Dekonversi Dari Taoisme

Oleh : Richard Carrier
Saya dilahirkan dalam keluarga Kristen sesungguhnya. Namun saya tidak puas. Saya adalah seorang pemburu kebenaran. Lalu sebuah mukjizat terjadi. Setidaknya, itulah apa yang orang religius akan sebut sebagai mukjizat. Saat mencari sebuah kamus di toko buku, saya mendapat perasaan yang menyuruh saya berbalik saat melewati sebuah stand. Saya lakukan, dan yang saya lihat pertama kali adalah terjemahan bahasa inggris dari Tao Te Ching. Saya mengambilnya, dan seperti Augustinus, membuka halamannya secara acak dan membaca. Apa yang dikatakannya sangat sederhana, begitu benar, begitu elegan dan tepat, dan begitu bijaksana, saya tahu inilah jawabannya. Saya membeli buku itu dan membaca seluruhnya, dan sejak hari itu saya memutuskan memeluk agama Tao, agama sesungguhnya saya yang pertama. Secara kontras, Kristen tidak pernah menjadi agama bagi saya – ia hanya sebuah penempatan dalam atmosfer budaya saya, dan saya tidak pernah membenarkan keyakinan apapun dalam prinsip-prinsipnya. Namun saya punya keyakinan dalam Taoisme. Saya adalah orang beriman sejati. Dan saya senang, tidak seperti kebanyakan orang, saya telah membuat sebuah keputusan sendiri, di usia dimana saya punya kemampuan memilih dengan segenap nalar saya. Agama tidak pernah dipaksakan kepada saya dan tidak satupun anggota keluarga saya memaksa saya harus menjadi seorang Kristen, dan saya dapat katakana kalau agama pilihan saya tidak terlahir karena paksaan dan indoktrinasi. Saya mempelajari Taoisme dengan sangat bersemangat, pernah saya memiliki 8 terjemahan Tao Te Ching berbeda dan beberapa Chuang Tzu, dan Taoisme saya menjadi sepenuhnya dan memuaskan: saya adalah seorang Taois filosofis, sebuah tradisi Cina yang memegang keyakinan pada teks dan kebijaksanaan dan menyingkirkan seluruh keyakinan dan sekte agama yang tumbuh disekitarnya karena melanggar pesan utama dari Taoisme. Saat itu juga saya menemukan bagaimana Taoisme merupakan respon dari Confusianisme, dan hubungan kedua filosofi religius ini, dan saya juga menemukan hubungannya dengan buddhisme pula.
Hidup saya berubah. Saya mendapatkan disiplin dan focus yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya, sebuah ketertarikan pada hidup yang tenang dan sederhana dan memiliki moral yang kuat namun tunduk pada segala hal. Semua akhirnya masuk akal, dan saya sangat bahagia melebihi apa yang saya bayangkan sebelumnya. Dalam kitab suci saya saya punya perangkat untuk menghadapi setiap masalah dengan mudah dan bijak, dari nafsu seks hingga keraguan metafisik, dari debat politik hingga bahaya materi. Ada sebuah ayat dalam Tao Te Ching untuk segalanya, dan ditulis dengan indah dan sederhana, sering begitu menawarkan bukti atas kebenarannya, sebagai sebuah kitab suci universal satu-satunya: dunia itu sendiri, serta bukti yang tidak dapat ditolak dalam jiwa sang pembaca sendiri. Ia punya sederetan latihan berpikir, sebuah argument logis. Dimasa itu, saya membuat sendiri Tao Te Ching versi saya, memilih terjemahan favorit saya dari setiap kalimat diantara yang banyak saya ketahui, dan membawanya dengan saya sebagai satu barang religius yang boleh dibawa di kamp. Saya membacanya semalaman.
