Dekonversi Dari Kristen

Rocky

1 January 2004
Berikut mengenai saya dan ateisme saya:
Saya dibesarkan sebagai seorang baptis, namun tidak terlalu perduli dengan agama saya. Saya melalui semacam periode sebagai Kristen “lahir kembali”, namun tiba pada realisasi pribadi kalau tuhan agama Kristen mungkin tidak ada. Keraguan muncul saat saya terlibat dalam banyak pembicaraan dengan seorang rekan kerja saya, seorang ateis – terutama mengenai “masalah kejahatan”.
Saya mulai menyebut diri saya sendiri agnostic dan mempelajari masalah ini dengan serius bertahun-tahun. Termasuk debat email dengan Kristen lahir kembali yang bersemangat mengenai “evolusi versus kreasionisme” dan “argument keberadaan tuhan” untuk memadatkan keyakinan saya. Sebagai manfaat sampingan, riset saya pada debat membuka “label” yang berlaku hampir sempurna – Humanisme Sekuler. Saya tidak setuku dengan semua paham Humanisme (saya pro pilihan dan orang yang memegang teguh hukuman mati, sebagai contoh), namun cermin lainnya dalam filsafat moral saya sangat mirip. “Pemikir bebas” adalah istilah lain yang sesuai dengan saya.
Saya menyukai debat, diskusi dan argument mengenai agama. Tidak pernah menjadi tujuan saya untuk menghilangkan keimanan lawan debat saya. Saya rasa setiap bertambahnya pengetahuan dan pemahaman atas hal-hal ‘baik’, dan argument yang berhasil akan hanya memperluas, mendefinisi ulang dan memperkaya keyakinan seseorang. Setiap keyakinan buta adalah hal yang buruk.
Take care,
Rocky

