Dekonversi Dari Yahudi

Karen L. Freund

24 Juli 2002
Saya tidak punya kisah dekonversi atau apapun yang mengesankan untuk diberikan pada situs ini: saya melihat sekeliling saya dan tidak ada saya lihat atau alami membuat saya pernah berpikir ada yang melebihi dunia ini dari apa yang saya lihat dan alami. Saya tidak berpikir saya pernah percaya tuhan ada atau apapun yang supernatural, dan memandang kalau salah satu hobi terbesar saya adalah menyanyikan Harpa Suci, yaitu menyanyikan hymne rakyat Kristen amerika, saya sering menemukan saya dikelilingi orang beriman (sebagai seorang ateis yahudi, saya lebih tidak sesuai lagi dari ini!).
Plus saya baru saja menikah dengan mantan seorang seminarian fransiskan yang anak perempuannya terlibat dalam sebuah gereja injil fundamentalis (well, sejauh ia dapat mengabaikan ajaran gereja yang ia anggap tidak masuk akal) dan anak laki-lakinya senang memberi tahu saya mengenai musik Kristen yang ia senangi. Pada dasarnya, saya satu dari sedikit ateis yang mengaku yang saya kenal, dan disana sangat sepi, jadi, singkatnya, terima kasih ada disana dan menerbitkan majalah serta situs!
Karen Freund
Referensi : Positiveatheism.org

