Cerita penciptaan
Table of Contents

Agama yg diakui di Indonesia

Cerita penciptaan menurut: Islam, Kristen, Hindu, Buddha

Kepercayaan tradisional Indonesia

Kalimantan selatan

Dunia diciptakan dengan membentangkan bumi di atas kepala ular raksasa yang berenang di samudera purba. Seorang tuhan turun ke situ dan menemukan tujuh telur. Dari tujuh telur ini, 2 diantaranya berisi laki-laki dan perempuan, tapi tidak hidup. Sang Tuhan kembali ke langit, meminta tuhan pencipta napas menghidupkan mereka. Jadilah mereka leluhur umat manusia.

Dua pohon di bumi yang baru diciptakan kawin dan menghasilkan sebuah telur, yang menetas menjadi perawan bayangan. Tuhan turun ke bumi dan melihat perawan tanpa jiwa ini dan memberinya nyawa lalu pergi. Tuhan lain datang, mengumpulkan tanah untuk mempercantik tubuhnya, hujan untuk darahnya dan angin untuk napasnya, maka sempurnalah ia. Saat tuhan pertama kembali, ia melihat yang telah terjadi, ia marah dan merusak kapal yang ia bawa, sehingga air kehidupan di dalamnya tumpah kesegala arah, mengairi semua tanaman sehingga pohon-pohon yang tumbang tegak kembali. Sayangnya sang manusia tidak mendapat percikan air itu dan tidak menjadi abadi. Manusia itu adalah manusia pertama di bumi. Ular, harimau dan hewan liar lain tercipta dari tubuh Angoi. Tuhan yang memberi nafas pada manusia. Saat tuhan lain, yangingin menjadikan manusia abadi marah dan menyerang Angoi dan membunuhnya, memotong-motong tubuhnya dan menyebarkannya, jadilah potongan-potongan ini hewan-hewan buas.

Pada versi lain, Pada awalnya sama dengan di atas, hanya kali ini ada dua telur saja. Satu menetas sebagai laki-laki dan satunya lagi perempuan. Keduanya ML dan sang perempuan melahirkan 7 anak perempuan dan 7 anak laki-laki, yang tidak hidup. Atas perintah tuhan, sang suami mencari benih kehidupan. Saat pergi ia melarang istrinya menjemur kelambu, tapi sang istri membandel. Saat itulah bertiup angin ke arah anak-anak mereka dan mereka mendadak hidup. Satu versi mengatakan kalau pada awalnya hanya ada langit dan laut, dimana ular raksasa berenang dengan mahkota emas dikepalanya yang memiliki batu bersinar. Dari dunia langit, tuhan melemparkan tanah ke kepala ular, menjadi pulau di tengah samudera; dan pulau ini menjadi dunia. Versi lain mengatakan mereka mengirim utusan untuk melaporkan kondisi dan adalah utusan ini yang menyebarkan tanah di kepala ular. Versi lain dari daerah yang sama merupakan transisi dari mitos penciptaan dari sumatera. Menurut kisah ini, di dunia para tuhan, ada dua pohon, satu yang berbuah berbentuk bola. Dengan gerakan seekor burung, yang duduk di pohon ini, buah itu jatuh ke sungai roh, dimana tinggal ular raksasa; namun saat ular raksasa itu ingin menelan buah itu, buah itu lepas dan sampai ke pantai, berubah menjadi wanita. Ia menikahi seorang laki-laki yang muncul dari tunggul pohon yang hanyut di laut. Ia melahirkan pertama, enam sungai darah dari mana semua roh jahat dating; dan akhirnya dua anak laki-laki, salah satunya membawa benih semua tanaman dan hewan, turun dari dunia atas, dimana semua peristiwa ini terjadi, ke bumi (yang asalnya tidak disebutkan)

Referensi:

1. SCHWANER, C. A. L. M., Borneo. Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het zuid-oost gedeelte van het eiland. 1837-47. 2 vols. Amsterdam, 1853.
2. Ular dengan batu mulia di kepalanya sering muncul dalam kisah-kisah nusantara: Sulawesi tengah lihat ADRIANI, N., dan KRUIJT, A. C., "Van Poso naar Mori," in MNZG xliv. 135-214 (1900). p. 158; Kepulauan Sangir, Adriani, 1894, "Sangireesche teksten met vertaling en aanteekeningen," dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indië. xliv. 1-168, 386-449, 461-524. p. 33. Ia juga muncul dalam kisah dari Malaysia: Malaka, SKEAT, W. W., 1900, Malay Magic, being an Introduction to the Folklore and Popular Religion of the Malay Peninsula. London, 1900, p. 303 dan di India CROOKE, W., Popular Religion and Folklore of Northern India. 2 vols. Westminster, 1896.143. Dari sini jelas kalau gagasan ini berasal dari India.
3. HUPE, P., "Korte verhandelingen over de zeden enz. der Dayaks," in TNI viii, part 3, pp. 127-72, 245-80 (1846).

Batak Toba

Mula Dyadi, tuhan tertinggi, berada di tempat tertinggi di tujuh langit dan memiliki pelayan dua ekor burung. Setelah menciptakan tiga manusia laki-laki, ia menciptakan sebuah pohon di salah satu langit yang rendah, cabangnya mencapai langit; selanjutnya tiga wanita yang dijadikan sebagai istri untuk ketiga anaknya. (versi lain mengatakan ketiga anak laki-laki itu lahir dari tiga telur kupu-kupu raksasa dan mereka mendapat tiga istri yangdikirim Mula Dyadi dari langit). Anak perempuan salah satu anak ini menolak menikahi sepupunya karena ia berwajah seperti kadal dan kulit seperti bunglon, dan mengabdikan waktunya menenun. Satu hari ia menjatuhkan jarumnya, yang jatuh dari dunia langit. Dengan benang yang terhubung ke jarum, ia turun ke permukaan laut yang membentang tanpa batas di bawah. Di samudera purba ini berenang seekor ular raksasa yang kepalanya ditaburkan segenggam tanah yang ia bawa atas permintaannya pada Mula Dyadi lewat pelayan burungnya, dan dengan demikian ia menciptakan dunia. Sang ular, tidak menyukai beban di kepalanya, dan berbalik, menyebabkan dunia yang baru diciptakan ini musnah menyatu dengan lautan. Maka Mula Dyadi menciptakan delapan matahari, yang panasnya akan mendidihkan lautan, dan saat ini sedang berjalan, sang wanita menusukkan pedangnya ke tubuh sang ular, yang tersingkap oleh laut yang menyurut dan mengikatkan dirinya kuat-kuat di sebuah kepulauan agar ia tidak lagi menghancurkan dunia. Dengan lebih banyak tanah, ia membuat lagi bumi; namun setelah ia bertanya bagaimana nasib remaja yang dijodohkan padanya. Mula Dyadi memutuskan kalau ia harus menikahinya, dan menggulungnya bersama sebuah senapan panah dalam karpet dan melemparkannya ke bumi. Ia selamat dan merasa lapar, ia menembak seekor merpati yang lepas tanpa terluka, namun menangkap panah itu dengan sigap dan terbang ke desa dimana sang wanita tinggal. Mengikutinya, sang remaja menemukan gadis yang dulu menolaknya, mendekatinya dan menikahinya, dan jadilah mereka leluhur umat manusia.

Referensi :

1. WARNECK, J., Religion der Batak. Leipzig, 1909. KÖDDING, W., "Die batakschen Götter und ihrer Verhältnis zum Brahmanismus," in Allgemeine Missions zeitschrift, xii. 402-09, 475-80 (1885).
2. PLEYTE, C. M.,1894, Bataksche vertellingen. Utrecht , 1895, "An unpublished Batak Creation Legend," in JAI xxvi. 103-13.

Rotti

Langit, pada asalnya sangat rendah, lalu dinaikkan saat enam dari tujuh matahari asali terbunuh. Kisah yang sama juga ditemukan pada Dayak Dusun, Nias dan Loeang-Sermata.

Referensi:

1. EVANS, I. H. N., "Folk Stories of the Tempassuk and Tuaran Districts, British North Borneo," in JAI xliii. 422-80 (1913).
2. HUPE, P., "Korte verhandelingen over de zeden enz. der Dayaks," in TNI viii, part 3, pp. 127-72, 245-80 (1846).
3. SUNDERMANN, H., 1912, "Dajakkische Fabeln und Erzählungen," in BTLV lxvi. 169-215.
4. CHATELIN, L. N. H. A., "Godsdienst en bijgeloof der Niassers," in TTLV xxvi. 109-68 (1881).
5. RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.

Halmahera

Seorang pesuruh Tuhan membuat dua bentuk dari tanah, satu laki-laki dan satu perempuan. Saat mereka sudah dibuat, Tuhan turun dan memberi napas kehidupan. Saat tuhan itu pergi, tuhan lain datang dan menghancurkan dua bentuk itu. Sang pesuruh membuat lagi dua bentuk dan lagi-lagi di hancurkan. Ia kesal dan mengambil tahi Tuhan itu dan membentuk dua ekor anjing. Anjing-anjing itu ditugaskan menjaga dua bentuk manusia yang ia buat lagi. Kali ini ia berhasil dan akhirnya jadilah dua bentuk itu leluhur manusia setelah ditiup dengan napas kehidupan.

Referensi:

1. KRUIJT, A. C., 1906, Het Animisme in den Indischen Archipel. 's-Gravenhage, 1906.
2. VAN BAARDA, M. J., "Het Loda'sch in vergelijking met het Galela'sch dialect op Halmaheira. Gevolgd door Loda'sche teksten en verhalen," in BTLV lvi. 317-496 (1904).

Toraja

Manusia diciptakan dari batu

Referensi
KRUIJT, A. C., 1906, Het Animisme in den Indischen Archipel. 's-Gravenhage, 1906.

Minahasa

Manusia diciptakan dari tanah, satu laki-laki dan satu perempuan, yang dihidupkan dengan meniupkan jahe bubuk ke kepala dan telinganya.

Versi lain dari minahasa:
Sebuah batang kayu hanyut dan terdampar di pantai. Terbelah oleh Tuhan dan seorang tuhan keluar darinya. Ia adalah Tuhan sekaligus leluhur umat manusia.

Masih versi lain dari minahasa:
Diawalnya angin bertiup di laut dan membuat gelombang besar, menghantam pantai, busanya berujud telur, matahari menyinarinya dan menetas menjadi anak laki-laki, yang tumbuh ajaib. Suatu hari, ia berjalan menyusuri pantai, ia melihat seorang gadis yang duduk di atas batu tempat ia dilahirkan. Ia memperistri sang gadis dan jadilah mereka nenek moyang manusia.

Referensi:

HICKSON, S. J., A Naturalist in the North Celebes: Narrative of Travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with Notices of the Fauna, Flora and Ethnology of the Districts Visited. London, 1889.

Bugis dan Makassar

Anak tuhan langit menurunkan pelangi sehingga ia dapat mengatur dan menyiapkan dunia bagi umat manusia. Setelah selesai, ia memperistri 6 tuhan wanita 3 turun dengannya dari dunia atas dan 3 berasal dari bumi atau dari dunia bawah, dan jadilah ia nenek moyang manusia.

Referensi:

1. WILKEN, G. A., 1884, "Het Animisme bij de volken van den Indischen Archipel," in De Indische Gids, vi, part I, pp. 13-58, 925-1000; part 2, pp. 19-100, 19I-242.
2. KRUIJT, A. C., 1906, Het Animisme in den Indischen Archipel. 's-Gravenhage, 1906.

Kei

Ada tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan di dunia langit. Saat memancing, Parpara, si bungsu, menghilangkan mata pancing yang ia pinjam dari Hian, si sulung, yang marah karena kehilangan mata pancing. Hian menuntut agar mata pancing itu ditemukan dan dikembalikan. Setelah pencarian tanpa hasil, Parpara bertemu ikan yang bertanya apa masalahnya. Ikan itu mempelajari faktanya kemudian ikut menolong hingga akhirnya mereka menemukan ikan lain yang kesakitan karena sesuatu menyangkut ditenggorokannya. Benda itu adalah mata pancing yang hilang. Kemudian mata pancing itu dibawa si ikan ke parpara dan parpara mengembalikannya ke hian. Parpara ingin membalas hian, maka ia secara rahasia menyimpan wadah bamboo penuh air kelapa di bawah ranjang Hian sedemikian hingga saat ia bangun, air itu akan tumpah. Parpara menuntut agar air itu dikumpulkan. Hian dengan susah payah berusaha mengumpulkannya, dan menggali ke dalam tanah yang akhirnya tiba di dasar dunia langit. Para bersaudara heran dan turun. Waktu saudari erempuan terakhir turun, salah seorang saudara laki-laki mengintip, sang saudari malu dan menarik tali sehingga 3 saudara laki-laki dan satu saudari perempuan tertinggal di bumi. Mereka jadi nenek moyang manusia.

Referensi:

1. RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.
2. PLEYTE, C. M., 1893, "Ethnographische beschrijving der Kei eilanden," in Tijd. Nederl. Aardrikskundig Genootschaap, 2nd series, x. 561-86, 797-840.
3. Bagian pertama mitos, yaitu insiden hilangnya mata pancing dan penemuannya tersebar luas di Indonesia, selain kepulauan Kei, juga di Halmahera, Sumba, Sulawesi dan Sumatera. Diduga mitos ini berasal dari Jepang (CHAMBERLAIN, B. H., "Kojiki or Records of Ancient Matters," in Trans. Asiat. Soc. Japan, suppl. Vol. x. (1882).pp. 119 ff.) dan pantai barat laut Amerika ( F. Boas, Indianische Sagen von der Nord-Pacifischen Küste Amerikas, Berlin, 1895, pp. 94, 99, 149, 190, 238, 254, 289, and cf. S. T. Rand, Legends of the Micmacs, New York, 1894, p. 87).

Tontemboan, Minahasa

Menurut bentuk mitos ini, pada awalnya hanya ada lautan dan batu besar yang disapu oleh gelombang, dan setelah, melahirkan bangau, berkeringat, dari keringatnya menghasilkan tuhan wanita yang disebut Lumimu-ut (Loeang-Sermata). Dinasehati oleh bangau itu akan keberadaan “negeri asali”, dia mengambil kemudian dua genggam tanah yang ia sebarkan di atas batu, dan maka ia menciptakan dunia, dimana ia menanam benih semua tanaman dan pohon, agar mirip dengan “negeri asali”. Setelah menciptakan bumi, lumimu-ut naik ke gunung, lalu angina barat bertiup dan membuatnya hamil. Seiring waktu ia melahirkan seorang anak laki-laki, dan saat ia telah tumbuh menjadi dewasa ibunya menyuruhnya mencari istri, namun sejauh ia mencari, ia tidak menemukan satupun. Maka Lumimu-ut memberinya tongkat yang panjangnya sama dengan tinggi badannya, memintanya mencari wanita yang harus lebih pendek dari tinggi tongkat ini, dan bila ia menemukan wanita demikian, maka ia ditakdirkan untuk menikahinya. Ibu dan anak ini kemudian berpisah, satu pergi ke kanan dan satu ke kiri, dan mereka keliling dunia hingga akhirnya bertemu kembali, tanpa saling kenal, dan saat sang anak mencocokkan tinggi badan ibunya dengan tongkat, tinggi badan ibunya telah lebih pendek dari tongkat, karena tanpa sepengetahuannya, tongkat itu bertambah panjang. Karena itu, maka ia pun menikahi sang ibu, dan mereka melahirkan banyak anak yang kemudian menjadi tuhan.

Referensi:

1. SCHWARZ, J. A. F., and ADRIANI, N., Tontemboansche teksten. 3 vols. Leyden, 1907,
2. GRAAFLAND, N., De Minahassa; haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Eene bijdrage lot de land- en volkenkunde. 2 vols. Rotterdam, 1867-69,
3. KRUIJT, A. C 1906, Het Animisme in den Indischen Archipel. 's-Gravenhage, 1906,
4. JUYNBOLL, H. H., "Pakewasche teksten," in BTLV xlv. 315-28 (1895).
5. RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.
6. DAVIDSON, J. W., The Island of Formosa; Past and Present. London, 1903.

Nias

Manusia diciptakan dari buah atau biji pohon yang tumbuh dari jantung mahluk hidup pertama, lalu bermacam tuhan keluar dari buah lain dari bagian pohon atas. Saat dua buah terbawah masih sangat kecil, Latoere berkta pada Barasi-Loeloe dan Balioe, buah-buah paling bawah ini milikku. Tapi Balioe berkata "Kalau kau bisa membuat manusia dari buah-buah ini, mereka milikmu, jika tidak , tidak bisa,". Latoere tidak berhasil, Lowalangi mengirim alat ke Barasi- Loeloe dan dengan alat inipun, ia tidak bisa membuat manusia selain jasadnya. Tapi ia bisa membuat jasad laki-laki dan jasad perempuan. lowalangi lalu memberi Balioe angin, dan mengatakan, "latakkan semua angin itu ke mulut manusia. Bila ia terserap semua, ia akan abadi, bila sebagian saja, maka umurnya tergantung pada jumlah angin yang masuk." Balioe melakukan perintah Lowalangi dan memberi kedua manusia ini nama. Jadilah mereka manusia pertama di bumi.
Versi lain dari Nias mengatakan kalau pada awalnya ada kegelapan pekat dan kabut. Kabut ini berkondensasi dan menjadi mahluk hidup tanpa suara dan gerakan, tanpa tangan, kaki dan kepala. Mahluk ini menciptakan mahluk lainnya yang kemudian mati. Dari jantung mahluk ini kemudian keluar sebuah pohon yang menumbuhkan tiga set biji masing-masing berisi tiga bij. Dari dua set pertama, keluar 6 mahluk. Dari set terakhir, 2 biji mengeluarkan laki-laki dan perempuan. Leluhur umat manusia. Matahari dan bulan dibentuk dari kedua mata mahluk tanpa tangan dan kaki, dimana dari jantungnya tumbuh pohon dari benih dimana manusia dan tuhan berasal.

Referensi:

1. CHATELIN, L. N. H. A., "Godsdienst en bijgeloof der Niassers," in Tijdschrift voor indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TTLV) xxvi. 109-68 (1881).
2. SUNDERMANN, H., 1884, "Die Insel Nias und die Mission daselbst," in Allgemeine Missionsschrift, xi. 345-54, 408-31, 442-60. (Reprinted, Barmen, 1905.)
3. MODIGLIANI, E., Un viaggio a Nias. Milan, 1890.

Batak Karo

Batara Guru, tuhan langit dan istrinya, anak dari tuhan bawah tanah, bersedih karena tidak punya anak, mereka mengembara dengan hidup miskin di tepi laut. Disini mereka membuat sebuah taman kecil, yang dihancurkan oleh ular besar yang keluar dari laut. Saat batara guru mengusirnya, sang monster menuntut makanan. Tangannya hampir putus dimakan kalau saja Batara guru tidak melukai mulut ular itu dengan pedangnya. Saat tangannyadicabut dari mulut ular, dijari tangannya terdapat cincin ajaib. Dengan cincin itu, batara guru menjadi mampu membuat anak. Ia membuat 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan bersama istrinya. Satu dari anak laki-lakinya menciptakan dunia yang diletakkan di antara dunia langit dan dunia bawah. Dengan terciptanya dunia manusia ini, dunia bawah menjadi gelap. Akibatnya, saudara laki-lakinya yang tinggal di dunia bawah marah. Ia menghancurkan dunia manusia ini. Sang anak pencipta ini membuat lagi dunia baru. Tapi tetap juga dihancurkan. Hal ini berulang hingga tujuh kali dunia di ciptakan dan tujuh kali pula di hancurkan. Akhirnya sang anak menemui Batara Guru untuk minta bantuan. Ayahnya memberikan sebuah tiang besi untuk menopang bumi dengan 4 sinar saling silang. Sejak saat itu, bumi tidak lagi dapat dihancurkan dari bawah tanah oleh saudara sang pencipta bumi.

Referensi:

1. WESTENBERG, C. J., "Aanteekeningen omtrent de godsdienstige begrippen der Karo-Bataks," in Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indië.(BTLV) xli. 208-53 (1892).
2. DE HAAN, C., "Verslag van eene Reis in de Bataklanden," in Verh. Bat. Gen. K. & W. xxxviii. 1-57 (1875).
3. PLEYTE, C. M.,1894, Bataksche vertellingen. Utrecht

Batak Dairi

Sang batara guru mengirimkan utusannya untuk mencari makanan yang diinginkan istrinya yang sedang mengidam, namun sang utusan itu tidak berhasil. Batara guru lalu mengirim gagak, namun ia juga tidak menemukan makanan apapun di dunia langit. Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah gua, dimana ada sebuah lobang yang dasarnya tidak terlihat. Tali terpanjang masih terlalu pendek untuk mengukur kedalamannya, dan sebuah tongkat yang dilemparkan kedalamnya hilang tanpa suara. Penasaran ingin tahu, sang gagak terbang ke dalam lobang dan setelah penerbangan lama sekali dalam kegelapan, ia akhirnya tiba di sebuah permukaan samudera. Setelah begitu letih, sang gagak ingin kembali untuk melaporkan penemuannya, namun ia tidak ingat jalan keluarnya, walau untungnya, ia menemukan sebuah bamboo yang mengambang di atas lautan yang telah ia lempar dari lubang tadi, dan disinilah ia dapat beristirahat.