Bukti kalau ini adalah agama sejati tampak nyata dan tidak tertolak. Terlepas dari mukjizat supernatural yang “nyata” saat saya menemukan keyakinan ini, dan kesempurnaan “nyata” dari teks sucinya, membawa saya pada kedamaian pikiran dan keseimbangan hidup, pada persahabatan dan kebaikan. Dengannya, semua kejahatan terkalahkan dan tanpa konsekuensi, dan setiap manfaat menjadi mudah dan alami. Saya belajar untuk sedikit berharap, untuk lebih perduli pada orang lain dan pikiran, bukan pada kekayaan atau kekuatan. Diatas segalanya, ia mengajarkan sebuah kebenaran yang sederhana: kalau kemanusiaan saya adalah hal baik dan alami. Dari seks hingga humor, semua mendapat tempat, tanpa dipaksakan pada model berpikir atau berperilaku tidak alami. Dosa adalah penyimpangan buatan dari harmoni dengan alam, dan bila anda mau berhenti mengurusi hal-hal itu anda akan bebas dari dosa. Ia menjelaskan segalanya, bahkan keberadaan dan sifat dari alam semesta, secara sempurna dan indah. Dan ia menyuburkan pikiran yang toleran, yang tidak pernah saya temukan dalam Kristen. Orang Cina telah mengetahui ini selama dua ribu tahun. Saya masih bergembira membayangkan ingatan tentang tiga orang suci yang berjalan bersama, semua tertawa gembira. Satu adalah orang Buddha, satu Tao dan satu lagi Kong hu Cu. Imaji ini faktanya mudah ditemukan di Cina. Disana, ketiga agama, walau secara doktrin dan intelektual bertentangan, bersama secara damai, bahkan gembira, sebuah persahabatan yang pantas dirayakan seperti sebuah karya seni yang begitu indah. Bukti apa yang lebih baik daripada kebaikan dan kebenaran sebuah ajaran yang menunjukkan toleransi begitu agung? Bukan perang suci, pengutukan dan debat panas, agama-agama ini berinteraksi dalam dialog, dan masing-masing menerima satu sama lain sebagai sis berbeda dari uang logam yang sama. Mereka hidup tenang tanpa keraguan dan ketidak pastian, mereka bahkan mencarinya. Mereka tidak mengutuk orang lain ke sebuah neraka yang abadi, dan tidak membutuhkan keyakinan.
Saya adalah seorang Taois yang bahagia selama bertahun-tahun. Lepas dari sekolah saya memilih hidup sederhana, bekerja sebagai tukang kebun dan menggali tanah, melakukan segalanya dari memasang listrik hingga mengatur perabotan. Namun saya segera berhenti bekerja sebagai Penjaga Pantai, mempelajari elektronika dan sonar dan tinggal di laut, hingga saya melanjutkan pendidikan dan memulai karir panjang sebagai mahasiswa sains dan sejarah kuno. Selama periode ini, dalam memupuk kehidupan mental yang diajarkan Taoisme, saya memiliki visi mistik yang kuat, yang membenarkan kalau saya berada di jalan yang benar. Ini berbentuk mulai dari yang sederhana hingga fantastic. Yang paling umum dan paling sederhana adalah kejelasan yang hampir seperti seorang yang kecanduan narkotika, merasakan segalanya sebagai satu kesatuan. Sulit untuk menjelaskan hal ini. Secara normal, perhatian anda terfokus, pada sesuatu yang anda lihat atau dengar, atau keadaan setengah bermimpi, namun dengan naluri meditative, focus dan impian ini lenyap dan anda tenggelam dalam sebuah perasaan holistic total dari keberadaan. Ini sangat luar biasa dan menenangkan. Ini membuat anda bijak dan membawa anda pada realisasi atas betapa indahnya hidup sederhana itu, dan betapa kosongnya segala kekawatiran dan kesulitan anda. Pandangan luas pada dunia akan mengenai saya kapanpun saya dalam keadaan demikian, membawa pada pemahaman yang lebih siap dan lebih kuat dalam memahami diri sendiri dan dunia daripada belajar atau bernalar pernah berikan.
