakan berasal dari pria dewasa, wanita dewasa, pria muda, dengan volume otak 1225 cc, 1015 cc dan 1030 cc. (Weidenreich 1937)
• Tengkorak V: dua pecahan kranium ditemukan tahun 1966 yang cocok dengan dua (replika) pecahan lain yang ditemukan tahun 1934 dan 1936, yang bila digabung membentuk batok kepala dengan volume otak 1140 cc. Pecahan ini ditemukan di tingkat yang lebih tinggi, dan terlihat lebih modern dari batok tengkorak lainnya. (Jia and Huang 1990)

Kebanyakan studi tentang fosil-fosil ini dilakukan oleh Davidson Black hingga kematiannya tahun 1934. Franz Weidenreich menggantikannya dan mempelajari fosil-fosil ini sampai ia meninggalkan Cina tahun 1941. Fosil-fosil asli menghilang tahun 1941 ketika dikirim ke Amerika Serikat untuk diamankan pada masa Perang Dunia II, tetapi replika yang bagus dan deskripsinya masih ada. Setelah perang usai, fosil-fosil erectus lain ditemukan di situs ini dan situs-situs lainnya di Cina.

Sangiran 2, “Pithecanthropus II”, Homo erectus
Ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald tahun 1937 di Sangiran, pulau Jawa, Indonesia. Fosil ini adalah tempurung otak yang sangat mirip dengan batok tengkorak Java Man yang pertama, tetapi lebih lengkap dan lebih kecil, dengan volume otak hanya sekitar 815 cc.

oh9_small.jpg

OH 9, “Chellean Man”, Homo erectus
Ditemukan oleh Louis Leakey tahun 1960 di Olduvai Gorge, Tanzania (Leakey 1961). Diperkirakan berumur 1.5 juta tahun. Terdiri dari sebagian tempurung otak dengan tulang alis besar dan volume otak 1065 cc.

OH 12, “Pinhead”, Homo erectus
Ditemukan oleh Margaret Cropper tahun 1962 di Olduvai Gorge, Tanzania. Mirip tetapi tidak selengkap OH 9, dan lebih kecil, dengan volume otak hanya 750 cc. Diperkirakan berumur 800,000 hingga 1,200,000 tahun. Anton (2004) telah menemukan beberapa pecahan tengkorak lagi, tetapi masih sangat terpecah-pecah.

sangiran17_small.jpg

Sangiran 17, “Pithecanthropus VIII”, Homo erectus
Ditemukan oleh Sastrohamidjojo Sartono tahun 1969 di Sangiran, Jawa. Terdiri dari kranium yang cukup lengkap, dengan volume otak sekitar 1000 cc. Merupakan fosil erectus dari Jawa yang paling lengkap. Tengkorak ini sangat tebal, dengan muka sedikit menonjol dan tulang pipi yang besar. Diperkirakan berumur 800,000 tahun, tetapi pengukuruan terbaru memberi angka hampir 1.7 juta tahun. Bila angka yang lebih tua terbukti benar, berarti Homo erectus bermigrasi keluar dari Afrika lebih awal daripada yang tadinya diperkirakan.

3733_small.jpg

KNM-ER 3733, Homo erectus (atau Homo ergaster)
Ditemukan oleh Bernard Ngeneo tahun 1975 di Koobi Fora, Kenya. Diperkirakan berumur 1.7 juta tahun. Temuan ini terdiri dari kranium yang nyaris lengkap. Volume otak 850 cc, dan tengkorak secara keseluruhan mirip dengan fosil Peking Man. Penemuan fosil ini pada stratum yang sama dengan ER 406 (A. boisei) merupakan bantahan atas hipotesis satu spesies: bahwa tidak ada lebih dari satu spesies hominid dalam sejarah. (Leakey and Walker 1976)