Sementara itu Batara Guru menjadi tidak sabar, dan ditemani beberapa pengawal, ia terbang turun memasuki mulut goa, membawa dari dunia langit segenggam tanah, tujuh potong kayu, sebuah pahat, seekor kambing dan seekor lebah; dan mencapai permukaan laut, ia membuat rakit dari potongan-potongan kayunya. Sang gagak muncul, duduk di atas potongan bamboo yang mengapung, dan atas permintaannya Batara Guru memanggil ke delapan arah mata angina, yang membuat kegelapan segera memberi tempat untuk cahaya. Dengan perintahnya sang kambing, ditemani dengan lebah, turun ke bawah rakit untuk menopangnya dengan tanduknya; namun saat menyelesaikan rakit itu, pahatnya patah, dan jatuh mengenai kepala sang kambing, yang membuatnya bergoyang kuat, dan rakit ikut bergoyang, dan sang tuhan memerintahkannya untuk tetap diam. Maka mengambil segenggam tanah yang ia bawa, Batara Guru menyebarkannya di atas rakit, menciptakan dunia dan memberikan tempat bagi sang gagak untuk tinggal

Setelah Batara Guru menciptakan Bumi, ia mengirim seekor layang-layang ke bumi. Burung ini pulang karena tidak mau menetap dan mempopulasi bumi. Batara guru meminta anak-anaknya untuk mempopulasi bumi, tapi tidak satupun yang mau meninggalkan khayangan. Batara Guru lalu meminta burung layang-layangnya mengambil segumpal tanah basah dari bumi. Dari tanah itu, Batara Guru membuat satu laki-laki dan satu perempuan lalu menjemurnya hingga kering. Setelah mengeras, ia mengucapkan mantra tujuh kali sehingga mereka bernapas. Setelah itu, Batara Guru mengucapkan lagi mantra lain tujuh kali sehingga mereka dapat berbicara . Mereka berkata "Mengapa engkau berkata begitu keras, kakek, apa keinginan kakek?" dan Batara Guru menjawab, "Aku memanggil kalian karena Aku menciptakan kalian agar kalian dapat berbicara. Jangan lupa kalau Aku kakek kalian. Patuhi perintahKu dan jangan pernah mengikuti yang lain". Pasangan ini berjanji, mereka turun ke bumi dan menjadi manusia pertama di bumi.

Referensi:

VAN DER TUUK, H. N., Bataksche Leseboek, vierde stuk. Amsterdam, 1862, PLEYTE, C. M.,1894, Bataksche vertellingen. Utrecht,

Dayak Baram dan Rejang

Setelah dua burung, Iri dan Ringgon, menciptakan bumi, tanaman dan hewan mereka memutuskan membuat manusia. Pertama, mereka membuatnya dari tanah liat, tapi saat dikeringkan mereka tidak dapat bergerak atau berbicara sehingga dihancurkan. Lalu manusia dibuat dari kayu keras, tapi hasilnya manusia yang sangat bodoh dan tidak berguna. Lalu kedua burung itu mencari bahan bagus dengan hati-hati dan memilih kayu dari pohon kumpong, yang seratnya kuat dan getahnya berwarna merah pekat. Dari kayu ini dibuatlah dua manusia, satu laki-laki dan satu eprempuan. Kedua burung pencipta ini terkesan dan bangga dengan ciptaannya. Lalu mereka memutuskan untuk membuat lagi manusia lebih banyak. Mereka mencari pohon kumpong lagi. Tapi saat mereka akan membuatnya, mereka lupa rumus dan pola yang tepat untuk membuat manusia. Akibatnya apa yang mereka ciptakan tidak sesempurna manusia dan menjadi orang utan (Maia) dan monyet.

Dayak Sakaram

Sama dengan di atas, hanya saja terbalik, yang gagal dengan kayu dan yang berhasil dengan tanah liat.

Dayak Iban

Dikisahkan bahwa pada awalnya hanya ada laut. Lalu diatasnya melayang Ara dan Iri, yang berupa burung jantan dan betina. Serentak mereka menciptakan dua telur raksasa dan dari telur ini keluarlah langit dan bumi. Dalam kaitan antara pohon dan burung, diceritakan tentang seseorang bernama Siu yang berburu sepanjang hari tanpa mendapatkan seekor burungpun. Siu kemudian menemukan banyak burung di sebuah pohon ara. Ia mengumpulkan burung-burung ini. Saat pulang, ia tersesat dan tiba di rumah panjang milik Senggalang Burong. Setelah berjanji tidak menceritakan keberadaan tempat ini, Siu dan Senggalang Burong menikah. Darinya ia mendapat anak bernama Seragunting. Seragunting diajarkan beragam kepandaian oleh orang tuanya dan kemudian ilmu ini diturunkan pada seluruh keturunannya yang menjadi suku Iban. Melalui kelahiran Seragunting, dimulailah genealogi makhluk mistik dengan kodrat ilahi, yang dalam garis keturunan selanjutnya melahirkan makhluk mistik dengan kodrat manusiawi sebagai nenek moyang suku Iban.

Referensi :

Laubscher, Mattias, 1977. Iban and Ngaju kognitive Studie Zur Konvergenzen in Weltbild and Mythos, tom Harrison zur Gedaechtenis

Dayak Dusun

Sama dengan di atas, hanya percobaan pertama dengan batu dan kedua dengan tanah liat dan yang kedua ini berhasil.

Dayak Kanayatn

Dalam mitos kejadian dikatakan kalau pada awalnya pusat alam semesta berupa vorteks. Pada mula pertama bumi itu indah seperti tikar dan langit seperti payung terbuka. Saedo adalah nama bumi dan Saeda adalah nama langit. Kemudian bumi berguncang dan langit gemetar. Dari bumi dan langit kemudian memancar bulan dan matahari, dari mereka kemudian keluar Kacau Balau dan Badai. Proses genealogi terus berlanjut. Kacau Balau dan Badai memperanakkan Udara Mengawang dan Embun Menggantung. Lalu dua anak ini melahirkan Pandai Besi dan Sang Dewi. Lalu dari mereka lahir Segala Air dan Segala Sungai. Dari kedua Segala ini lahir Bambu dan Perpohonan. Mereka lalu memperanakkan Tumbuhan merambat dan umbi-umbian. Dan dua yang terakhir ini melahirkan Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga. Mereka menikah dan melahirkan Anterber dan Galeber. Kedua orang inilah yang menjadi leluhur suku Kanayatn.

Mitos lain mengatakan kalau suatu ketika Moyang Maha Penguasa bersin sehingga terciptalah danau/air amutn (embun) dan danau/air duniang. Setelah beberapa kali bersin, dan setiap bersin merubah ujud sebagian dari danau, terciptalah manusia pertama. Mitos ini unik karena tidak melibatkan perkawinan dalam mitenya.

Referensi :

Vierling, Herman. 1990. Hermeneutic Stammersreligion Interkulturelle Komunikation bei den Kendayan, Goetersioher Verlaghaus, Gerd Mohn.

Dayak Bahau

Versi lain mengatakan pada awalnya ada seekor laba-laba yang turun dari langit, memintal jarring, dan menangkap batu yang jatuh dan tumbuh dan tumbuh hingga memenuhi ruang hingga ke cakrawala. Lumut kerak lalu jatuh dari langit ke atas batu, yang kemudian menyatu, lalu dating seekor cacing, yang menciptakan tanah pertama dengan memakan batu itu. Tanah ini menumpuk dan kemudian jatuh ke bumi dari atas batu, menjadi pohon, yang awalnya kecil, lalu tumbuh besar. Seekor kepiting lalu jatuh ke bumi dan dengan capitnya men menggali dan mengaduk tanah, membentuk pegunungan dan lembah. Tanaman tumbuh di bumi, dan sebuah tanaman merambat, mengelilingi pohon, menikahinya. Akhirnya, satu laki-laki dan satu perempuan, turun dari langit lewat pohon itu, sang laki-laki menjatuhkan gagang pedang dan sang wanita menjatuhkan jarum. Kedua benda ini kawin dan melahirkan anak yang hanya punya kepala dan badan, tanpa tangan dan kaki; dan monster ini menghasilkan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan, yang kawin dan melahirkan keturunan yang seiring waktu semakin mirip manusia hingga akhirnya sepenuhnya mirip manusia. Mereka dan keturunannya lalu menjadi tuhan-tuhan dalam segala jenis.

Referensi:

1. FURNESS, W. H., 2ND, Folk-Lore in Borneo: a Sketch. Wallingford, Pa., 1899.
2. NIEUWENHUIS, A. W., Quer durch Borneo. 2 vols. Leyden, 1904.

Dayak Kenyah

Diceritakan kalau manusia diciptakan oleh Bungan Malan dengan kayu aran. Dari cerita tradisi ini, kayu aran menjadi lambang kehidupan bagi manusia dan memiliki nama “kayu udiep” (pohon kehidupan). Mitos lain yang mendapat pengaruh Iban mengatakan kalau Raja Petara bersama istrinya menciptakan langit dan bumi, namun bumi ternyata lebih besar dari langit sehingga dijadikannya sungai, gunung, lembah dan sebagainya. Manusia diciptakan dari Pisang Bangkit dan darahnya dari getah pohon kumpang yang berwarna merah. Istri Raja Petara berseru kepada ciptaannya ini maka hiduplah mereka. Selain itu, dari Pisang Rura yang dikawini oleh Burung Iri, lahirlah ikan-ikan. Hampir di semua suku ada mite yang menempatkan air atau sungai sebagai unsur penentu dalam suatu peristiwa penciptaan.

Referensi :

Laubscher, Mattias, 1977. Iban and Ngaju kognitive Studie Zur Konvergenzen in Weltbild and Mythos, tom Harrison zur Gedaechtenis

Dayak Kayan

Menurut Kayan, pada awalnya tidak ada apa-apa kecuali lautan purba dan langit yang melengkung, namun dari langit jatuh batu besar, dengan permukaan gersang, seiring waktu, lender terkumpul, dimana cacing-cacing lahir dan mengebor batu itu. Pasir yang dihasilkan oleh pengeboran ini berkumpul dan menutupi batu itu dengan tanah, setelah bertahun-tahun jatuh dari matahari pedang bergagang kayu, yang kemudian tumbuh akar, menjadi pohon; sementara dari bulan, jatuh sebuah tanaman merambat yang naik ke pohon dan berakar di atas batu. Dari perkawinan ini lahirlah seorang anak laki-laki dan anak perempuan, mereka menjadi nenek moyang Kayan.

Dua keturunan monster tanpa tangan dan kaki yang diturunkan dari gagang pedang dan jarum yang jatuh ke bumi, tepat di atas kulit kayu dan dari sini terciptalah burung dan anjing.

Versi lain dari Kayan mengatakan kalau hewan liar dan ikan tercipta dari daun dan ranting pohon ajaib.

Dayak Ngaju

Mite penciptaan dimulai dengan perang suci di alam tengah antara Tingang Betina dan Tembarirang yang memperebutkan buah-buahan Batang Garing. Keduanya adalah ciptaan dari Mahatara, penguasa alam atas, dan Jata, penguasa alam bawah, yang sepakat menciptakan alam tengah. Akibat peperangan ini segalanya hancur, dan terciptalah alam semesta baru dan isinya, termasuk sepasang insan, Putir Kahukum Bungking Garing dan Manyamei Limut Garing Balua Unggon Tingang. Mereka melahirkan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen dan Maharaja Buno. Maharaja Buno lah yang kemudian menjadi leluhur umat manusia.

Referensi :

Laubscher, Mattias, 1977. Iban and Ngaju kognitive Studie Zur Konvergenzen in Weltbild and Mythos, tom Harrison zur Gedaechtenis

Dayak Banua

Dalam mite suku Banua dikisahkan tentang bayi yang terus menangis tiada henti sampai kemudian neneknya memberinya daging ayam hitam dan nasi ketan merah untuk dimakan. Beberapa saudaranya ikut makan. Dan akhirnya mereka semua berubah menjadi burung. Satu-satunya anak yang tidak ikut memakannya, Apang Paninggir, kemudian tumbuh dewasa. Suatu ketika ia bertemu dengan saudara-saudaranya yang kelaparan di hutan. Dan sejak itulah, tradisi memberi makanan korban kepada Nyahuk, penghulu segala burung dan saudara dari manusia, merupakan hal yang penting dalam masyarakat Banua.

Referensi :

Coomans, Mikhe, MSF, 1980. Evangeliste en Kulturverandering, Onderzoekk naarde verhonnding Lussar de Evangelistie en de socio-kulturde veranderingen in de adat van Dajaks van Oost - Kalimantan (bisdom Samarinda) Indonesie. Koeln : Steyler Verlag, St Augustine

Seram dan Gorom dari maluku

Di awalnya hanya ada wanita yang sangat cantik bernama Winia. Ia muncul dari sebuah pohon bersama seekor babi. Wanita ini memanjat pohon dan babinya ditinggal. Lalu datang wanita lain, Kilibaban, dari laut dengan rakit dari papua dan mengambil babi itu. Lalu muncul seorang laki-laki yang tidak tahu tentang kedua wanita ini. Laki-laki itu melepas semua pakaiannya dan pergi memancing. Winia dan Kilibaban tertawa melihatnya. Sang laki-laki mencari arah suara dan menemukan Kilibaban. Ia lalu meminangnya untuk menjadi istri. Tapi kilibaban menolak. Ia menunjuk ke arah pohon tempat Winia sembunyi. Laki-laki itu memanjat pohon dan menemukan Winia. Ia pun melamarnya dan Winia menerima. Jadilah mereka leluhur pertama umat manusia.

Amboina dari maluku

Manusia pertama muncul dari sebuah pohon setelah seekor burung bertengger dan membuahinya.

Referensi:

RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.

Buru dari maluku

Manusia pertama dari pohon itu adalahwanita yang membuat api unggun di bawah pohon. Pohon menjadi hangat karena api unggun dan lalu terbelah dua, keluarlah seorang laki-laki darinya dan mereka menikah, menjadi leluhur umat manusia.

Referensi:

RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.

Wetar

Wanita pertama muncul dari buah sebuah pohon

Referensi:

RIEDEL, J. G. F., 1886, De sluik- en kroesharige rassen tusschen Selebes en Papua. 's-Gravenhage, 1886.

Berbagai kepercayaan lain di dunia

Asia Tenggara

Tagalog Filipina

Dua batang bambu hanyut dan terdampar di pantai. Seekor burung mematuknya hingga keluar satu laki-laki dan satu perempuan, leluhur umat manusia. Langit dahulunya sangat rendah sehingga ia dapat disentuh dengan tangan, dan saat manusia bermain-main, mereka akan tersandung kepalanya dengan langit, mereka kemudian marah dan melempar langit dengan batu, sehingga akhirnya tuhan menarik langit hingga setinggi sekarang.

Luzon Utara

Suku-suku di pegunungan utara Luzon, Filipina, tampak berbeda dari lainnya di asia tenggara. Mereka tidak memiliki sama sekali mitos asal-usul alam semesta. Dunia, menurut keyakinan mereka, selalu ada, walau mungkin tidak dalam bentuk sekarang, begitu juga dunia atas atau dunia langit. Dari penciptaan bumi atau manusia, hewan atau tanaman, sedikit sekali atau tidak ada sama sekali.

Referensi:

1. BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913).

Keyakinan tradisional pada masyarakat Tagalog adalah kalau tiga tuhan tercipta dari tabrakan Langit (Langit) dan laut (Linaw). Mereka adalah Bathala yang menguasai langit, Aman Sinaya, yang menguasai laut, dan Amihan, sang angin utara, yang menguasai daerah antaranya. Bathala dan Aman Sinaya lalu menjadi musuh yang membuat mereka berkelahi. Dalam salah satu pertarungan mereka, Aman Sinaya mengirim wabah ke langit yang menyebabkan ia tidak dapat diam. Bathala membalas dengan batu-batu besar untuk menghentikannya. Ini menyebabkan ribuan pulai tercipta di permukaan laut (yang menjadi kepulauan filipina). Saat situasi memburuk, Amihan memutuskan menengahi. Dalam bentuk burung, Amihan terbang bolak balik sehingga langit dan laut menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Segera, kedua dunia ini bertemu dan kedua tuhan memutuskan menghentikan pertarungan dan menjadi sahabat.

Dan sebagai tanda persahabatan, Bathala menanam benih di lantai samudera. Ia segera tumbuh menjadi bambu hingga keluar dari laut. Satu hari, Amihan terbang dan mendengar suara, datang dari dalam bambu. “Oh Angin utara! Keluarkan kami.”, kata suara itu. Amihan memukul bambu itu dua kali dan ia terbuka. Didalamnya ada dua manusia; pria dan wanita. Amihan menamakan yang pria Malakas (kuat) dan wanita, Maganda (antik). Keduanya terbang ke salah satu pulau, membangun rumah dan punya jutaan keturunan memenuhi bumi.

Referensi:

BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913).

Ifugao dari Filipina

Seekor burung menelurkan dua telur, satu di hulu sungai dan satunya lagi di hilir sungai. Satu menetas menjadi laki-laki dan satu jadi perempuan. Sang laki-laki bertahun-tahun tinggal sendiri hingga suatu hari, ia mandi dan melihat rambut panjang hanyut di sungai. Ia mencari asalnya ke hulu dan bertemu seorang wanita. Jadilah mereka leluhur umat manusia. Mereka menikah dan mempunyai anak. Tapi anak mereka ini tidak abadi. Saat sang anak mati, kedua orangtuanya membelah dua tubuh anaknya. Sang Ibu membawa separuh badan anaknya kelangit dan sang ayah menjaga sebelahnya di bumi. Sang ayah tidak mampu menghidupkan sang anak sehingga meninggalkan jasadnya di tanah hingga membusuk. Sang ibu turun dan melihat jasad ini. Lalu dengan mantra dari langit ia menciptakan burung hantu dari kepalanya, menciptakan jamur dari telinganya, menciptakan siput dari hidungnya, menciptakan ular dari tulang dadanya, menciptakan pelangi dari jantungnya, menciptakan cacing dan ulat dari rambutnya, menciptakan burung dari kulitnya, menciptakan kelelawar dari darahnya dan menciptakan beberapa jenis hewan lainnya dari testis anaknya. Maka jadilah mereka hewan pertama di dunia.

Langit dulunya sangat dekat dengan bumi dan ia tertusuk oleh tombak dan ini menyebabkan umat manusia punah. Setelah Bugan, istri sekaligus saudari dari Kabigat, telah berdamai dengan suaminya atas restu Muntalog, ayah Kabigat. Kabigat meminta pulang, tapi Muntalog berkata , “Tunggu satu hari, hingga saya pergi ke ayah saya dan ibu’ Muntalog bertemu dengan ayah ibunya sedang duduk berhadapan; dan pada kedatangannya, ibunya, Mumbonang, dating dan bertanya: “Berita apa yang engkau bawa dari dunia bawah?” sang ayah…sepertinya telah tahu jawaban itu. Muntalog menjawab: “Saya pulang, ayah, saya meminta api untuk para ifugao yang ada di rumah Ambumabbakal.’”Anakku”, jawab sang ayah, “Orang-orang ifugao itu tidak dapat dating ke Mumbonang tanpa terbakar.” Lalu ia meneruskan:”Baiklah! Dekati saya!…Ambil salah satu umban dirambutku’. Dan Muntalog melakukannya …lalu Mumbonang berkata: “Kemarilah! Ambil bagian putih dari mata ini yang melihat ke timur laut’. Dan ia melakukannya dan meletakkan di tangannya. Mumbonang berkata pada Muntalog: “bawa benda-benda ini dan berikan ke anak ku Ambumabakal dan Ngilin, kemudian mereka akan memberikannya kepada para ifugao.” Dan ia berkata lagi ke Muntalog: “Bawabagian putih mata saya ini, tahi telinga ku ini dan uban baja ku ini untuk mencetus api, agar engkau dapat memperoleh apa yang kau cari.” Dalam kisan ini kita melihat kedekatan beragam mitos polinesia dari Maui dimana ia mendapatkan api dari Tuhan api.

Referensi:

BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913).

Hmong

Menurut tradisi Hmong, jauh dimasa lalu sungai dan samudera menutupi bumi. Sepasang kakak beradik terkunci dalam gendang kuning dari kayu. Orang langit melihat ke bumi. Segalanya mati. Hanya gendang kayu kuning yang mengapung di air.
“buatlah lubang di bumi agar airnya menyurut,” kata raja langit. Air turun. Akhirnya gendang itu menyentuh tanah. Kedua bersaudara keluar dari gendang dan melihat sekeliling. Segalanya masih mati. “Kemana orang-orang?” tanya sang adik.
Namun sang abang punya ide,”Semua orang di bumi telah lenyap. Menikahlah denganku, kita akan mendapatkan anak.”
“Kita tidak boleh menikah, kita adalah kakak beradik.” Namun ia meminta lagi dan sang adik tetap menolak
Akhirnya sang abang berkata, “mari kita bawa batu ke bukit dan gelindingkan ke lembah. Bila kedua batu bertindihan saat berhenti, maka engkau mesti menikah denganku.” Sang adik menggelindingkan batunya dan kemudian, sang abang menggelindingkan batunya lalu berlari sekuat tenaga menuruni bukit dan menaikkan batunya ke atas batu adiknya. Saat sang adik melihat batu itu, ia berteriak. Akhirnya ia berkata, “Aku akan menikah denganmu, karena sudah demikian perjanjiannya.”

