Dekonversi Dari Hindu

Anisha Narayan

27 januari 2004
Kisah saya dimulai saat saya sekitar 12 atau 13 tahun (sejauh saya bisa ingat). Saya dari seorang hindu, keluarga India, namun tidak terlalu religius. Kami tidak pernah pergi ke kuil atau menghadiri fungsi apapun. (Sejauh saya dapat berterima kasih pada orang tua saya yang bersikap demikian, mereka sulit demikian dalam lingkungan warga).
Adalah saat saya mempelajari sains di sekolah saya mulai menanyakan Tuhan, atau supernatural dan kekuatan ghaib itu ada. Sejak itu, saya selalu menantang keyakinan hindu tentang keberadaan banyak tuhan dan akhirnya berhenti mempercayainya saat saya 15 tahun.
Saat saya tumbuh besar, saya memutuskan belajar agama lain, khususnya Kristen, karena sebagian besar teman saya katolik. Sering terjadi perdebatan karena saya meragukan keyakinan mereka. Mereka mengatakan, “Bagaimana bias kamu tidak percaya tuhan ada?” atau “KAMU SETAN!” dll. Saat seorang teman katolik membaca dari injil (dan saya tidak mengutipnya) mereka mengatakan kalau hari saat Yesus akan hidup kembali, ia akan mengeliminasi semua yang bukan katolik roma dari muka bumi. Ini mengejutkan saya kalau menurut mereka Tuhan mencintai semua orang dan menciptakan semua orang, lalu kenapa ia membunuh mereka semua? Juga, bila Kristen percaya pada satu tuhan, kenapa begitu banyak sekte Kristen? Kenapa ada begitu banyak agama? Bila tuhan baik dan mencintai semua orang secara sama, kenapa ia menguji mereka dengan membuat mereka menghadiri doa dan kebakitan, berziarah, berkorban, menyakiti diri sendiri, membunuh orang lain, semua demi dirinya? Atas nama tuhan dan agama, manusia saling bunuh dan jelas sekali terlihat sekarang antara hindu dan muslim, yahudi dan Kristen, Negara kaya dan Negara miskin, kasta, mereka yang suci, takhayul, kemunafikan, dll. Semua membuat saya sedih!
Saat saya berusia 17 tahun, saya menjadi mahasiswa sanis kehidupan. Belajar mengenai fakta kehidupan diperkuat oleh keyakinan ateis, dan argument saya melawan teisme juga. Lalu saya mengambil S2 dibidang sains reproduksi. Disana, saya belajar mengenai proses kelahiran dan cara kerja lingkungan. Seorang teis memberi tahu kalau “Itulah cara tuhan memberikan petunjuknya sehingga anda akan kembali dan menyadari kalau dialah pencipta segalanya”. Sebaliknya, sains yang memenangkan saya.
Sejak itu, saya mencapai kesenangan, karena saya selalu memberi kredit pada diri saya sendiri atas kerja keras saya, dan saya memberi tahu orang kalau bukan tuhan yang membawa saya kesini, namun usaha keras saya!
Memberitahu orang tua saya tidak pernah jadi masalah (dan saya bersyukur untuk itu), sejauh saya bekerja keras dan jujur pada tujuan dan cita-cita saya. Bahkan rasanya lebih baik lagi saat mengetahui dua anggota keluarga saya yang lain juga ateis!
Saya percaya tuhan tidak ada, dan manusia hidup dalam mimpi di dunia teisme, kita harus bekerja sama mencegah perang dan menghentikan pengrusakan pada lingkungan tempat asal kita.
Anisha Narayan

Swapnil Deshmukh

13 mei 2001
Hi,
Saya ingat pergi ke kuil-kuil disekitar para tuhan dengan orang tua dan kerabat, mengucapkan mantra-mantra Sanskrit. Mari saya perjelas: saya dating dari sebuah keluarga yang sangat terpelajar, ayah saya seorang insinyur, dan ibu saya master sains. Kecerdasan dan pengetahuan di ajarkan ke saya. Mereka asset satu-satunya saya – dan tetap saja, agama dan tuhan memainkan perannya.
Saya tidak pernah percaya tuhan ada sekalipun dalam hidup saya. Namun sebagai anak saya takut pada konsep ini, karena, semua yang saya cintai mempercayainya. Tampak kalau sebuah kekuatan lebih besar dapat membuat atau menghancurkan hidup saya, dan mesti harus dijaga dalam humor.
Di satu sisi, saya memiliki ajaran realistic dari orang tua saya, yang membawa saya jadi yang terbaik di kelas dan memiliki rasa penghargaan besar dari dunia pendidikan, dalam karir dan kualitas berpikir. Di sisi lain, referensi kepada tuhan dianggap ada pada diri saya.
Sekitar usia 12 tahun, saya dengan serius mulai meragukan keberadaan tuhan, yang memiliki ego begitu besar untuk disembah oleh triliunan puja – padahal maha kuasa – dan yang keinginannya hanya mendapatkan semua doa dan menerima pengagungan dirinya. Anda perlu berdoa agar hidup anda bahagia.

Jauh dari kuat, saya mulai melihat kelemahan yang terus bertambah dalam kontradiksi mitologi.
Saya menolak meletakkan masa depan saya pada kendali kekuatan demikian. Rasa takut yang saya miliki saat anak diatasi dengan pemberontakan melawan kendali supernatural ini pada hidup saya. Saya siap dihancurkan oleh kehidupan daripada menyerahkannya pada orang lain. Takut karena pemberontakan demikian dapat mengganggu, saya menunggu hingga mulai kuliah (usia 16) untuk memberi tahu orang tua saya.
Orang tua saya terkejut, namun terlalu mencintai saya sehingga tidak melarang saya. Saya katakan kalau saya sangat beruntung dalam masalah ini.
Sebagai mahasiswa sains membantu saya banyak sekali. Teori evolusi menyajikan argument sebab utama. Faktanya, saya membaca argument ini pertama kali dalam serial Rama karya penulis sci fi Arthur C. Clarke. Saya ingat perasaan kuat adanya hubungan dengan dunia, dimana ada orang yang ragu dan berpikir seperti saya, dan menanyakan hal yang sama yang saya tanyakan – pertanyaan-pertanyaan yang terlalu tabu dalam masyarakat saya. Socrates, Russell, Voltaire dan Ayn Rand datang kemudian
Saya masih takut mengatakan bahkan pada kerabat tentang pandangan saya. Bukannya cinta yang mereka rasakan, ini akan menjadi dinding besar antara saya dan kerabat yang saya cintai. Saya masih diharap menghadiri ritual yang membuat saya merasa tersiksa dari pada sekarang, karena setiap penyimpangan akan berarti penghinaan bagi orang berpikiran religius seperti mereka.
Saya akan menjadi sumber penghinaan dan keterbelakangan dalam setiap situasi social, dan di India, hamper semua ritual social berbentuk festival.
Manusia adalah hewan social. Saya tidak tahu penyiksaan apa yang lebih berat, berpura-pura di depan orang yang kita cintai atau kesepian saat ateisme saya terungkap.
Kesenangan saya membaca membawa pada studi mandiri filsafat dan psikologi. Studi saya dalam bidang manajemen (MBA) membawa saya pada percaya kalau inilah alas an kenapa banyak orang membutuhkan pemimpin – mereka memerlukan orang lain untuk menjaga mereka daripada harus otonomi dan menjadi orang berpikir yang bertanggung jawab – agar yakin semua berjalan baik.
Seperti dikatakan Russel, tugas filsafat berguna hingga kini – adalah melihat rasa takut ketidakpastian dengan rasional. Keyakinan dan tuhan adalah solusi terlalu irasional yang bertopang pada penutupan otak dari kenyataan.
Saya telah tinggal di tiga Negara selain India, dan telah menyadari kalau dalam persepsi banyak orang , seorang India berarti hindu – kadang membuat saya terlihat aneh bila saya berpikir dan bersikap sebaliknya. (Saya senang pastrami dan barbeque babi, padahal orang hindu mensucikan sapi! Bila saya tidak senang memakannya sementara, maaf: itu karena mulut saya sedang sakit).
Saya masih senang membaca Sanskrit dan juga Shakespeare. Saya senang mitologi India –sebagai kisah fantasi—dengan ajaran moral, sama seperti sains fiksi (Lord of Rings, Asimov,dll.).
Saya belum punya jawaban atas satu pertanyaan: Apa yang membuat orang senang bertahan pada kebohongan seperti opium – dan keyakinan? – sedemikian hingga tidak pernah mengizinkan dirinya sendiri mempertanyakan hal yang saya tanyakan? Bahkan memasuki kesadaran mereka sendiri saat mereka dihadapkan pada kenyataan yang jelas?
Saya tidak berbicara tentang rasa takut ostrasisme social atau berpikir kelompok, namun delusi diri melawan semua rasionalitas.
Kadang terasa datar seperti sindrom tidak dibuat disini yang membawa pada penolakan gagasan-gagasan brilian dalam sebuah organisasi.

Hingga saat itu, saya rasa saya mesti menghadapi cemooh dan antipati dari teman dekat dan kerabat karena berpegang pada kebenaran.

