Dekonversi Dari Siddha Yoga

Nowfreee
Kisah dekonversi saya lebih mirip kegagalan untuk berpindah, walaupun usahanya begitu kuat. Yang lain mungkin berada pada situasi yang sama. Sebagai seorang anak, saya ikut misa ke setiap gereja di lingkungan saya – mencari tuhan/sesuatu yang dapat membuktikan kalau tuhan ada. Saat kuliah saya belajar filsafat – terutama untuk menemukan argumen kuat positif keberadaan tuhan. Bertahun-tahun bagi saya untuk lulus, saya terus belajar filsafat karena saya tidak menemukan bukti yang saya cari. Sekarang, saya baru saja menghabiskan 11 tahun terakhir hidup saya pada sebuah sekte zaman baru yang terutama berpusat pada tantra/yoga (Siddha Yoga). Kosmologi spanda – atau energi kreatif bermuatan – sepertinya cocok dengan seperti apa tuhan itu seharusnya, dan kontrol emosi/pikiran yang diajarkan oleh pemimpin karismatiknya membuat saya betah dalam kenyamanannya yang membuat ateisme alami saya tidak terlihat kosong dan putus asa. Seiring waktu, ketidakjujuran dan ketidakperdulian sang guru membawa kelompok para yogi ini menjadi terlalu diabaikan dan saat saya melihat sekeliling pada hidup saya karena masuk dalam sekte ini, saya bertanya pada diri saya sendiri, ”Mengapa saya menghabiskan banyak energi mencoba membuktikan sesuatu yang saya sendiri tidak percaya kalau ia benar?
Maka saya mulai tenggelam dalam hidup sebagai ateis, yang sebelumnya saya berjuang keras untuk tidak menjadi ateis dan saya menemukan ternyata hidup sebagai ateis tidaklah begitu kosong atau depresif atau tanpa harapan sama sekali. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menghargai pikiran saya, hidup saya dan dunia sekitar saya, tidak dengan selubung religius yang dilontarkan kesegalanya sehingga terlihat bermakna dan sementara, namun keindahan dan kekaguman di dalam dan dari dirinya sendiri.
• Leslie Shields
Boston

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License