Setahun kemudian sang istri melahirkan bayi. Namun ia bukan bayi yang sebenarnya. Tidak ada kaki dan tangan. Ia bulat seperti labu. Sang suami memotongnya dan membuat potongan tubuhnya. Satu potong jatuh di kebun dan menjadi klan “Vang” karena kata “Vang” mirip dengan kata “kebun” dalam bahasa Hmong. Satu potong jatuh di kandang kambing. Sebagian jatuh di daun dan rumput dan menjadi klan lain dari Hmong. Nhia, Mhoua, Pao, Ho, Xiong, Vue, dan seterusnya. Paginya desa itu penuh dengan rumah. Setiap orang datang ke sang suami istri dan berkata, “ayah dan ibu, marilah sarapan bersama kami.”Sang suami berkata pada sitrinya, “Aku memintamu menikahiku karena semua orang di bumi telah mati. Sekarang orang-orang ini adalah keluarga kita –anak-anak kita.”

Manobo dari Mindanao

Langit begitu dekat ke bumi sehingga seorang wanita memukulnya dengan alunya saat menumbuk beras, karena itulah langit menjadi sangat tinggi seperti sekarang.

Referensi:

BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913).

Than (Dayak Serawak)

Menurut Than, pada awalnya tidak ada apa-apa kecuali lautan yang luas, dimana diatasnya terbang dua ekor burung, yang menyelam, mengambil dua benda seperti telur ukuran dan bentuknya, satu dijadikan langit dan satunya lagi dijadikan bumi. Saat ukuran bumi menjadi sebesar langit, keduanya ditindihkan agar ukurannya sama, tekanan dari burung itu menciptakan gunung dan lembah. Versi lain mengatakan kalau tuhan asali tidak memiliki kaki atau tangan, yang tampaknya telah ditandu oleh seekor hewan, dan bertindak menciptakan dua burung, yang kemudian menciptakan langit dan bumi.

Referensi:

1. DUNN, E., "Religious Rites and Customs of the Than or Dyaks of Sarawak," in Anthropos, i. 16-23, 165-85, 403-25 (1906).
2. HORSBURGH, A., Sketches in Borneo. London, 1858.
3. MACDOUGALL, Bishop of Labuan, "On the Wild Tribes of the Northwest Coast of Borneo," in Trans. Ethnological Society, ii. 24-33 (1863
4. WILKEN, G. A., 1884, "Het Animisme bij de volken van den Indischen Archipel," in De Indische Gids, vi, part I, pp. 13-58, 925-1000; part 2, pp. 19-100, 19I-242.
5. SCHMIDT, W., 1910, "Grundlinien einer Vergleichung der Religionen und Mythologien der austronesischen Völker," in Denkschriften der königlich-kaiserlichen Akademie der Wissenschaften zu Wien; Phil.-Hist. Klasse, liii. 1-142.

Bagobo dari Mindanao

Setelah laut dan daratan diciptakan, dan pohon-pohon memenuhinya, sang pencipta mengambil dua genggam tanah dan membentuknya menjadi manusia. Tuhan meludahinya dan jadilah mereka hidup dan menjadi leluhur umat manusia.

Bilan dari Mindanao

Setelah dunia diciptakan dan dipenuhi, Tuhan melu berkata "apa gunanya daratan tanpa manusia?" . Lalku tuhan Finuweigh berkata, "Mari kita buat manusia dari lilin". Dan mereka menciptakan manusia, namun saat di dekatkan ke api, ia mencair. Karena itu, mereka membuat dari tanah. Bagian terakhir manusia adalah hidung, tapi Finuweigh membuatnya terbalik, menghadap ke atas. Melu bilang manusia dapat tenggelam karena hujan dapat masuk tapi Finuweigh marah dan menolak. Maka Melu membetulkannya sendiri dan jadilah manusia seperti kita. Bekas jari Melu dapat di lihat di belahan bibir atas kita.

Ata dari Mindanao

Manusia diciptakan dari rumput.

Igorot dari Luzon

Manusia diciptakan dari rumput air
Hanya dua orang yang selamat setelah banjir besar, kakak beradik yang mengungsi ke gunung pokis. “Lumawig turun dan berkata:”Oh , kalian disini!” dan sang laki-laki berkata “Kami disini dan kedinginan!”. Maka lumawig mengirim anjing dan rusanya ke Kalauwitan untuk mendapatkan api. Mereka berenang ke Kalauwitan dan mendapatkan api. Lumawig menunggu mereka. Ia berkata “Kanapa lama sekali?”. Lalu ia pergi ke Kalauwitan dan berkata pada anjing dan rusanya: “Kenapa kalian menunggu membawa api? Bersiaplah! Bawa api ini ke Pokis, aku akan mengawasi kalian!”. Maka mereka pergi ke tengah banjir, dan api yang mereka bawa dari Kalauwitan padam! Lalu berkata Lumawig: “Ambil lagi api bari; aku akan mengawasi kalian!”. Kembali api yang dibawa sang rusa padam dan yang dibawa anjing sudah mulai redup. Lumawig berenang dan segera mengambil api itu dari sang anjing. Ia membawanya ke Pokis dan membuat api unggun dan menghangatkan kedua bersaudara itu.” Tema asal usul api yang dibawa hewan ini juga ditemukan dalam kebudayaan selat torres, Moresby, Motu, Koitopu, Koiari dan Kiwai.

Referensi:

1. BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913)
2. SEIDENADEL, C. W., The first Grammar of the Language spoken by the Bontoc Igorot, with a Vocabulary and Texts, Mythology, Folklore, Historical Episodes, Songs. Chicago, 1909.
3. HADDON, A. C., 1904, Reports of the Cambridge Anthropological Expedition to Torres Straits, v. 9-120. p. 17
4. LAWES, W. G., "Ethnological Notes on the Motu, Koitapu and Koiari Tribes of New Guinea," in JAI viii. 369-77 (1879)p. 371
5. CHALMERS, J., "Notes on the Natives of Kiwai Island, Fly River," in JAI xxxiii. 117-4 (1903)., p. 118.
6. PEREZ, A., Igorrotes. Manila, 1902.
7. JENKS, A. E., The Bontoc Igorot (Department of the Interior; Ethnological Survey Publications, i). Manila, 1905.

Mandaya dari Mindanao

Matahari dan bulan menikah dan hidup bahagia hingga banyak anak yang lahir dari mereka. Akhirnya mereka bertengkar dan bulan lari meninggalkan matahari. Setelah orang tuanya cerai, anak-anak mereka mati, dan bulan mengumpulkan tubuh mereka, memotong-motongnya dan menyebarkannya. Potongan yang jatuh ke air menjadi ikan, yang jatuh ke darat menjadi ular dan hewan darat lainnya, dan yang jatuh ke atas tetap di langit sebagai bintang.
Referensi
COLE, F. C., 1913, "The Wild Tribes of the Davao District, Mindanao," in FCM xii, No. 2

Amerika Utara

Navaho

Dulu pernah ada dunia pertama dibawah dunia yang kita kenal. Segalanya hitam dan hanya punya enam penghuni. Laki-laki pertama, putra malam dan langit biru pada matahari senja; wanita pertama, anak fajar dan langit kuning saat senja; Tuhan api; Coyote dan Begochiddy. Begochiddy bermata biru dan rambut emas dan laki-laki sekaligus perempuan.

Begochiddy membuat tanaman karena tidak ada tanaman. Lalu sebuah gunung putih di buat di timur, gunung biru di selatan, gunung kuning di barat dan gunung hitam di utara. Lalu Begochiddy membuat serangga dan semut. Tuhan api menjadi iri dan mulai menghancurkan segala yang sudah diciptakan. Begochiddy menyuruh laki-laki pertama untuk mengumpulkan segalanya yang pernah dibuat dan mereka pergi ke gunung merah yang dibuat Begochiddy di pusat bumi. Disana Begochiddy membuat kacang raksasa yang bolong. Mereka semua masuk dan naik dan naik tumbuh hingga mencapai dunia kedua. Warna dunia kedua adalah biru. Didalamnya Begochiddy membuat tanaman, awan dan gunung-gunung. Di dunia kedua juga ada manusia layang-layang dan manusia kucing. Setiap orang bergembira sementara lalu segalanya mulai salah. Kembali Begochiddy menanam kacang raksasa. Mereka masuk ke dalam dan ia tumbuh hingga mencapai dunia ketiga. Dunia ketiga berwarna kuning. Pegunungan memberi cahaya karena tidak ada bulan atau bintang. Begochiddy membuat sungai, hewan air, pohon, burung dan petir. Lalu semua jenis manusia diciptakan. Setiap orang berbicara bahasa yang sama dan setiap orang senang. Semuanya mendadak saat petir merah berjalar di langit dan menunjukkan penyakit yang akan datang ke manusia lewat sihir jahat. Mereka semua diletakkan disana oleh laki-laki pertama.

Setelah sejenak. Coyote pergi menemui Begochiddy dan menceritakan betapa sedihnya semua orang dan bagaimana laki-laki dan perempuan saling bertengkar. Begochiddy memisahkan mereka dengan sebuah sungai. Namun segera mereka saling merindukan. Begochiddy menyuruh mereka kalau mereka ingin hidup bersama namun jangan bertengkar, bila bertengkar, ia akan mengirimkan banjir besar yang menghancurkan dunia ketiga.

Coyote menjelajahi dunia ketiga dan mendengar wanita garam mengatakan kalau ia melihat bayi dengan rambut panjang hitam di sungai. Coyote segera pergi ke sungai, mendapatkan sang bayi,menyembunyikannya di bawah jaketnya dan tidak bercerita pada siapapun. Empat hari kemudian sebuah badai hitam datang dari timur dan sebuah kebisingan terdengar di dunia ketiga ini. Lalu, dari barat datang badai kuning, dan putih datang dari utara. Begochiddy mengumpulkan segala yang telah dibuat. Kacang raksasa ditanam lagi. Segala yang telah diciptakan dan semua manusia dimasukkan ke dalamnya. Lalu ia mulai tumbuh dan menjauh dari air yang terus naik.

Kali ini ada masalah dengan kacang raksasa. Ia berhenti tumbuh sebelum mencapai dunia ke empat, manusia-manusia laba-laba membuat jaring yang dapat menghubungkannya dengan dunia keempat. Para manusia semut mencoba menggalinya tapi dunia itu terlalu keras. Akhirnya, tawon dengan kepala kerasnya masuk dan setiap orang dan segalanya mendaki melalui lubang yang ia buat. Begochiddy melihat air dimana-mana dan melihat empat kekuatan raksasa. Saat Begochiddy melambai pada mereka air surut. Begochiddy berbalik dan mengatakan kepada mereka kalau air surut namun mereka perlu seseorang untuk berjalan kesana untuk melihat apakah disana cukup kering. Lalu badger menawarkan diri untuk pergi. Saat ia berjalan di dunia keempat kakinya menjadi hitam karena lumpur dan itulah mengapa kakinya berwarna hitam. Begochiddy tahu kalau dunia keempat mesti dikeringkan. Jadi angin, siklon dan setan-setan debu dipanggil. Mereka berputar-putar dan meneringkan dunia keempat. Semua yang diciptakan mengikutinya. Saat Begochiddy melihat kedunia ketiga dan melihat air masih terus naik ia bertanya. Siapa yang membuat monster air begitu marah? Coyote mempererat jaketnya dan Begochiddy tahu kalau itu adalah ia. Ia memintanya mengembalikan bayi ke monster air agar airnya menyurut.

Kini Begochiddy menyiapkan dunia keempat. Segalanya telah diletakkan sesuai urutan: gunung, tanaman, matahari, bulan dan bintang diletakkan di langit. Tuhan api ingin menjaga apinya sendiri namun coyote mencuri sebagian. Ia memberikannya ke manusia untuk memasak dan menghangatkan diri. Begochiddy memberi manusia berbagai bahasa dan menyebarkannya diseluruh penjuru dunia. Mereka juga belajar dari Begochiddy cara hidup, bersyukur dan memelihara bumi.

Inilah saat dimana wanita siluman datang. Ia membantu semua orang, menjadi teman dan menghancurkan monster-monster yang mengganggu. Beginilah dunia keempat. Namun sebagaimana dunia lain yang hancur, begitu juga dunia ini kelak bila manusia tidak hidup sewajarnya. Inilah apa yang dikatakan indian navajo.

Sioux

Pada awalnya segalanya ada hanya dalam bentuk roh dan roh-roh ini bergerak kemana-mana mencari tempat untuk tinggal dan wujud. Saat mereka mencapai matahari mereka kepanasan. Akhirnya mereka sampai ke bumi, namun ia tertutup air dan tidak ada kehidupan. Mendadak sebuah batu berapi raksasa jatuh di permukaan air dan mengeringkan daratan. Batu ini disebut Tunka-Shila, “batu kakek” karena ia adalah batu tertua dari segala batu. Batu-batu mesti dihormati karena ini.

Pima

Pembuat bumi telah berjalan-jalan dan tidak tentu tujuan. Ia panas dan kotor. Saat ia menyapu keringat dan debu dari alisnya ia membuat bola yang sangat kecil. Bola itu ia pegang di tapak tangan diputar-putar tiga kali. Akhirnya, ia berhenti dan bumi tercipta. Pembuat bumi melihat tidak ada seorangpun di bumi, jadi ia menggosok dadanya, ia membuat dua boneka kecil dengan daki dari dadanya. Dengan hati-hati ia meletakkannya di bumi. Ini adalah penciptaan manusia pertama, laki-laki dan perempuan. Mereka bertambah banyak dan memenuhi bumi. Mereka masyarakat yang sempurna dan tidak pernah sakit atau mati. Namun akhirnya, bumi terlalu penuh dan mereka mulai berkelahi. Banyak yang mati dalam peperangan.

Choctaw

Pada awalnya ada sebuah gundukan besar. Gundukan ini disebut Nanih Wiya. Dari gundukan inilah sang pencipta membuat manusia-manusia pertama. Manusia-manusia ini merangkak melalui gua yang panjang dan gelap hingga tiba di dunia yang terang. Jadilah mereka leluhur pertama Choctaw.

Comanche

Suatu hari Ruh Agung mengumpulkan debu dari empat arah untuk menciptakan orang Comanche. Orang-orang ini dibuat dari bumi yang memiliki kekuatan badai besar. Sayangnya, siluman juga diciptakan dan mulai menyiksa manusia. Ruh Agung mengirim siluman itu kedalam jurang tanpa dasar. Untuk membalas dendam, siluman itu menyatu dengan taring dan sengat hewan-hewan berbisa dan terus menyakiti manusia setiap ada kesempatan.

Squamish

Saat orang Squamish melihat banjir besar datang, mereka membuat kano besar dan sebuah tali panjang dari serat cedar untuk di ikatkan kano pada batu besar. Didalam kano, mereka meletakkan semua bayi, anak-anak muda untuk menjaga mereka, makanan dan minuman. Air naik dan menenggelamkan semua orang lainnya. Setelah beberapa hari, manusia melihat gunung Baker di kejauhan. Ia memotong tali dan mengayuh keselatan ke arahnya, dan membuat rumah baru disana. Sisa-sisa kano masih dapat dilihat dalam separuh jalan di lereng gunung Baker.

Skagit

Sang pencipta membuat bumi dan memberinya empat nama – untuk matahari, air, tanah dan hutan. Ia berkata hanya beberapa orang, dengan persiapan pengetahuan khusus, akan tahu kesemua nama itu, atau dunia akan berubah tiba-tiba. Setelah beberapa lama, setiap orang mempelajari keempat nama. Saat mereka mulai berbicara ada pohon, perubahan yang muncul dalam bentuk banjir. Saat orang melihat banjir datang, mereka membuat kano raksasa dan mengisinya dengan lima orang dan jantan betina dari semua tanaman dan hewan. Air menutupi segalanya kecuali puncak Kobah dan Takobah (Gunung Baker dan Ranier). Kano mendarat di padang rumput. Doquebuth, sang pencipta baru, melahirkan beberapa pasangan dari kano. Ia menunda memberikan kekuatan rohnya, namun akhirnya melakukannya setelah keluarganya meninggalkannya. Pada arahan Pencipta lama, ia membuat manusia kembali dari tanah dan tulang orang-orang yang hidup sebelum banjir.

Masyarakat gunung Jefferson

Dua kali, sebuah banjir besar datang. Takut banjir lain akan datang lagi, orang-orang membuat kano raksasa dari cedar besar. Saat mereka melihat banjir ketiga datang, mereka meletakkan anak-anak muda paling berani dalam kano dengan banyak makanan. Lalu banjir itu, semakin besar dan dalam dari sebelumnya, menelan daratan. Hujan berhari-hari lamanya, namun saat awan akhirnya muncul untuk ketiga kalinya, manusia melihat daratan (Gunung Jefferson) dan mendarat disana. Saat air surut, mereka memuat rumah mereka di kaki gunung. Kano itu berubah menjadi batu dan dapat dilihat di gunung Jefferson sekarang.

Yakima

Dimasa lalu, banyak orang pergi berperang dengan suku lain, namun masih ada orang-orang yang baik. Salah satu orang yang baik datang dari tanah atas tempat datangnya air besar. Ia memberitahu orang baik lainnya dan memutuskan membuat kapal dari cedar terbesar yang dapat mereka temukan. Segera setelah kano selesai, banjir datang, mengisi lembah dan menutupi gunung. Orang jahat tenggelam; orang baik selamat di kapal. Kita tidak tahu berapa lama banjir terjadi. Kano dapat masih bisa dilihat di Celah Toppenish. Bumi akan hancur bila banjir lain datang bila orang berbuat salah keduakalinya.

Caddo

Empat monster tumbuh besar dan kuat hingga mereka tinggi menyentuh langit. Satu orang mendengar suara menyuruhnya menanam biji bolong. Ia melakukannya, dan ia dengan cepat tumbuh menjadi raksasa. Ia, istrinya dan sepasang dari tiap hewan yang baik memasuki biji. Air naik menutupi segalanya namun puncak biji dan kepala monster tidak. Kura-kura menghancurkan para monster dengan menggali di bawah kaki mereka dan menenggelamkan mereka. Air menyurut dan angin mengeringkan bumi.

Chippewa

Saat dukun Wis-kay-tchach berburu, serigala mudanya dibunuh oleh beberapa lynx air. Wis mencoba membunuh salah satu lynx untuk balas dendam. Pertama, ia merubah diri menjadi tunggul kayu di tepi danau. Katak dan ular mencoba menjatuhkan tunggul ini, tapi Wis menjaganya tetap tegak. Lynx, curiga, pergi tidur. Wis kembali ke bentuk asli dan ia lupa kalau harus memanah bayangan lynx, bukan tubuhnya. Kedua kalinya ia memanah bayangan lynx, namun lynx lari ke sungai, yang kemudian meluap dan membanjiri seluruh negeri. Wis kabur dengan kano.

Huron

Pada awalnya hanya ada air dan hewan air hidup disana. Lalu seorang wanita jatuh dari lubang di langit. Ia adalah wanita ilahiah penuh kekuatan. Dua bangau terbang di atas air melihatnya jatuh. Mereka terbang dibawahnya, berdekatan, membuat bantal untuknya duduk. Bangau ini membawanya dan minta bantuan. Mereka dapat didengar dari jauh agar hewan lain datang membantu Penyu memanggil hewan lain untuk membantu menyelamatkan hidup wanita langit ini. Para hewan memutuskan wanita ini butuh bumi untuk hidup. Penyu berkata,”Menyelam ke air dan ambillah tanah.” Maka mereka melakukannya. Berang-berang turun. Tikus tanah turun. Yang lain terlalu lama menyelam dan mereka mati. Tiap kali, penyu melihat kedalam mulut-mulut mereka saat mereka naik, tapi tidak ada yang menemukn tanah. Katak menyelam. Ia terlalu lama dan hampir mati. Tapi saat penyu melihat kedalam mulut katak ini, ia menemukan tanah. Wanita itu mengambilnya dan meletakkannya di punggung penyu. Itulah asal terjadinya bumi.