Ramendra Nath

Aslinya diterbitkan oleh Bihar Rationalist Society (Bihar Buddhiwadi Samaj) 1993.

Saya sudah mebmaca dan menghargai karya Bertrand Russell, Why I Am Not a Christian. Di sisi lain, saya juga telah membaca dan tidak setuju dengan karya M.K.Gandhi berjudul Why I Am a Hindu. Tujuan saya mengetengahkan esai ini menjelaskan mengapa saya bukan hindu, walau saya lahir dalam keluarga hindu.
Makna dari ‘Hindu’
Kata ‘Hindu’ adalah kata yang banyak disimpangkan dalam hal ia telah digunakan untuk hal berbeda dalam waktu berbeda. Sebagai contoh, sebagian orang hingga kini, memakai kata hindu sinonim dengan india. [1] Dalam hal ini, jelas kalau saya seorang hindu karena saya orang india. Tapi, saya tidak memakai istilah ini. Ada banyak orang india seperti muslim, kristen, yahudi dan zoroastrian begitu juga rasionalis, humanis dan ateis yang tidak menyebut dirinya hindu dan juga tidak senang dipanggil hindu. Jelas tidak adil merubah mereka menjadi hindu dengan definisi elastik demikian. Selain itu, pemakaian arti ini tidak jelas. Kata hindu pada awalnya mungkin memang disinonimkan dengan india, namun, disaat ini, kata ini dipakai orang untuk keyakinan agama tertentu. Kata hindu merupakan kata kategori seperti muslim, kristen, buddhis, dan jain dan bukan kata kategori seperti orang amerika, britis, australia, china atau jepang. Ada, faktanya, banyak orang india yang bukan hindu, dan disisi lain, ada banyak orang hindu yang bukan orang india, sebagai contoh warga Nepal, sri lanka dan negara lainnya.
Dalam hal religius, kata hindu sering dipakai melibatkan pula buddhis, jain dan sikh sebagai tambahan mereka yang hindu dalam hal paling terbatas, yaitu, pemeluk agama Vedic atau Brahmin. Sebagai contoh, pernyataan Hindu dipakai dalam hukum hindu bukan hanya untuk mereka yang beragama hindu tapi juga mereka yang beragama buddha, jain dan sikh. Ini merupakan definisi hindu yang terlalu luas pula. Bila kita memakai kata hindu dengan konsisten dalam hal ini, kita mesti mengatakan kalau jepang adalah negara hindu!
Definisi hindu di atas jelas tidak pantas dari sudut pandang filosofis. Buddhisme dan jainisme, misalnya, dengan jelas menolak doktrin ketidaksalahan Weda dan sistem varna-vyavastha, yang mendasar dalam hinduisme, yaitu, bila istilah hinduisme dipakai dalam bagian paling terbatas. Maka, menyatukan buddhis dan jain atau bahkan sikh dengan mereka yang yakin pada ketidakmungkinan salahnya weda dan menganut varna-vyavastha akan membawa pada kebingungan.
Walau saya setuju dengan buddhisme pada penolakannya pada tuhan, jiwa dan ketidaksalahan Weda dan varna-vyavastha, tetap saja saya bukan hindu dalam istilah yang lebih luas, karena sebagai seorang rasionalis dan humanis saya menolak semua agama termasuk buddhisme, jainisme dan sikhisme. Walau demikian, dalam esai ini saya menjelaskan kenapa saya bukan seorang hindu dalam istilah paling pantas dari hindu, yaitu, seseorang disebut hindu bila ia agamanya hinduisme dalam batasan keras hinduisme. Dalam batasan keras ini, buddhisme, jainisme dan sikhisme tidak termasuk dari cakupannya. Saya juga menjaga kalau ini adalah pengertian paling umum mengenai hindu, dan setiap orang mesti, demi kejelasan, memakainya, paling tidak dalam pembahasan filsafati.

Radhakrishnan, sebagai contoh, telah memakai istilah hindu dan hinduisme dalam hal terbatas saat ia mengatakan dalam The Hindu View of Life kalau “Kitab suci utama Hindu, Weda menyatakan intuisi dari roh-roh yang sempurna.” [2] Atau, saat ia mengatakan “Hinduisme adalah agama bukan hanya dari Weda tapi juga dari Epik dan Purana.” [3]
Keyakinan dasar Hinduisme
Gandhi, juga memakai istilah hindu secara terbatas, saat menulis dalam Young India pada Oktober, 1921, beliau mengatakan:
Saya menyebut diri saya hindu sanatani karena,

1. Saya percaya Weda, Upanisya, Purana dan semua kitab suci hindu, dan berarti pada avatar dan kelahiran kembali.
2. Saya percaya pada Varnashram dharma dimana pendapat saya terbatas pada Vedic, namun bukan pada pemahaman umum dan kasar masa kini.
3. Saya percaya pada perlindungan sapi pada tingkat lebih besar dari yang umum.
4. Saya tidak menolak penyembahan tuhan. [4]
Anda dapat bertanya, pada point ini, apakah semua keyakinan dalam daftar Gandhi sangat fundamental pada hinduisme. Menurut pendapat saya (I) keyakinan dalau keaslian Weda dan (II) keyakinan pada varnashram dharma adalah lebih mendasar pada hinduisme daripada keyakinan pada perlindungan sapi dan penyembahan tuhan. [5] Walau tidak dapat disangkal kalau, walu usaha-usaha para reformer seperti Kabir, Rammohan Roy dan Dayanand Saraswati, penyembahan tuhan masih dipraktekkan secara luas oleh massa hindu, dan ada, saat ini, larangan memakan daging sapi pada sejumlah besar hindu. Dalam kasus manapun, saya berada dalam posis untuk mendirikan fakta kalau saya bukan hindu dengan menunjukkan kontradiksi dari tiap pernyataan yang dikatakan Gandhi:
Dengan kata lain, saya tekankan kalau saya bukan hindu karena

1. Saya tidak percaya Weda, Upanisya, Purana dan semua kitab suci hindu, dan berarti pada avatar dan kelahiran kembali.
2. Saya tidak percaya pada Varnashram dharma atau varna-vyavastha baik itu dijelaskan dalam dharma shastra seperti Manusmriti atau dalam pandangan vedik
3. Saya tidak percaya pada larangan memakan daging sapi
4. saya tidak percaya pada penyembahan tuhan
walaubegitu, sambil menjelaskan kenapa saya bukan hindu, saya akan berkonsentrasi terutama pada (I) keyakinan pada otentisitas Weda, dan (II) varnashram dharma , yang saya pandang lebih fundamental pada hinduisme. Disamping itu, pada bagian kesimpulan esai ini, saya akan membahas ringkas tentang moksha, yang dipanfan sebagai akhir tertinggi kehidupan dalam hinduisme, dan doktrin hindu lainnya seperti karmavada dan avatarvada.
Ketidaksalahan weda
Pertama-tama, saya jelaskan arti dari “Saya tidak percaya dengan Weda”, dan mengapa demikian.

