Alam barzah

Alam Barzah adalah Alam Kubur dimana manusia melakukan 'penantian' untuk dibangkitkan pada hari Kiamat. Jadi waktunya bisa berjalan jutaan tahun atau mungkin malah miliaran tahun. Sejak dia meninggal sampai Kiamat Sughra, dan kemudian dilanjutkan sampai hari Berbangkit.

Ateis dan Alam Barzah

Masa depan, entah tahun berapa, aku tersentak bangun. Segalanya gelap. Aku bahkan tak dapat melihat tanganku sendiri. Suhu benar2 dingin sampai ke tulang. Inikah alam kubur? Aku ingat saat terakhir berada di rumah sakit. Dkelilingi keluargaku, istriku, kedua anakku, ibu dan bapakku. Saat itu sesak sekali dan segalanya kabur. Aku sempat mendengar ustadz membisikkan kalimat istighfar di telingaku. Aku tau ia memintaku untuk mengucapkannya. Tapi sebagai lelaki sejati, aku harus berpegang teguh pada prinsip. Dan sampai segalanya gelap, tak mau kusebut kata2 itu. Entah bagaimana ekspresi terakhirku saat itu. Aku berharap mudah2an keren dan cool.
Well, ternyata dongeng masa kecil itu benar. Sepertinya sia2 saja aku belajar sains seumur hidup, karena terbukti itu tidak benar.
Seberkas cahaya mulai muncul di depan. Sepertinya ia malaikat yang akan menginterogasi aku. Seharusnya dua orang. Ya, mungkar dan Nangkir, mereka yang pernah diceritakan kakek saat aku kecil dulu. Tapi ternyata hanya satu, mungkin satunya lagi sedang sibuk. Ia makin mendekat, tapi tetap saja aku tidak bisa melihat wajahnya. Terlalu terang, mataku silau. aku terpaksa menunduk, barulah kulihat tubuhku.

Ia ada di depanku dan mulai bertanya padaku. Suaranya biasa saja, tidak keras dan tidak pula lembut. Mungkin ia memilih netral padaku karena katanya ia akan berbicara kasar pada orang tak beriman dan berbicara lembut pada orang beriman. Ia bertanya :

"Siapa Tuhanmu?"

Ia pikir aku orang yang berTuhan dan memaksakan jawaban, seolah2 seribu mata menatapku dekat sekali. aku tak tau apa reaksinya bila aku menjawab tidak tau atyau tidak punya, tapi ia pastinya akan melakukan sesuatu bila aku salah menjawab. Bisa saja, ia memukul kepalaku dengan gada berduri hingga otakku berceceran. Tapi, kalau sudah tau jawabannya, kenapa harus ditanyakan?

Aku tersenyum dan dengan bahasa Indonesia yang fasih aku berkata dengan cepat, "Maaf, Saya ateis. Mungkin maksud anda Presiden SBY ya? hahaha!"

Aku biarkan ia bingung dan berhasil. Wajahnya mulai terlihat dan tampak sangar. Barulah aku sadar kalau ia pastilah menterjemahkan jawabanku begini : Kamu menghina aku dengan leluconmu yang tidak lucu itu. Dan karena kamu megatakannya dengan implisit, aku tidak dapat marah denganmu.
Malaikat itu mendekatiku, memegang lenganku dan berkata "Hey! Aku tidak bercanda. Itu pertanyaan serius."

Aku tersenyum dan mengangguk sekali.

"Kamu bukan atheist kan?"
Wajahnya sangat kebingungan dan menyedihkan sehingga aku harus tertawa.
"Saya sudah beritahu siapa saya."
Aku hampir bisa mendengar suara gear mesin berputar di kepalanya.

"Kalau kamu atheist, berarti saya tidak perlu menanyakan hal2 lain, seperti siapa nabimu, apa agamamu, apa kiblatmu, apa pedomanmu dan siapa saudaramu?". Ia diam sebentar "Kecuali" katanya "Kamu punya jawaban untuk itu. Tapi itu tidak mungkin, kan?"

Ia kemudian berceramah tentang Allah, Nabi Muhammad, Ka'bah, Qur'an dan kaum muslimin. Lalu bercerita pula tentang kiamat, hari pembalasan, surga dan neraka.
"Dalam pekerjaan ini. Saya sudah bertanya pada bermiliar manusia. Mereka sebagian besar bisa menjawab dengan betul, tapi dimasa hidupnya, moralnya benar2 hancur. Mereka membunuh, memfitnah, berbohong atas nama Tuhan. Padahal Tuhan tidak menginginkan itu."