Tanah kering tumbuh membesar menjadi negara, lalu negara lain, dan seluruh bumi… hingga hari ini, penyu itu memanggul bumi. Waktu berlalu, dan wanita langit punya anak kembar. Sifat mereka bertentangan. Satu baik, satu buruk. Satu lahir secara normal. Tapi satunya lagi lahir dari ketiak ibunya, yang membuat ibunya wafat. Saat wanita langit dikuburkan, semua tanaman yang dibutuhkan untuk hidup di bumi tumbuh dari tanah diatasnya. Dar kepalanya keluar labu. Jagung keluar dari dadanya. Kacang tumbuh dari kakinya. Anak sang wanita langit tumbuh. Yang jahat adalah Tawis-Karong. Yang baik bernama Tijus-kaha. Mereka pergi menyiapkan bumi sehingga manusia dapat tinggal disitu. Namun mereka tidak dapat tinggal bersama. Dan mereka berpisah, masing-masing membagi tugas merawat bagian buminya. Saudara jahat, Tawis-karong, membuat monster-monster besar, bengis dan menakutkan. Ia membuat serigala dan beruang serta ular raksasa. Ia membuat nyamuk besar, seukuran kalkun liar. Dan ia membuat katak raksasa. Ia meminum air tawar yang ada di bumi. Semuanya. Saudara baik, Tijus-kaha, membuat hewan normal yang bermanfaat bagi manusia. Ia membuat merpati, dan mockingbird serta partridge. Dan satu hari, sang partridge terbang menuju negeri Tawis-karong. “Kenapa engkau pergi kesana?” tanya Tijus-kaha pada partridge. “Saya pergi karena tidak ada air. Dan saya dengar ada di tanah saudaramu,” kata partridge.

Tijus-kaha tidak percaya pada sang burung. Maka ia mengikuti, dan akhirnya ia tiba di tanah saudara jahatnya. Ia melihat semua hewan raksasa yang dibuat saudara jahatnya. Tijus-haka tidak mengganggu mereka. Dan iapun melihat katak raksasa. Ia membelahnya. Keluarlah air bersih bumi. Tijus-haka tidak membunuh lagi ciptaan saudaranya. Namun ia membuat mereka mengecil, sehingga manusia dapat menguasai mereka. Roh ibunya datang dalam mimpi Tijus-haka. Ia memperingatkannya mengenai saudara jahatnya. Dan tentu, satu hari, kedua bersaudara mesti berhadap-hadapan. Mereka memutuskan tidak dapat berbagi bumi. Mereka akan berduel untuk melihat siapa penguasa dunia. Masing-masing memiliki satu senjata. Tijus-haka, yang baik, hanya dapat dibunuh bila dipukuli sampai mati dengan sekarung penuh jagung atau kacang. Saudara jahat hanya dapat dibunuh memakai tanduk rusa atau hewan liar lainnya. Maka kedua bersaudara bertemu di tanah pertarungan. Giliran pertama pada saudara jahatnya, Tawis-karong. Ia memukuli saudaranya dengan sekarung kacang. Ia memukulinya hingga Tijus-haka kampir mati. Tapi hanya sebentar. Ia pulih, dan ia mengejar Tawis-karong. Kini adalah gilirannya.

Ia memukul saudara jahatnya dengan tanduk rusa. Akhirnya, Tijus-haka mencabut nyawa saudaranya. Namun masih saudaranya tidak sepenuhnya hancur. “Aku harus pergi ke barat jauh,” katanya. “Semua ras manusia akan mengikutiku ke barat saat mereka mati”. Adalah keyakinan bagi orang Huron hingga kini. Saat mereka mati, roh mereka akan pergi ke barat jauh, dimana mereka akan tinggal selamanya.

Digueno

Saat Tu-chai-pai membuat dunia, bumi adalah wanita, dan langit adalah laki-laki. Langit turun kebumi. Dunia di awalnya adalah sebuah danau.. Tu-chai-pai dan adik laki-lakinya, Yo-ko-mat-is, duduk bersama, berhenti jauh, menunduk karena beratnya langit. Sang pencipta berkata pada saudaranya, “Apa yang harus kulakukan?”. “Saya tidak tahu,” kata Yo-ko-mat-is. “Mari kita pergi lebih jauh,” kata sang pencipta. Lalu mereka pergi lebih jauh dan duduk beristirahat. “Sekarang apa yang harus kulakukan?”, kata Tu-chai-pai. “saya tidak tahu bang.” Suatu saat sang pencipta sesungguhnya tau apa yang akan ia lakukan, namun ia meminta bantuan saudaranya. Lalu ia berkata "We-hicht, we-hicht, we-hicht," tiga kali. Ia mengambil tembakau di tangannya dan menggosoknya dan menghirupnya tiga kali. Setiap kali ia mengepulkan asap tembakaunya, langit naik lebih tinggi di atas kepala mereka.

Adiknya melakukan hal yang sama karena perintah abangnya. Langit semakin tinggi dan tinggi dan akhirnya berada di ketinggian seperti sekarang. Lalu mereka memutuskan merokok bersama-sama, "We-hicht, we-hicht, we-hicht," dan keduanya mengambil tembakau, menggulungnya dan merokok, mendorong langit tinggi hingga membentuk lengkungan. Lalu mereka meletakkan utara, selatan, timur dan barat. Tu-chai-pai membuat sebuah garis di tanah. “Kenapa engkau membuat garis itu?” tanya adiknya. “Saya membuat garis ini sebagai pemisah antara timur dan barat. Sekarang engkau buatlah garis untuk memisahkan utara dan selatan.”
Yo-ko-mat-is berpikir keras. Bagaimana caranya? Lalu ia menggambar garis silang dari atas ke bawah. Ia mengatakan garis atas sebagai utara dan garis bawah sebagai selatan. Lalu ia bertanya, “kenapa kita lakukan ini?” Sang pencipta berkata, “Saya beritahu kamu. Tiga atau empat laki-laki datang dari timur, dan dari barat tiga atau empat indian datang.”

Sang adik bertanya, “Apakah empat laki-laki datang dari utara dan dua atau tiga laki-laki datang dari selatan.”
Tu-chai-pai berkata, “Ya. Sekarang aku akan membuat bukit dan lembah dan sedikit genangan air.” “Kenapa engkau menciptakan ini?” Sang pencipta menjelaskan, “Setelah para laki-laki datang dan berjalan menjelajahi dunia, mereka perlu meminum air agar tidak kehausan.” Ia telah membuat samudera, namun ia memerlukan sedikit tempat air untuk orang-orang. Lalu ia membuat hutan dan berkata, “Mereka dapat mati kedinginan kecuali ada kayu untuk dibakar. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” “Saya tidak tau”, balas sang adik. “Kita akan menggali tanah dan mencari lumpur untuk membuat orang pertama, para indian.” Maka mereka menggali tanah dan mengambil lumpur untuk membuat pria-pria pertama dan wanita-wanita pertama. Ia membuat laki-laki dengan mudah, namun bermasalah dalam membuat wanita. Ia butuh waktu lama. Setelah para indian, ia membuat orang-orang meksiko dan selesai. Ia lalu berkata dengan nyaring, “Wahai manusia, engkau tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah lelah, sehingga engkau dapat selalu berjalan.” Namun kemudian ia membuat mereka tidur di waktu malam, agar mereka tidak berjalan dalam kegelapan. Akhirnya ia meminta mereka agar berjalan ke timur, dimana sinar matahari terbit.

Indian lalu muncul dan mencari cahaya, dan akhirnya mereka menemukan cahaya dan senang melihat matahari. Sang pencipta memanggil adiknya, “Inilah saatnya membuat bulan. Anda dapat memanggil dan membuat bulan bersinar, seperti aku telah membuat matahari. Kadang bulan akan mati. Saat ia tumbuh mengecil, manusia akan tau ia akan mati, dan mereka harus berlomba berusaha hidup dalam naungan bulan yang sekarat.”

Para penduduk membicarakan masalah ini dan mereka memahami bagian mereka dan kalau Tu-chai-pai akan melihat apakah yang mereka perbuat itu sesuai dengan keinginannya. Saat sang pencipta menyelesaikan ini semua, ia tidak menciptakan apapun lagi. Namun ia selalu berpikir bagaimana membuat bumi dan langit lebih baik untuk semua indian.

Chelan

Jauh dimasa lalu, sang pencipta membuat dunia. Lalu ia membuat hewan dan burung dan memberi mereka nama. Saat ia selesai, sang pencipta memanggil hewan-hewan itu menghadap. “Aku akan meninggalkan kalian” katanya. “Namun aku akan kembali. Saat aku kembali, aku akan membuat manusia. Merekalah yang akan memimpin kalian.”

Sang pencipta kembali ke rumahnya di langit, dan masyarakat hewan menyebar di penjuru dunia. Setelah dua belas bulan, masyarakat hewan berkumpul untuk bertemu dengan sang pencipta sebagaimana ia janjikan. Sebagian dari mereka mengeluh. Bluejay, Meadowlark, dan Coyote tidak suka namanya. Masing-masing meminta menjadi mahluk lain. “Tidak,” kata sang pencipta. “Aku telah memberi kalian nama. Tidak bisa diubah. firmanKu adalah hukum.”

“Karena kalian telah mencoba mengganti hukumku, aku tidak akan membuat manusia kali ini. Karena kalian tidak mematuhiku, kalian tidak mendapat tanah dariku. Aku berencana membuat manusia dari tanah ini. Tapi, karena kalian, aku akan meletakkannya di air agar tersiram berbulan-bulan dan banyak salju, hingga ia bersih kembali.”

Lalu ia mengambil sesuatu dari sisi kanannya dan meletakkannya di sungai. Benda itu berenang dan sang pencipta menamakannya berang-berang. “Sekarang kuberikan kalian hukum lain,” kata sang pencipta. “Salah satu dari kalian yang tetap kuat dan baik akan mengambil berang-berang dari air suatu saat dan menjadikannya manusia. Akan kuberitahu apa yang harus kalian lakukan. Belah berang-berang itu menjadi dua belas bagian. Bawa masing-masing bagian ke tempat berbeda dan beri nafas kalian. Berikan ia separuh kekuatanmu dan beritahu tugas mereka. Sekarang aku akan memberikan kekuatanku pada salah satu dari kalian. Ia akan memilikinya selama ia tetap berlaku baik.” Saat sang pencipta selesai berbicara, semua mahluk mulai pulang kerumah mereka – semuanya kecuali Coyote. Sang pencipta punya pesan khusus untuk Coyote. “engkau akan menjadi pemimpin semua mahluk, Coyote. Kamu adalah kekuatan seperti aku sekarang, dan aku akan membantumu bekerja. Segera para mahluk dan semua yang aku buat akan menjadi buruk. Mereka akan saling bertarung dan akan saling makan. Adalah tugasmu untuk menjaga perdamaian sebisa mungkin.”Saat engkau telah selesai, kita akan bertemu lagi, di negeri di timur. Bila engkau baik, bia engkau jujur dan mematuhiku, engkau dapat membuat manusia dari berang-berang. Bila engkau salah, yang lain akan membuatnya.” Lalu sang pencipta pergi.

Terjadilah seperti yang diramalkan sang pencipta. Dimana-mana yang ia telah ciptakan menjadi salah. Gunung menelan mahluk. Angin meniup mereka. Coyote menghentikan gunung, menghentikan angin dan menyelamatkan para mahluk. Satu saat di musim dingin, setelah angin utara membunuh banyak sekali, Coyote membuat hukum untuknya: “Sejak saat ini engkau hanya dapat membunuh mereka yang mempermainkanmu.”

Kemanapun Coyote pergi, ia membuat dunia lebih baik bagi masyarakat hewan dan lebih baik untuk manusia yang akan diciptakan nanti. Saat ia selesai bekerja, ia tahu inilah saatnya bertemu sang pencipta. Coyote merasa ia telah berbuat baik, kalau ia akan menjadi sang pembuat manusia. Namun ia salah. Ia merasa punya kekuatan sama dengan sang pencipta. Jadi ia mencoba, kedua kalinya, merubah hukum sang pencipta.

“Mahluk lain yang akan membuat manusia.” Kata sang pencipta pada Coyote. “Aku akan membawamu dari samudera dan memberimu tempat tinggal selamanya.” Maka Coyote berjalan menyeberangi air ke sebuah pulau. Disana sang pencipta berdiri menunggunya, disamping rumah yang ia buat. Didalam rumat di arah barat berdiri busana hitam. Di sisi sebaliknya ada busana putih. “Coyote, pakai busana hitam ini selama 6 bulan,” kata sang pencipta. “Lalu cuaca akan dingin. Ganti pakaian hitam dengan putih. Maka akan muncul musim panas, dan segalanya akan tumbuh. Akan kuberikan kekuatan agar engkau tidak pernah tua. Engkau akan tinggal disini abadi selamanya.”

Coyote tinggal disana, diseberang samudera, dan empat bersaudara serigala menggantikan posisinya sebagai pemimpin para hewan. Saudara bungsu kuat dan baik serta cerdas. Saudara sulung tidak berguna. Maka sang pencipta memberi kekuatan pada sang bungsu untuk mengambil berang-berang dari air. Suatu pagi sang sulung berkata pada si bungsu, “aku mau kau bunuh berang-berang itu. Aku ingin giginya untuk dijadikan pisau.”

“Oh tidak!” teriak saudara kedua dan ketiga. “Berang-berang terlalu kuat untuk si bungsu.” Namun serigala bungsu berkata pada saudaranya yang lain, “Buatkan empat tombak. Kakak tertua, buatlah tombak dengan empat mata. Untukku, cukup satu mata. Buat dua mata dan tiga mata untuk yang lain. Aku akan berusaha sebaiknya mendapatkan berang-berang, agar kita dapat membunuhnya.”

Semua masyarakat hewan telah melihat berang-berang dan rumahnya. Mereka tahu dimana ia tinggal. Mereka tahu seberapa besarnya ia. Keluarga berang-berang kecil tinggal bersamanya. Masyarakat hewan takut kalau si bungsu akan gagal menangkap berag-berang dan gagal membuat manusia. Saudara serigala kedua dan ketiga juga takut. “Aku takut kita akan kehilangan adik,” kata mereka. Namun mereka membuat juga empat tombak pesanan adiknya itu.

Saat senja, serigala bersaudara menyerang rumah berang-berang, dan semua berang-berang kecil lari. Di tengah malam, berang-berang yang lebih besar keluar. Mereka sangat banyak dan bising, sehingga suaranya seperti petir. Lalu sang berang-berang terbesar keluar, yang telah dimasukkan sang pencipta ke dalam air agar bersih. “Ayo berhenti kata si sulung karena ketakutan. “Jangan berusaha membunuhnya.” “Tidak!” kata si sulung. “Aku tidak akan berhenti.”

Saudara sulung jatuh. Saudara ketiga jatuh. Saudara kedua jatuh. Kilat menyambar. Berang-berang masih bersuara seperti petir. Si bungsi mengambil tombak empat mata dan mencoba menusuk berang-berang dengan itu. Ia gagal. Ia mencoba lagi dengan tombak kata tiga. Ia patah. Ia memakai tombak mata dua. Dan patah juga. Saat ia memakai tombak mata satu. Ia tidak patah. Ia menusuk kulit berang-berang raksasa dan menancap disana. Diluar danau, dibawah sungai dan di sungai besar, sang berang-berang berenang, menarik si bungsu bersamanya.

Si bungsu memanggil saudara-saudaranya, “Kalian tetap disini. Kalau saya tidak kembali dengan berang-berang dalam 3 hari, berarti saya telah mati.” Tiga hari kemudian, semua hewan berkumpul di kaki gunung. Segera mereka melihat si bungsu datang. Ia telah membunuh berang-berang dan membawanya. “Anda ingat kalau sang pencipta menyuruh kita memotong berang-berang ini menjadi dua belas bagian,” kata si bungsu pada para hewan. Namun ia hanya dapat membelahnya menjadi sebelas potong.
Lalu ia memberi pengarahan. “”Musang, engkau pelari yang hebat. Burung kolibri dan lalat kuda, engkau dapat terbang cepat. Bawa potongan berang-berang ini ke tempat itu dan bangunkan. Berikan napas kalian.” Si bungsu member potongan lain ke hewan lain dan menyuruh mereka pergi ke tempat yang ia tunjuk. Mereka membawa hati ke sungai air bening, dan menjadi suku Indian Nez Perce. Mereka membawa jantung ke gunung, dan ia menjadi Indian Methow. Bagian lain menjadi orang Spokane, orang Danau, orang kepala datar. Masing-masing potongan itu menjadi suku berbeda. “Seharusnya ada 12 suku,” kata si bungsu. “Mungkin sang pencipta merasa kita juga harus memakai darah berang-berang untuk yang terakhir. Bawa darah itu ke gunung bersinar dan bangunkan di sana. Ia akan menjadi suku kaki hitam. Mereka akan selalu terlihat seperti darah.”

Saat seekor hewan membangunkan potongan daging berang-berang dan bernafas kepadanya, ia memberi tahu apa yang manusia itu harus lakukan dan makan. “Ini akar,” dan hewan itu menunjuk ke cama dan kouse dan akar tawar, “Engkau gali, masak dan simpan untuk dimakan di musim dingin. “Ini adalah berry yang akan masak di musim panas. Kau makan dan keringkan sebagian untuk musim dingin.” Hewan itu menunjuk pohon chokecherry, hingga rumpun serviceberry, dan rumpun huckleberry.
“Ada salmon di semua sungai. Anda masak dan makan saat mereka muncul. Dan keringkan juga untuk dimakan di musim dingin.”
Saat semua suku telah diciptakan, para hewan berkata pada mereka “Sebagian dari kalian harus pergi ke Danau Chelan. Naik ke tengah danau dan lihat ke tebing di samping air. Kalian akan melihat gambar di batu. Dari gambar itu kalian akan belajar bagaimana membuat hal-hal kebutuhan kalian.”

Sang pencipta telah melukis gambar disana dengan cat merah. Dari awal hingga jauh setelah orang putih datang, para indian pergi ke danau Chelan dan melihat ke lukisan itu. Mereka melihat gambar panah dan busur dan jebakan salmon. Dari gambar-gambar sang pencipta mereka tahu bagaimana membuat benda-benda untuk mencari makanan mereka.

[Catatan: Lukisan-lukisan (atau piktograf) di batuan bawah telah tertutup air sejak sebuah bendungan dibangun di kaki danau. Mengejutkannya tinggi di atas batuan yang hampir tegak lurus di ujung utara danau, lukisan-lukisan tetap ada sejak dahulu kala. Lalu orang-orang kulit putih engan senjata api dan rasa tidak hormat pada nilai sejarah merusaknya – untuk kesenangan.]

Kiowa Apache

Pada awalnya tidak ada apapun, hanya kegelapan dimanapun. Tiba-tiba dari kegelapan muncul cakram tipis, satu sisi kuning dan sisi lain putih, nampak melayang di udara. Dalam cakram itu duduk manusia berjanggut kecil, Pencipta, Yang Tinggal di Atas. Saat ia melihat ke kegelapan tiada akhir, cahaya muncul di atas. Ia melihat kebawah dan menjadi lautan cahaya. Ke timur, ia menciptakan fajar kuning. Di timur, Ia menciptakan beragam warna di mana saja. Ada juga awan aneka warna. Ia juga menciptakan tiga Tuhan lainnya: seorang anak kecil, tuhan matahari dan anak laki-laki. Lalu ia menciptakan fenomena langit, angit, tarantula, bumi dari keringat empat tuhan dicampur dalam tapak tangan sang pencipta, dari bola kecil coklat tidak lebih besar dari kacang. Dunia mengembang ke ukuran saat ini karena para tuhan menendang bola coklat kecil itu. Sang pencipta memberitahu angin untuk masuk dalam bola dan membuatnya membesar. Tarantula, karakter licik, menempelkan tali busur hitam ke bola itu, merayap ke timur, menarik tali busur itu sekuat tenaga. Tarantula mengulanginya dengan tali busur biru ke selatan, tali busur kuning ke barat dan tali busur putih ke utara. Dengan tarikan kuat ke semua arah itu, bola coklat itu membentang dengan ukuran tak terkira—dan jadilah bumi. Tidak ada bukit, gunung atau sungai; hanya dataran coklat tanpa pohon yang mulus. Lalu Sang Pencipta menciptakan mahluk lainnya dan penampakan muka bumi.

Aztec

Cerita Aztek menjelaskan penciptaan dimulai dengan ibunda bumi, “Coatlique”, ibu dengan rok ular. Ia dihiasi tengkorak, ular dan tangan terpotong. Pertamanya ia tidak memiliki celah ditubuhnya – monolit sempurna (totalitas intensitas dan pemuatan diri, namun penampakannya bulat dan tanpa tangan dan kaki). Coatlique dihamili oleh pisau obsidian dan melahirkan Coyolxauhqui, tuhan bulan, dan sekelompok keturunan laki-laki, yang menjadi bintang-bintang.

Lalu suatu hari Coatlique menemukan bola bulu, yang ia ambil dan letakkan di pantatnya. Lalu ia melihatnya, ia hilang, dan saat ia menyadari ternyata ia hamil.anak-anaknya, bulan dan bintang tidak percaya ceritanya. Malu dengan ibunya, mereka berencana membunuhnya. Seorang tuhan hanya dapat melahirkan tuhan pada kehamilan pertama. Pada waktu mereka merencanakannya, Coatlique melahirkan Tuhan peperangan, huitzilopochtli. Dengan bantuan ular api, ia menghancurkan saudaranya, membunuh mereka dengan kejam. Ia mengejar Coyolxauhqui dan melempar tubuhnya ke dalam jurang dalam di gunung, dimana ia lenyap selamanya.