15000_small.gif

KNM-WT 15000, “Turkana Boy”, Homo erectus (atau Homo ergaster)
Ditemukan oleh Kamoya Kimeu tahun 1984 di Nariokotome dekat Danau Turkana, Kenya (Brown et al. 1985; Leakey and Lewin 1992; Walker and Leakey 1993; Walker and Shipman 1996). Kerangka yang nyaris lengkap dari anak berumur 11 atau 12 tahun, yang hilang hanya tulang tangan dan kaki. (Beberapa ilmuwan berpendapat erectus tumbuh dewasa lebih cepat dari manusia modern, dan bahwa usia anak ini sekitar 9 tahun (Leakey and Lewin 1992).) Merupakan spesimen erectus yang paling lengkap, dan juga yang paling tua, yaitu 1.6 juta tahun. Volume otak sekitar 880 cc, dan diperkirakan akan bervolume 910 cc sebagai dewasa. Anak ini tingginya 160 cm (5’3”), dan akan bertinggi 185 cm (6’1”) sebagai dewasa. Ini secara mengejutkan cukup tinggi, dan menyiratkan bahwa banyak erectus sama besar dengan manusia modern. Kecuali tengkoraknya, kerangka ini sangat mirip dengan anak modern, walaupun terdapat beberapa perbedaan kecil. Yang paling kentara adalah lubang pada tulang belakangnya, dimana spinal cord nya lewat, hanya memiliki setengah dari daerah irisan yang ditemukan pada manusia modern. Satu penjelasan yang ditawarkan adalah bahwa anak ini tidak memiliki kontrol motorik yang bagus seperti yang kita miliki pada thorax untuk mengontrol kemampuan bicara, yang menyiratkan bahwa ia bukan pembicara yang lancar seperti manusia modern (Walker and Shipman 1996).

d2700_small.jpg

D2700, Homo georgicus
Ditemukan tahun 2001 di Dmanisi, Georgia. Diperkirakan berumur 1.8 juta tahun. Terdiri dari tengkorak yang hampir lengkap, termasuk rahang bawah (D2735) yang berasal dari individu yang sama. (Vekua et al. 2002, Balter and Gibbos 2002) Dengan volume otak 600 cc, ini merupakan tengkorak hominid terkecil dan paling primitif yang ditemukan diluar Afrika. Tengkorak ini dan dua lainnya ditemukan berdekatan membentuk transisi yang hampir sempurna antara H. habilis dan ergaster.

atd6-69_small.jpg

ATD6-69, Homo antecessor?
Ditemukan di Atapuerca, Spanyol. Ini merupakan sebagian muka seorang anak yang kemungkinan berusia 10 hingga 11.5 tahun. Fosil ini berumur 780,000 tahun. (Bermudez de Castro et al. 1997)

mauer_small.gif

“Heidelberg Man”, “Mauer Jaw”, Homo sapiens (purba) (juga disebut Homo heidelbergensis)
Ditemukan oleh pekerja tanah liat tahun 1907 dekat Heidelberg, Jerman. Diperkirakan berumur antara 400,000 hingga 700,000 tahun. Temuan ini terdiri dari rahang bawah dengan dagu menjorok serta semua giginya. Rahangnya sangat besar dan kekar, seperti Homo erectus, tetapi giginya berada di daerah paling kecil di kisaran erectus. Sering diklasifikasikan sebagai Homo heidelbergensis, tetapi terkadang dianggap sebagai Homo erectus versi Eropa.

kabwe_small.gif

“Rhodesian Man”, “Kabwe”, Homo sapiens (purba) (dulu Homo rhodesiensis)
Ditemukan seorang pekerja tahun 1921 di Broken Hill, Rhodesia Utara (sekarang Kabwe, Zambia) (Woodward 1921). Ini merupakan kranium lengkap yang amat kekar, dengan tulang alis besar dan jidat yang menjorok ke belakang. Perkiraan umur antara 200,000 hingga 125,000 tahun. Volume otak sekitar 1280 cc.