Brad Morin

written for Positive Atheism
14 April 2004
Kepergian kami dari keyakinan dipermudah oleh kemungkinan kalau mormonisme adalah agama paling jelas salah dalam Kristen. Tetap saja, perjalanan ini sangat mudah.
Mormon pada dasarnya memiliki keluarga-keluarga besar. Keluarga kami terdiri dari 13 orang, menunjukkan pengabdian dan komitmen generasi pada kami. Pembesaran kami menghasilkan ingatan indah dan keturuna bahagia dan sukses. Chris dan saya – saudara, matematikawan dan LDS yang beriman – tidak memberi tidak pula mengenali petunjuk kalau kami akan menjadi dua domba hitam dalam keluarga. Kami melakukan misi dua tahun pada gereja dan diikuti dengan komitmen bertahun-tahun.
Klaim religius yang kami peluk murni, menjanjikan dan sejalan dengan gambaran dunia nyata kami. Sejarah gereja yang kami pelajari memberi inspirasi. Spanduk kebaikan yang kami kibarkan, “Dengan buahnya engkau mengenal mereka,” sangat indah. Penghargaan kami pada kristus sangat besar. Bukti ilmiah yang dipilih dengan hati-hati kami ulang-ulang untuk mengesankan bahkan matematikawan yang skeptis di dalamnya – pada satu titik di dalam waktu. Janji kebaikan dihembuskan. Ikatan “keluarga abadi” tidak dapat disetarakan oleh cult yang paling berhasil. Keyakinan kami adalah segalanya bagi kami, lebih berharga dari kehidupan itu sendiri.
Setelah delapan puluh tahun lebih mengabdi di gereja, antara kami berdua, kami telah menyumbangkan 60 ribu jam sadar dalam pelayanan dan pengabdian gereja. Sumbangan kami mendekati 100.000 USD. Kami telah membaca Book of Mormon: Another Testament of Jesus Christ 45 kali, sampul ke sampul, belum lagi studi injil kami dan bacaan spiritual pilihan lainnya. Kami menyanyikan hymne, berpegang pada kata-kata nabi kuno dan modern, dan menghabiskan ribuan jam berlutut dalam doa pribadi, keluarga dan komunitas. Investasi kami signifikan dan luar biasa.
Bertahun-tahun, dunia kami pada dasarnya hitam dan putih. Bayangan abu-abu masuk saat kami menyadari kalau sebagian pengalaman spiritual kuat kami tidak dapat diandalkan dan kalau sebagian kisah Perjanjian lama memerlukan pembenaran dalam senam mental berulang tiap kami membacanya. Kita telah lama tahu pengamatan dan penalaran agama orang lain harus dipertanyakan, namun kami menimbang keyakinan kami sendiri tidak seimbang. Inspirasi kami khusus; keinginan kami mendengar dan mematuhi bisikan Roh Kudus adalah pembawa kami dari kehidupan pra bumi, atau begitulah yang diajarkan pada kami.
Kami mencoba bersimpati dengan bagaimana orang lain melihat masalah over populasi, evolusi dan beragam isu social dan ilmiah. Kami mulai mengenali beragam unsur ekstrimisme di pandangan politik dan religius kami. Kami membahas tidak dengan siapapun isu yang dapat memberi bayangan pada keyakinan kami. Anehnya, sedekat kami sebagai saudara, kami saling menyembunyikan keraguan kami pada iman. Menderetkan pertanyaan demikian membantu kami menjaga ketidak jujuran intelektual kami.
Gossip akhirnya memalingkan saya untuk menguji ulang beberapa fakta religius; Joseph Smith sesunguhnya mengambil istri laki-laki lain. Dalam pandangan saya, poligami mormon awal dapat diterima dan faktanya adalah tindakan tuhan, namun mengambil istri laki-laki lain – dan anak gadis berusia 14 tahun – telah tersembunyi dari saya. Aspek darinya menghantui seperti David Koresh. Setelah melakukan riset dan memeriksa detil yang mengganggu dari para pelindung keyakinan, saya menjadi marah. Saya tidak dapat menemukan bahasa yang cukup kuat untuk kebencian saya pribadi pada Joseph Smith atau Brigham Young dan tindakan mereka. Meminta saya mencari lebih dalam. Apakah Joseph Smith seorang nabi, ataukah ia pembohong dari awalnya? Mencari kebenaran dan yakin kalau inkonsistensi potensial dapat di ekspos dari dalam; saya menghindari dengan hati-hati semua tulisan anti-mormon. Book of Mormon segera ditinggalkan. Injil mengikuti kemudian.
Saya menyembunyikan penemuan saya pada istri mormon saya yang beriman, namun ia tidak percaya kalau saya meninggalkan gereja. Saat akhirnya diberitakan kalau saya meninggalkan kepercayaan saya, dunianya menjadi runtuh. Kami baru menikah dua tahun. Keberadaan saya mengambil aura mimpi buruk, siang dan malam. Saya sulit tidur. Saya pergi untuk mengajar di Utah Valley State College. Bisnis software saya menderita buruk karena saya tidak dapat focus. Anak kami berusia satu tahun, Caleb (dinamakan dari mata-mata pemberani Perjanjian Lama untuk Musa di tanah Kanaan), menjadi pengorbanan saya. Cinta padanya menjaga semangat hidup saya. Kebanggaan lama saya pada keimanan dan pengetahuan gospel menjadi beban yang berat. Saya tahu cahaya gelap tentang pandangan terhadap murtad. Saya menyusut dalam pandangan yang tidak dapat dihindari dari sepupu, paman, bibi, dan banyak teman. Saya memandang kembalinya roti penyakit yang pernah saya lemparkan ke air.
Dua orang tua tercinta dan sepuluh keluarga mesti diberitahu. Saya tidak ingin menyakiti orang tuan saya, tapi tidak dapat berpura-pura. Kemarahan saya pada para nabi sangat mudah ditelan dalam ketenangan saat mendekati setiap anggota keluarga. Penjelasan saya tidak dapat terdengar sangat koheren. Terpaku tapi sopan, mereka semua melihat pengumuman saya sebagaimana diduga. Sebagian mendukung saya untuk memikirkan ulang dan berdoa. Mereka tidak dapat menyelami keluasan doa saya sebelumnya dan kedalaman pertimbangan saya akan masa lalu dan masa depan.
Dalam beberapa hari, reaksi sebagian keluarga mengeras. “Jangan bagikan keyakinanmu pada anak saya.”(Itu permintaan yang tidak perlu.)”Mungkin kita mesti batalkan reuni keluarga.” (Cathy dan saya memimpin tahun itu.) memahami rasa takut ini mereka membuat saya sedih. Chris adalah satu-satunya yang membuat saya gembira. Saat ia membuat pula pengumumannya tak lama kemudian, sebagian anggota keluarga tidak dapat menahan amarah. Sebagian dengan rasa takut mereka akhirnya menerima tapi tetap dengan ketidakpercayaannya.
Cathy meminta agar ia di izinkan memberi tahu keluarganya. Ia tidak dapat menahannya. Saya tahu ia akan dikasihani dan dikutuk. Ia dipandang ada dalam bayangan rumah yang spiritualnya gelap. Perjalanan panjang dan sendirinya dimulai tanpa satupun orang yang memahami dan menyenangkan yang dapat membujuknya kembali.
Banyak apa yang Chris dan saya senangi telah lenyap, tapi kami masih punya cahaya harapan kebangkitan. Sebuah cinta mendalam pada kehidupan dan anak kami, dipasangkan dengan keyakinan mendalam ketiadaan tuhan, menjaga harapan hidup sesudah mati segera mengabur. Kami membuka apa saja untuk dipertimbangkan, mencoba menyingkap misteri terbesar kehidupan. Ini seperti mengungkap kasus pembunuhan pada taraf kosmik, dengan kami dan anak kami sebagai korban.
Penerimaan akhirnya tiba. Terasa seolah saya telah kehilangan semua kenyataan, tapi, saya tahu saya belum kehilangan kenyataan, saya telah kehilangan ilusi, autisme terkendali spiritualitas saya. Saya senang saat berada dalam ilusia, jadi saya bernalar kalau kebahagiaan terlepas dari kenyataan. Masih ada perjalanan bersepeda untuk dinikmati, makanan untuk dirasakan, anak untuk di manja dan di ajar, dan tak terbatas rasa ingin tahu di dunia yang baru saja terbentang. Masih ada saat-saat kesedihan dari sifat kehidupan ini; dan tetap, momen-momen itu memperbarui perasaan – terlepas dari tuhan – saya melihat kemanusiaan tatap mula untuk pertama kalinya.
Tidak menemukan tuhan, haruskah saya rendahkan harapan saya pada kemanusiaan, meninggalkan kepedulian pada kemakmuran, dan hidup untuk egosentris, sekarang dan disini? Mungkin saya mesti menyingkirkan kepentingan saya, mencari kepuasan dalam mengetahui kalau kematian saya alam semesta dengan semua misterinya akan terus abadi, atau paling tidak dalam usia yang lama? Atau, haruskah saya tidak menyerah pada gladiator kosmik dalam pertarungan tanpa akhir dan teragung; memperkaya dan memperluas pengalaman manusia tanpa dasar, untuk keturunanmu dan saya?
Mungkin masih ada keajaiban dalam dingin, fakta yang keras dan dalam percobaan kosmik pada umat manusia, sebuah spesies yang menunjukkan janji mengesankan atas kecerdasan murni di masa depan yang tidak terlalu jauh.
Brad L. Morin.
Cerita kami yang lengkap dapat ditemukan di : http://www.suddenlystrangers.com/excerpts.htm