Ini mengobarkan perang saudara besar di langit yang merusak langit. Coatlique jatuh dan disuburkan, sementara anak-anaknya dipotong-potong dan bagian tubuhnya di buang ke seluruh penjuru alam semesta. Yang tersisa adalah Ometecutli dan istrinya Omecihuatl yang menciptakan kehidupan. Anak mereka adalah: Xipe Totec, tuhan musim semi, Huitzilopochtli, Tuhan matahari, Quetzalcoatl sang ringan dan ular berbisa, dan Tezcatlipoca, sang kegelapan, dan Tuhan malam dan sihir.

Quetzalcoatl dan Tezcatlipoca melihat apapun yang mereka ciptakan dimakan oleh Coatlique yang mengambang dalam kegelapan dasar laut yang memakan apa saja dengan banyak mulutnya. Untuk menghentikannya, mereka berubah menjadi dua ular berbisa dan turun ke air. Satu menangkap tangan sang tuhan sementara yang lain menangkap kakinya, dan sebelum ia dapat meronta, mereka menariknya sekuat tenaga hingga tubuhnya tercerai berai. Kepala dan bahunya menjadi bumi dan bagian bawah tubuhnya menjadi langit.

Tuhan lain marah pada perbuatan mereka berdua dan memutuskan hukuman agar mereka menyediakan kebutuhan masyarakat untuk bertahan hidup: jadi dari rambutnya mereka menciptakan pohon, rumput dan bunga; gua, air mancur dan sumur dari matanya; sungai dari mulutnya; bukit dan lembah dari hidungnya; dan pegunungan dari bahunya.

Masih tuhan itu sering tidak senang dan orang dapat mendengarnya menangis di waktu malam. Mereka tahu ia meratap karena haus akan darah manusia, dan kalau ia tidak akan memberi makanan dari tanah sampai ia mabuk. Jadi hadiah jantung manusia diberikan kepadanya. Ia yang memberikan dukungan buat hidup manusia menuntut hidup manusia untuk mendukung hidupnya.

Cherokee

Pada awalnya, hanya ada air. Semua hewan tinggal diatas dan langit sangat penuh. Mereka penasaran dengan apa yang ada dibawah air dan suatu hari Dayuni’si, kumbang air, sukarela menjelajahinya. Ia menjelajah permukaan namun tidak dapat menemukan tanah padat. Ia menjelajah ke dasar dan hanya menemukan lumpur yang ia bawa kembali ke permukaan. Setelah mengumpulkan lumpur, ia mulai tumbuh dan menyebar dan menjadi bumi seperti yang kita kenal.
Setelah semua ini terjadi, salah satu hewan menempel di dunia baru ini dari langit dengan empat benang. Tanah itu masih basah maka ia mengirim badai besar dari Galun’lati untuk menyiapkannya. Badai ini turun dan saat ia mencapai tanah Cherokee, ia begitu lemah hingga sayapnya mulai menabrak tanah. Kapanpun tanah tersentuh, gunung atau lembah terbentuk.
Para hewan lalu memutuskan kalau dunia terlalu gelap, maka mereka membuat matahari dan meletakkannya di jalannya sehingga ia masih berlari hingga saat ini.

Creek

Creek percaya kalau dunia pada awalnya berada di bawah air. Satu-satunya daratan adalah sebuah bukit, bernama Nunne Chaha, dan di atas bukit ada sebuah rumah, dimana tinggal Esaugetuh Emissee (penguasa napas). Ia menciptakan manusia dari tanah liat di bukit.

Eskimo

“siapa engkau? Darimana engkau datang? Aku belum pernah melihat sesuatu yang mirip engkau.” Sang pencipta Raven melihat kepada manusia dan terpana setelah melihat bahwa mahluk baru yang aneh ini sangat mirip dirinya.

Hopi

Para tetua mengatakan kalau Hopi pertama dipilih untuk tinggal di gurun yang kering sehingga mereka selalu perlu berdoa agar hujan. Jadi, mereka tidak kehilangan keimanan mereka dalam upacara, yang menjaga ikatan mereka dengan bunda alam dan pencipta. Mereka berkata kalau orang hopi sejati menunjukkan ras merah yang diciptakan oleh sang pencipta, Maasaw.

Haida

Pahatan Bill Reid bernama Gagak dan manusia pertama, menunjukkan bagian dari mitos penciptaan Haida. Gagak menyajikan figur licik dalam banyak mitologi. Karya ini ada di Museum Antropologi University of British Columbia, Vancouver.
Haida memiliki cerita gagak yang bosan dan kekenyangan, menemukan dan membebaskan beberapa mahluk yang terjebak dalam seekor kerang. Mahluk-mahluk lemah dan ketakutan ini adalah para pria pertama di dunia, dan mereka dilepaskan keluar cangkang kerang oleh sang gagak. Segera sang gagak bosan dengan mahluk-mahluk ini dan berencana memulangkan mereka ke dalam kerang. Tapi, sang gagak memutuskan mencari para wanita manusia. Gagak menemukan wanita-wanita terperangkap dalam seekor kerang pula, membebaskan mereka, dan senang melihat kedua jenis manusia ini bertemu dan berinteraksi. Sang gagak, selalu cerdik, bertanggung jawab dalam memasang-masangkan manusia dan sangat protektif dengan mereka. Dengan sang gagak ini dipandang sebagai sang pencipta, mitos dan legenda Haida sering menunjukkan kalau gagak adalah penjaga manusia.

Inuit

Tradisi masyarakat Inuit adalah kalau gagak menciptakan dunia. Saat air memaksa tanah naik dari dasarnya, gagak menikamnya dengan paruhnya dan membuatnya tenang. Daratan pertama cukup besar untuk sebuah rumah yang ditinggali sebuah keluarga: satu laki-laki, istrinya dan anaknya, gagak yang menghentikan daratan. Sang ayah memiliki kelenjar yang menggantung di ranjangnya. Setelah banyak meminta pada ayahnya, sang gagak di ijinkan bermain dengannya. Saat bermain, sang gagak melukai kelenjar itu dan cahaya muncul. Sang ayah tidak ingin cahaya itu terus bersinar sehingga ia mengambil kelenjar itu dari sang anak sebelum ia semakin rusak. Perebutan ini menciptakan siang dan malam.

Iroquois

Pada awalnya, dunia tidak seperti sekarang ini. Ia adalah dunia air yang dihuni hanya oleh hewan dan mahluk udara yang dapat bertahan tanpa daratan.
Diatas sana, dunia langit sangat berbeda. Mahluk tipe manusia tinggal dengan tak terhitung jumlah tanaman dan hewan.
Di dunia langit, ada Pohon Kehidupan yang sangat spesial bagi masyarakat dunia langit. Mereka tahu kalau ia tumbuh di gerbang ke dunia bawah dan melarang siapapun mendekati pohon itu. Satu wanita yang sedang hamil penasaran dengan pohon itu dan mengajak saudaranya mencabut pohon itu.
Dibawah pohon ada lubang besar. Wanita itu mengintip dari ujung kedalam lubang dan mendadak jatuh. Saat ia jatuh, ia meraih ujung dan mendapatkan tanah dari dunia langit. Saat ia jatuh, burung di dunia bawah terganggu dan melihatnya jatuh. Para burung segera bergerombol untuk menahannya jatuh dan membawanya ke punggung kura-kura laut raksasa. Mahluk air percaya kalau ia butuh daratan untuk hidup, sehingga mereka akan mengumpulkan tanah untuknya. Mereka menyelam dalam samudera dan mengumpulkan tanah buatnya. Banyak hewan mencoba mengumpulkan tanah dari lantai samudera, hanya muskrat yang berhasil. Dengan sedikit tanah, ia ditumpukkan di atas punggung kura-kura dan pulau kura-kura mulai tumbuh.
Wanita langit segera melahirkan anak perempuan di pulau kura-kura. Anaknya tumbuh dengan cepat. Tidak ada manusia lain di pulau kura-kura, namun ada mahluk yang disebut angin barat menikahi anak wanita langit.
Segera anak wanita langit melahirkan kembar. Satu lahir secara alami dan disebut kembar tangan kanan. Satunya lahir prematur yang membuat ibunya wafat. Ia disebut kembaran tangan kiri. Saat ibunya wafat, nenek mereka, wanita langit, meletakkan segenggam tanah dari langit yang ia bawa saat jatuh ke bumi dan meletakkannya di kuburan anaknya. Jadi dari tubuh anaknya muncul dari tembakau suci, strawberry dan rumput manis. Kami menyebutnya Kionhekwa. Pemberi kehidupan.
Kembar tangan kiri dan kanan memiliki kemampuan ajaib. Kembar tangan kanan menciptakan bukit yang permai, bunga yang harum, kupu-kupu yang indah dan beragam mahluk, tanaman dan formasi bumi. Saudaranya kembaran tangan kiri membuat ular, duri mawar, petir dan kilat serta atribut pengganggu di dunia. Bersama, mereka menciptakan manusia dengan banyak sifatnya. Kembar tangan kanan percaya pada resolusi diplomasi pada konflik. Kembar tangan kiri percaya pada resolusi kekerasan. Mereka berbeda sekali, namun semua yang mereka ciptakan adalah bagian integral dari ciptaan di bumi ini.
Nenek mereka, wanita langit, kini telah uzur. Saat ia mati, si kembar memperebutkan tubuhnya dan membuatnya terbelah, membuat kepalanya terlempar ke langit. Sebagai bagian dunia langit, kepala itu tetap bersinar di langit sebagai bulan. Si kembar tidak dapat hidup tanpa bertengkar. Mereka berpisah untuk tinggal di tempat berbeda. Si kembar tangan kanan tinggal di siang hari dan si kembar tangan kiri selalu tinggal di malam hari. Keduanya meneruskan tugas khusus mereka pada bunda bumi.

Salish

Para leluhur memiliki kekuatan lebih besar dari hewan atau manusia. Disamping para leluhur, orang tinggal di bumi. Yang terdahulu membuat manusia keluar dari bola-bola lumpur terakhir yang ia ambil dari bumi. Mereka sangat tidak perduli sehingga Yang terdahulu membuat mahluk paling tidak berdaya.
Kesulitan dengan dunia awal adalah para leluhur itu egois dan sangat bodoh pula. Mereka tidak tahu mana rusa dan mana manusia, dan kadang mereka tak sengaja memakan manusia.
Akhirnya Yang terdahulu berkata, “Segera tidak akan ada manusia bila ini aku biarkan.” Maka ia mengirim Coyote untuk mengajar para indian bagaimana bertindak. Dan Coyote mulai menjelajah bumi, mengajarkan para indian, membuat hidup lebih mudah dan lebih baik buat mereka, dan melakukan banyak kegiatan baik.

Seneca

(dari Stith Thompson, Tales of the North American Indians (1929))
Jauh dimasa lalu manusia tinggal tinggi di langit. Mereka punya kepala suku yang agung dan sakti. Lalu anak perempuan sang kepala suku sangat sakit dengan luka yang aneh. Segala jenis obat telah dicoba untuk menyelamatkannya, namun tidak satupun yang berhasil. Didekat rumah kepala suku ada pohon besar, yang setiap tahun menghasilkan jagung untuk dimakan. Salah satu teman kepala suku bermimpi kalau ia dinasihatkan untuk memberitahu kepala suku, agar anaknya sembuh, ia harus dibaringkan disamping pohon dan ia harus menggali pohon itu. Saran ini ditulis di surat. Saat orang bekerja dan sang gadis berbaring disana, seorang pemuda datang. Ia sangat marah dan berkata “Tidak benar kalau pohon ini dihancurkan. Buahnya yang menghidupi kita.” Dengan ini ia menendang sang gadis yang berbaring, akibatnya gadis itu terjatuh kedalam lubang yang telah digali.

Kini, lubang itu terbuka ke dunia ini, yang saat itu semuanya air, dan dipenuhi segala macam burung air. Tidak ada daratan saat itu. Saat seekor burung terbang, ia melihat sang gadis jatuh dan berkata “Ayo kita tolong dia”, lalu burung-burung yang ada disekitarnya bergabung menjadi seperti kasur yang menahan jatuhnya sang gadis. Lalu sang burung tadi bertanya, siapa yang mau merawat gadis ini? Sang kura-kura besar lalu mengambilnya, lalu saat kelelahan menggendongnya, ia meminta yang lain menggantikan. Hingga kesimpulan mereka adalah membuat tempat tinggal tetap untuk sang gadis. Akhirnya mereka memutuskan menyiapkan bumi, yang akan ditempatinya. Untuk ini tanah dari dasar samudera harus diambil dan diletakkan di atas punggung kura-kura, yang kemudian akan membesar sedemikian hingga semua mahluk dapat tinggal disana juga. Setelah banyak diskusi, katak akhirnya dipinta menyelam kedasar laut mengambil tanah. Dengan berani akhirnya ia bisa mengambil tanah dari dasar laut. Dengan hati-hati tanah ini disebarkan di punggung kura-kura, dan keduanya kemudian tumbuh semakin besar dan tebal.
Setelah sang gadis sembuh dari penyakit yang ia derita saat ia jatuh dari dunia atas, ia membangun rumah, dimana ia tinggal dengan tenang. Seiring waktu ia melahirkan seorang bayi perempuan, yang tumbuh dengan cepat dan sangat cerdas.

Saat sang anak telah tumbuh dewasa, ibu dan ia terbiasa pergi menggali kentang. Ibunya mengatakan kalau ia harus selalu menghadap barat saat melakukan ini. Belum lama sang anak bercerita kalau ia akan tak lama lagi menjadi ibu. Ibunya berkata kalau ia telah melanggar larangan untuk tidak menghadap ke timur, karena saat bicara itu ia tampak menghadap ke arah yang salah. Dikatakan kalau angin barat telah memasukinya dan menyebabkan ia hamil. Saat ia akan melahirkan, anaknya ternyata kembar, dan berdebat di dalam perut mengenai siapa duluan yang keluar dan keluar lewat mana. Salah satu anak memilih keluar lewat ketiak ibunya. Sementara yang lain keluar lewat tempat biasa. Yang pertama lahir berkulit kemerahan, disebut Othagwenda, yaitu, batu serpih. Yang satu lagi berwarna terang, dipanggil Djuskaha, yaitu bunga kecil.

Nenek si kembat senang dengan Djuskaha dan membenci yang lain, maka mereka membuang Othagwenda ke pohon bolong yang cukup jauh dari rumah. Anak yang tinggal di rumah tumbuh sangat cepat, dan segera mampu membuat panah dan busurnya sendiri dan pergi berburu. Akhirnya, selama beberapa hari ia kembali pulang tanpa panah dan busurnya. Akhirnya ia ditanya kenapa ia harus membuat panah dan busur baru setiap pagi. Ia menjawab kalau ada seorang anak muda yang tinggal di pohon bolong yang menjadi tetangganya yang memakainya. Sang nenek ingat dimana pohon itu berdiri, dan ia mengajak sang ibu kesana dan mengajak anaknya pulang.

Saat anak-anak ini telah dewasa, mereka memutuskan untuk memperbesar pulau mereka, jadi mereka mulai melakukannya, berpisah untuk membuat hutan dan danau dan lainnya. Mereka memutuskan Othagwenda ke arah barat dan Djuskaha ke arah timur. Seiring waktu, saat pulang mereka bertemu di rumah waktu malam, dan akan melihat hasilnya besok. Pertama mereka melihat apa yang dibuat Othagwenda. Ternyata ia membuat negeri yang penuh dengan batu dan rumah, dan nyamuk yang sangat besar. Djuskaha meminta nyamuk itu pergi, agar ia dapat melihat apakah serangga ini bisa terbang. Nyamuk itu lari, tapi paruhnya tertancap di batang pohon sehingga ia jatuh, Djuskaha berkata “Ini tidak benar, karena engkau akan membunuh orang-orang yang akan datang”. Maka ia menangkap nyamuk itu, menggosoknya dengan tangan sehingga menjadi kecil; lalu ia meniup nyamuk itu dan nyamuk itu terbang. Ia juga memodifikasi hewan-hewan lain yang dibuat saudaranya. Setelah pulang ke rumah, mereka akan melihat besok apa yang telah diciptakan Djuskaha.

Saat mengunjungi timur esok harinya, mereka menemukan kalau Djuskaha telah menciptakan banyak jenis hewan yang terlalu gemuk sehingga mereka susah bergerak; ia membuat pohon maple menumpahkan sirup; ia membuat pohon sycamore berbuah cerah; ia membuat sungai begitu aneh sehingga separuh airnya naik, dan separuhnya turun. Lalu saudara berkulit merah, Othagwenda, tidak senang dengan apa yang dibuat saudaranya, mengatakan kalau orang yang akan datang akan hidup terlalu mudah dan terlalu senang. Jadi ia mengocok hewan-hewan itu –beruang, rusa, dan kalkun—membuat mereka kecil seketika, sebuah ciri yang kita lihat sekarang. Ia juga membuat pohon maple hanya meneteskan air; dan buah sycamore kecil dan tak berguna; dan terakhir ia membuat air sungai hanya mengalir ke satu arah, karena rencana aslinya akan membuat manusai terlalu mudah saat melayari sungai. Inspeksi kerja satu sama lain menghasilkan keributan mematikan antara kedua saudara, yang akhirnya berkelahi dan Othagwenda tewas dalam perkelahian ini.

Jicarilla Apache

Pada awalnya bumi tertutup air, dan semua mahluk hidup di dunia bawah. Lalu manusia dapat berbicara, hewan dapat berbicara, pohon dapat berbicara dan batu dapat berbicara.
Waktu itu gelap di dunia bawah, dan mereka memakai bulu elang untuk obor. Manusia an hewan yang aktif di siang hari ingin lebih banyak cahaya, tapi para hewan – beruang, panther, dan burung hantu – ingin kegelapan. Mereka bertengkar, dan akhirnya setuju untuk memainkan käyoñ'ti untuk memutuskan masalah ini. Disetujui kalau bila hari dimana hewan menang akan selalu gelap, kalau kalah maka akan selalu terang.

Permaian dimulai, namun Magpie dan Quail, yang menyukai cahaya dan bermata tajam, menonton sampai mereka dapat melihat tombol di balik kayu tipis dari tongkat bolong, dan mereka memberi tahu manusia. Akibatnya manusia menang. Bintang pagi keluar dan beruang hitam lari dan bersembunyi di kegelapan. Mereka bermain lagi, dan manusia kembali menang. Terang di timur dan beruang coklat lari bersembunyi dalam kegelapan. Mereka bermain lagi, dan manusia menang lagi. Semakin terang di timur dan singa gunung lari kedalam gelap. Mereka bermain lagi, dan manusia menang. Matahari muncul di timur, dan terjadilah siang, burung hantu terbang bersembunyi.

Masih orang-orang dibawah dan tidak melihat banyak hal, namun matahari berada tinggi dan melihat banyak. Matahari melihat lewat lubang Dan melihat ada dunia lain, bumi diatasnya. Ia menceritakan pada manusia dan mereka ingin kesana; jadi mereka membangun empat gundukan untuk mencapai dunia atas. Di timur mereka membuat gundukan dan menanamnya dengan beragam jenis buah dan berry yang berwarna hitam. Di selatan mereka membuat gundukan dan menanamnya dengan segala macam buah biru. Di barat mereka membuat gundukan dan menanamnya dengan segala buah berwarna kuning, dan di utara mereka membuat gundukan dan menanam buah-buahan dengan aneka warna. Gunung-gunung berhenti tumbuh sementara puncak mereka masih jauh dari dunia atas, dan orang-orang berdebat bagaimana mereka dapat ke bumi. Mereka membaringkan bulu-bulu menjadi tangga, namun terlalu lemah. Mereka membuat tangga kedua dari bulu yang lebih besar, tapi tetap rusak dan gagal. Usaha ketiga mereka dengan bulu elang, inipun masih tidak mampu menahan berat tubuh mereka. Maka banteng datang dan menawarkan tanduk kanannya untuk menjadi tangga, tiga lagi datang dan menawarkan tanduk kanannya juga. Tanduk banteng sangat kuat, dan dengan bantuan mereka orang mampu mendaki ke lubang menuju permukaan bumi; namun berat mereka membuat tanduk banteng melengkung, yang sebelumnya lurus, sehingga hingga kini, tanduk banteng selalu melengkung.

Saat orang-orang akan datang dari bawah bumi, mereka mengikat matahari dan bulan dengan jaring laba-laba, sehingga mereka tidak dapat lari, dan mengirim mereka ke langit untuk memberi cahaya. Namun air menutupi seluruh bumi, maka empat angin bertiup mengusir air. Angin hitam bertiup ke timur dan mengusir air ke samudera timur. Angin biru bertiup ke selatan dan mengusir air ke arah itu. Angin kuning mengusir air ke timur dan angin beragam warna pergi ke utara dan mengusir air disana. Maka terciptalah empat samudera – di timur, selatan, barat dan utara. Setelah mengusir air, angin kembali ke mulut lubang, tempat orang-orang menunggu.