arago_small.jpg

Arago XXI, “Tautavel Man”, Homo sapiens (purba) (juga Homo heidelbergensis)
Ditemukan di Arago, Perancis Selatan tahun 1971 oleh Henry de Lumley. Perkiraan umur 400,000 tahun. Fosil ini terdiri dari muka yang hampir lengkap, dengan 5 gigi geraham dan sebagian tempurung otak. Volume otak sekitar 1150 cc. Tengkorak terdiri dari campuran fitur Homo sapiens purba dan Homo erectus, yang kadang diklasifikasikan sebagainya.

petralona_small.gif

Petralona 1, Homo sapiens (purba)
Ditemukan penduduk desa di Petralona, Yunani tahun 1960. Perkiraan umur 250,000-500,000 tahun. Bisa dianggap juga sebagai Homo erectus modern, dan juga memiliki beberapa ciri Neandertal. Volume otak 1220 cc, cukup besar untuk erectus tetapi kecil untuk sapiens, dan mukanya besar dengan rahang lebar. (Day 1986)

atapuerca5_small.jpg

Atapuerca 5, Homo sapiens (purba)
Ditemukan di Sima de los Huesos (“Pit of Bones”) di situs gua Atapuerca di Spanyol utara tahun 1992 dan 1993 oleh Juan-Luis Arsuaga. Diperkirakan berumur 300,000 tahun, dengan volume otak 1125 cc. Bermuka lebar dengan lubang hidung besar dan mirip dengan Neandertal dalam beberapa hal tetapi tidak dalam hal-hal lain. Ini merupakan tengkorak pra-modern paling lengkap dalam catatan fosil hominid. (Arsuaga et al. 1993; Johanson and Edgar 1996)

feldhofer_small.jpg

Feldhofer, Neaderthal 1, Homo sapiens neanderthalensis
Ditemukan oleh Johann Fuhlrott tahun 1856 di gua kecil di Feldhofer, Lembah Neander, Jerman. Temuan terdiri dari batok kepala, tulang paha, sebagian tulang panggul, beberapa tulang iga, dan beberapa tulang lengan dan bahu. Lengan kiri bawah patah semasa hidup, dan sebagai akibatnya tulang-tulang lengan kiri lebih kecil daripada yang kanan. Fuhlrott menyangkanya sebagai manusia primitif, tetapi otoritas Jerman yang dipimpin oleh Rudolf Virchow menolak anggapan ini, dan secara keliru mengklaim bahwa fosil ini adalah manusia modern yang sakit. (Trinkaus and Shipman 1992) Di tahun 1999, situs aslinya ditemukan kembali, dan lebih banyak tulang dari spesimen yang sama berhasil diamankan.

(Sebenarnya ada dua temuan Neandertal yang lebih dulu. Sebagian kranium dari anak berusia 2.5 tahun ditemukan tahun 1829 di Belgia dan tidak diakui sampai tahun 1936. Kranium dewasa ditemukan di Gibraltar tahun 1848 dan tertutup debu di musium hingga diakui sebagai Neandertal tahun 1864.)

“Spy 1 dan 2”, Homo sapiens neaderthalensis
Ditemukan oleh Marcel de Puydt dan Max Lohest tahun 1886 di Grotto of Spy (dibaca Spee) d’Orneau di Belgia. Perkiraan umur 60,000 tahun. Temuan terdiri dari dua tengkorak yang hampir lengkap. Deskripsi yang bagus dari tengkorak ini mengkonfirmasi bahwa mereka amat tua, dan jelas membantah bahwa fisik Neandertal adalah sebab dari kondisi penyakit, tetapi juga secara keliru menyimpulkan bahwa manusia Neandertal berjalan dengan lutut tertekuk.