Mazhab pemikiran india kuno secara umum digolongkan oleh para pemikir hindu ortodoks dalam dua kategori luas, yaitu, ortodoks ( astika) dan heterodoks ( nastika). Enam sistem pemikiran hindu utama — Mimamsa, Vedanta, Sankhya, Yoga, Nyaya and Vaisheshika – dipandang sebagai ortodoks ( astika), bukan karena mereka percaya adanya tuhan, namun karena mereka menerima otoritas Weda. [6]
Dari enam sistem ortodoks pemikiran hindu, sistem Nyaya utamanya mengurus kondisi berpikir yang benar dan makna memperoleh pengetahuan sejati. Menurut sistem Nyaya, ada empat sumber pengetahuan, yaitu
(i) Persepsi
(ii) Inferensi
(iii) Perbandingan
(iv) Kesaksian atau shabda.
Shabda, yang didefinisi dalam sistem Nyaya sebagai “kesaksian lisan yang sah” lebih lanjut digolongkan menjadi
(i) Kitab ( vaidika), dan
(ii) Sekuler ( laukika).
Vaidika atau kesaksian kitab diyakini sebagai firman tuhan, dan berarti, dipandang sempurna dan tidak dapat salah.[7]
Mimamsa atau Purva Mimamsa, sistem hindu ortodoks lainnya adalah “hasil dari sisi ritualistik kebudayaan vedik”. Walau demikian, dalam usahanya untuk membenarkan otoritas Weda, Mimamsa membahas beragam sumber pengetahuan yang sah. Yaitu, menurut Mimamsa, dua jenis otoritas – pribadi ( paurusheya) dan impersonal ( apaurusheya). Otoritas Weda dipandang oleh Mimamsa sebagai impersonal. [8]
Seperti telah disebut sebelumnya, menurut Nyaya, otoritas Weda diambil dari anggapan kalau ia firman tuhan. Namun Mimamsa, yang tidak percaya adanya tuhan, menyatakan kalau Weda seperti dunia, adalah abadi. Mereka bukan hasil karya manusia, atau tuhan. Ketidak salahan otoritas Weda, menurut Mimamsa, berada pada fakta kalau mereka tidak meluruh sebagaimana karya orang yang tidak sempurna. [9]
Jadi, mazhab hindu ortodoks seperti Nyaya dan Mimamsa memandang kesaksian Weda tidak mungkin salah, walau mereka memberikan alasan berbeda untuk itu. Teolog hindu ortodoks terkenal seperti Shankar dan Ramanuja percaya pada otoritas Weda. Manusmriti, juga mengatakan Weda tidak mungkin salah. Sebagaimana ditunjukkan oleh S.N.Dasgupta, "keabsahan dan otoritas Weda diakui oleh semua penulis hindu dan mereka telah bertarung secara lisan dengan buddhis yang menolaknya.” [10]
Hal yang penting diperhatikan adalah walau hinduisme populer adalah sebuah agama teistik, tidaklah mendasar untuk percaya adanya tuhan bagi seorang hindu ortodoks – keyakinan pada otoritas Weda lebih penting.
Saat saya katakan, “Saya tidak percaya pada Weda”, maksud saya adalah kalau saya tidak memandang kesaksian Weda sebagai sumber pengetahuan yang sah. Dengan kata lain saat saya mengatakan, “Saya tidak percaya pada Weda”, saya tidak mengatakan kalau setiap pernyataan dalam Weda itu salah. Adalah mungkin kalau ada beberapa pernyataan Weda yang benar setelah sejumlah besar riset yang penuh kesabaran. Namun saya tekankan kalau kebenaran atau kesalahan sebuah pernyataan secara logis independen dari apakah ia termuat atau tidak dalam Weda. Sebuah pernyataan benar bila ada kaitan antara keyakinan yang ia tunjukkan dengan fakta. Sebaliknya, ia salah. Jadi, sebuah pernyataan dapal Weda dapat benar, yaitu, bila ada kaitan antara keyakinan yang ia tunjukkan dengan fakta, tapi ia tidak benar karena ada dalam Weda. Saya secara kategoris menolak setiap argumen sebagai tidak sah dalam bentuk: “Pernyataan P termuat dalam Weda. Jadi, pernyataan P benar”.
Selain itu, saya juga menekankan kalau beberapa pernyataan dalam Weda telah jelas salah. Sebagai contoh, menurut Purusha-Sukta dari Rig Veda , Brahma, Ksatria, Waisya dan Sudra berasal dari mulut, tangan, paha dan kaki dari purusha atau sang pencipta. Saya secara kategoris menolak pernyataan ini sebagai salah. Saya mengatakan kalau varna-vyavastha adalah sebuah institusi sosial buatan manusia dan tidak ada kaitannya dengan pencipta dunia yang dianggap ada.
Saya juga menolak alasan yang dikedepankan untuk mendukung kesempurnaan Weda. Saya tidak memandangnya sebagai firman tuhan tidak pula memandangnya sebagai sesuatu yang abadi dan impersonal. Saya percaya kalau Weda dibuat, diucapkan dan ditulis oleh manusia. Pertanyaan kalau ia adalah firman tuhan tidak dapat berlaku, karena tidak ada alasan untuk percaya pada keberadaan tuhan. Keberadaan tuhan yang maha kuasa, maha tahu dan maha pengasih secara total tidak konsisten dengan keberadaan penderitaan dan kejahatan di dunia ini. Adalah mustahil bagi tuhan untuk ada. [11]
Serupa pula, Weda tidak dapat muncul sebelum manusia muncul di bumi, dan sebelum bahasa sanskrit muncul. Dan tidak ada alasan yang kuat untuk percaya kalau bahasa sanskrit muncul sebelum manusia muncul di muka bumi!
Sejauh Gandhi perdulikan, walau ia senang mengatakan dirinya sanatani hindu, ia pada kenyataannya tidak sepenuhnya hindu ortodoks. Sebagai contoh, dalam artikel yang dikutip sebelumnya dalam esai ini Gandhi menambahkan, “Saya tidak percaya pada ketuhanan eksklusif dari Weda. Saya percaya pada injil, Quran, Zend Avesta sama sucinya dengan Weda. Keyakinan saya pada kitab suci hindu tidak memerlukan saya untuk menerima setiap kata dan setiap ayat sebagai sebuah wahyu, saya lebih tidak percaya pada setiap penafsiran, seberapa terpelajarnyapun ia, bila ia berlawanan dengan nalar atau naluri moral.” "[12]
Saya meragukan sekali kalau posisi ini akan diterima seorang hindu ortodoks. Faktanya, posisi Gandhi menjadi sangat dekat dengan rasionalis dan humanis saat ia mengatakan kalau “saya lebih tidak percaya pada setiap penafsiran, seberapa terpelajarnyapun ia, bila ia berlawanan dengan nalar atau naluri moral.” Walau demikian, karena ia menolak banyak bicara kalau ia tidak percaya dalam otoritas Weda, Gandhi dapat dipandang, menurut pendapat saya, sebagai hindu liberal dengan pendekatan eklektik pada agama. Di sisi lain, posisi saya berbeda secara radikal dengan Gandhi, karena saya tidak memandang Weda atau injil, Quran dan Zend Avesta atau kitab lainnya sebagai wahyu.

Varna-vyavastha
Sebelum membahas varna-vyavastha atau varnashram dharma,saya jelaskan kalau saya tidak tertarik memberikan penjelasan saya sendiri mengenai apa itu varna-vyavastha atau seharusnya secara ideal. Saya tertarik, pertama, dalam memberi paparan objektif dari varna-vyavastha sebagaimana termuat dalam kitab hindu seperti Weda dan dharmashastra seperti Manusmriti; dan kedua, dalam menyebutkan alasan saya menolak varna-vyavastha. Dalam mewujudkan ini, saya akan berfokus pada aspek chaturvarnya (pembagian empat tatanan masyarakat) dari varna-vyavastha.
Kita telah mengetahui kalau referensi pertama pada varna (masyarakat kelas berdasarkan kelahiran atau kasta) ditemukan dalam Purusha-Sukta dari Rig Veda . referensi ke empat ashram atau tahap kehidupan, yaitu, Brahmcharya, Garhastya, Vanprashta dan Sanyas ditemukan dalam Upanisha. Ini, pada gilirannya, berkaitan dengan empat purusarthas atau akhir kehidupan, yaitu dharma (tugas), artha (kekayaan), kama (kepuasan nafsu inderawi) dan moksha (pembebasan). Diluar ini, upanisya melekatkan nilai maksimumnya pada sanyas ashram dan moksha purusartha, yang dipandang sebagai akhir tertinggi kehidupan. [13]
Sistem varnashram dharma dipakai oleh kitab hindu populer seperti Ramayana, Mahabharata dan Bhagvat-Gita. Di Ramayana, misalnya, Rama membunuh Shambuka hanya karena ia melakukan tapasya (latihan asketis) yang tidak boleh dilakukannya karena ia seorang yang lahir sebagai Sudra. [14]
Begitu juga dalam Mahabharata, Dronacharya menolak mengajari Eklavya cara memanah, karena ia bukan lahir sebagai Ksatria. Saat Eklavya, menjadikan Drona sebagai guru bangsanya, belajar memanah sendiri, Drona menyuruhnya memotong ibu jari kanannya sebagai gurudakshina (hadiah untuk guru) sehingga ia dapat menjadi pemanah yang lebih baik daripada siswa ksatria favoritnya, Arjuna!
Bhagvat-Gita yang disanjung-sanjung, juga mendukung varna-vyavastha .[15] Saat Arjuna menolak bertarung, salah satu kekhawatirannya adalah kalau perang akan membawa pada lahirnya varna-sankaras atau keturunan campuran antara varna berbeda dan keruntuhan keluarga murni. [16] Disisi lain, Khrisna mencoba memotivasi Arjuna bertarung dengan mengatakan kalau varna-dharma (kewajiban kasta) nya mesti dilakukan karena ia Ksatria. Faktanya, Khrisna menambah dengan mengklaim kalau ke empat varna diciptakan hanya olehnya. [17] Maka, masalah utama Arjuna adalah karena lahir sebagai Ksatria. Kalau ia seorang Brahmana atau Waisya atau Sudra sejak lahir, ia akan dihindarkan dari masalah bertarung dalam sebuah perang besar. Bahkan doktrin yang paling di puji dari niskama karma tak lain adalah pelaksanaan dari varnashram dharma seseorang secara tidak menarik. [18]
Teologian hindu ortodoks terkenal Shankar, juga, mendukung varna-vyavastha. Menurutnya, syudra tidak berhak memiliki pengetahuan filsafati. [19] Walau demikian, pemaparan paling jelas dari varnashram dharma ditemukan di Manusmriti, sebuah dharmashastra penting hindu. Mari kita berpindah kepadanya untuk melihat lebih dekat pada varna-vyavastha.
Manusmriti
Dalam bab pertama dari Manusmriti, jelas dikatakan kalau brahmana, ksatria, waisya dan sudra diciptakan oleh Brahma (pencipta alam ini) dari mulut, tangan, paha dan kakinya. [20]
Manu mengklaim kalau Brahma, sang pencipta dunia, juga menciptakan Manusmriti dan mengajarkan padanya. [21]
Tugas beragam Varna juga disebutkan dalam Manusmriti. Brahmana diciptakan untuk mengajar, belajar, melakukan yajna (pengorbanan seremonial), dilaksanakan yajnanya, memberi dan menerima dan (hadiah ).[22] Ksatria diciptakan untuk melindungi warga, memberi hadiah, dilaksanakan yajnanya dan belajar. [23] Waisya diciptakan untuk melindungi hewan, memberi hadiah, dilaksanakan yajnanya, belajar, berdagang, meminjamkan uang berbunga dan bertani. [24] Sudra diciptakan oleh Brahma untuk melayani Brahmana dan kedua varna lainnya tanpa boleh mengkritik mereka. [25]
Adalah menarik untuk mencatat kalau belajar, memastikan jalannya yajna dan memberi hadiah atau sedekah adalah tugas yang sama dari Brahmana, Ksatria dan Waisya, sementara mengajar, mendapatkan hadiah dan melakukan yajna khusus hanya untuk brahmana. Sudra, tentu saja, tidak berhak untuk belajar, dilaksanakan yajnanya oleh Brahmana atau bahkan memberi hadiah pada mereka.