Dan Staniforth

3 Desember 2002
Saya dibesarkan oleh “Nazaren” – teman yang baik, namun dicuci otaknya, cabang “kesucian” a la ajaran John Wesley. Fundamental, neraka dan surga – namun konservatif dengan lidah dan hal penyembuhan spontan! Tidak ada musik sekuler, rock n roll, sit kom, film non Disney (sampai kontroversi gay Eisner!), tidak ada kegiatan menyenangkan di hari Tuhan, atau bercanda dengan para gadis, bahkan saat ia alami, usia 15. faktanya, menekan segala perasaan alami dan mencari ayat injil untuk mendukung penekanan. Tidak ada yang setuju begitu banyak, Nazaren. Mereka terpisah dari Baptis dan Metodis dalam beberapa dogma – seperti penuangan versus emersi! Pengubahan emosional ada di tiap khutbah, lengkap dengan organ dan janji pastoral. Kelahiran kedua dan konversi menjadi candu – saya mesti keluar tiap minggu untuk diperbaiki.oh, dan gereja setiap hari, pertemuan doa (seni yang dipelajari dari doa yang tertulis!), studi injil (propaganda), malam remaja, malam anak laki-laki, malam gadis, caravan (pramuka dan pemandu Kristen), kelas baptis, dan bila tidak ada yang direncanakan, kami akan mengobrol di gereja atau membawa gereja ke rumah.
Anda ingin tahu sesuatu? Saya menangis; saat mengingat frase-frase mengenai keyakinan saya, doa, teatrikal, namun tidak pernah saya yakini. Bagi saya, itu sebuah teater! Itu adalah panggung yang diberikan ke saya dan saya naik, mempelajari tariannya, mempelajari teknik penjualan, dan mengantarkan scenario. Kini, saya dapat menyelesaikan paling banyak kalimat saat Kristen dating untuk mengkonvert saya. Saya tahu skenarionya, ayat injil yang dirubah, penyaringan, dan hymne besar dengan gaya teutonik. Namun, saya tidak tahu sis gelapnya – bayangan dibelakang Kristen!
Saya di dekonversi lewat pengetahuan, pengetahuan yang ditekan, pengetahuan yang berakar dalam benteng vatikan, atau ditekan dengan tali teologis (seperti lembaran laut mati!). ia mulai dengan logika dan rasionalisme: neoplatonisme, Hermetisme, lewat Paine dan Ingersoll. Itu sebuah dunia baru bagi saya; rantai mitologi menderita. Saya membaca segala yang bias saya pegang: Baigent, Pagels, Gardner, humanisme sekuler, lembaran laut mati, apocrypha, pseudepigrapha, pemujaan, sejarah grail, rosicrucianisme, freemasonry, dll. Saudara saya baru saja kembali ke ajarannya dan berusaha merekonversi saya. Ia tidak memahami. Itu mustahil. Saya tidak akan pernah kembali. Tidak ada rekonversi setelah dekonversi. Tidak ada pencerahan balik!
Saya percaya pada Yesus historical, namun tidak pada yang mitologis. Ini lucu karena “Nazaren” tidak perdulu mengenai asal usul Nazaren. Ia tidak ada hingga yang disebut kebangkitan. Yesus bukan seorang Nazorit, seorang Zaddik Yahudi, seorang pendeta atau pejuang dalam garis MElchizadek. Ia bertualang, belajar, satu dari banyak “Kristus” dalam tradisi MEssianik. Saya percaya ia selamat dari penyaliban dan membentuk semacam sekte Gnostik yang melahirkan Cathar dan Ksatria Salib Mawar. Saya rasa Paulus adalah agen Romawi (seorang warga Negara, kata Injil) dan mencoba merubah makna sejati pesan Yesus. Ia adalah murtadin pertama dan cap kristennya mengajarkan non-kekerasan dan penerimaan keberadaan budak. Mitologinya menyatu dengan latar belakang Mithraik, sebuah agama yang berasal dari tempat lahirnya di Tarsus. Konstantin melengkapinya dengan menyatukan “Kristen” dengan paganisme Romawi, termasuk banyak ritual dan ikon saat itu (penyucian air, memecah roti, dll.)
Informasinya di luar sana, namun ia masih ditekan. Banyak tulisan masih ada didalam kunci dan gembok, banyak lembaran salah diterjemahkan, banyak orang masih tenggelam dalam kontroversi terbesar dalam sejarah umat manusia.
Dan Staniforth