“Situs Krapina”, Homo sapiens neanderthalensis
Ditemukan oleh Dragutin Gorjanovic-Kramberger tahun 1899 dekat Krapina, Kroasia. Situs ini menghasilkan fosil-fosil signifikan dari dua hingga tiga lusin individu, dan gigi serta serpihan rahang dari lusinan lainnya. Ketika Gorjanovic menerbitkan temuannya tahun 1906, ia mengkonfirmasi bahwa Neandertals bukanlah manusia modern yang menderita penyakit secara meyakinkan.

chapelle_small.jpg

“Old Man”, Homo sapiens neanderthalensis
Ditemukan oleh Amedee dan Jean Bouyssonie tahun 1908 dekat La-Chapelle-aux-Saints, Perancis. Berumur sekitar 50,000 tahun, dengan volume otak 1620 cc. Tengkorak yang hampir lengkap ini direkonstruksi oleh Marcellin Boule, yang menulis sebuah paper yang definitif dan sangat berpengaruh akan tetapi salah total di banyak kesimpulannya. Paper tersebut secara berlebihan mengedepankan karakteristik kera dari fosil ini, dan mempopulerkan stereotip yang ada, dan ini berlangsung beberapa dekade, tentang manusia-kera yang berjalan bungkuk dengan lutut tertekuk. Spesimen ini berusia sekitar 30-40 tahun ketika ia mati, tetapi memiliki tulang iga yang patah, arthritis parah di bagian pinggul, leher bawah, punggung dan bahu, dan kehilangan banyak dari gigi gerahamnya. Bahwa individu ini dapat hidup hingga sekian lama mengindikasikan bahwa Neandertal pastilah memiliki struktur sosial yang kompleks.

“Situs Shanidar”, Homo sapiens neanderthalensis
Ralph Solecki menemukan kerangka 9 Neandertal antara 1953 dan 1960 di gua Shanidar, Irak. Diperkirakan berumur antara 70,000 hingga 40,000 tahun. Salah satunya, Shanidar 4, jelas dikubur bersama bunga-bunga persembahan (walaupun interpretasi ini diragukan). Tahun 1971 Solecki menulis buku, “Shanidar, Bangsa Bunga Pertama”, yang membalikkan stereotip sebelumnya tentang spesies semi-manusia yang primitif. Tengkorak lainnya, Shanidar 1, setengah buta, hanya memiliki satu lengan dan cacat. Ini juga merupakan bukti tentang struktur sosial yang kompleks.

“Saint-Cesaire Neandertal”, Homo sapiens neanderthalensis
Ditemukan oleh Francois Leveque tahun 1979 di dekat desa Saint-Cesaire, Perancis. Terdiri dari kerangka yang sangat rusak. Tengkoraknya hampir lengkap, hanya kurang bagian belakang kranium. Diperkirakan berumur 35,000 tahun, dan merupakan Neandertal termuda yang diketahui. Temuan ini menarik karena ditemukan bersama dengan alat-alat yang tadinya diasumsikan hanya dimiliki budaya Cro-Magnon, dan tidak mirip dengan alat-alat Neandertal yang biasa ditemukan.

cromag1_small.jpg

“Situs Cro-Magnon”, Homo sapiens sapiens (modern)
Ditemukan para pekerja tahun 1868 di Cro-Magnon, Perancis. Diperkirakan berumur 30,000 tahun. Situs ini menghasilkan kerangka 5 individu yang dikubur, bersama dengan alat-alat batu, ukiran dari tanduk rusa, hiasan dari gading, dan kerang-kerang. Bangsa Cro-Magnon hidup di Eropa antara 35,000 hingga 10,000 tahun yang lalu. Mereka mirip dengan manusia modern, tinggi berotot dan sedikit lebih kekar dari kebanyakan manusia modern. Mereka adalah pemburu yang ahli, pembuat alat, dan seniman yang terkenal karena seni gua seperti Lascaux, Chauvet, dan Altamira.