Pengalaman paling fantastic yang saya pernah rasakan sepuluh kali lipat dari itu. Ia terjadi di laut, saat tengah malam lewat di dek penerbangan, di perairan internasional 200 mil dari daratan terdekat. Saya belum tidur selama lebih dari 36 jam, karena jadwal tugas yang bertindihan dan operasi penyelamatan mendadak. Berjam-jam saya berlatih mendaratkan helicopter dan mengisi bahan bakar dan akhirnya helicopter itu pergi dan semuanya tenang. Kapal bergoyang pelan di lautan yang gelap dan saya sendirian dibawah langit bertaburan bintang yang sebagian besar orang tidak pernah lihat. Saya merasa begitu terbenam kedalam kesatuan total dalam kenyataan dan merasa tubuh dan jiwa saya mengembang menjadi seukuran alam semesta, sehingga saya dapat merasakan ‘segalanya’ berada dalam kesempurnaan dan kejelasan. Itu seperti melakukan penyatuan pikiran dengan tuhan. Secara alami, kata-kata tidak dapat menjelaskannya. Saya benar-benar tidak dapat menjelaskan sepenuhnya hal ini. Ia tidak dapat dijelaskan, hanya dapat dirasakan, atau dicari. Apa yang saya lihat? Sebuah alam semesta yang indah, luas, harmonis dan luar biasa semuanya selaras dengan Tao. Ada banyak kehidupan tersebar seperti benih kecil dimana mana, namun tidak ada mahluk supernatural, tidak ada tuhan, tidak ada setan atau ruh yang melayang, tidak ada surga atau neraka. Hanya sebuah alam semesta lengkap dan sempurna, tanpa butuh apapun. Pengalaman ini mutlak nyata bagi saya. Tidak ada apapun yang dapat meyakinkan saya kalau ini Cuma mimpi atau khayalan. Dan ini luar biasa.
Namun saya tidak pernah berhenti membaca buku-buku sains dan tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau segala yang saya rasakan dalam Taoisme punya penjelasan alami. Di saat yang sama, semakin saya mempelajari teks religius semakin saya tidak setuju dengan beberapa bagiannya. Karena Satu-satunya Agama Sejati tidak dapat salah dalam satu ayatpun, ini membawa saya menyadari kalau Taoisme bukanlah sesuatu yang suci atau agung, tapi hanya sebuah karya yang sangat rendah hati dan jenius, namun pada akhirnya dapat salah dibandingkan kebijaksanaan manusia. Ia berjasa membuat saya mampu berpikir di luar kota. Tapi semakin dan semakin saya lebih setuju dengan Kong Hu Cu daripada Tao, tapi saya masih berada di pihak Tao saat bertentangan dengan Kong Hu Cu dalam masalah lain, dan dalam tarian tesis dan antitesis Saya tiba pada sintesis saya sendiri, yang kini dapat dipandang sebagai humanisme sekuler berbasis sains yang berakar dalam naturalisme metafisik. Semakin dan semakin saya menemukan kebijaksanaan dalam diri filsuf barat seperti Epicurus atau Seneca, atau Ayer atau Hume, dan demikian pandangan dunia saya menjadi lebih eklektik dan atas alasan itu lebih sempurna: dengan menarik yang terbaik dari banyak sudut pandang, saya menyingkir dari hanya bertopang pada satu hal.