Manusmriti lebih lanjut mengatakan karena ia berasal dari mulut Brahma, merupakan ketua dan kepala Weda, brahmana adalah para penguasa seluruh alam semesta. [26] Disamping itu, brahmana sendiri bertindak sebagai semacam kantor pos untuk mengirimkan makanan pada para tuhan dan arwah, para tuhan dan arwah memakan makanan lewat mulut brahmana (tampaknya karena mereka tidak punya mulut sendiri). Selanjutnya, tidak ada yang lebih superior dari para brahmana .[27] Semua yang lain dikatakan menikmati belas kasih brahmana .[28] Manusmriti jelas mengatakan kalau Brahmana sendiri ditugaskan mengajarkan dharmashastra ini dan tidak boleh orang lain. [29]
Manusmriti merujuk pada Weda, yang dipandang sebagai sumber sah utama pengetahuan mengenai dharma, sebagai shruti dan pada dharmashastra sebagai smriti. Tidak ada yang berargumen secara kritis mengenainya karena agama berasal darinya. [30]. Setiap nastika (kafir) atau kritik pada Weda, yang “menghina” mereka dengan landasan logika, berhak diboikot secara sosial oleh orang-orang “mulia”. [31]
Singkatnya, tampilan utama dari chaturvarnya sebagai mana dijelaskan dalam Manusmriti adalah sebagai berikut:
1. Pembagian masyarakat Hindu pada empat varna berlandaskan kelahiran. Dari pembagian ini, hanya tiga yang pertama, Brahmana, Ksatria dan Waisya, yang dikenal secara kolektif sebagai dwija (dua kali dilahirkan), berhak pada upanayan dan mempelajari weda. Sudra begitu juga wanita dari varna-varna dwija tidak berhak mempelajarinya.
2. Memberikan tugas dan pekerjaan berbeda untuk varna berbeda. Ini dipaksakan dengan keras oleh para raja. [32] Menurut Manusmriti, bila seseorang dari kasta rendah mengadopsi pekerjaan kasta tinggi, taja harus menyita semua hartanya dan membuangnya dari kerajaannya. [33]
3. Memperlakukan Brahmana sebagai superior dan varna lain, yaitu ksatria, waisya dan sudra inferior dalam urutan dengan sudra berada di dasar hirarki. Seorang brahmana diperlakukan seperti tuhan dan dihargai bahkan bila ia tidak perduli. Bahkan seorang ksatria berusia 100 tahun harus memperlakukan seorang brahmana berusia 10 tahun sebagai ayahnya. [34] Brahmana saja yang berhak mengajar. Bila seorang sudra berani memberikan pelajaran moral pada seorang brahmana, raja harus menghukumnya dengan menuangkan minyak panas ke telinga dan mulutnya. [35] Begitu juga, bila seorang sudra duduk di posisi yang sama dengan brahmana, ia harus di hukum dengan mencap pergelangannya dengan besi panas atau dengan dipotong pantatnya! [36]
4. Memperlakukan wanita tidak adil. Wanita, bahkan wanita yang bervarna brahmana, ksatria dan waisya tidak berhak membaca upanayan dan mempelajari weda. Bagi mereka, pernikahan sama dengan upanayan dan pelayanan pada suaminya sama dengan mempelajari weda dalam gurukul. [37] Bahkan bila sang suami tidak bermoral, berselingkuh dengan wanita lain dan tidak punya pengetahuan serta kualitas lain, sang istri mesti memperlakukannya seperti tuhan. [38] Seorang duda diperbolehkan menikah namun seorang janda tidak. [39] Selain itu, wanita tidak dipandang pantas untuk bebas dan independen. Mereka di lindungi di masa anak-anak oleh ayah, di masa remaja oleh suami dan dimasa tua oleh anak laki-laki. [40] Mereka tidak boleh diijinkan oleh pelindungnya untuk bertindak independen. [41] Seorang wanita tidak boleh melakukan apapun bahkan didalam rumahnya sendiri tanpa izin ayah, suami atau anak laki-lakinya yang menjadi pelindungnya. [42] Ia harus tetap dalam kendali ayahnya saat anak-anak, suami saat remaja dan anak laki-laki setelah kematian suaminya. [43]
5. Meperlakukan varna berbeda tidak sama untuk tujuan yang sah. Hukum hindu dikodikfikasi oleh Manu berdasarkan prinsip ketidak setaraan. Hukuman untuk suatu kejahatan tidak sama pada semua varna. Faktanya, hukuman beragam tergantung pada varna korban dan varna pelaku kejahatan. Untuk kejahatan yang sama, brahmana diberikan hukuman ringan sementara sudra diberi hukuman terberat. Begitu juga, bila korban kejahatan adalah sudra, hukumannya ringan, dan hukumannya berat bila korban adalah brahmana. Sebagai contoh, bila seorang brahmana terkena hukuman mati, cukup dengan mencukur rambutnya telah dianggap sama dengan hukuman mati, namun bagi ksatria, waisya dan sudra mereka harus dibunuh. [44] Bila seorang ksatria, waisya atau sudra memberi kesaksian palsu pada persidangan, ia dihukum dan diusir dari kerajaan, sementara brahmana tidak dihukum, ia hanya diusir saja. [45] Bila seorang berzinah dengan wanita bersuami dari varnanya sendiri, ia tidak di hukum. [46] Namun bula seorang dari varna lebih rendah berhubungan seks dengan wanita dari varna lebih tinggi, bersuami atau tidak, ia harus dibunuh. [47] Bila seorang brahmana memaksa seorang dwija bekerja untuknya, ia mesti di hukum. [48] Namun bila brahmana memaksa sudra bekerja untuknya, digaji atau tidak, ia tidak dihukum, karena sudra telah diciptakan hanya untuk melayani brahmana.[49] Bila seorang brahmana memukuli seorang sudra, ia mendapat hukuman yang ringan, [50] namun bila seorang sudra yang memukuli brahmana, ia harus dibunuh. [51] Di sisi lain, bahkan bila seorang brahmana membunuh seorang sudra, ia hanya melakukan penebusan dengan membunuh seekor kucing, katak, burung hantu, atau gagak, dll. [52] Jadi seorang sudra akan di bunuh karena memukuli seorang brahmana, sementara brahmana tetap dibiarkan bahkan kalau ia membunuh seorang sudra. Demikianlah ketidak adilan dalam Manusmriti.
Faktanya, sistem ketidakadilan ini tampak sangat mendasar bagi varna-vyavastha. Apakah pemilihan nama, [53] atau adat menyapa, [54] atau menghibur tamu,[55] atau metode memberi kesaksian dalam pengadilan, [56] atau proses pemakaman ,[57] pada setiap dan semua langkah dalam hidup, dari lahir hingga mati, sistem ketidakadilan ini diterapkan dan diawasi. Manu bahkan tidak melupakan tingkat bunga. Untuk meminjam dengan tingkat yang sama, ksatria harus membayar bunga lebih banyak daripada brahmana, waisya lebih dari ksatria dan penduduk miskin sudra membayar tingkat bunga maksimum! [58]
6. Melarang saling nikah antar varna. Menurut Manusmriti, seorang dwija mesti menikahi wanita dari varnanya sendiri.[59] Seorang wanita dari varna yang sama dipandang sebagai yang terbaik untuk pernikahan pertama. Tapi, seorang dwija boleh meikahi wanita dari varna inferior sebagai istri kedua bila ia memiliki nafsu seksual padanya. [60] Namun Manu sangat melarang brahmana dan ksatria memperistri wanita sudra bahkan sebagai istri kedua. Bila melanggar mereka dianggap sebagai sudra pula. [61]
7. Mendukung kekebalan juga merupakan bagian dari skema pelapisan sosial yang digariskan dalam Manusmriti. Manu jelas menyebutkan kalau Brahma, Ksatria dan Waisya , secara kolektif disebut dwija dan sudra adalah empat varna. Tidak ada varna kelima.[62] Ia menjelaskan asal usul kasta lain dengan mengatakan kalau mereka kasta varna-sankara, yaitu berasal dari saling campur antara beragama varna, baik dalam anuloma (pria varna atas dengan wanita varna bawah) dan pratiloma (pria varna bawah dengan wanita varna atas). [63] Sebagai contoh, kasta Nishad berasal dari hubungan anuloma antara pria Brahmana dengan wanita sudra ,[64] sementara kasta Chandala berasal dari pratiloma antara pria sudra dengan wanita brahmana. [65]