neanderthal.jpg

Homo neandertal
Gigi Neanderthal berusia 40 ribu tahun yang memberi ilmuan bukti langsung pertama bahwa neanderthal berpindah2 tempat (Credit: Max Planck institute for Evolutionary Anthropology)
ScienceDaily (Feb. 15, 2008) — Sebuah gigi berusia 40,000 tahun memberikan ilmuan bukti langsung pertama bahwa Neanderthal berpindah dari tempat ke tempat lain selama hidupnya. Dalam sebuah proyek kolaboratif melibatkan peneliti dari jerman, inggris, dan yunani, Professor Michael Richards dari Max Planck institute for Evolutionary Anthropology in Leipzig, Jerman dan Durham University, UK, dan timnya memakai teknologi laser untuk mengumpulkan partikel mikroskopis dari enamel gigi. Dengan menganalisa rasio isotop strontium dalam enamel - strontium adalah logam yang dicerna secara alami lewat makanan dan air - ilmuan mampu mengungkap informasi geologis menunjukkan dimana neanderthal hidup saat gigi itu terbentuk.

homo.jpg

40000, Homo Liujiang
Tomografi computer industri resolusi tinggi dipakai untuk menscan fosil tengkorak Homo Liujiang, dan otak maya tiga dimensi disusun. Informasi lebih banyak mengenai evaluasi filetik dari Homo Liujiang diturunkan dari riset terbaru ini.
Riset yang dilakukan Wu Xiujie dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology (IVPP) ini menemukan bahwa sebagian besar fitur otak Liujiang sama dengan manusia modern, termasuk bentuk otak bundar, lobe frontal yang menonjol dan lebar, tinggi otak yang membesar dan lobe parietal yang panjang dengan margin orbital penuh. Perbedaannya terletak pada proyeksi posterior yang kuat di lobe occipital, dan lobe cerebellar yang lebih kecil. Pengukuran volume otak menunjukkan kapasitas endokranial Liujiang adalah 1567 cc, yang berada dalam kisaran Homo Sapiens akhir namun masih jauh dari manusia modern.

tibia.jpg

“Tibia Cro-Magnon”
Fragmen Tibia. DNA di ekstraksi dari fragmen ini dan dari serpihan tengkorak, dan semua ekstraksi menunjukkan barisan HVR I yang sama.(Credit: David Caramelli et al. doi:10.1371/journal.pone.0002700.g001)
Sekitar 40.000 tahun lalu, Cro-Magnon — masyarakat pertama yang memiliki kerangka yang tampak secara anatomis modern — memasuki eropa, datang dari Afrika. Sekelompok ahli genetika, di koordinasi oleh Guido Barbujani dan David Caramelli dari Universities of Ferrara and Florence, menunjukkan seorang individu Cro-Magnoid yang tinggal di Italia selatan 28.000 tahun lalu adalah seorang eropa modern, baik secara genetis maupun anatomis.

flores.jpg

“Homo Floresensis"
Peneliti dari RMIT University telah mengikuti debat tingkat dunia mengenai fosil mirip hobbit yang ditemukan di pulau Flores , Indonesia, dengan sebuah teori kontroversial baru yang menyarankan bahwa fitur primitif mereka adalah hasil dari kondisi medis.
Dr Obendorf mulai bekerja dengan Professor Oxnard segera setelah sebuah konferensi biologi manusia masyarakat australasia, dimana peneliti RMIT menemukan kesamaan antara gambar fosil Flores dengan gambar tengkorak orang yang mengalami kretinisme di masa lalu. Dr Kefford mengikuti proyek ini setahun kemudian, menyumbangkan kemampuannya untuk melakukan analisis multivariat.
"Gagasan kami adalah bahwa ini merupakan masalah yang disebabkan lingkungan"