Pertama kucing kutub keluar, namun tanah masih lembut, dan kakinya tenggelam dalam lumpur hitam sehingga menjadi hitam hingga kini. Mereka mengirim tornado untuk membawanya pulang, namun belum wantunya. Tupai keluar, tapi ia juga tenggelam kakinya, hingga menjadi hitam, maka tornado memanggilnya kembali. Berang-berang ingin keluar, merayap di lumpur dan berenang di air. Ia mulai membangun bendungan untuk menyelamatkan air yang masih tersisa di kolam-kolam, dan ia tidak kembali. Tornado lalu dikirim dan melihatnya sedang bekerja dan ia bertanya kenapa ia tidak pulang. “Karena saya ingin menyelamatkan air buat orang minum,” kata berang-berang. “Bagus,” kata tornado, dan mereka pulang bersama. Mereka menunggul lagim, dan mengirim gagak untuk melihat apakah sudah waktunya. Gagak melihat kalau bumi telah kering, dan banyak katak, ikan dan reptil mati di daratan. Ia mulai mengambil mata mereka, dan tidak kembali hingga tornado dikirim padanya. Orang-orang marah saat mereka melihat ia memakan bangkai, dan mereka mengubah warnanya menjadi hitam, yang sebelumnya abu-abu.

Bumi kini kering, dan empat samudera mengelilinginya dan danau di tengah, dimana berang-berang membuat bendungan. Semua orang datang. Mereka ke timur hingga mereka tiba di samudera; lalu mereka ke barat hingga bertemu samudera, dan mereka ke utara dan mereka juga bertemu samudera. Namun suku Jicarilla terus mengelilingi tempat mereka keluar dari dunia bawah. Tiga kali mereka berkeliling, saat Sang Pengatur menjadi tidak senang, dan meminta mereka berhenti. Mereka berkata, “Di tengah-tengah bumi;” maka ia membawa mreka ke tempat yang sangat dekat dengan Taos dan meninggalkan mereka di sana, dan kemudian Indian Taos tinggal didekat mereka…

Sementara Jicarilla bergerak tak sengaja seorang gadis tertinggal di tempat mereka keluar dari dunia bawah. Nama gadis ini Yo'lkai'- îstû'n, ‘wanita manik putih’. Matahari bersinar diatasnya saat ia duduk dan ia melahirkan anak laki-laki, dan bulan bersinar di atasnya saat ia tidur dan ia melahirkan anak laki-laki lain. Anak pertama lebih kuat dari anak kedua, karena matahari lebih kuat dari bulan. Saat anak-anak itu cukup besar untuk berjalan, matahari menyuruh sang ibu mencari rakyatnya, dan iapun pergi mencari bersama anak-anaknya.
Mereka tinggal di dekat Taos… .

Segera setelah matahari mengirim pesan ke wanita itu ia mengirim anaknya padanya. Anak bulan tetap dirumah dengan ibunya, namun anak matahari pergi dan bertemu ayahnya di rumah. Ayahnya menerimanya dengan baik dan memberinya panah dan busur dan pakaian turquoise, dengan kalung turquoise dan pelindung siku dan gelang turquoise. Lalu matahari berkata padanya, “Sekarang engkau akan dipanggil Nayé- nayesxû'ni, 'Sang pemusnah bahaya”, karena aku akan mengirimmu menghancurkan banyak bahaya yang mengganggu manusia.”
Ayahnya menyuruhnya pergi melawan katak raksasa yang tinggal di air danau Taos, dan menyedot siapapun yang mendekat. Nafasnya seperti petir di waktu malam, dan ia menyedot begitu banyak orang sehingga indian taos sangat sedikit yang tersisa.

…Ayahnya memberi juga roda dari batu hitam, roda biru, roda batu kuning dan roda kayu aneka warna. Ia memberinya tongkat api hitam, biru, kuning dan aneka warna.
Saat anak itu pulang ke Taos… [ia] turun ke danau dan berdiri di pantai timur saat fajar. Kepala katak muncul dari danau dan ingin menyedotnya, namun sang anat tidak dapat digerakkan, dan katak itu menyelam lagi. Lalu sang anak melempar roda batu hitam ke tengah danau, dan air surut sedikit. Ia ke pantai selatan dan melempar roda biru, dan air tambah surut. Ia berdiri di pantai barat dan melemparkan roda kuning, air menjadi dangkal dan berlumpur. Lalu ia ke utara dan melemparkan roda aneka warna, dan air menjadi kering, dan ia melihat rumah katak di tengah danau seperti rumah pueblo, dengan empat pintu di tiap sisi dan sebaris batu pijakan dari tiap pintu ke ujung danau.

Ia pergi kesisi timur danau, dimana ia berdiri di terik matahari, menyilangkan batu lompatan pintu pertama. Di tiap sisi pintu berdiri penjaga dari indian pueblo yang telah disedot oleh sang katak. Mereka diletakkan disana untuk memperingatkan katak kalau ada musuh mendekat; namun sang anak cukup berbicara dengan mereka dan mereka tidak dapat bergerak. Di pintu selatan, ia melihat dua beruang menjaga. Di pintu barat dua ular besar dan di pintu utara dua panther. Bergiliran ia berbicara dengan mereka dan mereka membeku dan ia dapat masuk. Lalu ia masuk ke dalam rumah, dan bertemu dengan katak besar duduk di tengah dengan empat pintu ke arahnya. Ia menanyakan kemana orang-orang ynag telah ia sedot dari danau, namun sang katak bilang ia tidak tahu apa-apa. Sang anak tahu ia berbohong, maka ia mengambil empat tongkat apinya dan memutarinya dengan cepat hingga ruangan itu penuh dengan asap tebal yang membuat sang katak tersedak, dan ia mati. Lalu ia meminta kedua penjaga pueblo untuk melepaskan teman-temannya, dan mereka membuka keempat pintu di sekitarnya, dan semua ruangan ini penuh dengan orang pueblo yang telah disedot oleh katak. Juga ada banyak katak kecil, anak katak besar; namun mereka terlalu kecil dan tidak berbahaya, maka sang anak membiarkan mereka hidup, namun menyuruh mereka agar tidak boleh membesar. Maka sampai sekarang katak tidak pernah membesar. Sang anak kembali ke Taos dengan semua orang yang telah ia bebaskan dari bawah air. Orang-orang pueblo sangat berterima kasih dan mengundang ia dan ibu dan saudaranya ke Taos untuk apapun kebutuhannya. Ia membawa mereka berkunjung sebentar, dan kembali ke ayahnya, sang matahari, untuk melihat apa tugasnya selanjutnya…

Ayahnya mengatakan masih ada bahaya-bahaya yang harus dimusnahkan sebelum orang dapat aman. Ini kisah yang panjang – seluruh kisah hidup Náyenayesxû'ni – dan ruang tidak cukup menceritakan detil petualangannya. Ia kemudian dikirim ayahnya untuk menghancurkan dua beruang raksasa yang tinggal di gunung barat Santa Clara yang merusak daerah sekitarnya. Panah indian hanya menyentuh kulitnya dan tidak menancap, dan sang ayah menunjukkan cara membunuhnya dengan memanah jantungnya, yang ada di telapak kaki depan kanannya. Beruang yang satunya lagi tewas karena petir yang dilemparkan oleh matahari sendiri. Mayat mereka dibakat dan dua anak beruang diperintahkan agar tidak tumbuh lebih besar lagi, dan hingga sekarang segitulah ukuran beruang.

Ada sebuah batu bernama Tsê'-nanlki'ñ, "batu yang berlari,” yang tinggal di Cieneguilla, timur Rio Grande dan barat daya Taos. Batu itu hidup dan memiliki kepala dan mulut untuk menghancurkan manusia dan memakannya. Dengan bantuan ayahnya, matahari, sang anak memanahnya dan membunuhnya. Batu itu masih ada disana, berbaring di dataran – batu hitam sebesar rumah, dengan wajah menghadap ke barat, dan dengan bintik ke utara dan di selatan dimana panah menembusnya, dan garis merah turun darinya dimana darah jatuh ke tanah.
Monster lain ia hancurkan, hingga akhirnya ayahnya mengatakan hanya tinggal satu yang tersisa. Ini adalah ikan terbang raksasa di sebuah danau di barat dan memakan jantung manusia. Ia terbang dan menembak mangsanya dari atas, menghancurkan tulang rusuknya untuk mendapatkan jantungnya. Matahari memberi pekerjaan terakhir ini pada anak bulan, yang selalu ada di rumah menjaga ibunya. Kedua bersaudara pergi bersama hingga mereka tiba di danau dan menunggu kemunculan ikan terbang. Saat ia muncul, anak bulan menyerang kepala ikan itu dengan petir yang diberikan matahari. Lalu saat ia kaku ia menembakkan empat panah ke jantungnya. Ia membelah badannya, mencabut jantungnya dan melemparkannya ke bulan, seperti kita lihat sekarang..

Saat pekerjaan mereka selesai dan dunia telah aman, mereka mengucapkan kata-kata terakhir mereka pada manusia dan pergi mengikuti matahari ke barat. 12 orang ikut bersamanya. Saat mereka bertualang, mereka datang ke 12 gunung, satu sama lain, dan di tiap gunung, kedua bersaudara ini meninggalkan satu orang untuk menunggu selamanya hingga mereka kembali. Mereka meneruskan perjalanan hingga tiba di samudera barat, dimana kini mereka tinggal di sebuah rumah turquoise di bawah air hijau.

Penobscot

Saat Kloskurbeh, pencipta segalanya, tinggal di bumi, tidak ada manusia. Namun satu hari seorang remaja lahir dari buih gelombang, dan menjadi pembantu utamanya. Setelah dua mahluk ini menciptakan segalanya, muncul seorang gadis cantik. Ia lahir dari tanaman bumi indah, dan dari embun, dan kehangatan.
Ibunda pertama menikahi pembantu ketua Kloskurbeh. Saat anak mereka memperbanyak hingga tidak cukup permainan untuk memberi makan mereka, ibunda pertama membuat suaminya membunuhnya. Lalu ia dan anaknya menarik tubuhnya di tanah gersang, seperti ia perintahkan, dan mengubur tulangnya di tengah lapangan. Tujuh bulan kemudian mereka kembali dan menemukan lapangan hijau dengan jagung muda, dan di tengahnya, tembakau wangi.

Lakota

Lakota menceritakan versi penciptaan mereka kalau para tuhan tinggal di langit dan manusia tinggal di dunia bawah tanpa kebudayaan. Ciptaan dimulai oleh Inktomi (laba-laba) yang cerdas, yang berusaha menyebabkan celah di langit antara tuhan matahari Takushkanshkan (sesuatu yang bergerak) dan istrinya, sang bulan. Pemisahan mereka menandai penciptaan waktu. Sebagian rekan konspirator Inktomi dibuang ke bumi dimana para tuhan dari empat angin terpisah dan menciptakan ruang.
Untuk memenuhi bumi, Inktomi berjalan ke dunia bawah dalam bentuk serigala dan bertemu dengan manusia, menceritakan mereka tentang dunia surga di atas tanah. Inktomi meyakinkan seseorang bernama Tokahe (yang pertama) untuk berjalan ke permukaan untuk sebentar. Saat Tokahe muncul dari gua (Gua Angin di Bukit Hitam), ia menemukan dunia yang sangat indah. Kembali ke dunia bawah, Tokahe mengajak keluarga lain menemaninya ke permukaan, namun pada kedatangan mereka menemukan bumi penuh dengan kesusahan. Inktomi kali ini menghalangi manusia kembali ke dunia bawah, sehingga keluarga-keluarga ini tidak punya pilihan kecuali menyebar dan tinggal di muka bumi.

Maidu

Pada awalnya tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada bintang. Semua gelap, dan dimana-mana hanya ada air. Sebuah rakit mengapung di air. Ia datang dari utara, dan didalamnya ada dua orang –penyu dan Ayah-dari-masyarakat-rahasia.
Aliran mengalir sangat cepat. Lalu dari langit sebuah tapi dari bulu turun dan turunlah Pembuat-Bumi. Saat ia mencapai ujung tali, ia mengikatnya pada busur rakit dan naik. Wajahnya tertutup dan tidak pernah terlihat, namun tubuhnya bersinar seperti matahari. Ia duduk dan dalam waktu lama tidak berkata apa-apa.
Akhirnya sang penyu berkata,”Dari mana kamu datang?” dan pembuat bumi menjawab, “Saya datang dari atas”.
Lalu penyu berkata, “Saudara, bisakan anda membuat tanah kering bagi saya sehingga saya dapat keluar dari air kapan-kapan?”
Lalu ia bertanya lagi, “apakah akan ada manusia di dunia?”
Pencipta bumi berpikir sebentar, lalu berkata “Ya.”
Penyu bertanya, “Berapa lama sebelum anda akan membuat manusia?”
Pencipta bumi membalas “Saya tidak tahu. Anda ingin memiliki daratan kering: bagaimana saya mendapatkan bahan untuk membuatnya?”
Penyu menjawab,”Bila anda mau mengikat batu di tangan kiri saya, saya akan menyelam mengambilnya”
Pembuat bumi melakukan itu, dan mengikatkan ujung tali dengan tangan kiri penyu. Saat pencipta bumi datang ke rakit, tidak ada lagi tali: ia mencoba menggapai ke dalam laut tapi tidak ketemu.
Penyu berkata “Bila talinya tidak cukup panjang, saya akan menariknya dan engkau harus menarik saya naik; bila cukup panjang, saya beri dua sentakan, dan anda terus menarik saya dengan cepat, dan saya membawa tanah itu”. Saat penyu itu akan ke sisi perahu, bapak dari masyarakat rahasia mulai berteriak.
Penyu itu pergi lama. Telah enam tahun, dan saat ia naik, ia tertutup dengan lumut, ia telah turun terlalu lama. Ia mencapai atas air, satu-satunya tanah yang ia bawa adalah sedikit sekali di bawah kukunya: sisanya tersapu air. Pencipta bumi mengambil dengan tangan kanannya memakai pisau batu dari ketiak kirinya dan dengan hati-hati mengikis tanah dari kuku sang penyu.
Ia meletAkkan tanah di tapak tangannya, dan menggulungnya hingga bulat, sebesar guli. Ia meletakkannya di ujung rakit. Ia mengamatinya namun bola itu tidak membesar. Ketiga kalinya ia mengamatinya, ia tumbuh sebesar rentangan tangan. Keempat kalinya ia melihat, ia telah sebesar dunia, rakit itu telah ada di atasnya, dan semuanya pegunungan sejauh mata memandang.
Rakit itu mendarat di Ta’doiko, dan tempat itu dapat dilihat sekarang.

Seminole

Seminole menceritakan saat sang pencipta, kakek dari segalanya, menciptakan bumi, ia membuat semua hewan dan burung dan meletakkannya dalam sebuah cangkang besar. Saat bumi telah siap, ia meletakkan cangkang itu di sepanjang tulang punggung (pegunungan) di bumi. “Saat waktunya tepat, ia memerintahkan para hewan, cangkang akan terbuka dan kalian akan keluar semua. Sesuatu atau seseorang akan meretakkan cangkang fan kalian harus mencari tempat di muka bumi”. Sang pencipta lalu memberi segel cangkang dan berharap kalau panther (hewan favoritnya) akan keluar pertama.
Waktu berjalan, dan tidak ada yang terjadi. Disepanjang cangkang berdiri pohon besar. Saat waktu berlalu, pohon tumbuh begitu besar sehingga akarnya mengelilingi cangkang. Akhirnya akar itu memecahkan cangkang. Angin segera memperbesar keretakan itu dan sang pencipta turun untuk membantu panther mendapat tempat di bumi. Lalu keluar burung. Burung mematuk lubang, dan saat waktunya tepat, keluar dari cangkang. Burung lalu terbang dengan segera. Setelah itu hewan lain muncul dalam urutan berbeda: beruang, rusa, ular, katak, berang-berang. Ada ribuan lainnya, sebegitu banyak sehingga tidak satupun selain sang pencipta yang bisa menghitungnya. Semua keluar mencari tempatnya di bumi.

Tlingit

Menurut tradisi Tlingit, penciptaan terjadi atas bantuan gagak. Pada saat itu tidak ada cahaya ataupun air. Gagak harus mencuri cahaya dari rumah seorang kaya jauh di hulu sungai Nass, yang kering waktu itu. Ia melakukannya dengan menjadikan dirinya kecil dan membuat anak pemilik rumah memakannya dan menjadi hamil. Saat anak itu lahir, ia menangis meminta buntalan cahaya yang bergantung di dinding rumah. Akhirnya, keluarga itu memberi sang gagak buntalan bintang dan bulan untuk mendiamkannya yang kemudian saat dibuka, bintang-bintang dan bulan-bulan itu lepas lewat cerobong yang tersebar di langit. Yang tersisa adalah kotak siang yang merupakan cahaya terakhir yang dimiliki keluarga itu.
Gagak lalu menipu orang yang memiliki sungai air abadi dengan memberinya minuman, namun sebelum ia dapat lari lewat cerobong, manusia itu menyalakan perapian hingga gagak itu menjadi hitam hingga sekarang. Pertama, ia meludahkan air menciptakan Nass Stikine, Taku, Chilkat, Alsek, dan semua sungai besar lainnya. Tetesan lebih kecil menciptakan kali salmon.
Gagak lalu melanjutkan ke sebuah kota yang tidak pernah melihat siang hari. Penduduk kota itu mengoloknya, sehingga gagak memutuskan menakuti mereka dengan membuka kotak siang. Melihat matahari, penduduk desa berlarian, sebagian ke samudera dan menjadi mahluk laut dan sebagian ke hutan dan menjadi mahluk hutan.
Gagak menciptakan angin, ras, dan anjing yang merupakan manusia yang dikutuk gagak agar berjalan dengan empat kaki.

Maya

Maya dari Mesoamerica memiliki kisah peciptaan dalam buku Popol Vuh. Tepeu dan Gucamatz bersama menciptakan dunia. Apa yang dipikirkan oleh Tepeu dan Gucamatz langsung menjadi wujud. Selanjutnya untuk ciptaan adalah mahluk hutan: burung, rusa, jaguar dan ular. Mereka disuruh memperbanyak diri dan menyebar, dan disuruh berbicara dan berdoa pada kami. Namun hewan hanya bisa bersuara. Jadi Tepeu dan Guculmatz mencoba membuat mahluk yang lebih bermartabat dari lumpur. Namun hasilnya tidak bagus, dan mereka membiarkan ras baru ini punah. Mereka meminta saran kakek mereka, dan sang kakek menyuruh mereka memakai kayu sebagai media. Namun orang-orang kayu hanyalah robot tanpa pikiran, jadi Tepeu dan Guculmatz akan memusnahkan ras baru ini dengan hujan badai. Ini menyebabkan para hewan melawan orang-orang kayu; bahkan tembikar mereka memberontak dan menghancurkan wajah mereka. Orang-orang kayu lari ke hutan dan berubah menjadi monyet. Hati langit lalu menciptakan lagi mahluk yang bermartabat, dan akhirnya berhasil setelah memakai media tongkol jagung untuk membuat manusia.

Asia Timur

Ami dari Formosa

Pada awalnya ada sebuah tongkat tertanam di tanah. Muncul akar dan menjadi dua bambu. Dari bambu itu keluarlah satu laki-laki dan satu perempuan. Leluhur pertama umat manusia.
Referensi:
TAYLOR, G., "Aborigines of Formosa," in China Review, xiv. 121-26, 194-98 (1885-86).

Shinto

Shinto, berfokus di jepang, mengkaitkan ceritanya tentang jepang. Tuhan Izanagi dan tuhan Izanami mengaduk samudera dengan tombaknya untuk membuat pulau kecil dari garam. Kedua tuhan ini turun ke pulau itu, bercampur disana dan membuat pulau-pulau lain, tuhan dan pendahulu Jepang.
Selain ini, keyakinan Shinto adalah segalanya selalu ada begitu saja.

