Dekonversi Dari Deisme

Dave Clarke
Saya tidak dilahirkan secara religius, walau saya piker orang tua saya percaya pada semacam tuhan. Mungkin bukan tuhan injil, namun tuhan deisme, yaitu yang menciptakan segalanya lalu pergi – tuhan yang tidak terlibat dalam urusan sehari-hari manusia.
Saya ingat pergi ke gereja mungkin tiga kali dalam seluruh hidup saya hingga saya 18 tahun. Agama jarang dibahas dalam rumah tangga kami.
Saya mendapat indoktrinasi instant pada kehidupan religius saat saya kuliah. Pacar pertama saya di kampus (dan selama hidup saya, sesungguhnya) merupakan kristen yang terlahir kembali dan menceritakan pada saya kalau hal terpenting dalam hidupnya adalah hubungannya dengan Yesus. Ia cukup fanatik juga. Saya ingat kalau ia pernah berkata kalau setan menyerangnya dengan pikiran kotor saat ia mengemudi ke kampus suatu hari dan ia berteriak ”Tuhan dibelakang saya Setan!” sambil mengemudi. Lalu ia bercerita kalau ia yakin kalau ia akan masuk surga setelah mati dan tampak perduli dengan fakta kalau saya tidak yakin tentang ini. Jadi kata saya, Yeaa, itu penting juga bagi saya.” saya ceritakan padanya kalau saya akan baik-baik saja dengan Yesus, dll. Setelah ia hamil (dari saya), ia memutuskan ikut aborsi, dan kemudian, menderita perasaan bersalah yang besar karena berdosa, ia menyalahkan saya dan memutuskan saya, mengatakan kalau saya tidak sereligius yang ia kira. Ini membuat saya frustasi, dan berpikir kalau saya kristen, segalanya akan baik-baik saja. Saya sangat depresi dan memutuskan menyerahkan hidup saya pada tuhan berpikir kalau Ia akan membawakan seseorang pada saya. Keyakinan ini lenyap tak lama kemudian.
Saya lalu masuk militer dan bertemu gadis cantik (Heather0 yang belajar menjadi katolik. Saya menghadiri gereja bersamanya beberapa kali. Saudaranya seorang pendeta fundamentalis yang memberinya banyak pertanyaan untuk menjadi katolik yang beriman. Saya ingat kalau ia mengatakan bahwa katolik bukanlah benar-benar religius, dll. Saya bersamanya (semangat Dave!) dan mulai membaca injil dan berdoa dengannya dan teman-temannya agar ”Yesus masuk dalam hidup saya”. Well, tidak ada konversi, hanya serangan rasa bersalah yang besar pada jenis musik apa yang mesti saya dengarkan, acara TV apa yang mesti saya tonton, buku apa yang mesti saya baca. Saya pernah membaca kalau setan ada di mana-mana dan saya harus berhati-hati! Yeaah, benarkaaah? Segala yang saya peroleh adalah ketidaksenangan, kebingungan, dan seperti yang sudah saya katakan, rasa bersalah dan terasing dari sebagian besar agama ini. Saya rasa seluruh episode ini juga menyumbang pada perceraian saya dengan Heather. Kami bertengkar masalah agama berkali-kali.

Dekonversi saya, terjadi karena dua buku. Satu adalah buku yang memberi saya pandangan pada pikiran orang-orang yang percaya hal-hal seperti piring terbang atau alien (saya tidak ingat judulnya tapi pengarangnya adalah Jacques Vallee) dan karya DR Carl Sagan berjudul "The Demon Haunted World." Karya terakhir merupakan jalan bebas hambatan saya menuju skeptisisme, yang merupakan cara berpikir yang sepenuhnya baru bagi saya. Saya akhirnya menemukan darimana asal keyakinan agama saya. Saya menemukan pemikiran berharap. Saya menemukan sains merupakan cara yang jauh lebih baik, lebih berguna.saya menjadi skeptic religius, seorang non teis. Dan tebak, saya jauh lebih bahagia sekarang. Hidup begitu menarik dan nikmat dengan skeptisisme. Membaca mengenai bagaimana kita “tahu” membawa saya kesenangan besar, dan memberi saya arah yang positif dan baru. Terima kasih, Carl dan teman-teman!

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License