Manu tampaknya tidak setuju dengan hubungan pratiloma melebihi anuloma, karena ia menyatakan Chandala adalah kasta terendah dari kasta rendah. [66]
Mari kita lihat apa kata Manusmriti mengenai Chandala. Chandala, kata Manusmriti, tidak boleh tinggal di dalam desa. Saat mereka bekerja, mereka harus tinggal di luar desa, di tanah kremasi, di gunung atau perkuburan. Mereka tidak berhak memiliki sapi, atau kuda, dll. Mereka boleh memelihara anjing dan keledai. Mereka memakai jubah. Mereka makan dalam perabot bekas. Mereka memakai perhiasan dari besi, bukan emas. Mereka harus terus berpindah-pindah dari satu tempat, tidak boleh menetap di waktu lama. [67] Mereka tidak boleh bergerak di desa atau kota di waktu malam. Mereka boleh masuk ke desa atau kota di siang hari, dengan ijin raja, memakai simbol khusus (agar mudah dikenal), dan mengambil mayat yang tidak diklaim. [68]
Lebih lanjut, bagaimana orang religius berhadapan dengan Chandala? Ia tidak boleh memiliki hubungan sosial (pernikahan, perjamuan, dll) dengan mereka. Ia tidak boleh bicara atau bahkan melihat mereka! [69] Ia boleh meminta pembantu (tampaknya sudra) untuk memberi mereka makan dalam tempat bekas. [70]
8. Memberi hak suci dan sangsi religius pada varna-vyavastha. Manu memberi sangsi religius dan kesucian pada varna-vyavastha dengan mengklaim asal ilahiah dari varna dan juga untuk Manusmriti dan menuntut kepatuhan tanpa mempertanyakannya.
Maka ini melengkapi paparan saya mengenai varna-vyavastha. Saya ingin menekankan khususnya kalau pemaparan saya tidak membesar-besarkan sama sekali. Pembaca dapat memeriksa masing-masing dan tiap pernyataan dengan membandingkannya dengan Manusmriti asli untuk memuaskan diri. Saya tidak dapat membantu bila sistemnya begitu tidak adil dan begitu keluar jalur tanpa nilai yang bahkan pemaparan objektif sekalipun terbaca seperti pengutukan keras. Walau begitu, saya akan merubah alasan saya untuk menolak varna-vyavastha: saya menolak varna-vyavastha karena ia irasional, tidak adil dan tidak demokratis, berlawanan dengan demokrasi dan nilai kemanusiaan atas kebebasan, kesamaan derajat dan kecerdasan.
Kritik pada varna-vyavastha
varna-vyavastha bertentangan dengan nilai kebebasan karena ia menolak kebebasan memilih pekerjaan dan pasangan hidup dll. Setiap orang harus bekerja sesuai varnanya dan harus menikah dalam varna yang sama. Begitu juga, ia menolak kebebasan belajar bagi sudra dan wanita. Bahkan dwija harus belajar weda sebelum ia belajar yang lain. Bila tidak, ia akan menjadi seorang sudra.[71] (secara tidak sengaja, menurut Manusmriti, ada beberapa cara dimana brahmana atau dwija dapat menjadi sudra namun tidak ada jalan bagaimana seorang sudra dapat menjadi brahmana. Seorang sudra akan selalu menjadi sudra.)[72]
apa yang lebih buruk adalah Chandala bahkan ditolak kebebasannya untuk tinggal di sebuah tempat yang ia pilih atau memakai pakaian dan perhiasan yang ia pilih. Ia bahkan tidak bebas memilih hewan peliharaan.
Konflik antara varna-vyavastha dan nilai kesetaraan lebih dari jelas. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sistem ketidaksamaan berjenjang tampak menjadi intisari dari varna-vyavastha. Ia menolak penghormatan yang sama pada semua dalam masyarakat. Ia menolak kesamaan di depan hukum. Ia menolak hak yang sama untuk menikah. Ia menolak hak yang sama dalam pekerjaan. Pekerjaan guru dan pendeta, sebagai contoh, hanya untuk kaum brahmana. Akhirnya, ia juga menolak hak yang sama pada pendidikan dan pengetahuan.
Seorang brahmana, menurut Manu, tidak boleh mengajar sudra dan wanita bahkan bila ia mati dengan pengetahuannya tanpa memberikannya kepada orang lain. [73] Disisi lain, bila orang belajar Weda sendiri ia akan langsung masuk neraka. [74] Dengan kata lain, seratus persen pendidikan hanya untuk laki-laki dwija.
varna-vyavastha paling tidak adil pada sudra dan mereka yang tak tersentuh. Mereka ditolak rasa hormat, pengetahuan, kekuatan dan kekayaan. Mereka ditolak akses pada pekerjaan yang dianggap bermartabat, seperti halnya mereka ditolak akses pada pria dan wanita varna atas untuk pernikahan. Sudra diturunkan menjadi budak brahmana secara khusus dan dwija secara umum, dimana mereka yang tak tersentuh sebagai orang buangan – diluar masyarakat. Wanita pada umumnya diperlakukan sebagai objek seksual dan tidak cocok untuk mandiri dan bebas.
Sejauh kebijaksanaan dipertimbangkan, kita tidak akan menemukan ini ada dalam suatu masyarakat, yang sangat tidak adil dan tidak setara. Pergelangan seorang sudra dicap atau pantatnya di potong hanya karena ia duduk di tempat yang sama dengan brahmana. Orang religius tidak boleh berbicara atau bahkan melihat pada Chandala. Pernikahan antar varna dilarang. Manu tampaknya paling menjaga terjadinya pencampuran varna. Maka, aturan sosial hindu berdasar pada isolasi dan eksklusifitas varna.
Manusmriti tidak hanya menggariskan sistem sosial tidak demokratis dan tidak adil namun juga memberi sangsi religius pada institusi buatan manusia bernama chaturvarnya ini. Sebagian hindu, termasuk para “pemikir” dan penulis yang tampaknya terpelajar, berjuang memoles pandangan kalau hinduisme adalah agama paling toleran dan liberal di dunia.
Apakah ada agama lain, yang sangsinya perbudakan dan mereka yang tak tersentuh? Apakah ada agama lain dimana hanya karena seseorang lahir dalam kasta tertentu (Brahmana) langsung berpredikat pendeta?
Perbudakan tidaklah aneh di india atau pada hinduisme, namun membawanya pada ekstrim mereka yang tak tersentuh, dan memberikan sangsi religius dan suci adalah aneh bagi hinduisme.
Begitupula, sebagian hindu mungkin toleran, begitupula sebagian mereka tidak toleran, namun hinduisme atau agama hindu tidak toleran sama sekali, baik secara sosial maupun intelektual. Manusmriti, sebagai contoh, jelas mengatakan kalau siapapun berpendapat kritis dan logis mengenai dharmashastras harus dihukum. [75] Kafir, termasuk pemikir bebas, rasionalis dan buddhis, tidak dihibur secara hormat sebagai tamu: walau mereka diberikan makan. [76] Keluarga orang kafir dihancurkan
Keluarga orang kafir dihancurkan lebih awal dari pada sebelumnya menurut Manu. [77]. Sebuah keadaan dengan sejumlah besar sudra dan nastika segera menemukan kehancurannya [78] Manusmriti penuh dengan ayat penghancur untuk pemikir bebas dan kafir. Un ortodoks ( nastikas) kadang disetarakan dengan sudra, kadang dengan chandala, kadang dengan pencuri dan kadang dengan orang gila! [79] Demikianlah kebaikan dari Hindu dharma.
Apologi varna-vyavastha
Sekarang saya pertimbangkan apa kata apologis dari varna-vyavastha katakan untuk mempertahankannya.