Pada akhirnya, saya harus berhadapan dengan pertanyaan Kristen. Ada satu titik di masa saya sekolah sonar saat saya terus didekati oleh Kristen yang merasa terganggu dengan Taoisme saya, bahkan lebih pada agnostisisme saya (tidak perduli bagi seorang Taois apakah tuhan itu ada atau tidak – sebuah jawaban bagi pertanyaannya “Apakah kamu percaya tuhan ada?” itulah yang membuatnya frustasi). Akhirnya ia meminta saya membaca seluruh isi Injil sebelum saya dapat membuat keputusan yang sah mengenai hal ini. Ia menyarankan Injil NIV untuk Pelajar, yang saya beli kemudian dan masih miliki sekarang. Saya membacanya, kata demi kata, awal hingga akhir, perjanjian baru dan lama (saya bahkan sudah membaca seluruh perjanjian baru dalam bahasa yunani asli). Saya berpikir, dengan pemahaman dan kedewasaan saya, saya bisa mendapatkannya melebihi saat saya kecil. Tapi, justru saya melihat hal yang jauh lebih buruk dari pada yang saya pahami waktu kecil. Saya menemukan Tuhan yang penuh dosa dan jahat dalam standar kebijaksanaan sederhana dan baik Taoisme –mahluk yang pencemburu, kejam, jahat, dan pendendam yang perilakunya tidak masuk akal dan sangat tidak tercerahkan. Lalu saya menemukan kalau kebanyakan orang Kristen tidak pernah membaca sepenuhnya injil, dan tidak mengerti apa yang sebenarnya ada di sana, dan kemunafikan mereka memberitahu saya kalau saya harus membaca seluruh isi Injil sebelum saya membuat keputusan yang sah masih terasa memuakkan.
Saya hanya dapat mengatakan kalau Perjanjian Lama itu memuakkan bagi saya, sementara Perjanjian Baru mengecewakan saya. Secara umum, tidak ada teks wahyu yang begitu panjang dan kacau dan sulit dipahami – orang bijak bicara dengan jelas, jernih, kemampuan mereka berkomunikasi diukur oleh keberhasilan membuat sesuatu yang siap dimengerti. Injil membentang seluas seribu halaman berisi tulisan-tulisan kecil yang berkolom-kolom, dan tidak bicara apapun mendekati, begitu juga yang lain, seperti Tao Te Ching dalam hanya 81 stanza. Injil penuh dengan genealogi luas berlebihan tanpa relevansi dengan makna hidup atau sifat alam semesta, daftar panjang ritual barbaric bersimbah darah dan larangan yang tidak ada hubungannya dengan menjadi orang yang baik atau memajukan masyarakat menuju kebahagiaan yang lebih besar, kebencian yang panjang pada bangsa-bangsa yang telah lama lenyap dan berkoar terus menerus tentang bencana dan kiamat yang akan tiba. Saya bertanya pada diri sendiri, mahluk Maha Pengasih bahkan mengijinkan buku semacam ini dinisbahkan kepadaNya, lebih lagi sebagai pengarangnya? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa Lao Tzu, manusia biasa, yang tidak pernah mengklaim memiliki kekuatan super atau status kenabian, menulis lebih baik, lebih luas, lebih peka, mengenai begitu banyak hal, melebihi Nabi yang menerima wahyu Tuhan?
Bukan hanya ini yang menghalangi saya. Apa yang mengesalkan adalah keabadian injil. Walau dikatakan sebagai bapa yang bijak, tidak satupun contoh dalam Perjanjian Lama kalau Tuhan duduk dan dengan baik hati mengajarkan siapapun, dan saat ditanya oleh Ayyub, orang terbaik, untuk menjelaskan mengapa ia keluar dan menyakiti orang baik dengan segala cara, termasuk membunuh orang yang ia cintai, “bapa yang bijak” ini membalas dengan pertanyaan yang arogan, pada puncaknya mengatakan tidak lebih dari pembenaran atas perbuatannya. Saya dipenuhi horror dari monster yang digambarkan disini. Ia adalah yang lebih pantas mendapat hukuman, bukan persembahan. Ia yang berpikir dapat melakukan apa yang ia bisa sejahat dan seburuk mungkin adalah psikopat. Sudah cukup buruk kalau gagasan tuhan atas manusia terbaik baginya adalah orang yang rela membunuh anaknya sendiri demi keinginan tuhan. Sebaliknya dari sudut pandang manusia yang baik hati, Ibrahim gagal dalam ujian ini: ia rela membunuh demi keyakinan, menyingkirkan moralitas demi tuhannya. Seorang biasa akan membalas perintah demikian dengan “Pergilah kembali ke neraka! Hanya setan yang meminta seperti itu, dan tidak ada orang yang pemurah yang mau melakukannya!”. Namun pesan injil tepat sebaliknya. Betapa mengerikannya. Tidaklah mengherankan, kemudian, menemukan tuhan yang sama kejamnya ini memerintahkan orang untuk dirajam hingga mati karena memungut kayu di hari sabtu (Bilangan 15:32-36), dan memerintahkan agar siapapun yang mengikuti agama lain dibunuh secara masal (Deuteronomy 13:6-16). Sungguh, pembantaian (Deuteronomy 2:31-34, 7:1-2, 20:10-15, dan Joshua, misalnya 10:33) dan fasisme (Deuteronomy 22:23-24, Leviticus 20:13, 24:13-16, Numbers 15:32-6) adalah hukum dan praktek standar dari tuhan, tepat disamping Sepuluh Perintah. Bukannya menghapus perbudakan, tuhan malah memerintahkannya (Leviticus 25:44, cf. Deuteronomy 5:13-14, 21:10-13). Dan seterusnya. Tidak ada yang bisa lebih mengerikan lagi.