Selama ini aku rasa bahwa orang2 fanatik itu sesungguhnya mengalami 'psychosis atipikal'. Sekedar frase keren untuk gangguan kejiwaan yang tidak memiliki penyebab organik dan halusinasi yang tidak sesuai dengan gejala2 standar. Dan aku percaya, mereka akan sehat bila menggunakan antipsychotic seperti haldol.
Tapi ternyata mereka benar, dunia sesudah mati itu ada dan sesuai dengan gambaran agama Islam. Buku2 agama di dunia cuma sedikit lebih hiperbolik tentangnya.

Dan sekarang ia kembali berceramah. Iapun bercerita tentang pengalamannya mewawancarai orang2 besar dari Imam Ghazali sampai Charles Darwin. Tentang ketertarikannya pada Bunda Theresa dan Inul.

"Jawaban2 mereka unik dan saya merasa punya keterikatan batin dengan mereka."
Lucu juga, malaikat ini punya perasaan, ia bisa jatuh cinta bisa juga marah. Padahal kupikir mereka robot yang tidak punya emosi. Tentu saja, daripada mereka yang beku, lebih baik sebuah formulir dan pulpen saja untuk di isi di dunia Barzah ini. Sesuatu yang katanya 'lebih praktis bagi Tuhan'.
Ia juga sesungguhnya tidak yakin bahwa yang memerintahnya adalah Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Adil menurunkan sebuah agama yang harus di akui setiap orang yang mati, padahal tidak semua orang yang mati itu tau sedikitpun tentang agama itu. Ia pernah sedih saat seorang aktivis kemanusiaan ari pedalaman Amazon yang semasa hidupnya penuh siksaan dan kebanyakan hidup di penjara rejim fasis mesti dimasukkan ke neraka. Alasannya, ia tidak mampu menjawab pertanyaan2Nya. Seolah2 hidup itu cuma mengurusi enam jawaban pertanyaan itu."
Iapun berhenti bercerita sambil membersihkan suaranya.
"Tuhan sangat diskriminatif lho" bisiknya "Siapa saja yang selama hidupnya memeluk agamanya, biarpun ia penjahat, koruptor, pembantai, tidak akan disiksa secara abdi di neraka. Mereka cuma disucikan". Alisnya terangkat dan suaranya kembali normal. "Dan barangsiapa yang tidak mengakui agamaNya, biarpun ia baik, pecinta alam, pahlawan kemanusiaan, tetap akan disiksa abadi di neraka."

Itu berarti aku tidak punya harapan lagi. Aku pasti masuk neraka, tidak peduli kalau aku memberi makan satu negara yang kelaparan. Mungkin justru karena itu aku berdosa. Ikut campur dalam rencana Tuhan. Tuhan mungkin ingin mereka semua masuk ke dalam surga karena kelaparan dan mati syahid. Atau Tuhan ingin mereka semua merasakan neraka di dunia agar terbiasa nanti di neraka sesungguhnya di akhirta. Mereka yang kelaparan di Ethiophia itu agamanya bukan Islam dan itu berarti masuk neraka. Tak apalah, mungkin aku bisa bertemu dengan mereka nanti di neraka. Diskusinya pasti menarik.

"Saya cuma menyapa ruhmu disini. Dengar, sekarang, sebelum saya pergi. Besok, saat kamu bangun, kamu akan memasuki hari kebangkitan, yaumul ba'as. Yang saya pinta cuma tolong kamu bersikap sopan. Turuti apa yang diperintahkan. Tumbuhkan rasa penyerahan dirimu. Jangan lagi ragu, mungkin Tuhan akan mengampunimu."
"Saya dapat berubah walaupun sudah mati?" Aku mulai merasa sedikit harapan dari malaikat ini. Sedikit ada rasa penyesalan tentang hidupku di dunia, tapi sudah terlanjur.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Kamu tidak punya catatan moral yang buruk. Kamu cuma,….. tidak percaya."

Temanku sang malaikat berdiri dan melambai. Ia akan pergi ke kuburan lain untuk melakukan wawancara lagi. Aku membalas dan sekelilingku kembali gelap gulita.
Seandainya aku tidak pernah mengenal logika dari lahir, tentu aku hidup bahagia dunia akhirat. Jadi penceramah di dunia. Menjual komoditi hari akhir yang penuh kengerian dan nikmat. Aku orator yang bagus. Pasti aku kaya raya seperti Harun Yahya, AA Gym, Ustadz Jeffry, dsb. Di saat aku mati aku akan tinggal di surga firdaus dan mengisi hari2ku dengan hedonisme. Wow, seks dengan 50 bidadari pasti sangat luar biasa!

Tapi nuraniku masihkah hidup, saat aku mengingat jutaan jiwa tersiksa di neraka, abadi selamanya?

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License