Sebuah pertahanan standar dari varna-vyavastha adalah dengan mengatakan kalau ini merupakan sistem pembagian pekerjaan. Mudah meyakinkan kalau itu adalah pembagian pekerjaan yang penting dalam masyarakat yang rumit, namun mudah kalau kita melihat bahwa varna-vyavastha bukan sistem pembagian pekerjaan berdasarkan bakat dan kemampuan. Ia adalah sistem pembagian pekerjaan berdasarkan kelahiran. Selain itu, ia memiliki kaitan lain seperti perasaan superioritas dan inferioritas, ketidaksamaan dalam hukum, penolakan akses pada pengetahuan dan larangan saling nikah.
Apa hubungan ini semua dengan pembagian pekerjaan?
Pembagian kerja ditemukan dalam semua masyarakat, namun varna-vyavastha tidak. Maka, mencoba membenarkan kalau varna-vyavastha adalah pembagian kerja adalah salah.
Pertahanan standar lainnya dari varna-vyavastha adalah sistem demikian berasal dari perilaku dan kemampuan. Apakah ia sesungguhnya demikian adalah masalah riset sejarah. Paling mungkin, teori rasial dari asal usul kasta itu benar. Walau begitu, bahkan bila kita menjamin demi argument kalau varna-vyavastha pada asalnya berdasarkan pada perilaku dan kemampuan, apakah ia membantu? Kita tidak dapat katakan kalau karena sistemnya berasal dari masa lalu berdasarkan perilaku dan kemampuan, maka kita akan menderita sistem saat ini yang berdasarkan pada kelahiran. Tidak masuk akal sama sekali!
Dalam kasus manapun, Manusmriti mungkin ditulis antara 200 SM dan 200 M [80] dan sistem yang digariskannya seluruhnya berdasarkan kelahiran. Gautam Buddha, yang hidup sekitar abad keenam SM menantang ketidak salahan Weda dan juga varna-vyavastha. Ada beberapa ayat dalam Tripitaka, terutama dalam Digha Nikaya dan Majhima Nikaya yang langsung terarah melawan klaim brahmana sebagai asal yang berbeda dari manusia lainnya, lahir dari mulut brahma, memiliki hak prerogatif sejak lahir untuk mengajar, memandu dan mengatur secara spiritual masyarakat lainnya.” [81] Dalam Majhima Nikaya Buddha dikutip sebagai menolak varna-vyavastha pada beberapa kejaidan. Menurut Buddha, tidak masuk akal memutuskan posisi seseorang dan fungsinya dalam masyarakat berdasarkan kelahirannya dalam suatu kasta. Buddha juga dikutip sebagai telah memaksakan kalau dimata hukum semua orang harus diperlakukan sederajat, tidak melihat kasta atau varna dimana ia lahir. [82] Jadi, jelas kalau bahkan bila sistem varna-vyavastha pernah ada dalam wujud idealnya – yang diragukan – ia telah meluruh dimasa buddha, yaitu, sekitar 2500 tahun lalu.
Pertahanan terkokoh dari varna-vyavastha, adalah mengatakan kalau manusia dilahirkan tidak sama, jadi, adalah alami dan normal bagi anak untuk meneruskan pekerjaan orang tuanya. Mengejutkan dan menyedihkannya, bahkan Gandhi mempertahankan varna-vyavastha dalam bentuk seperti ini.
Mengutip Gandhi: "Saya yakin kalau setiap orang lahir di dunia dengan beberapa kecenderungan alami. Setiap orang dilahirkan dengan batasan tertentu yang tidak dapat diatasinya. Dari pengamatan yang hati-hati pada batasan itu hukum varna dihasilkan. Ia menentukan bidang aksi tertentu bagi orang yang pasti dengan kecenderungan yang pasti. Ini menghindari semua kompetisi yang tidak perlu. Sambil mengenali batasan ini, hukum varna mengakui tidak ada perbedaan tinggi dan rendah; di satu sisi ia menjamin masing-masing buah pekerjaannya dan di sis lain ia mencegahnya menekan tetangganya. Hukum agung ini telah meluruh dan jatuh pada perdebatan. Namun kesaksian saya adalah sebnuah aturan sosial ideal hanya akan berevolusi saat implikasi hukum ini dipahami dan dilaksanakan sepenuhnya”. [83]
Kembali , “Saya menilai Varnashrama sebagai pembagian kerja yang sehat berdasarkan kelahiran. Gagasan kasta masa kini adalah penyimpangan dari aslinya. Tidak perlu ditanyakan lagi mengenai superioritas dan inferioritas. Ini murni pertanyaan tentang tugas. Saya memang menyatakan kalau varna berdasarkan kelahiran. Namun saya juga mengatakan kalau adalah mungkin bagi sudra, misalnya, untuk menjadi waisya. Namun untuk melakukan tugas waisya ia tidak memerlukan label waisya. Ia yang melakukan tugas brahmana akan dengan mudah menjadi brahmana dalam inkarnasi selanjutnya.” [84]
Jadi , varna-vyavastha, menurut Gandhi, adalah sebuah pembagian kerja yang sehat berdasarkan kelahiran dan mengurus kecenderungan alami manusia dan menghindari kompetisi yang sia-sia.
Ini tampak sebagai pertahanan kuat dari varna-vyavastha yang faktanya, paling tidak ilmiah. Dikenal luas dan faktanya sah secara ilmiah kalau ciri keahlian tidak diwariskan secara biologis, hanya kualitas genetik yang ditransmisi dari satu generasi ke generasi lain. Sebagai contoh, tukang kayu adalah ciri keahlian; sama halnya dengan pengetahuan filsafat merupakan kualitas keahlian. Seorang anak tukang kayu atau filsuf tidak dilahirkan dengan pengetahuan tentang kayu atau filsafat. Ini adalah pengetahuan yang diperoleh lewat belajar, bukan warisan biologis. Bila kadang, tidak selalu, seorang anak tukang kayu menjadi seorang tukang kayu atau anak filsuf menjadi filsuf besar, bukan karena ia lahir dengan pengetahuan tersebut, namun karena lingkungan di rumahnya mendukungnya, yang membuat mereka meraih keahlian ini. Hasilnya akan berbeda bila mereka tinggal di lingkungan sebaliknya.
Anda dapat mengatakan kalau melalui pengetahuan perkayuan atau filsafat tidak diwariskan secara biologis, kualitas mental yang memungkinkan pengetahuan prasyarat diwariskan. Sebagian kualitas fisik dan mental, tidak diragukan lagi, diwariskan namun ini tidak berarti orang tua dan anak mereka selalu identik dalam kualitas mental dan fisik. Adalah fakta yang jelas – siapapun dapat memeriksanya dengan pengamatan yang hati-hati – kalau lewat permutasi dan kombinasi kromosom dan gen berbeda keturunan dari orang tua yang sama tidak selalu identik satu sama lain atau dengan orang tua mereka. Lebih sering lagi, mereka berbeda. Sebagai contoh, satu anak dari orang tua yang sama dapat tinggi sementara satunya lagi pendek. Warna kulit, rambut dan mata mungkin berbeda pula. Yang benar bagi ciri fisik juga sama benar dengan kualitas mental. Maka, seorang anak bisa atau tidak bisa memiliki ciri mental yang dimiliki ayahnya.
Jadi, sepenuhnya tidak ilmiah memaksakan membatasi anak pada pekerjaan orang tuanya.
Adalah benar kalau semua manusia tidak setara dalam hal identik secara fisik atau mental. Namun ini tidak berarti kalau kita mesti menolak kesamaan kesempatan mengikuti pekerjaan pilihan kita atau menolak kesamaan didepan hukum dan dalam harga diri sebagai manusia di dalam masyarakat.
Sejauh untuk kompetisi tanpa manfaat, bagaimana kita tahu kalau kompetisi itu sia-sia kecuali semuanya diberikan kesempatan yang sama? Ambil contoh Gandhi sendiri. Ia adalah berkasta bania. Namun, walau ia mendukung varna-vyavastha berdasarkan kelahiran dan mengkaitkan politik dengan agama, ia diterima baik sebagai pemimpin bangsa. Akan menjadi kerugian besar bila negara menyingkirkannya atas nama kompetisi “sia-sia” dalam politik. Bila ini terjadi, Gandhi seharusnya menjadi seorang pedangang toko kelontong. Begitu pula, Dr. B.R. Ambedkar lahir dari kasta “yang taktersentuh”, namun ia berperan penting dalam menyusun undang-undang dasar kemerdekaan india. Ia juga mengajar di sebuah universitas. Memakai istilah varna-vyavastha, ia mampu melakukan pekerjaan seorang brahmana.