Saya bisa berpanjang lebar mengenai banyak ayat mengerikan yang menjunjung immoral, kekejaman, sebagai kebaikan dan kemuliaan. Tidak ada baiknya berusaha mati-matian mempertahankannya. Sebuah pesan dari orang yang bijak dan baik tidak membutuhkan dalih. Ini berarti kalau injil ditulis bukan oleh tokoh yang bijak bukan pula tokoh yang baik. Dan Perjanjian Baru hanya sedikit lebih baik, walau ia juga punya penampakan yang tidak dapat dipungkiri, dari perintah untuk membenci (Lukas 14:26) hingga ajaran seksis yang arogan mengenai wanita (1 Timotius 2:12), dari Yesus yang mengatakan ia “dating bukan untuk membawa perdamaian, tapi pedang,” mengarahkan agar sesame anggota keluarga saling tarung (Matius 10:34-36), hingga melakukan kejahatan terburuk yang mungkin, bahkan lebih buruk dari membunuh atau menyiksa anak (Matius 12:31-32). Ia juga, mendukung perbudakan bukannya mengutuk (Lukas 12:47, 1 Timotius 6:1-2). Lebih buruk lagi, seluruh pesannya bukan “menjadi baik dan masuk surga,” yang sebenarnya naïf dan kekanak-kanakan (baik itu baik karena mereka perduli, bukan karena mereka ingin hadiah), namun “percaya atau terkutuk” (Markus 16:16, Matius 10:33), sebuah doktrin yang mengerikan secara mendasar. Orang baik menilai yang lain lewat karakter, bukan keyakinan mereka, dan menghukum tindakan, bukan pikiran, dan menghukum hanya untuk mengajarkan, bukan untuk menyiksa. Namun tidak satupun kebenaran moral ini ada dalam injil, dan Perjanjian Baru tidak memiliki satupun kebijaksanaan humanistic dari Tao Te Ching yang bicara ke semua usia, namun hanya pada subjek para raja dan menerima perbudakan, sementara tidak memiliki pengetahuan tentang perlunya masyarakat demokratis, atau manfaat sains, atau pemakaian teknologi. Ia bahkan mengajarkan prasangka bukannya sains, dengan semua pembicaraannya mengenai kerasukan setan dan penyembuhan dengan iman dan berbicara dengan lidah akan membuat orang beriman kebal dengan racun (Markus 16:17-18). Ia dijangkiti dengan kekaburan dan keraguan, dan ketidaklogisan, yang saya telah kenali sejak anak-anak, dan walau saya tidak memahami lebih dan melihatnya kurang membingungkan dari pada sebelumnya, kemajuan itu minimal dan tidak mendukung. Ia masih mengajarkan moralitas yang tidak dapat diterapkan, dan diatas segalanya, tidak punya petunjuk humor atau kedewasaan dalam menerima seksualitas atau segala yang alami dan berbeda pada manusia sama sekali.
