Dekonversi Dari Agnostic

"Dustin Martinez"

agnostisisme adalah jurang paling mudah untuk orang kafir. Tentu saja, ia adalah jurang. Agnostisisme, walau secara logis terdengar sah karena tidak memberi klaim, kadang berbatasan dengan hal-hal absurd.
Sebagai contoh, bila anda mengatakan pada agnostic gagasan gajah terbang immaterial di langit yang menghasilkan hujan dan memakan awan, mereka akan menerima klaim konyol ini sebagai sebuah kemungkinan. Karena mereka tidak dapat membuktikan gajah terbang immaterial itu tidak ada (karena ada di dunia imaterial) , mereka mengakui kalau ini sebuah kemungkinan.
Tentu saja, saya menjadi seorang ateis saat saya menyadari kalau agnostik hanyalah orang dungu yang tidak memahami konsep kemungkinan sesuatu yang tidak memiliki konsekuensi.
Sebagai contoh, bila sesuatu tidak pernah dapat diamati atau dipahami, tidak ada alasan untuk mengakui keberadaannya. Kenapa anda mengatakan sesuatu ada bila anda tidak paham Apa ia SESUNGGUHNYA? Bagaimana anda dapat bahkan mengatakan ia ada bila anda tidak akan pernah dapat memahaminya? Agnostik bersedia memberi para teis keuntungan dari keraguan, dan menerima kalau adalah mungkin sesuatu yang mereka tidak pahami untuk eksis. Itu tidak masalah, tapi mengapa harus begitu? Memakai otak kita sepenuhnya, kita harus mempertimbangkan HANYA hal-hal yang kita DAPAT amati, membuang waktu pada omong kosong imaterial adalah permainan menebak seorang yang bodoh.
Agnostic menganggap bahwa ateis mengetahui bahwa : ada bukti kalau tuhan tidak ada.
Sebagai seorang ateis, saya tidak mengakui hal ini. Apa yang saya ketahui adalah tidak ada bukti kalau tuhan ada. Tidak ada pula bukti kalau tuhan tidak ada. Faktanya, semua bukti mahluk demikian tidak ada sangatlah alami. Ia dapat diamati secara rasional. Ia MENGATASI pengetahuan manusia. Karena ia sesuatu yang kita tidak akan pernah pahami, saya anggap ia tidak ada. Kenapa saya harus menganggap sesuatu ada bila saya tidak akan perah dapat memahami apa itu?
Masalah dengan agnostisisme, adalah ia tidak punya pendapat. Ia menerima segalanya sebagai sebuah kemungkinan. Sebagai cara berpikir, ini adalah filosofi yang sangat dangkal. Seperti halnya mungkin saja tuhan ada, mungkin saja leprechaun atau unicorn atau wisnu atau gajah melayang di langit. Anehnya, saya menemukan sebuah mode keyakinan yang membuka pikirannya pada absurditas, hampir pada titik dalam menerima kontradiksi sebagai kemungkinan, adalah sepenuhnya konyol.
Dan itulah mengapa saya tidak menjadi seorang agnostik.
• Kenapa saya bukan kristen, itu sudah jelas: saya tidak percaya ada gajah terbang berwarna ungu, kenapa pula saya mesti percaya tuhan ada? Keyakinan kalau tuhan ada itu lebih tidak logis ketimbang keyakinan pada adanya gajah terbang, jika boleh saya katakan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License