Apakah mungkin mrmbayangkan berapa banyak Ambedkar yang akan lenyap dari kita bila kita menerapkan varna-vyavastha?
Seperti telah kita ketahui, varna-vyavastha adalah sistem stratifikasi sosial tanpa cakupan mobilitas sosial naik. Mengutip M. Haralambos, pengarang buku teks sosiologi, “Seseorang yang merupakan jati orang tuanya dan secara otomatis mengikuti pekerjaan jati dimana ia dilahirkan. Jadi tidak peduli apa perilaku dan kapasitas secara biologis dari seorang yang tak tersentuh, tidak ada jalan ia dapat menjadi brahmana. Kecuali dianggap kalau gen superior secara permanent berada dalam kasta brahmana, dan tidak ada bukti kalau ini benar,maka mungkin tidak ada hubungan antara ketidaksamaan berdasarkan genetik dan sosial pada masyarakat hindu tradisional.” [85]
Kembali ke Gandhi. Walau Gandhi melawan ketidak sentuhan dan kasta, ia tidak membawa oposisinya ke kesimpulan logikanya. Cukup tidak konsisten, ia terus mendukung varna-vyavastha berdasarkan kelahiran. Pada satu tahap, ia bahkan mendukung pembatasan saling jamuan dan saling nikah. Sebagaimana ia menulis dalam Young India tahun 1921, “Hinduisme secara empatis menolak saling jamu dan saling nikah antar bagian… bukan tugas Hindu untuk menjamu dengan anak laki-lakinya. Dan dengan membatasi pilihan pernikahan pada kelompok tertentu, ia melakukan batasan diri yang langka. Pelarangan melawan saling nikah dan saling jamu adalah penting untuk evolusi cepat jiwa.” [86]
Kemudian Gandhi berpindah dari gagasan ortodoks ini, dan mulai mendukung pernikahan antar kasta. Akhirnya tahun 1946, ia menolak pernikahan pada Sevagram Ashram kecuali salah satu pihak adalah yang tak tersentuh. [87] Mungkin ia akan juga menyerahkan varna-vyavastha bila ia hidup cukup lama. Yaitu dalam relung imajinasi, faktanya adalah Gandhi mendukung varna-vyavastha. Tidak ada artinya kalau ia menemukan konsepnya sendiri mengenai varna-vyavastha, yang, menurutnya, tidak ada hubungannya dengan perasaan superioritas dan inferioritas atau dengan larangan saling nikah. Kita menemukan kalau Gandhi adalah campuran antara konservatisme dan reformisme.
Saya ingin membuang keberatan terakhir sebelum menyimpulkan bagian ini. Anda dapat mengatakan kalau hukum hindu masa kini berbeda dengan yang diinginkan Manu, dan saat ini hindu secara umum tidak mengikuti aturan Manu. Ini benar. Hukum hindu masa kini, misalnya, membolehkan pernikahan antar kasta dan melarang bigami dan pernikahan anak. Ia mengijinkan perceraian. Ia mengijinkan pernikahan janda dan memberi hak yang sama pada anak perempuan atas warisan ayah. Tapi, tampak ada celah antara hukum hindu progresif dan praktek sosial konservatif hindu. Mayoritas pernikahan hindu masih di dalam kasta dan sedikit sekali wanita hindu yang sungguh-sungguh mengklaim warisan ayahnya.
UUD india memiliki hal khusus, seperti penjagaan layanan kasta, suku dan kelas sosial atau pendidikan lain yang terbelakang, untuk membuat mereka memasuki pekerjaan dan posisi kekuatan, yang telah secara tradisional ditolak bagi mereka. Tidak diragukan, sebagian besar kasta tinggi hindu liberal, juga, mendukung kebijakan penjagaan ini. Namun, secara luas, kasta atas hindu jauh dari mendukung sepenuhnya kebijakan ini adalah bukti dari gerakan anti reservasi oleh mahasiswa kasta atas dari waktu ke waktu. Jenis agitasi reaksional ini bertugas menjaga dominasi saat ini dari kasta atas pada pendidikan dan layanan lain yang dinikmati dan didukung serta mendapat simpati dari media yang di dominasi kasta atas begitu juga akademia.
Secara keseluruhan, masyarakat hindu masih dihantui oleh roh Manu. Kasta berdasarkan kelahiran dan ketidak tersentuhan masih ada pada masyarakat hindu, walau fakta kalau ketidak sentuhan telah dihapuskan oleh UUD india. Persebaran pendidikan, kekuatan dan kekayaan terus tidak seimbang dalam masyarakat hindu, dengan dwija di atas dan sudra serta mereka yang tak tersentuh di dasar. Mengajar tidak lagi menjadi hak eksklusif dari brahmana, namun pekerjaan pendeta hindu masih merupakan hak brahmana, walau fakta ini tidak memunculkan protes anti-reservasi.
Moksha, Karmavada and Avatarvada
Moksha secara tradisional dipandang sebagai akhir kehidupan dalam agama hindu. Siklus lahir dan mati tanpa akhir dipandang sebagai ikatan dimana manusia harus memperoleh pembebasan, yaitu moksha atau mukti.
Seluruh konsep perbudakan dan pembebasan ini berdasarkan pada anggapan tidak terbukti dari hidup sesudah mati dan keberadaan jiwa (atma) yang terus ada terlepas dari badan setelah kematian. Dalam ayat-ayat terkenal Gita, jiwa berganti raga sebagaimana manusia berganti pakaian. [88]
Sekarang, tidak ada alasan untuk meyakini adanya jiwa atau hidup sesudah mati atau kelahiran kembali. Keyakinan ini sama sekali tidak didukung oleh bukti ilmiah yang tidak kontroversial. Menurut S.N. Dasgupta, "jarang sebelumnya atau setelah buddha adanya usaha serius untuk membuktikan atau menyangkal doktrin kelahiran kembali. Usaha membuktikan doktrin kelahiran kembali dalam karya filsafat hindu seperti Nyaya, dll adalah dangkal dan tidak cukup.” [89]
Walaubegitu, bahkan sebelum Buddha, Lokayat telah membuktikan ketiadaan jiwa, hidup sesudah mati, kelahiran kembali, neraka dan surga secara empiris, karena hal-hal ini tidak pernah dialami. [90]
Maka, tanpa adanya bukti lawan, adalah masuk akal mempercayai kalau masing-masing kita hanya memiliki satu kehidupan. Saat orang mati, ia mati selamanya. Tidak pernah lahir kembali. Pikiran, kesadaran, ingatan dan hidup tidak dapat bertahan dari kehancuran otak dan tubuh. Ini adalah kebenaran yang pahit, karena kita tidak menyukainya.
Keyakinan adanya jiwa tampak berasal dari animisme primitif. [91] Bila keyakinan ini terus dipertahankan, walaupun tidak adanya bukti mendukungnya, ia hanya karena manusia tidak mampu menghadapinya secara berani, kenyataan mengenai kematian. Seseorang senang percaya kalau orang yang dekat dan ia cintai, yang telah mati dan selesai selamanya, sesungguhnya terus hidup di semacam dunia khayal, dan kalau mereka akan lahir kembali suatu saat. Seseorang menarik kenyamanan dari pikiran kalau seseorang tidak akan mati bahkan setelah kematian, dan terus hidup dalam bentuk lain. Ini sebuah paradoks kalau, pertama, takut mati dan cinta kehidupan membuat seseorang siap menerima keyakinan keabadian dan kelahiran kembali jiwa tanpa bukti yang cukup, dan, kemudian, menjadikan siklus hidup dan mati ini sendiri menjadi tujuan utama agama! [92]
Masalah terlepas dari siklus hidup dan mati adalah pseudo masalah (dalam artian seseorang yang berusaha menyingkirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada) dan moksha adalah ideal khayal yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Bukannya mengejar khayalan ideal moksha, lebih baik berkonsentrasi pada memperbaiki dan memajukan kehidupan satu-satunya kita, yang kita miliki.
Mimamsa, yang merupakan mazhab pemikiran hindu ortodoks, memandang pencapaian surga (swarga) bukannya moksha, sebagai ujung tertinggi kehidupan. Referensi pada surga dan neraka juga ditemukan dalam Manusmriti. Keyakinan adanya surga menyebar luas pada tingkat populer. Walau demikian, ideal pencapaian surga juga, berdasarkan anggapan tidak terbukti, seperti hidup sesudah mati dan keberadaan surga, dan berarti, tidak dapat diterima.
Doktrin lain terkait keyakinan hindu adalah karmavada atau hukum karma. Menurut doktrin ini, setiap manusia mendapat buah tindakannya di masa kini atau dalam kehidupan selanjutnya. Apapun manusia dalam kehidupan saat ini adalah hasil dari tindakannya sendiri di masa lalu atau kehidupan selanjutnya.
Hal ini, kembali, sebuah dotrin yang sepenuhnya tidak terbukti dan tidak dapat dibuktikan berdasarkan anggapan dari “siklus lahir dan mati”. Ia hanya alat kenyamanan untuk menjelaskan ketidak setaraan dalam masyarakat manusia. Gagasan karma ditemukan dalam buddhisme dan jainisme pula. Walau begitu, agama-agama ini tidak mendukung varna-vyavastha. Namun dalam hinduisme doktrin karma, bersama dengan gagasan tuhan, telah dipakai untuk memberikan dukungan ideologis pada varna-vyavastha yang tidak adil agar membuatnya terlihat adil. Dalam hinduisme hukum karma hanya menjadi pengesah varna-vyavastha yang tidak adil dengan menjadikan sudra dan mereka yang tak tersentuh menerima posisi rendah mereka sebagai hasil perbuatan mereka sendiri dalam hidup sebelumnya yang khayal, dan dengan menjanjikan mereka hidup yang lebih baik di kehidupan selanjutnya bila mereka melakukan varna-dharma mereka dengan baik di kehidupan sekarang. [93] Dengan cara ini, doktrin ini mencegah mereka memberontak melawan sistem tidak demokratis buatan manusia ini, yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan masa lalu dan masa depan.
Terakhir, saya tiba pada doktrin hindu avatarvada. Menurut doktrin ini, kapanpun agama terancam di dunia ini, tuhan menurunkan seorang avatar untuk mengembalikan keteraturan. Rama dan Khrisna adalah contoh dari avatar oleh hindu.
Keyakinan pada avatarvada, juga, secara logika tidak terbukti dan hanya membuat orang lari dari tanggung jawab. Bukannya berusaha memperbaiki kondisi mereka sendiri, mereka yang percaya pada avatarvada terus menunggu datangnya avatar. Karena tuhan tidak ada, tidak perlu ditanyakan lagi kalau mungkinkah ia lahir di bumi sebagai avatar. (Saya tambahkan kalau saya juga tidak percaya dalam kebenaran pernyataan seperti ”Yesus adalah putra tuhan” atau ”Muhammad adalah utusan tuhan”.)
Tidak hanya saya tidak menganggap kalau Rama atau Krisna atau siapapun sebagai avatar dari tuhan, saya juga tidak memandang mereka sebagai kepribadian yang ideal. Rama, seperti yang saya telah sebutkan sebelumnya, adalah pemegang teguh varna-vyavastha. Perilakunya yang kejam dengan Sinta, setelah berperang dengan Rahwana agar ia terlepas, terlalu terkenal untuk diabaikan. [94]
Krishna, disisi lain, dijelaskan dalam Mahabharata sebagai guru dari Bhagvat Gita , kitab yang menjelaskan doktrin yang tidak benar dan menyakitkan seperti kepercayaan adanya tuhan dan jiwa yang abadi, avatarvada, karmavada, varnashram dharma dan doktrin moksha.
Dalam Mahabharata Krishna mengadopsi dan menyarankan ketidak adilan seperti berbohong dan berkhianat untuk mencapai akhir seseorang. Jelas, ia tidak percaya pada doktrin kesucian. Ada beberapa kelemahan moral dalam karakter krisna seperti dijelaskan dalam Mahabharata, Bhagvat dan Harivamsa. Hal ini telah didaftar oleh Dr. Ambedkar dalam karyanya The Riddle of Ram and Krishna . saya rekomendasikan pembaca yang tertarik untuk membaca buku ini. [95]
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, saya secara kategoris menolak keyakinan utama hindu termasuk doktrin ketidaksalahan Weda, varnashram dharma , moksha, karmavada, dan avatarvada. Saya bukan penggemar Rama dan Krisna, dan saya tidak percaya penyembahan tuhan atau tabu dalam hindu tidak memakan daging. Saya mendukung pemikiran logis dan ilmiah; dan sebuah moralitas sekuler rasional berdasarkan nilai kebebasan, kesetaraan dan kebajikan manusia. Jadi, saya bukan seorang hindu, walau saya hindu saat lahir.
Catatan akhir
[1] S. Radhakrishnan, The Hindu View of Life (Bombay: Blackie & Son (India) Ltd., 1979), p. 12.