Saat saya selesai membaca halaman terakhir, sendirian berpikir dikamar dan saya menyatakan dengan lantang: “Yap, Aku seorang ateis.” Itulah pertanyaan yang saya coba jawab dengan membaca kitab ini yang diyakini oleh 85% orang amerika sebagai sumber kebenaran religius. Saya tidak pernah begitu tercengang dengan bagaimana bisa ratusan juta orang dapat salah dengan memalukan. Wahyu ini membawa saya pada sebuah pencarian lebih mendalam pada masalah ini. Tampaknya begitu tidak dapat dipahami kalau saya adalah satu-satunya orang yang menyadari betapa kacau sepenuhnya injil itu, satu-satunya orang yang dapat melihat semua bukti, dan proses sederhana dengan logika yang baik, membawa pada kesimpulan kalau tuhan itu tidak ada, dan pastinya tidak ada di sekitar sini. Namun pencarian saya di toko buku mengenai segalanya tentang ateisme tidak membuahkan hasil. Tidak ada orang yang saya kenal memikirkan sungguh-sungguh masalah ini. Sejauh yang saya bisa, saya sendirian. Itu mengganggu, namun sebagaimana halnya seorang Taois di lautan Kristen yang apatis ini bukan hal baru. Akhirnya saya menemukan dua buku lama di sebuah toko buku bekas, karya Bertrand Russell berjudul Why I Am Not a Christian dan karya Corliss Lamont berjudul The Philosophy of Humanism, keduanya memberi saya pendahuluan yang bagus pada pemikiran orang-orang cerdas. Di saat itu, sebuah stan di pameran jalanan mengenalkan saya dengan sebuah kegembiraan baru tentang adanya American Atheists, yang kemudian, karena kecewa dengan tingkah laku mereka, saya dengan organisasi yang lebih manusiawi dan perduli Freedom From Religion Foundation. Dan walaupun saya telah “ada di internet” sejak pertengahan delapan puluhan, dengan munculnya masyarakat online nasional lewat layanan seperti Prodigy dan Compuserve saya menemukan beberapa ateis untuk berbagi, dan berjumpa untuk pertama kalinya dengan misionaris berat Kristen dan berdebat. Ini sangat baru bagi saya—terpisah, tentu saja, untuk pertemuan musiman dengan Saksi Yehovah dan Mormon yang mengetuk pintu kita tanpa diragukan lagi sejak konsepsi saya. Namun mereka jarang bersedia berdebat, berdalih lebih cepat sebelum saya sempat menanyakan sesuatu yang intelektual. Mereka sangat bingung saat mendengar saya adalah seorang Taois sejati dan dengan demikian, sudah memiliki agama dan tidak butuh yang lain, terimakasih.
Dimasa ini dua hal terjadi. Di satu sisi, studi saya membawa pada filosofi barat yang lebih humanis. Walau saya tidak pernah meninggalkan kekayaan intelektual timur terbaik saya, saya jatuh cinta dengan pengetahuan dan sains dan logika dan penaklukkan dan perjuangan demi kebenaran. Namun, walau saya tidak lagi menyebut diri saya Taois, saya tidak kehilangan kegembiraannya, keindahannya, dan kenikmatan hidupnya. Saya mempertahankan pelajaran-pelajaran yang selalu membawa perdamaian dan ketenangan dan kesederhanaan, dan hidup saya tetap sama spiritualnya dengan selama ini. Saya hidup dengan gembira dalam masyarakat bebas dengan seorang istri yang saya cintai dan teman-teman baik, tanpa masalah yang nyata untuk dibicarakan. Dan dalam posisi menguntungkan ini, setelah berjuang dari kemiskinan menjadi seorang doctor di Ivy League university, saya mengambil langkah. Dengan rasa kasih pada kesejahteraan dan pencerahan umat manusia, saya mengabdikan sebagian besar waktu luang saya untuk mengalahkan kebohongan, membetulkan kesalahan, dan memberi tahu mereka yang tidak tahu. Yang membuat saya berulang kali dikutuk. Mungkin suatu hari perilaku demikian akan menjadi objek teladan dan pujian, walau saya tidak melihat Kristen melakukan sesuatu untuk itu.