Nicholas Brush

9 Juni 2002

Dear Cliff,
Terima kasih atas situs anda dan forum yang luar biasa ini. Saya harap premis anda bukanlah setiap orang ateis telah di dekonversi, karena itu menunjukkan kalau setiap orang telah dikonversi sebelumnya. Dalam kasus saya, saya bangga mengatakan kalau orang tua saya tidak pernah mencoba memaksakan sebuah keyakinan atau ketidak yakinan mengenai tuhan. Saya mendapat kesempatan melihat gereja dan agama apa saja yang ada.
Saya menghadiri gereja Unitarian dalam beberapa kesempatan saat remaja, dan mereka menyajikan keragaman religius yang ada di luar sana. Tidak ada waktu dalam hidup saya kalau saya pernah tiba pada kesimpulan kalau tuhan atau segala yang supernatural itu ada.
Walaubegitu, saya katakana kalau saya telah semakin vocal dalam bersedia mengatakan sebagai seorang ateis, paling tidak dalam situasi menjawab pertanyaan mengenai keyakinan saya atau berdiri tegak dan tidak membiarkan orang lain menyebutkan keyakinan saya. Menjadi pekerja social membantu saya mempelajari pentingnya tidak hanya membantu mereka yang terpinggirkan, namun juga melakukan hal yang sama pada diri saya.
Nick

