Etika

Etika adalah aturan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk dalam hidup manusia. Ia sangat terkait dengan moral, yaitu aturan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam perkembangannya, etika dan moral dianggap sinonim.

Mengenai asal usul moral dan etika, terdapat tiga teori.
1. subjektivitas moral: mengatakan kalau alam semesta tidak mengandung hukum moral baku sehingga setiap orang harus membuat sendiri aturan moralnya.
2. Quasi subjektivitas moral: mengatakan kalau tuhan ada, maka tuhanlah yang akan menentukan hukum moral bagi manusia, namun kenyataannya tuhan tidak ada, jadi manusia sendiri yang harus membuat aturan moralnya.
3. Objektivitas moral: mengatakan kalau ada sebuah aturan moral baku yang terdapat di alam semesta, terlepas dari ada tidaknya tuhan. Bila tuhan dihubungkan dengan hukum ini, maka ini disebut objektivitas moral teistik.
Etika ateis
Etika agama terisi dengan supernatural. Ini membuat etika agama subjektif secara inheren dan relatif, karena anda mesti memilih keyakinan pada apa yang dikatakan kepada anda, oleh suatu pihak berkuasa, mengenai hal-hal yang tidak terlihat dan tidak teruji. Etika ateistik terisi dengan dunia nyata. Kita memiliki pilihan mengenai apa yang harus bernilai, sehingga etika ateis juga relatif; namun bila kita memilih sebuah nilai yang dapat diukur secara objektif, etika kita dapat menjadi objektif.
Ada pilihan tertentu yang akan bernilai puncak, yang kita dapat terima dan merupakan pilihan populer dalam masyarakat dan kebudayaan yang beragam, karena ia didukung oleh seleksi alam. Karena kita adalah hewan sosial berevolusi lewat seleksi alam, kita akan cenderung memberi nilai pada kesehatan (kemampuan bertahan hidup) dari keluarga kita, dan kedamaian masyarakat kita. Ini memberikan standar alami etika; yang baik adalah yang membawa pada kesehatan, yang benar adalah yang membawa pada perdamaian.
Alasan kita menjadi etis dengan standar ini termasuklah kebaikan, saling berbagi, kasih sayang dan memberi arti lebih tinggi dalam hidup kita.
Argumen ateis untuk etika teis
Apakah tuhan mengikuti sebuah aturan etika dasar, atau aturan etika dasar yang mengikuti tuhan?
Bila tuhan mengikuti sebuah aturan etika dasar, maka tuhan tidak maha kuasa.
Bila aturan etika dasar yang mengikuti tuhan, dengan kata lain, tuhanlah yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah, maka bencana alam itu benar, wabah penyakit itu benar, perang agama itu benar, terorisme itu benar dan segala masalah yang kita secara normal pandang salah, sesungguhnya benar. Ini membawa pada masalah kejahatan (problem of evil).

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License