Anonim

Saya tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang yahudi pada umumnya, namun kami tidaK memiliki organisasi keagamaan, ataupun mengamalkan agama apapun. Ayah saya seorang ateis, namun ia membiarkan saya melakukan apa yang saya inginkan. Jadi sebagai pilihan saya, saya masuk ke sekolah yahudi selama dua tahun. Bukan untuk tujuan religius,namun hanya karena gadis-gadis yahudi kesana setiap haru selasa dan kamis. Itu adalah sebuah sinagog ortodoks dan saya membuat sang rabbi pusing dengan mempertanyakan setiap pernyataan sejarah yahudi. Saya akan bertanya:
”Adakah bukti kalau Musa benar-benar ada?”
”Kenapa Musa atau budak yahudi tidak tertulis dalam sejarah mesir?”
”Bila para budak tidak senang diperbudak, kenapa mereka memperbudak orang lain?”
”Karena kita lahir tanpa agama, tanpa melihat apa yang pemimpin religius manapun klaim, apakah agama itu sesungguhnya warisan agama yahudi ortodoks?!”
Sebuah konsep yang terlalu bodoh untuk diterima, bahkan oleh bocah berusia sembilan tahun.
Sang Rabbi, yang saya piker ortodoks, ternyata cukup rasional dan tidak bombastic. Ia mencoba menjelaskan, namun tidak pernah memuaskan saya. Saya saat itu sedang merayakan Bar Mitzvah saya dan kerabat datang dan memberi saya uang. Saya datang lagi seminggu kemudian, dan tidak ada lagi yang memberi saya uang, maka saya tidak pernah lagi datang kesana selama 50 tahun. Terakhir saya datang, mereka menjelaskan pada saya kalau mereka memerlukan sepuluh pria untuk layanan harian dan kalau saya mesti memakai segala macam aksesori yahudi untuk berdoa dalam sebuah sinagog ortodoks. Saya juga dipinta datang setiap hari sabtu, dan malam sabtu. Saya jelaskan kalau saya ateis, dan kalau saya merasa mengikuti ini tidak ada manfaatnya.
Walau ayah saya dan saya tidak dekat, saya bersyukur karena ia tidak memadati saya dengan gagasan religius apapun yang akan membatasi intelektualitas saya. Sejak saya berkelana sebagai anak laki-laki di lingkungan saya, dan cukup cerdas, saya memutuskan menjadi guru diri saya sendiri dan belajar melalui pengamatan.
Lingkungan saya dibesarkan adalah latar urban etnis campuran, penuh dengan misi Kristen dan gipsi, yang kata ibu saya ingin menculik saya. Di blok dekat lingkungan saya, adalah rumah pelacuran, teman saya mengatakannya saat saya berusia 9 tahun. Ia dan saya adalah anak kompleks yang bergaul dengan para PSK. Dan mereka akan berbicara dengan kami seolah kami ini saudara mereka. Mereka akan menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diceritakan oleh orang tua anda. Sebagian telah seperti kakak bagi saya.
Di sudut utama kompleks kami, setiap malam sabtu, band Religius akan bermain dan berusaha mengkonvert siapapun yang mendengarkannya. Juga, ada beberapa minister local yang akan berkhotbah di sudut-sudut dan mengutuk para PSK yang menurut mereka jahat dan terkutuk.
Saya juga akan mengunjungi salah satu misi dimana pendeta likal akan mengundang anak-anak kompleks bermain monopoli, dan kemudian mencoba mengkonvert anak-anak ini. Saat ia melakukan ini, saya akan selalu menghentikannya saat ia mengangkat kepala untuk berceramah dengan mempertanyakan keberadaan Yesus. Jawabannya adalah melarang saya ikut bermain monopoli lagi.
Dari pengalaman pribadi saat saya berusia 9 dan 10 tahun ini, tanpa masukan dari orang dewasa, saya menyimpulkan hal berikut:
Pertama, setiap orang idiot dapat menjadi orang beriman. Anda tidak perlu tahu apapun untuk berkhutbah. Cukup teriakkan dongeng-dongeng yang sama dan usang. Faktanya, masyarakat memberi mereka kehormatan dan uang, atas kemampuan mereka yang tidak tahu apa-apa. Saya tidak perlu kuliah sepuluh tahun untuk menjadi penceramah, namun ini berarti saya melakukan kebohongan intelektual. Saya terlalu pintar untuk jadi ulama. Kesimpulan saya adalah segala yang mereka utarakan adalah salah karena anda tidak butuh pengetahuan atau fakta apapun untuk berkhutbah. Saya rasa kalau wahyu religius seumur hidup saya menjadi lengkap saat saya menonton film Tarzan. Skenarionya tentang Tuhan gunung berapi, dimana para pendeta berdandan dengan kostum yang lucu, membuat beragam aturan religius, dan mendapat upeti dari penduduk setempat. Ia juga berhak memilih siapa yang akan dikorbankan nyawanya dengan melompat kedalam kawah gunung berapi. Saya melihat kalau sang pendeta tidak pernah menjadi orang yang berada di barisan terdepan untuk meloncat lebih dulu. Setelah flm itu, saya menganalisanya dengan serius, dan menyimpulkan kalau saya tidak melihat perbedaan antara skenario film ini dengan agama apapun yang saya pernah lihat atau baca. Butuh lebih banyak pengetahuan untuk menjadi pemulung dari pada seorang pengkhutbah. Sejak itu, setiap kali seseorang mencoba membawa agamanya ke forum publik, komentar saya adalah ”buktikan atau singkirkan.”
Kedua, para penceramah yang berkata kalau PSK adalah penjahat, benci saat saya menginterupsi dengan menanyakan bagaimana mereka bisa menilai mereka tanpa sungguh-sungguh mengenal mereka. Jawaban mereka adalah apa yang mereka lakukan untuk hidup adalah yang membuat mereka jahat dan kalau tuhan yang mereka sebut-sebut itu membenci PSK. Namun, beberapa PSK yang saya kenal baik secara pribadi, ternyata menyenangkan dan cerdas. Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan kalau pekerjaan dan pribadi PSK tidak memiliki hubungan. Seorang PSK dapat lebih bermoral daripada pendeta, dokter atau pengacara. Dan jelas, mengutuk siapapun atau kelompok apapun tanpa adanya bukti adalah bukti dari kebodohan. Namun, inilah yang dilakukan semua agama.
Keluarga kami akhirnya pergi dari kompleks ini, namun tetap dengan sikap skeptis saya, saya merasakan kalau pengalaman di kompleks itu sangat penting bagi kedewasaan saya. Hal teranehnya adalah, dalam 50 tahun selanjutnya, saya belum menemukan satu orang dewasapun yang memiliki argumen yang sah yang dapat menyanggah argumen yang saya buat waktu kanak-kanak.
• Kesimpulan saya, saya merasa kalau setiap anak mesti dikirim setiap hari minggu untuk menonton film "Inherit the Wind" dengan Spencer Tracy dan Frederick March. Ini mungkin film pesan paling baik yang pernah ada sehingga tiap anak wajib menontonnya. Ia mengatakan kalau agama tidak akan dapat bertahan bila menghadapi lima pertanyaan dasar yang diajarkan dalam pelajaran bahasa: "What, Where, Why, When, dan How?"

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License