Lucas Caven

26 agustus 2000
Nama saya David, dan inilah kisah dekonversi saya.
Saya berusia 17 tahun, dan saya (masihkah?) dibesarkan dalam rumah tangga yang cukup sekuler. Kedua orang tua saya pada dasarnya Kristen, ayah saya Presbyteran dan ibu saya Gereja Penyatu (sebagaimana ia disebut disini di Australia), walau kami tidak pernah datang ke gereja, namun kakek saya mengirim saya dan saudara buku bergambar berjudul program injil untuk anak-anak, yang saya sering baca.
Ibu saya tidaknya religius, berkeliling dunia saat ia muda dan tercerahkan oleh pandangan pada para pengemis lamban yang mengangkat tangannya meminta di tangga emas sebuah gereja saat di meksiko, namun masih memiliki sedikit keyakinan pada Kristen. Ayah saya, walau ia hanya pergi ke gereja pada hari natal, masih cukup berprasangka (saya lahir di bagian Cesarian, aslinya pada tanggal 13 hari jum’at, namun ayah saya memindahkan tanggalnya), dan saya rasa saya mewarisi pikiran non skeptisnya. Saya sedikit kurang skeptis. Saya ingat memiliki keyakinan kekanak-kanakan yaitu mampu mengendalikan kecepatan bis yang membawa saya ke sekolah dengan pikiran saya (tidak perduli berapa kali saya gagal, setiap kali berhasil mendorong keyakinan saya pada kemampuan ini, pengalaman demikian membantu saya memahami mengapa orang percaya pada hal-hal bodoh), dan percaya kalau siklus bioritme saya akan mempengaruhi unjuk kerja saya pada ujian sains, sebuah kontradiksi bila saya pernah melihatnya.
Saya meneruskan penerimaan hal-hal secara non skeptis ini selama bertahun-tahun, hingga awal tahun ini, teman saya yang merupakan pemeluk Adventis Hari Ketujuh (ewww…) berdiskusi mengeni debat kreasi/evolusi. Saya mempertahankan evolusi (belajar sains sejak kecil, yang perlahan memudar karena pendidikan di masa sekolah menengah menghalangi segala cinta belajar dalam diri saya), namun tidak punya pengetahuan nyata tentangnya, dan akibatnya saya tidak dapat banyak menyanggah. Segera saya menemukan arsip talkorigin.org, dan membacanya seperti orang gila, walau saya masih punya keraguan. Saya tidak mendapat banyak skeptisisme dari pengalaman ini, namun membuat saya menjauhi agama, khususnya fundamentalisme. Ini juga disulut oleh banyak kesalah informasian yang ia berikan ke saya pada argument berkepanjangan dengan nya (ia menceritakan kalau saya mesti bergabung dengan scientologist, karena mereka adalah orang yang mengangkat sains pada status sebuah agama. Saya sesungguhnya mempertimbangkannya dan ingin segera bergabung, yang saya syukuri tidak pernah saya wujudkan, lebih banyak kesaksian atas bahaya kurangnya berpikir).
Awal ateisme saya yang sejati dimulai saat teman saya terus memakai istilah humanisme sebagai istilah keyakinannya. Saya mengetikkan “Humanisme” di Yahoo, dan membaca sebuah pengenalan pada humanisme karya Frederick Edwards, dan menemukan kalau saya setuju dengan banyak hal yang terkandung di dalamnya, kecuali penolakan pada supernatural (yang saya salah artikan pada awalnya), saya kemudian meneruskan ke Internet Infidels, hanya membaca dan membaca dan membaca, dan berubah sepenuhnya menjadi agnostic/ateis/humanis/rasionalis dalam beberapa minggu.
Hampir sebuah kebetulan sekarang kalau saya seorang ateis, yang cukup menakutkan. Saya rasa kalau, dengan bangkitnya irasionalisme dalam 20 tahun terakhir, kita perlu skeptisisme dan pemikiran rasional melebihi kapanpun.

Osmo Jaakkola

27 april 2003
Saya melihat betapa miripnya sebagian besar kisah ini. Lebih lanjut, saya tidak akan membuat pengecualian besar buat diri saya sendiri, jadi saya akan menunjukkan perbedaan-perbedaan utamanya saja.
Saya lahir dalam keluarga Adventis Hari Ketujuh Finlandia. Saya tidak berpikir kalau orang tua saya benar-benar beriman pada doktrinnya, namun saya diberitahu semua kisah Yesus dan hal-hal biasa. Tidak ada yang cukup masuk akal bagi saya, itu memusingkan. Pada usia 6 hingga 7, saya sesungguhnya memandang tuhan sebagai mahluk wanita. Tidak lama setelah saya mulai sekolah barulah saya “mulai berpikir”. Lalu satu hari, saya memutuskan berdoa pada tuhan dan memintanya menyiksa dan membunuh saya kalau ia bisa. Tidak ada yang terjadi tentunya. Saya malah merasa bodoh, namun saya telah menang, tidak ada tuhan. Saya berusia sebelas tahun saat ini terjadi bila saya benar mengingat. Sejak itu, saya mencari orang lain yang memiliki minat filsafat yang sama dengan saya.
Bahkan sekarang saya belum memberitahu orang tua saya mengenai pandangan ateistik saya pada kehidupan, namun saya temukan – mengejutkannya – kalau ayah saya juga selalu sangat skeptis dan ia telah meninggalkan gereja. Sekarang saya 16 tahun dan telah melalui fase berpikir sangat serius. Masih saya membangun pengetahuan saya dalam pertanyaan metafisik dan fisika modern. Saya telah menemukan kalau semakin banyak saya belajar, semakin banyak hal religius yang saya rasa dulu benar sekarang semakin salah.