Taoism

Tao adalah kekosongan tanpa nama, ibunda dari sepuluh ribu macam hal. Tao dipandang oleh Laozi sebagi yang selamanya memberi tanpa kekurangan, dan selamanya menerima tanpa kelebihan. Bagi Yang tidak merasa ada untuk dirinya sendiri akan mampu menguasainya.
Hanya inilah gagasan asli tao mengenai asal segalanya. Semua mitos berikut ditambahkan jauh setelah inti tulisan asli Tao dan hanya muncul saat filsafat Tao semakin terstruktur, religius dan membutuhkan kosmologi lebih detil untuk penganutnya. Bahkan saat ini ada dua tradisi utama Taoisme: tradisi agama dengan kosmologi lebih detil dan tradisi filsafat asli yang tidak menerima mitos penciptaan sama sekali.
Penciptaan Tao muncul dalam dua versi. Pertama penciptaan-pembagian dalam Tao Te Ching dan sebagian dalam I Ching dijelaskan dari tao – kekosongan atau Wuji melahirkan Taichi, keberadaan ini memecah menjadi sepasang yin dan yang, yan dan yang terpisah menjadi empat dunia dan kemudian delapan wilayah, dan darinya semuanya tercipta.
Mitos Pan Gu sekitar 200 M menjelaskan alam semesta yang berawal dari telur kosmik dengan Pan gu lahir di dalamnya. Ia memecahnya menjadi dua, dan keluar darinya. Pan Gu adalah laki-laki dengan kulit beruang dan dua tanduk. Ia memisahkan yin dan yang dan merubahnya menjadi langit dan bumi. Ia sendiri di tengah, berdiri di bumi dan menopang langit. Dengan palu dan pahat ia menciptakan matahari, bulan dan bintang. Dalam menciptakan ini, ia tumbuh perlahan setiap hari. Saat pekerjaan selesai, Pan Gu mati dan memberikan kehidupan bagi dunia. Suaranya menjadi petir, tangan dan kakinya keempat sudut bumi. Dagingnya menjadi bumi, rambutnya pohon, keringatnya hujan dan tulangnya menjadi batu. Akhirnya, manusia adalah serangga yang berada di tubuhnya. Ini adalah versi alegori dari penciptaan-pembagian.
Ketimbang fakta kalau cerita ini diterima sebagai legenda cina kuno, adalah mungkin kalau ia di impor dari asia tenggara. Walau begitu, ia umumnya dinisbahkan pada Ko Hung, penulis Tao abad ke 4 masehi, yang juga menulis persiapan ramuan kehidupan dan subjek sejenis. Ia juga menulis biografi roh dan orang-orang abadi, yang menjadi sumber utama bahan mitologis. Ini jelas menempatkannya jauh setelah tulisan Tao inti.
Versi kedua dengan referensi metafisik diberikan dalam buku abad ke 20 berjudul Tiantang Yiuchi dimana penciptaan dijelaskan mendetail, kalau keluar dari Tao atau Wuji muncul mahluk Xuanxuan Shangren yang menetas menjadi Tiga yang murni , trinitas Dao dan kemudian lima yang maha kuasa. Tiga dari lima yang maha kuasa ini menginkubasi laki-laki dan perempuan pertama dan juga mahluk hidup lainnya.

Cina

Pada awalnya, surga dan bumi masih menyatu dan semuanya kacau. Alam semesta seperti telur besar hitam, membawa Pan Gu di dalamnya. Setelah 18 ribu tahun Pan Gu bangun dari tudir panjang. Ia kelaparan dan melihat ke sebuah telur dan sekeras tenaga membukanya. Bagian beningnya mengambang dan membentuk langit, bagian yang keras dan dingin tetap dibawah menjadi bumi. Pan Gu berdiri di tengah, kepalanya menyentuh langit, kakinya tertanam di bumi. Langit dan bumi mulai tumbuh sepuluh kaki per hari, dan Pan Gu tumbuh seiringnya. Setelah 18 ribu tahun, langit lebih tinggi, bumi lebih tebal, dan Pan Gu berdiri diantaranya seperti tiang dengan tinggi 9 juta li sehingga mereka tidak mungkin bersatu lagi.

Saat Pan Gu mati, nafasnya menjadi angin dan awan, suaranya menjadi petir. Satu mata menjadi matahari dan satu menjadi bulan. Badan dan tangan kakinya menjadi lima pegunungan besar dan darahnya menjadi air yang menggelegak. Nadinya menjadi jalan yang terbentang dan ototnya menjadi tanah yang subur. Tak terhitung bintang di langit tercipta dari rambut dan janggutnya, dan bunga dan pohon dari kulitnya dan rambut halus ditubuhnya. Keringatnya mengalir seperti hujan dan embun yang menyiram bumi. Menurut beberapa versi legenda Pan Gu, air matanya mengalir menjadi sungai dan radian matanya menjadi petir dan kilat. Saat ia senang matahari cerah, dan saat ia marah langit mendung. Satu versi legenda ini mengatakan kalau kutu di tubuhnya menjadi leluhur umat manusia.

Kisah Pan Gu telah mengakar pada tradisi cina. Ada peribahasa terkati dengannya: “Sejak Pan Gu menciptakan bumi dan langit,” berarti “untuk waktu yang sangat lama.”walaubegitu, ia lama dikatalogkan dalam sastra cina. Penyebutan pertamanya dalam buku mitos Cina ditulis oleh Xu Zheng di periode Tiga kerajaan (220-265 M). beberapa pendapat mengatakan ia berasal dari Cina selatan atau asia tenggara.

ada beberapa versi kisah Pan Gu.

diantara suku Miao, Yao, Li dan suku lain di cina selatan, legenda ini mengatakan Pan Gu adalah leluhur umat manusia, dengan badan laki-laki dan kepala anjing. Mitosnya begini: Jauh di langit tuhan yang bertanggung jawab pada bumi, raja langit Gao Xin, memiliki anjing totol yang indah. Diantara para tuhan ada persaingan antara raja Gao Xin dan Raja Fang. “Siapa yang dapat membawakan kepala raja Fang akan menikahi putri saya,” katanya, namun tidak ada yang berani melawan tentara dan kuda raja fang.

sang anjing bernama Pan Gu ini mendengar, dan saat Gao Xin tidur, ia keluar istana dan mengejar raja fang. Raja Fang senang melihat anjing yang lucu ini. “Lihatlah, raja Gao Xin telah dekat masa runtuhnya. Bahkan anjingnya sendiri meninggalkannya,” kata Fang, dan mengadakan jamuan dengan sang anjing disampingnya.

pada tengah malam saat sepi dan Fang telah mabuk, Pan Gu melompat ke ranjang raja, menggigit kepalanya dan lari ke tuannya sambil membawa kepala raja Fang. Raja Gao Xin bergembira melihat kepala musuhnya, dan meminta agar Pan gu diberi daging segar. Namun Pan Gu menolak daging itu dan pergi tidur di pojok. Selama tiga hari ia tidak makan dan tidak minum.

Raja kebingungan dan bertanya, “mengapa engkau tidak makan? Apakah karena aku tidak menikahkannya dengan anakku?”. Secara ajaib Pan Gu berbicara. “Jangan kuatir, rajaku. Tutupi saya dengan genta emas mu dan dalam tujuh hari tujuh malam, aku akan menjadi manusia.” Sang raja melakukannya, namun pada hari keenam, takut kalau ia mati kelaparan, sang putri mengintip ke dalam genta. Tubuh Pan Gu telah berubah jadi manusia tapi kepalanya masih anjing. Walau begitu, saat genta diangkat, sihirnya segera sirna, dan ia tetap menjadi laki-laki berkepala anjing.

ia menikahi sang putri, namun sang putri tidak ingin dilihat bersama dengan manusia demikian, maka mereka pindah ke bumi dan tinggal di pegunungan di cina selatan. Mereka hidup bahagia dan punya empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan, yang menjadi leluhur umat manusia.

Tibet

Dahulu kala, seekor monyet suci berjalan menuju himalaya untuk menikmati meditasi yang tidak terganggu. Keindahan kepribadiannya memikat hati seorang setan batu, yang berusaha menggodanya namun tidak dapat melemahkan meditasi sang monyet. Ia putus asa dan marah. Namun seorang setan wanita yang marah berbahaya bagi dunia, dan menyadari ini, dan simpati besar pada penderitaannya, sang monyet akhirnya menerima cintanya. Dalam pernikahan mereka, enam anak dilahirkan, dan dari ini, seluruh populasi tibet berasal. Beragam kepribadian manusia merupakan cermin dari keenam sifat anak sang monyet dan setan batu.

Ainu

Orang Ainu dari Hokkaido memulai kosmologinya dengan enam langit dan enam neraka dimana tuhan, setan dan hewan tinggal. Setan tinggal di langit bawah. Di antara bintang dan awan tinggal tuhan-tuhan kecil. Di langit tertinggi tinggal tuhan maha pencipta, Kamui, dan pesuruhnya. Dunianya dikelilingi oleh dinding logam kokoh dan satu-satunya gerbang adalah lewat gerbang besi besar.
Kamui menciptakan dunia sebagai samudera yang luas di tulang belakan seekor ikan trout raksasa. Ikan ini mnyedot isi samudera dan menyemburkannya lagi untuk menciptakan pasang; saat ia bergerak terjadilah gempa bumi.

Satu hari Kamui melihat kedunia bawah yang berair fan memutuskan berbuat sesuatu. Ia mengirim seekor burung air untuk melakukannya. Dengan mengepakkan sayapnya di air dan menggali pasir dengan kakinya dan memukulnya dengan ekornya, sang burung menciptakan daratan pertama. Dengan cara ini pulau-pulau naik mengambang di atas samudera.
Saat para hewan yang tinggal di langit melihat betapa indahnya dunia ini, mereka meohon pada Kamui untuk tinggal disana dan diijinkan. Namun Kamui juga membuat mahluk lain khusus untuk dunia. Manusia pertama, para Ainu, memiliki tubuh bumi, rambut dari daun dan duri dari ranting. Kamui mengirim Aioina, manusia suci, turun kebumi untuk mengajarkan Ainu cara berburu dan memasak.

Hui-Nan Tzu, Cina

Sebelum langit dan bumi memiliki bentuk, semuanya kabur dan tidak ada bentuknya. Yang terang dan ringan bergerak ke atas menjadi langit, sedang yang berat dan keruh memadat menjadi bumi. Bahan-bahan murni dan halus sangat mudah bergabung bersama, tetapi bahan-bahan berat dan keruh sangat sulit memadat. Maka langit terbentuk lebih dahulu, dan bumi menyusul sesudahnya. Saat langit dan bumi bergabung dalam kekosongan, dan semuanya adalah kesederhanaan yang ada dengan sendirinya, tanpa diciptakan muncullah benda-benda. Ini adalah kesatuan agung. Semua benda berasal dari kesatuan unu tetapi kemudian menjadi berbeda.

Korea

Dahulu ada orang suci di langit. JoMulJu menciptakan segalanya di alam semesta, dan orang-orang suci ini mendapatkan kerajaan mereka sendiri. Putra dari Tuhan maha pencipta (JoMulju atau Hwan-in) datang ke bumi dengan para menteri (manusia dan hewan) untuk mengendalikan hujan, awan, angin dan 360 jenis urusan untuk di atur di bumi, karena kenyataannya ia juga manusia yang berderajat tuhan. Seekor beruang dan seekor harimau ingin menjadi manusia. Mereka berdoa pada tuhan maha pencipta, Hwan-ung, dan ia memberi mereka 20 siung bawang putih dan segenggam mugwort, dan menyuruh mereka tinggal dalam gua selama 100 hari. Beruang itu cukup sabar untuk bertahan hidup dalam gua dan kelaparan serta hanya makan bawang putih dan mugwort, tapi sang harimau gagal pada menit terakhir dan berlari keluar dari gua. Sang beruang menjadi gadis dan ingin punya anak, maka anak dari tuhan menikahinya. Anak itu adalah Dangun yang mendirikan kerajaan Korea.

Afrika

Dogon

Penciptaan bermula dari mahluk bernama Amma, sebuah telur yang menjadi benih alam semesta. Ia bergetar tujuh kali, lalu menetas dan mengeluarkan Nommo, ruh pencipta. Ia jatuh ke bumi dan kemudian di ikuti oleh perempuan kembar, lalu empat pasangan Nommo lainnya. Nommo menciptakan dan mengatur langit dan bumi, pergantian siang dan malam, musim dan masyarakat manusia.

Kerajaan mesir bawah

Hanya samudera yang ada pada awalnya. Lalu Ra (matahari) memunculkan telur dari permukaan air. Ra mengeluarkan darinya empat anak, tuhan Shu dan Geb dan tuhan Tefnut Nut. Shu dan Tefnut menjadi atmosfer. Mereka berdiri di atas Geb, yang menjadi bumi, dan mengangkat Nut, yang menjadi langit. Ra mengatur semuanya. Geb dan Nut punya dua anak laki-laki, Set dan Osiris, dan dua anak perempuan, Isis dan Nephthys. Osiris menggantikan Ra sebagai raja bumi, dibantu oleh Isis, istri sekaligus saudara perempuannya. Set, membenci saudaranya dan membunuhnya. Isis kemudian membalsem tubuh suaminya dengan bantuan tuhan Anubis, yang kemudian menjadi tuhan pembalseman. Karisma kuat dari Isis membangkitkan Osiris, yang menjadi raja dunia kematian. Horus, anak dari Osiris dan Isis, kemudian mengalahkan Set dalam perang besar dan menjadi raja bumi.

Kerajaan mesir atas

Pertama hanya ada Nun, samudera purba yang kacau yang memuat segalanya yang ada. Dari air ini muncul Ra, yang melahirkan Shu dan Tefnut. Shu, tuhan ydara dan Tefnut, tuhan embun melahirkan geb dan Nut, tuhan bumi dan tuhan langit. Dan demikianlah alam semesta fisik tercipta. Manusia diciptakan dari air mata Ra. Mereka terbukti tidak tahu terima kasih, maka Ra dan para tuhan memutuskan untuk menghancurkan mereka. Re menciptakan Sekhmet untuk melakukan itu. Ia sangat efisien dan membantai semua orang kecuali beberapa orang saja, saat Ra menyuruhnya berkenti. Maka dunia seperti sekaranglah yang ada.

Menentang perintah Ra, Geb dan Nut menikah. Ra memerintahkan Shu memisahkan mereka, yang ia lakukan. Namun Nut telah hamil, walau tidak dapat melahirkan saat Ra melarang kelahiran apapun. Thoth, tuhan pengajaran, memutuskan menolong dan berjudi dengan bulan untuk cahaya tambahan, dan mampu menambahkan tambahan lima hari dari kalender 360 hari. Pada lima hari itu Nut melahirkan Osiris, Horus sang ketua, Set, Isis, dan Nephthys secara sukses . Osiris menjadi simbol kebaikan dan Set menjadi simbol kejahatan. Dan kedua kutub moralitas terjaga sekarang dan selamanya.

Bakuba

Pada awalnya, bumi hanyalah air dan kegelapan. Mbombo, raksasa putih yang berkuasa pada kekacauan ini. Suatu hari, ia merasa sakit perut yang kuat, dan memuntahkan matahari, bulan dan bintang-bintang. Matahari bersinar kuat dan air menguap menjadi awan. Perlahan, bukit-bukit kering terlihat. Mbombo muntah lagi, kali ini keluar pohon dari perutnya, hewan dan manusia,dan hal-hal lain: wanita pertama, leopard, elang, anvil, monyet Fumu, laki-laki pertama, langit, obat dan petir. Nchienge, wanita dari air, tinggal di timur. Ia memiliki anak laki-laki, woto, dan anak perempuan, Labama. Woto adalah raja pertama Bakuba.

Maasai

Suku Maasai dari Kenya mengatakan kalau manusia pertama dirancang oleh tuhan pencipta dari satu pohon atau kaki yang terbelah menjadi tiga potong. Pada ayah pertama Kikuyu, ia memberikan cangkul. Pada ayah pertama Kamba ia memberi panah dan busurnya. Dan pada ayah pertama Maasai, ia memberikan tongkat. Masing-masing anak bertahan hidup di alam liar. Ayah pertama Maasai memakai tongkat untuk menggembalakan ternak. Ayah pertama Kikuyu memakai cangkul untuk bertani. Ayah pertama Kamba memakai busur dan panahnya untuk berburu.

Yoruba

Pencipta Yoruba disebut Olorun atau Olodumare dan sering dibantu oleh ruh, atau tuhan kecil, Obatala. Pada awalnya, hanya ada air dan kekacauan. Tuhan tertinggi mengirim Obatala atau Orishanla turun dari langit untuk menciptakan daratan. Ia turun dalam rantai panjang (tali pusar) dan membawa seekor ayam jantan, besi dan benih kelapa. Pertama ia meletakkan besi di bumi, lalu ayam di atasnya. Sang ayam menggaruk logam itu dan membuatnya tersebar kesana sini menjadi daratan. Lalu ia menanam biji kelapa dan darinya tumbuh tanaman di bumi. Olurun menamakan bumi “Ife” dan kota pertama “Ile-Ife”. Orshilana menciptakan manusia dari bumi dan meminta Olurun memberikan nafas untuk mereka.

Boshongo(Bantu di Afrika)

Pada awalnya hanya ada kegelapan, air dan tuhan agung Bumba. Satu hari Bumba, karena sakit perut, ia memuntahkan matahari. Matahari mengeringkan sebagian air, sehingga daratan muncul. Masih kesakitan, Bumba memuntahkan bulan, bintang-bintang, dan hewan-hewan: leopard, buaya, penyu dan beberapa pria, salah satunya Yoko Lima yang putih seperti Bumba

Efik

Sang pencipta, Abassi, menciptakan dua manusia, lalu memutuskan mereka untuk tidak tinggal di bumi. Istrinya, Atai, memintanya melepaskan mereka. Untuk mengendalikan manusia, Abassi meminta mereka memakan semua hidangan bersamanya, sehingga mereka tidak menanam atau berburu. Ia juga melarang mereka berkembang biak. Segera, sang wanita menanam makanan di bumi, dan mereka berhenti ikut jamuan dengan Abassi. Lalu sang pria ikut dengan istrinya ke ladang, dan kemudian anak mereka. Abassi menyalahkan istrinya karena pelanggaran ini, namun istrinya bilang akan segera mengatasinya. Ia mengirim kematian ke bumi dan penyakit agar manusia tetap dapat dikendalikan.

Mandingo

Seorang yang dermawan memberikan segala yang ia miliki. Tuhan Ouende menghadiahinya beras, menyarankannya meninggalkan negeri itu dan mengirimkan enam bulan hujan untuk menghancurkan para tetangga yang egois. Keturunan orang kaya ini menjadi umat manusia sekarang.

Ekoi (Nigeria)

Pada awalnya ada dua Tuhan, Obassi Osaw dan Obassi Nsi. Kedua tuhan ini menciptakan apasaja bersama. Lalu Obassi Osaw memutuskan tinggal di langit dan Obassi Nsi memutuskan tinggal di bumi. Tuhan di langit memberi cahaya dan kelembaban, namun juga memberi kekeringan dan badai. Tuhan di bumi merawat dan mengajak manusia bersamanya saat mereka mati. Satu hari di masa lalu, Obassi Osaw membuat seorang pria dan seorang wanita, dan meletakkannya di bumi. Mereka tidak tahu apa-apa sehingga Obassi Nsi mengajarkan mereka cara bercocok tanam dan berburu.

Fan

Pada awalnya tidak ada apa-apa kecuali Nzame. Tuhan ini sesungguhnya tiga: Nzame, Mebere, dan Nkwa. Adalah bagian Nzame dari tuhan yang menciptakan alam semesta dan bumi, dan memberikan kehidupan padanya. Sementara tiga bagian Nzame menghargai ciptaan ini, diputuskan kalau akan diciptakan penguasa bumi. Jadi diciptakan gajah, leopard dan monyet, namun diputuskan lagi untuk menciptakan yang lebih baik. Diantara ketiga mereka membuat mahluk mereka dalam wujud diri mereka, dan menyebutnya Fam (kekuatan), dan menyuruhnya mengatur bumi. Belum lama, Fam menjadi sombong, ia menyalahgunakan hewan dan berhenti menyembah Nzame.
Nzame, marah, memberikan petir dan kilat dan menghancurkan segalanya, kecuali Fam, yang telah dijanjikan keabadian. Nzame, dalam tiga aspeknya, memutuskan memperbaharui bumi dan mencoba lagi. Ia menerapkan lapisan baru ke planet, dan pohon tumbuh diatasnya. Pohon itu menjatuhkan benih yang tumbuh menjadi lebih banyak pohon. Daun yang jatuh darinya ke air menjadi ikan, yang jatuh ke daratan menjadi hewan. Bumi lama masih berada di bawah bumi baru ini, dan bila ada yang menggali cukup dalam ia akan menemukannya dalam ujud batubara. Nzame membuat pria baru, yang tidak abadi, dan menamainya Sekume. Sekume membuat seorang wanita, Mbongwe, dari sebuah pohon. Orang-orang ini dibuat dengan Gnoul (tubuh) dan Nissim (roh). Nissim memberi kehidupan pada Gnoul. Saat Gnoul mati, Nissim tetap hidup.

Zulu

Yang maha dahulu bernama Unkulunkulu, adalah pencipta Zulu. Ia datang dari lautan dan darinya ia membawa manusia dan ternak. Ia menciptakan segalanya: pegunungan, sungai, ular dll. Ia mengajarkan para Zulu bagaimana berburu, membuat api dan menumbuhkan makanan.