mandible.jpg

Homo erectus
Foto dari fosil rahang manusia yang ditemukan 15 mei 2008 di situs galian Thomas I di Casablanca. (Credit: Copyright Jean-Paul Raynal)
Sebuah rahang lengkap dari Homo Erektus ditemukan di galian Thomas I di Casablanca oleh sebuah tim maroko-perancis yang dipimpin bersama oleh Jean-Paul Raynal, peneliti senior CNRS di PACEA laboratory (CNRS/Université Bordeaux 1/ Ministry of Culture and Communication). Rahang ini adalah fosil manusia tertua yang diungkapkan dari ekskavasi ilmiah du Maroko. Penemuan ini akan membantu mendefinisi lebih baik peran yang mungkin ada di Afrika utara terhadap populasi pertama di eropa selatan.
Sebuah rahang Homo Erektus telah ditemukan di galian Thomas I tahun 1969, namun itu kebetulan saja sehingga tidak dalam konteks arkeologi. Ini tidaklah kasusnya dalam fosil yang ditemukan 15 mei 2008 yang mencirikan yang sama dengan rahang yang ditemukan tahun 1969.
Morfologi fosil ini berbeda dari tiga rahang yang ditemukan di situs Tighenif di Aljazair yang dipakai tahun 1963 untuk menemukan ragam Afrika Utara untuk Homo Erektus yang disebut Homo Mauritanicus, berasal dari 700.000 SM.

080408112112-large.jpg

Homo sapiens
Foto dari fosil rahang manusia yang ditemukan 15 mei 2008 di situs galian Thomas I di Casablanca. (Credit: Copyright Jean-Paul Raynal)
Sebuah tim peneliti telah merekonstruksi sejarah evolusi populasi manusia dan menjawab pertanyaan mengenai sejarah, menggunakan DNA yang disarikan dari sisa2 kerangka. Mengetahui sejarah populasi masa lalu dan menjawab pertanyaan tak terpecahkan mengenai mereka sangatkah menarik, lebih lagi saat informasi ini di dapat dari ekstraksi bahan genetik dari sisa2 sejarah. Sebuah contoh adalah necropolis di Aldaieta (Araba) dimana sebagian misteri mengenai masyarakat ini telah terjawab - terima kasih pada studi mengenai DNA mereka.
Aldaieta membawa banyak fitur penting yang membuat situs ini menjadi catatan arkeologis dan sejarah penting dan konservasinya adalah tugas penting. Dalam usaha ini, Department of Genetics, Physical Anthropology & Animal Physiology di Faculty of Science and Technology at the University of the Basque Country (UPV/EHU), dan dipimpin oleh Ms Concepción de la Rúa, telah melakukan studi DNA di necropolis di Aldaieta (Araba).
Peneliti di UPV/EHU telah mempelajari bahan genetis dari sisa2 purba, di ekstraksi dari tulang dan gigi, untuk menterjemahkan makna sosiologis dan biologis dari necropolis ini. Studi DNA purba adalah bidang dimana banyak dikerjakan laboratorium karena banyak sekali alasan. Di sisi lain, sebagai perbandingan dengan DNA modern, yang di ekstrak dari tulang dan gigi kurang lengkap dan sangat sedikit. Sebagai akibatnya, resiko pencemaran tinggi. Inilah mengapa, setiap waktu hasip yang didapat garus di periksa ulang agar kita yakin ia tidak terkontaminasi atau di manipulasi, namun di ambil murni dari sampel.

teeth.jpg

Homo sapiens
Pandangan atas dari rahang ATE 9-1. (Credit: EIA/Jordi Mestre)
Peneliti dari University of Michigan, Josep M. Pares adalah bagian dari sebuah tim yang menemukan sisa2 tertua yang diketahui sebagai nenek moyang manusia di eropa barat.
Penemuan menunjukkn bahw anggpota dari genus Homo, dimana manusia modern berasal, mengkoloni daerah ini jauh lebih awal dari yang diyakini sebelumnya. Detil penemuan ini diterbitkn dalam isu 27 maret 2008 dari jurnal Nature.