K1zw

20 juni 2000
Kisah dekonversi saya cukup sederhana. Sebagai anak kecil saya dibesarkan dalam sebuah kult (saksi Yehovah), namun saat remaja, saya telah menyingkir. Setelah beberapa tahun kuliah saya menemukan kalau injil dan sains tidak dapat cocok.
Saat saya belajar kalau kult yang saya yakini salah dalam banyak sekali hal, ini membawa pada pandangan skeptis secara umum pada semua agama.
Setelah bertahun-tahun mempelajari sendiri filsafat, agama, sains saya akhitnya tiba pada kesimpulan kalau tuhan tidak ada dan tidak pernah ada. Seluruh masalah tuhan tidak lebih dari ciptaan manusia untuk menemukan jawaban mengenai fakta keberadaan.
Saat saya melihat kembali pada seluruh proses saya bertanya mengapa perlu waktu lama bagi saya tiba pada kesimpulan yang jelas ini. Saya yakin kalau penerimaan fakta evolusi adalah factor penentu dalam kesimpulan kalau tuhan tidak ada dan tidak pernah ada. Evolusi dan kejahatan alam di dunia menyertakan masalah ini pada saya.
Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang sains mungkin tidak mampu jawab, dan saya masih bertanya kenapa ada sesuatu daripada tidak ada sesuati dan kerumitan kehidupan masih mencengangkan saya dan saya merindukan kenyamanan legenda-legenda lama namun saya memilih kebenaran daripada kebohongan dan kepalsuan, seberapa dinginpun kebenaran itu.
Sebagai catatan pribadi saya berusia 61 tahun dan memiliki 4 anak, tiga diantaranya menunjukkan pandangan skeptic pada agama. Saya selalu menekankan berpikir menggunakan logika, nalar, sains dan toleransi pada orang beriman karena saya dulu juga demikian.
Larry
+ Lawrence Thompson

10 januari 2004
Berada dalam militer, saya mulai melihat kesamaan antara membaca injil dan membaca peraturan. Saat saya pensiun dari Angkatan Darat, saya menyadari kalau saya tidak dapat hidup sesuai dengan peraturan itu. Entah bagaimana, saya menemukan kalau “peraturan lainnya” tidak lagi berlaku pada saya pula.

Deborah

22 november 2002
Saya dibesarkan oleh keluarga Kristen yang sangat mencintai. Faktanya, ibu saya adalah seorang pendeta di gereja kristus. Tumbuh, setiap pagi kami akan berdoa dan membaca injil bersama sebelum sekolah. Saya pergi ke gereja setiap minggu pagi, minggu malam dan setiap rabu malam. Saya tahu injil maju dan mundur setelah membacanya berkali-kali. Saya tahu semua “jawaban”, katakanlah demikian. Namun saat saya remaja – sebuah kehampaan mulai tumbuh yang tidak mau lenyap dalam diri saya. Saya ingat saat berdoa begitu tulus hingga bercucuran air mata meminta tuhan mendengarkan saya, namun saat saya tidak mendengar apa-apa, saya berhenti untuk percaya. Di siang saya menyanyikan kasih sayang tuhan, dan di waktu malam, saya menangis sendiri hingga tertidur dengan penuh rasa bersalah dan keraguan. Tidak lama setelah saya kehilangan perasaan mengenai agama saya. Saya membuat pikiran saya tidak percaya lagi – dan tidak akan mencoba lagi.
Saat saya junior di SMA saya bertemu seorang gadis ateis. Itu pertama kalinya bagi saya. Ia mengira saya seorang Kristen dan mencoba berdebat dengan saya mengenai keberadaan tuhan. Pertama kali ia melakukan ini, saya mulai menangis – tepat di dalam pelajaran bahasa perancis. Perasaan lama muncul kembali – kalau saya telah kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah saya temukan lagi. Saya berakhir berdebat dengan nya paling tidak sekali seminggu dan saya perlahan mendapat kepercayaan diri pada “keyakinan” saya, walau saya sendiri tidak tahu apa itu. Saya pergi ke universitas Kristen dan ingat duduk di sebuah pertemuan doa bersama senin malam bertanya-tanya kenapa saya selalu menolak merasakan roh dalam diri saya. Saya sungguh ingin percaya. Kadang saya rasa saya dapat percaya. Ada saat dimana saya mendengar suara tuhan begitu jelas seperti lonceng, seperti saat teman saya David memberi tahu saya perbedaan antara merasakan dan beriman, atau saat saya menyadari saya jatuh cinta dengan orang yang suatu saat akan saya nikahi – tapi itu terlalu banyak buat saya.
Anda lihat, pada akhirnya bukanlah argumen intelektual yang menahan saya dari keyakinan, namun fakta kalau saya tidak senang dengan pesannya. Seperti yang saya katakan, saya tumbuh dengan seorang ayah pendeta. Saya melihatnya berjuang untuk hidup sesempurna mungkin. Saya tahu ia menghabiskan berjam-jam berdoa dalam sehari dan lebih lama lagi waktu mempelajari injil – sering dalam bahasa yunani. Tampaknya begitu sulit. Doa tidak datang secara alami pada saya. Pelayanan pada orang-orang hanya mengingatkan betapa pemalunya saya. Saya pada dasarnya tahu kalau saya mesti “mengambil salib saya”, dan itu menakutkan saya. Saya tidak bisa berpura-pura. Bahkan sekarang saya akan senang sekali kalau beriman. Saya melihat perbedaan yang terjadi pada hidup suami saya. Ia menghabiskan waktunya untuk membuat pilihan “melakukan hal yang ia inginkan” hingga kami bertemu dan ia masuk ke agama Kristen. Apa yang paling menyedihkan saya adalah saat saya membawa Dustin pada tuhan, saya berbohong padanya pula. Sekarang kami telah menikah dua tahun, dan ia mengenal saya lebih baik, ia melihat ke arah saya dan berkata, “Bagaimana kalian bisa tidak percaya? Saya membutuhkanmu berjalan bersama dalam hidup ini, tapi engkau meninggalkanku sendiri disini.” Ia mencintai Yesus. Saya ingin hal itu mudah juga bagi saya.