Disisi lain, saya menjadi semakin tertarik dengan sejarah mengerikan Kristen dan segala hal yang telah dilakukan Kristen dan masih melakukannya walau nagara ini tidak seliberal seperti lingkungan Metodis Pertama saya, dari mencoba meloloskan hukum penistaan agama hingga membunuh para dokter, dari melempari telur pada ateis hingga membunuh kucing mereka, dari mencoba membodohi pendidikan sains hingga bertingkah lebih suci dari anda dalam mendorong agenda moral mereka menentang pemerintah dan industri swasta sejenis. Untuk pertama kalinya, bukannya terus diajak, saya dimaki, dan dikutuk. Itu sebuah kebangkitan yang keras. Saya kenal eksentrisitas fundamentalisme Kristen dari masa saya SMA, namun lebih lucu dari segalanya: dari tract Jack Chick memberitahu dunia, dengan jalan cerita absurd secara melodramatic, bahwa RPG (role playing game) adalah semacam bentuk ritual penyembahan setan, hingga teman saya mengatakan kalau pacarnya yang mencintai Yesus dengan berlinang air mata karena ia yakin dengan pasti akan masuk neraka karena ia percaya kalau ada kehidupan di planet lain. Namun saya secara umum berjaga-jaga atas efek memuakkan dari omong kosong demikian, yang selalu merupakan minoritas di kota saya.
Tidak juga dimanapun. Saat saya mendengar kisah horror, melihat penyerangan Capitol Hill, membaca berita, saya menemukan ia tidak lagi selucu yang saya pikirkan. Begitu besar ancama prasangka pada individu, pada masyarakat, pada pengetahuan, pada kegembiraan manusia secara umum, sehingga adalah immoral bila tidak melawannya. Tidak ada baiknya kalau sebagian besar Kristen nominal mengecam semua perilaku ini, karena saya menemukan semua terlalu cepat sehingga sulit bagi mereka membangun serat moral untuk bertahan, sedikit yang berusaha keras mempertahankan di depan public pesan toleransi dan cinta mereka yang tampak bagus dan lembut melawan Laskar Orang Beriman, dan lebih sedikit lagi yang masih mau menyebut saya seorang sekutu. Kenapa mereka? Yesus sendiri mengatakan pada orang-orang kalau saya terkutuk, dan bila yang paling jelas, mahluk yang bijak dan pengasih di alam semesta mengutuk saya dengan terang-terangan, menjanjikan saya api yang tidak pernah padam dan cacing-cacing abadi, jauh bagi manusia manapun untuk memberi pendapat yang lebih murah hati pada saya. Lebih buruk lagi, Kristen liberal tidak punya teks. Dalam setiap debat injil, penafsir liberal selalu kalah, sehingga ia mesti mengakui telah memasukkan penafsiran manusia, sesungguhnya spekulasi kasar, didepan Firman Agung tuhan. Dan tanpa injil untuk bertahan seorang Kristen dapat dikutuk sebagai seorang kafir. Karena diajarkan kalau ateis lebih buruk dari menjadi prostitusi, tidak banyak orang beriman yang akan mengangkat kepala mereka menentang Fundamentalisme. Sejak itulah saya menyadari, karena ancaman ini dan karena pengalaman saya sendiri yang tidak dapat menemukan orang cerdas yang dapat berbagi pemikiran dengan saya, saya mesti menyatakan kasus saya dan menerbitkan sejauh yang saya bisa untuk membantu orang lain seperti saya dan demi mengalahkan omong kosong dan kebohongan yang saya lihat menyebar dimana-mana, dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan basi yang berulang kali harus saya hadapi sejak saya mengijinkan public Kristen mengetahui kalau saya seorang ateis. Dan mulailah keberadaan online saya, dan tibalah disini sebagai anggota dari Internet Infidels.
Sumber:
From Taoist to Infidel (2001).by Richard Carrier. http://www.infidels.org/library/modern/testimonials/

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License