bones.jpg

Berjalannya manusia awal. Aebuah tulang paha berusia 6 juta tahun, atau femur (tengah), menyajikan sebuah pejalan tegak dari salah satu nenek moyang terawal manusia(Orrorin), dan tulang paha dari australophitecus berusia 2-3 juta tahun (kiri, bawah). Tulang paha homo (kanan) menandai sebuah transisi menuju perilaku modern sekitar 2 juta tahun lalu. (Credit: Artwork and composite byJohn Gurche, photograph by Brian Richmond)
SEbuah perbandingan bentuk femur(tulang paha) fosil paling komplitdarisalah satu nenek moyang manusia paling awal , atau hominin, dengan femora kera masa kini, manusia modern dan fosil lainnya, menunjukkan bentuk terawal bipedalisme terjadi paling tidak 6 juta tahun lalu dan stabil paling tidak selama 4 juta tahun. William Jungers, Ph.D., dari Stony Brook University, dan Brian Richmond, Ph.D., dari George Washington University,mengatakan penemuan mereka menunjukkan bahwa fosil ini milik nenek moyang terawal manusia, dan berjalan tegak adalah salah satu ciri khas manusia pertama dalam keturunan kita, tepat setelah pemisahan antara garis keturunan manusia dan simpanse. Penemuan mereka diterbitkan di the March 21 , 2008 issue of the journal Science.
Penelitian ini adalah yang pertama lewat analisis kuantitatif dari fosil Orrorin tugenensis – sebuah potongan femur – yang ditemukan di Kenya tahun 2000 oleh sebuah tim peneliti perancis . Dr. Jungers, kepala Anatomical Sciences di SBU School of Medicine, dan Dr. Richmond, Associate Professor of Anthropology di GWU dan seorang anggota GWU’s Center for the Advanced Study of Hominid Paleobiology, melengkapkan sebuah analisis multivariat dari bentuk femora proximal dari remaja O. tugenensis yang memungkinkan mereka menentukan pola perilaku bipedal untuk hominin kontroversial ini. Analisis mereka melibatkan banyak sekali contoh kera, hominin awal lainnya, termasuk Australopithecus, dan manusia modern dari semua ukuran tubuh.

Rangkuman

Ada beberapa trend yang jelas (tetapi tidaklah kontinyu ataupun seragam) dari australopithecus purba hingga manusia sekarang: volume otak yang membesar, ukuran tubuh yang membesar, penggunaan alat-alat yang makin canggih, ukuran gigi yang mengecil, tengkorak yang makin tidak kekar. Tidak ada garis yang jelas membedakan antara australopethicus modern dengan Homo purba, antara erectus dengan sapiens purba, atau antara sapiens purba dengan sapiens modern.

Walaupun demikian, hanya ada sedikit konsensus tentang pohon keluarga manusia. Semua menerima bahwa australopithecus robustus dan boisei bukanlah nenek moyang kita, dan hanya cabang sampingan yang tidak meninggalkan keturunan. Apakah H. habilis diturunkan dari A. afarensis, africanus, keduanya, atau bukan dari keduanya, masih merupakan perdebatan. Mungkin saja tidak satupun dari australopithecus yang kita ketahui adalah nenek moyang kita.

Beberapa genera baru dan spesies baru telah ditemukan dalam dekade terakhir (Ar. Ramidus, Au. Amanensis, Au. Bahrelghazali, Au. Garhi, Orrorin, Kenyanthropus, Sahelanthropus) dan belum ada konsensus terbentuk tentang bagaimana mereka semua terhubung dengan masing-masing atau dengan manusia. Secara umum diterima bahwa Homo erectus merupakan turunan dari Homo habilis (atau, setidaknya, beberapa fosil yang sering dikategorikan sebagai habilis), tetapi hubungan antara erectus, sapiens dan Neandertal masih belum jelas. Kemiripan dengan Neandertal dapat dideteksi dalam sejumlah spesimen baik itu sapiens purba maupun modern.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License