Karl Karnadi

Saya sendiri berasal dari keluarga kristen (yg cukup toleran untuk pergi ke tetangga2 dan mengucapkan selamat tiap hari lebaran, tetapi bicara2 jelek tentang islam di meja makan). Perjalanan intelektual saya mulai dari pengenalan saya thd teori Evolusi Darwinian (dari Discovery Channel). Sikap antipati gereja thd Evolusi membuat saya hilang simpati dengan gereja, dan berjalan perlahan2 ke liberalisme.

Berbagai bacaan2 liberal spt buku2 Shelby Spong dan Karen Armstrong membawa saya semakin jauh ke liberalisme, sampai ada saatnya dimana saya tersadar. Tuhan ala liberal sebenarnya sudah jauh berbeda dari Tuhan sebenarnya, berbeda dari Tuhan ala agama, Tuhan teistik hasil ciptaan manusia. Kemudian saya melepaskan alkitab, dan saya tersadar kita tidak perlu justifikasi semua hal dgn interpretasi kompleks dari kitab suci, dengan demikian melangkah meninggalkan liberalisme.

Kehidupan di luar agama adalah sesuatu yg berharga yg saya sangat beruntung untuk mendapatkannya. Saya bisa lebih bebas berpendapat, bisa melihat dunia dgn 'mata terbuka', dan kemudian tersadar akan kekayaan pengetahuan yg sebelumnya terlewatkan. Melangkah keluar dari agama, adalah bagaikan bangun dari mimpi. Mimpi tersebut bisa mimpi buruk, ataupun mimpi indah, tetapi seindah2nya sebuah mimpi, mengetahui kenyataan sebenarnya adalah jauh lebih indah.