[2] Ibid., p. 14.

[3] Ibid., pp. 16-17.

[4] M.K.Gandhi, "Aspects of Hinduism" in Hindu Dharma (New Delhi: Orient Paperbacks, 1978), p. 9.

[5] Ninian Smart, "Hinduism" in The Encyclopedia of Philosophy (ed. in chief, Paul Edwards) Vol. IV (New York: Macmillan Publishing Co., Inc. & The Free Press, 1972), p.1.

[6] S.N.Dasgupta , A History of Indian Philosophy , Vol. 1 (Delhi: Motilal Banarsidass, 1975), pp. 67-68.

[7] Chatterjee and Datta, An Introduction to Indian Philosophy .

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] S.N.Dasgupta, Op. Cit., p. 394.

[11] Saya telah membahas pertanyaan keberadaan tuhan dalam buku kecil saya berbahasa hindi Kya Ishwar Mar Chuka Hai? (Patna: Bihar Buddhiwadi Samaj, 1985, 1995). See, Is God Dead? (An introduction to Kya ishwar mar chuka hai? ) [Patna: Buddhiwadi Foundation, 1998]

[12] M.K.Gandhi, "Aspects of Hinduism" in Hindu Dharma , pp. 9-10.

[13] A.L.B., "History of Hinduism" in The New Encyclopaedia Britannica , Vol. 8 (Chicago: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1981), pp. 910-11.

[14] B.R. Ambedkar , Dr. Babasaheb Ambedkar Writings and Speeches, Vol. 4, Riddles in Hinduism (Bombay: Education Department, Government of Maharashtra, 1987), p. 332.

[15] Y.Masih, The Hindu Religious Thought (Delhi: Motilal Banarsidass, 1983), pp. 192-93.

[16] Bhagvad-Gita I: 40,41, 42,43.

[17] B.G. IV: 13.15.

[18] Y.Masih, Op.Cit., p.208, Also see, pp. 224-25.

[19] V.P.Verma, Modern Indian Political Thought (Agra: Lakshmi Narain Agarwal, 1991), pp. 50-51.

[20] Manusmriti (MS) I: 31.

[21] MS I:58.

[22] MS I:88.

[23] MS I:89.

[24] MS I: 90.

[25] MS I: 91.

[26] MS I: 93, Also see, X: 3.

[27] MS I: 95.

[28] MS I: 101.

[29] MS I: 103.

[30] MS II: 10,13.

[31] MS II: 11.

[32] MS VIII: 410.

[33] MS X: 96. Also see, Kautilya, Arthshastra I: 3, Quoted by J.N. Farquhar in An Outline of the Religious Literature of India ( Delhi: Motilal Banarsidass, 1984), p. 44.

[34] MS II: 135.

[35] MS VIII: 272.

[36] MS VIII: 281.

[37] MS II: 67.

[38] MS V: 154.

[39] MS V: 168,157.

[40] MS IX: 3.

[41] MS IX: 2.

[42] MS V: 147.

[43] MS V: 148.

[44] MS VIII: 379.

[45] MS VIII: 123.

[46] MS VIII: 364.

[47] MS VIII: 366.

[48] MS VIII: 412.

[49] MS VIII: 413.

[50] MS VIII: 268.

[51] MS VIII: 267.

[52] MS XI: 131.

[53] MS II: 31,32.

[54] MS II: 127.

[55] MS III: 111,112.

[56] MS VIII: 88.

[57] MS V: 92.

[58] MS VIII: 142.

[59] MS III: 4.

[60] MS III: 12.

[61] MS III: 14,15,16,17,18,19.

[62] MS X: 4.

[63] MS X: 25.

[64] MS X: 8.

[65] MS X: 12.

[66] Ibid.

[67] MS X: 50,51,52.

[68] MS X: 54,55.

[69] MS X: 53.

[70] MS X: 54.

[71] MS II: 168.

[72] MS VIII: 414.

[73] MS II: 113; X: 1.

[74] MS II: 116.

[75] MS II: 11.

[76] MS IV: 30.

[77] MS III: 65.

[78] MS VIII: 22.

[79] MS III:150, 161; IX: 225. Dari sudut pandang humanis, tidak ada yang salah bila terlahir sebagai sudra atau chandala, namun dalam konteks manusmriti, ini adalah sebaliknya.

[80] Manusmriti (Varanasi: Chaukhambha Sanskrit Sansthan, 1982), pp. 10-11.

[81]A.K.Warder, Indian Buddhism (Delhi: Motilal Banarsidass, 1980),p.163.

[82] Y.Masih, The Hindu Religious Thought, pp. 336-37.

[83] Nirmal Kumar Bose, Selections from Gandhi ( Ahmedabad: Navajivan Publishing House, 1972), p. 265.

[84] Ibid., p. 263.

[85] M.Haralambos, Sociology Themes and Perspectives (Delhi: Oxford University Press, 1980) pp. 27-28.

[86] N.K.Bose, Op.Cit., p. 266.

[87] Louis Fischer, Gandhi (New York: New American Library, 1954), pp. 111-12, Also see, N.K.Bose, Op.Cit., p. 267.

[88] B.G. II: 20-25.

[89] S.N. Dasgutpa, A History of Indian Philosophy , Vol. I, p. 87.

[90] Chatterjee and Datta. An Introduction to Indian Philosophy .

[91] See M.N.Roy, "The Transmigration of Soul" in India's Message ( Delhi: Ajanta Publications, 1982), pp. 4-6.

[92] Mungkin “siklus hidup dan mati” dipandang sebagai perbudakan karena ia akan membawa pada kematian lagi dan lagi. Jadi, pada dasarnya doktrin pembebasan tampak sebagai reaksi melawan kematian.
[93] "Mereka yang perilakunya telah disenangi akan segera mendapatkan kelahiran yang menyenangkan, lahir sebagai brahmana atau ksatria atau waisya, namun mereka yang melakukan hal yang buruk dan terlarang akan segera dilahirkan hina, menjadi anjing, babi atau orang buangan.” Brihadaranyaka, dikutip oleh J.N. Farquhar, An Outline of the Religious Literature of India , p. 34, Also see, S.N.Dasgupta, Op. Cit., p. 363.

[94] See, my "Why I do not want Ramrajya" in Why I am Not a Hindu & Why I do not want Ramrajya (Patna: Bihar Rationalist Society, 1995).

[95] B.R. Ambedkar, Dr. Babasaheb Ambedkar Writings and Speeches , Vol. 4, Riddles in Hinduism.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License