-Karl K

Mike Warner

Hi Cliff,
Saya telah mengunjungi situs anda hampir setiap hari sekitar sebulan ini, dan menemukan artikel baru dan menarik setiap saat. Itu bagus, terima kasih atas usaha anda. Lain kali bila saya dapat kenaikan gaji saya akan mendaftar pada edisi cetak, hingga saat itu uang cadangan saya akan diberikan pada sumbangan sekuler. Saya rasa saya akan memberi sedikit waktu saya, dan berbagi dengan anda dan pembaca kisah dekonversi saya dari Kristen “keimanan pada lengan” menjadi seorang yang jauh lebih bahagia sekarang.
Saya berasal dari sebuah rumah Anglikan di Canada, sepenuhnya terindoktrinasi. Saat saya berusia 15 tahun, 1993, jalan saya tampak begitu jelas, menjadi seorang minister Anglikan untuk membawa para orang yang kafir pada cahaya kristus.
Saya selalu menggemari sains, saya bahkan menerima evolusi sebagai fakta, kalau tangan tuhan ada di dalamnya, kira-kira demikian. Satu hari, mempelajari injil, saya telah siap masuk ke sekolah seminari lalu saya menyadari, kalau saya tidak mungkin dapat menerapkan metode ilmiah pada keyakinan saya.
Saya menyadari kalau keyakinan saya adalah hanya, keyakinan. Saya tidak memasukkan sains kedalam keyakinan, faktanya, pada pandangan pertama sains terasa meragukan. Teori dibuat, dibuktikan atau digugurkan, teori baru dibuat agar sesuai dengan pengamatan baru. “Wahyu” atau “Pencerahan” ini, cukup mengguncang bagi remaja berusia 15 tahun. Saya tidak berani bercerita kepada orang lain, saya putuskan adalah yang terbaik memecahkannya sendiri. Dan dimulailah perjalanan dua tahun saya pada pembuktian ilmiah agama saya. Saya terus ke gereja, meletakkan wajah didepan yesus, dan yesus tersenyum, setiap hari minggu mengisi kepala saya dengan “cahaya kecil saya”, namun setiap malam, membaca injil, membangun beban pembuktian untuk diri saya sendiri.
Kita dapat melaju ke Mei 1995, sebulan sebelum kelulusan. Saya belum mendaftar ke universitas, saya tidak perlu. Saya yakin saya akan melengkapi bukti ilmiah saya untuk keyakinan Anglikan, dan kemudian, saya akan pergi ke seminari. Well, hari itu bulan Mei, hari saya mengirim lamaran saya, saya duduk di beranda merokok di luar, rokok DuMaurier di mulut saya, amplop lamaran besar cokelat di satu tangan dan 400 halaman “bukti” di tangan satunya.
Saya tidak pernah bertingkah seolah seorang ilmuan besar, saya tidak pernah tahu kalau sebuah pertarungan antara agama dan sains telah ada dimana-mana kecuali dalam pikiran saya, orang kafir tidak dapat melihat kebesaranNya, saya dapat. Tampak begitu jelas tahun 1993, sebuah bukti ilmiah logis kalau agama adalah buktinya sendiri, bahkan bagi seoranga anak berusia 15 tahun. Catatan 400 halaman saya sama sekali bukan bukti, ia tidak mengatakan tuhan tidak ada, satu-satunya kesimpulan yang saya peroleh adalah, bila tuhan ada, ia tidak akan pernah membuat dirinya dikenal siapapun, kapanpun, dalam sejarah manusia, sejauh yang dapat saya ketahui. Saya memakai rokok saya untuk membakar amplop itu, dan itulah akhir segalanya. Lalu tiba saat berurusan dengan teman-teman, dan memutuskan apa yang harus saya lakukan dalam hidup. Namun harus saya katakan, di hari dimana saya membakar surat itu, hari dimana saya melepas “kacamata Yesus” saya, dan melemparnya jauh-jauh, seperti keluar dari dunia hitam putih ke dunia penuh warna. Begitu luar biasa ketika saya mendapatkan sikap penghargaan dari orang-orang yang agama saya suruh untuk benci.
Sekarang, saya dapat dengan bangga mengatakan (dengan pelan, karena takut kekerasan) kalau saya seorang ateis, dan humanis sekuler, dan saya bekerja keras membuat rumah kita tempat yang lebih baik.
UH, itu panjang. Ini adalah link menuju Humanist Association of Canada's Baptism Removal Service. Menegangkan tapi asyik.
http://infoweb.magi.com/~godfree/debap.html
Peace
Mike Warner
Winnipeg, Manitoba
Canada
Sumber : positiveatheism.org

Troy

8 januari 2004
Saya ingat saat-saat saya kehilangan keyakinan saya dan mengambil sudut pandang ateis pada segala hal. Pertama-tama, saya pernah sekolah 13 tahun di sekolah katolik – tidak tepat sebuah lingkungan belajar tanpa bias. Saya sedang dalam kesendirian, dan para guru mencoba membuktikan atau menunjukkan “kekuatan” Tuhan.
Mereka memengang tangan anak-anak dan meminta mereka memikirkan sesuatu yang sedih. Kemudian menjadi sulit bagi anak-anak itu untuk menolak. Lalu, para guru akan melakukannya lagi, tapi meminta mereka memikirkan tuhan. Seketika para anak mampu dengan mudah menghambat batasan dari guru. Lalu, saya baru 15 tahun saat itu, namun saya belajar cukup sains untuk tahu kalau apa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan Tuhan, dan semuanya berhubungan dengan ingatan otot. Itu sebuah hoax, atau sebagaimana saya menyebutnya, kebohongan yang jelas. Itu membuat saya terpukul, bila orang religius mau berbohong demi ini, apa yang menghentikan mereka untuk berbohong mengenai apa saja? Bagi saya, kemudian, gereja dan agama secara umum kehilangan kredibilitasnya.
Saya sekarang sembilan belas tahun, seluruh keluarga saya melihat saya sebagai orang yang “tidak mengerti”. Saya tidak ingat terakhir kali mereka memanggil saya dengan nama dan bukan si ateis. Saat natal, mereka menyogok saya untuk pergi ke gereja. Saya duduk di sana sepanjang waktu, menghormati, namun jelas tidak tertarik. Tentu saja, saya dapat ceramah mengenai menghormati mereka yang tidak bergabung. Bagi saya, inilah agama sesungguhnya: dalam satu kata—kemarahan.
Jadi mengapa saya ateis? Saya tidak pernah menemukan kelompok ateis yang tidak menghargai saya, meminta uang dari saya, atau memberikan aturan moralitas pada saya. Dan yang terpenting, saya tidak pernah menemukan ateis yang berbohong demi memperoleh dukungan. Yang jauh lebih baik yang bias saya katakana dibandingkan katolik.
Troy

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License