Mandinka

Kisah penciptaan tradisional dari suku mandinka dari selatan mali dimulai dengan Mngala, mahluk tunggal maha kuat yang berujud bulat dan penuh energi. Dalam Mangala terdapat empat bagian, yang merupakan simbol dari empat hari dalam seminggu (waktu), empat unsur (materi), dan empat arah (ruang). Mangala juga terdiri dari dua set kembar berkelamin ganda. Mangala letih menjaga semua ini dalam tubuhnya, jadi tuhan ini membuangnya dan menyatukannya dalam sebuah benih. Benih ini adlah ciptaannya dari dunia. Benih ini tidak bercampur baik dan meledak. Mangala kecewa dengan ini dan menghancurkan dunia yang ia ciptakan.
Mangala tidak putus asa; sang pencipta kembali mengulang, kali ini dengan dua set benih kembar. Mangala menanam benih dalam sebuah rahim berbentuk telur dimana ia dikandung. Mangala terus meletakkan lebih banyak benih kembar dalam rahim hingga lengkap 8 set benih. Dalam rahim, benih yang dikandung berubah menjadi ikan. Ikan dipandang sebagai simbol kesuburan di dunia Mende. Kali ini, ciptaan Mangala berhasil. Ini penting, karena ia mencerminkan gagasan kesetaraan gender, gagasan yang tertanam baik dalam kebudayaan Mande.
Mangala mencoba menjaga ciptaannya yang sempurna, namun kekacauan datang; salah satu dari kembaran laki-laki menjadi ambisius dan mencoba lari dari telur. Karakter liar ini disebut Pemba. Ia adalah figur licik yang kelicikan pertamanya adalah mencuri sepotong plasenta rahim dan membuangnya. Tindakan ini menciptakan bumi. Pemba lalu berudaha menyuburkan kembali apa yang tersisa di dalam rahim, melakukan incest dengan ibunya sendiri, sang rahim.
Mangala memutuskan mengorbankan saudara Pemba, Farro untuk menyelamatkan ciptaanNya. Ia mengebirinya dan lalu membunuhnya untuk membangkitkannya dari kematian. Mangala mengambil apa yang tersisa dari plasenta dan merubahnya menjadi matahari, sehingga menghubungkan Pemba dengan kegelapan dan malam. Farro dirubah menjadi manusia dan diajarkan bahasa penciptaan oleh Mangala. Pengetahuan Farro akan kata-kata sangat kuat dan alat yang ia pakai sangat hebat untuk mengalahkan Pemba. Farro dan kembar yang baru ia ciptakan pergi ke bumi dan menikah (tidak satu sama lain). Ini adalah dasar dari eksogami dalam suku Mande.
Selanjutnya, mahluk bernama Sourakata muncul dari langit dengan gendang suci pertama, palu, dan tengkorak pengorbanan Farro. Sourakata mulai memainkan gendang dan bernyanyi sehingga hujan pertama turun. Sourakata adalah mahluk ajaib yang dapat mengendalikan alam, dan ia mengajarkan Farro dan pengikutnya.

Pasifik

Fiji

Rokuamotu menciptakan tanah (daratan). Dikeduknya dari dasar samudera dalam genggaman besar dan disana-sini ditumpuknya dalam gundukan. Inilah kepulauan Fiji.

Society Group

Tanaoa dan Mutuhei (kegelapan dan kesunyian) menjadi penguasa di Po purba. Seiring waktu Atea (Cahaya) berubah atau memisahkan diri dari Tanaoa, dan mengusirnya; dan setelah ini, Ono (suara) berubah dari Atea dan menghancurkan Mutuhei. Dari dua pertarungan ini bangkitlah Atanua (fajar), yang diambil Atea sebagai istri, dan menjadi pencipta para tuhan, disamping menciptakan langit dan bumi.
Referensi:
FORNANDER, A., An Account of the Polynesian Race; its Origins and Migrations. 3 vols. London, 1880.

Samoa

Batu langit dan batu bumi menikah melahirkan bumi. Bumi menikah dengan angin tinggi menghasilkan awan padat. Awan padat dan awan terbang menghasilkan angin bingung, angin diam, angin kuat dan angin kencang serta embun kehidupan. Embun kehidupan dan awan yang menempel ke langit menikah melahirkan awan yang mengambang. Awan yang mengambang dan langit jernih menikah melahirkan bayangan, fajar, lagi, siang, sore dan senja. Angin diam dan awan indah menikah melahirkan langit cerah. Langit cerah dan langit berawan melahirkan tangaloa.
Pada awalnya lautan dikunci dan disuruh diam, namun ia dilepas dan terjadilah banjir.
Referensi:
TURNER, G. 1884, Samoa a Hundred Years ago and Long Before. London, 1884.

Marquesans

Pada awalnya hanya ada lautan, dimana Tiki (tuhan), mengambang dengan kano, dan memancing daratan dari dasar samudera. Tiki kemudian menciptakan wanita dari pasir pantai untuk menjadi istrinya. Mereka menjadi leluhur umat manusia.
Referensi:
RADIGUET, M., Les Derniers Sauvages; souvenirs de l'occupation française aux Iles Marquises. 1842-59. Paris, 1860. (Reprinted from "La Reine-blanche aux Iles Marquises," in Revue des deux Mondes, July 15, Oct. 1, 1859.)

Tonga

Pada awalnya hanya ada lautan dan di dunia tuhan di atas langit, Maui berlayar dan memancing daratan Tonga dari dasar laut. Manusia diciptakan dari cacing-cacing yang melata di pasir dan terjemur matahari. Burung jelmaan anak Taaroa membawa cacing-cacing ini ke Taaroa dan mengubahnya menjadi manusia.

Referensi:

ELLIS, W., Polynesian Researches, during a Residence of nearly Eight Years in the Society and Sandwich Islands. 4 vols. New York, 1840.
FISON, L., Tales of Old Fiji. London, 1904.

Kepulauan Cook

Tiga putra Rongo manjadi leluhur umat manusia di Mangaia.
Referensi:
GILL, W. W., 1876, Myths and Songs from the South Pacific. London, 1876.

Nieue

Manusia pertama lahir dari sebuah pohon.
Referensi:

SMITH, S. P., 1902, "Nieue Island and its People," in JPS xi. 80-106, 163-78, 195-218.

Moriori

Langit dan bumi dahulu menyatu, lalu langit diangkat oleh Pengangkat langit, lalu ditopang dengan sepuluh tiang yang menjadi ruas seperti bamboo.
Referensi:

SHAND, A., 1894, "The Moriori People of the Chatham Islands; their Traditions and History," in JPS iii. 76-92, 121-33, 187-98.

Efate, New Hebrides

Langit pada awalnya sangat rendah sehingga seorang wanita memukulnya dengan alu saat ia menumbuk padi, sehingga ia menyuruh agar langit naik lebih tinggi dan sampailah setinggi sekarang.
Referensi:
MACDONALD, D., 1892, "Efate, New Hebrides," in Austr. Assoc. Adv. Sci. iv. 720-35.

Semenanjung Gazelle

Pada awalnya sebuah mahluk menggambar dua gambar laki-laki di tanah, kemudian, melukai dirinya dengan pusau dan menyiram kedua gambar dengan darah dan menutupnya dengan daun, hasilnya mereka hidup dan diberi nama To-Kabinana dan To-Karvuvu. To Kabinana lalu memanjat sebuah pohon kelapa yang berbuah kuning terang dan mengambil dua buah kelapa, ia melemparkannya ke tanah, namun kedua buah kelapa itu berubah menjadi dua orang wanita, yang mereka jadikan istri. Saudaranya memintanya turun untuk mengambil kedua istrinya. To Karvuvu kemudian naik dan mengambil dua kelapa pula, tapi saat ia melempar kelapa itu ke bawah, kelapa itu terlanjur jatuh ke tanah sebelum menjadi wanita, dan darinya jadilah dua wanita dengan hidung pesek dan jelek. Maka To Karvuvu cemburu pada saudaranya yang mendapat istri-istri yang lebih cantik, maka ia mengambil salah satu istri To Kabinana dan meninggalkan kedua wanita jelek yang adalah miliknya.
Referensi:
MEIER, J., 1909, Mythen und Erzählungen der Küstenbewohner der Gazellehalbinsel (Anthropos-Bibliothek, i). Münster, 1909.

Kepulauan Admiralty

Seorang wanita bernama Hi asa, yang tinggal sendiri, satu hari melukai tangannya saat ia memotong daun pandan. Ia menampung darahnya di sebuah kulit kerang, ia tutup dan tinggalkan; namun setelah sebelas hari, ia melihat ke dalam kerang, dan menemukan dua telur didalamnya. Ia menutupnya lagi dan setelah beberapa hari, telur itu menetas, satu menjadi laki-laki dan satu lagi wanita, yang menjadi nenek moyang umat manusia.

Referensi:
MEIER, J., 1907, "Mythen und Sagen der Admiralitätsinsulaner," in Anthropos, ii. 646-67, 933-42.

Baining dari New Britain

Pertama mahluk yang ada di dunia adalah matahari dan bulan, namun mereka menikah, dan dari perkawinan mereka lahirlah batu-batu dan burung-burung, batu-batu kemudian menjadi laki-laki, dan burung-burung menjadi wanita, dari inilah para leluhur pertama umat manusia.

Referensi:

BLEY, "Sagen der Baininger auf Neupommern," in Anthropos, ix. 196-220, 418-48 (1914).

+++ ** Massim, PNG**
Satu hari seorang wanita yang memandang tamannya yang di dekat laut, melihat seekor ikan besar di balik ombak, pergi ke air dan bermain dengan ikan itu, selama beberapa hari. Kaki wanita itu semakin hari semakin membengkak karena terus di putari oleh sang ikan. Akhirnya sang ayah mencongkel bengkak itu dan dari bengkak itu keluarlah bayi. Bayi ini diberi nama Dudugera, ia tumbuh bersama anak lain di desa, hingga satu hari, dalam sebuah permainan, ia melempar panahnya ke anak lain sehingga melukai anak itu dan ia dimusuhi anak lainnya. Takut anak lain akan menyakitinya, ibu Dudugera memutuskan untuk mengirimnya ke ayahnya; maka ia mengirim anaknya ke pantai, lalu sang ikan besar muncul dan menangkapnya dengan mulutnya, dan membawanya jauh ke timur. Sebelum ia pergi, Dudugera memperingatkan ibu dan keluarganya untuk mengungsi dibawah batu besar, karena ia akan memanjat pohon pandan dan sampai kelangit, dan ia menjadi matahari dan segera menghancurkan segalanya dengan panasnya. Maka semua itu terlaksana. Segalanya hancur kecuali ibu dan keluarga Dudugera. Untuk mencegah kepunahan mutlak ibunya mengambil sebuah jeruk, dan memanjat bukit di dekat tempat matahari naik, menyemprotkan cairan jeruk yang asam ke wajah matahari saat ia naik, yang menyebabkan matahari menutup matanya dan menurunkan panasnya.
Referensi:
1. SELIGMANN, C. S., The Melanesians of British New Guinea. Cambridge, 1910.
2. WILLIAMS, T., and CALVERT, J., Fiji and the Fijians. 2 vols. London, 1858.
3. GILL, W. W., 1876, Myths and Songs from the South Pacific. London, 1876.
4. MOERENHOUT, J. A., Voyages aux iles du Grand Océan. 2 vols. Paris, 1837.
5. FISON, L., Tales of Old Fiji. London, 1904.
6. FRASER, J. (editor), 1891, "Some Folk-Songs and Myths from Samoa," in PRS NSW, xxv. 70-86, 96-146, 242-86.
7. CODRINGTON, R. H., The Melanesians. Studies in their Anthropology and Folk-Lore. Oxford, 1891
8. HICKSON, S. J., A Naturalist in the North Celebes: Narrative of Travels in Minahassa, the Sangir and Talaut Islands, with Notices of the Fauna, Flora and Ethnology of the Districts Visited. London, 1889.
9. WILKEN, p. N., "Bijdragen tot de kennis van de zeden en gewoonten der Alfoeren in de Minahassa," in MNZG vii. 117-59, 289-332, 371-91 (1863).
10. RASCHER, P., "Die Sulka: ein Beitrag zur Ethnographie von Neu-Pommern," in Arch. f. Anth. xxix. 209-35 (1904).
11. EGIDI, V. M., 1913, "Mythes et légendes des Kuni, British New Guinea," in Anthropos, viii. 978-1010.

Motu

Leluhur manusia saat ini tidak punya api, dan memakan makanan mereka mentah atau menjemurnya hingga suatu hari ia melihat asap keluar dari laut. Seekor anjing, ular, musang, burung dan kangguru semua melihat asap itu dan bertanya “Siapa yang akan pergi mengambil api itu?”. Pertama ular berkata ia akan melakukannya, namun laut terlalu ganas dan ia kembali. Lalu musang pergi, namun ia juga kembali lagi. Satu demi satu mencoba hingga giliran terakhir anjing. Sang anjing mulai berenang dan berenang hingga mencapai pulau tempat asap muncul. Disana ia melihat wanita-wanita memasak dengan api, dan setelah mencuri sebuah obor, ia berlari ke pantai dan berenang dengan aman ke daratan, dan memberikannya pada manusia.
Referensi:
1. LAWES, W. G., "Ethnological Notes on the Motu, Koitapu and Koiari Tribes of New Guinea," in JAI viii. 369-77 (1879).
2. CHALMERS, J., "Notes on the Natives of Kiwai Island, Fly River," in JAI xxxiii. 117-4 (1903).
3. GILL, W. W., 1911, "Extracts from Dr. Wyatt Gill's Papers," in JPS xx. 116-57.
4. KER, A., Papuan Fairy Tales. London, 1910.
5. HADDON, A. C 1904, Reports of the Cambridge Anthropological Expedition to Torres Straits, v. 9-120.
6. MEIER, J., 1907, "Mythen und Sagen der Admiralitätsinsulaner," in Anthropos, ii. 646-67, 933-42.
7. BEYER, H. O., "Origin Myths among the Mountain Peoples of the Philippines," in PJS Sect. D., viii. 85-118 (1913).
8. SEIDENADEL, C. W., The first Grammar of the Language spoken by the Bontoc Igorot, with a Vocabulary and Texts, Mythology, Folklore, Historical Episodes, Songs. Chicago, 1909.

Kepulauan Banks

Pada awalnya manusia hidup selamanya, berganti kulit dan memiliki barang yang sama. Qat, memanggil manusia bernama Mate (“Kematian”) dan membaringkannya di atas papan dan menutupnya; ia kemudian membunuh seekor babi dan membagi-bagikan milik Mate kepada keturunannya. Semua dating dan makan dalam upacara penguburan. Pada hari kelima, saat sangkakala dari kerang ditiup untuk mengusir hantu, Qat melepaskan penutup Mate, dan Mate lenyap; hanya tulang belulangnya yang tersisa. Sementara Qat telah mengirim Tagaro si bodoh untuk melihat jalan ke Panoi, dimana merupakan jalan ke dunia bawah dan atas terbagi, untuk melihat Mate agar tidak pergi ke dunia bawah; tapi si bodoh duduk didepan jalan ke dunia atas, sehingga Mate memilih jalan ke dunia bawah; dan sejak itulah semua manusia yang mati akan pergi ke dunia bawah mengikuti jejak Mate.
Referensi:
CODRINGTON, R. H., The Melanesians. Studies in their Anthropology and Folk-Lore. Oxford, 1891.

Nauru

Pada awalnya hanya ada lautan dan Areop-Enap, “Laba-laba purba”, yang mengambang di ruang tanpa ujung. Satu hari sang laba-laba purba menemukan benda bulat raksasa, sebuah kerang tridacna, dan memegangnya, melihat semua sisinya, ia ingin tahu apakah ada celah untuk membukanya, agar ia dapat merayap masuk, tapi ia tidak menemukannya. Maka ia menabrak kerang besar itu, dan terdengar kalau didalamnya kosong, ia memutuskan kalau tidak ada apa-apa di dalamnya. Ia mencoba sekuat tenaga membuka kerang itu, dan akhirnya, ia berhasil membukanya. Segera ia merayap masuk, tapi tidak terlihat apa-apa. Semua gelap karena belum ada matahari dan bulan, lebih lagi ia tidak bias berdiri tegak karena ruangan di dalam kerang sangat sempit. Laba-laba purba ini mencari apa saja dan akhirnya menemukan seekor siput. Meletakkannya dibawah tangannya, ia berbaring dan tertidur selama tiga hari sehingga kekuatannya berpindah pada siput itu; lalu ia bangun dan menemukan siput lain yang lebih besar, yang kemudian ia perlakukan seperti siput sebelumnya. Setelah mengambil siput yang kecil, ia berkata, ”Dapatkah engkau mengangkat atapnya sedikit, sehingga kita bias duduk?”. Sang siput menjawab, “Ya,” dan mengangkat kerang itu sedikit; lalu sang laba-laba purba mengambil siput itu, meletakkannya di bagian barat kerang dan menjadikannya bulan. Sekarang ada sedikit cahaya terang, dan karenanya sang laba-laba dapat melihat seekor cacing besar atau belatung, yang, saat ditanya bisakah ia mengangkat langit lebih tinggi, mendadak hidup dan berkata”ya!”. Maka ia bekerja dan bagian atas kerang tridacna semakin tinggi dan tinggi, sementara keringat asin mengalir dari tubuh cacing itu, dan terkumpul dan menjadi lautan. Akhirnya ia mengangkat langit sangat tinggi; tapi Rigi, sang cacing, kelelahan, jatuh dan mati. Dari siput lainnya, laba-laba purba membuat matahari dan meletakkannya di sisi timur kerang, yang menjadi bumi.
Setelah dunia diciptakan, sang laba-laba melihat apakah ada mahluk lain selain dirinya, dan tiba disebuah daratan dimana ia menemukan para pria dan wanita duduk di pantai di bawah kerindangan pohon. Karena ia tidak dapat melihat jelas wajah mereka dan ingin tahu nama mereka, ia membuat mahluk bersayap dari kuku jarinya dan menyuruhnya terbang kepada mereka. Maka mahluk bersayap itu terbang dan hinggap di hidung salah satu manusia. Temannya berkata, “Tabuerik! Bunuh binatang itu!”. Maka sang hewan itu terbang ke orang lain dan dari situ ia tahu nama semua orang. Ia kembali ke laba-laba purba dan memberi tahu nama mereka.

Referensi:
HAMBRUCH, P., Hamburgische wissenschaftliche Stiflung. Ergebnisse der Südsee-Expedition, 1908-1910. II. Ethnographie, B. Mikronesien. Bd. I, Nauru. I er Halbband. Hamburg, 1914.

Mortlok

Ligoapup, setelah meminum air dari lobang pohon, melahirkan seorang anak perempuan, dan kemudian dari tangannya lahir anak laki-laki, dan dari matanya lahir anak laki-laki lainnya, dari mata lainnya lahir anak perempuan lain. Dari merekalah umat manusia diturunkan.
Referensi:
GIRSCHNER, M., 1912, "Die Karolineninsel Namoluk und ihrer Bewohner," in Baessler Archiv, ii. 123-215.

Caroline Tengah

Lukelang, menciptakan langit dan kemudian bumi, tapi karena ia tandus dan gersang, ia mengambil pohon dan tanaman dari langit dan meletakkannya di bumi yang telah ia ciptakan.
Setelah Luk menciptakan bumi dan menanamnya, ia mengirim anak perempuannya, Ligoapup, yang kehausan dan meminum air dari lobang pohon. Tanpa ia ketahui, didalam air yang ia minum ada hewan kecil, dan menghamilinya sehingga ia melahirkan anak perempuan. Ia, saat mencapai dewasa, menjadi ibu seorang anak perempuan, yang kemudian giliran anak perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, dan dari tulang rusuk anak laki-laki ini, setelah ia dewasa, seorang laki-laki keluar, yang menikahi Ligoapup dan menjadi leluhur umat manusia.
Luk, tuhan tertinggi, bertanya “Bagaimana dengan manusia? Haruskah mereka sakit dan mati, kemudian hidup lagi?” namun Olofat menjawab, “Saat manusia mati, mereka harus tetap mati.”
Referensi:
GIRSCHNER, M., 1912, "Die Karolineninsel Namoluk und ihrer Bewohner," in Baessler Archiv, ii. 123-215.

Pelew

Langit dan bumi selalu ada dan tidak pernah diciptakan. Lalu dua tuhan menciptakan manusia pertama, tuhan laki-laki menciptakan laki-laki pertama dan tuhan perempuan menciptakan wanita pertama.

Obagat, tuhan yang maha bersahabat, melihat seorang wanita tua menderita sakit tenggorokan karena memakan ikan mentah dan keladi, karena kasihan, ia mengajarkan pada mereka bagaimana cara membuat api dengan menggosokkan dua tongkat.
Referensi:
KUBARY, J., "Die Palau-Inseln in der Südsee," in Journal des Museum Godeffroy, i. 177-238 (1873).

Gilbert Group

Nareua menyalakan api ke sebuah pohon, dan manusia berasal dari letusan dan abu, yang tersebar kesegala arah.
Referensi:
PARKINSON, R., Dreissig jahre in der Südsee. Berlin, 1908.

Raiatea , Society Group

Seorang nelayan mata kailnya tersangkut di rambut Rua-haku, tuhan laut, yang sedang tertidur di dasar lautan. Sang nelayan menariknya karena mengira itu adalah ikan yang besar, sehingga tuhan laut marah. Sang nelayan memohon ampun, dan tuhan itu member maaf, namun meminta sebuah syarat. Dengan perintah Rua-haku, sang nelayan mengasingkan diri di sebuah pulau dengan seorang teman, babi, anjing dan beberapa pasang ayam, dan laut mulai naik, naik terus hingga seluruh bumi tenggelam, dan setelah semua manusia lenyap, airpun kembali ke permukaan asal.
Referensi:
FORNANDER, A., An Account of the Polynesian Race; its Origins and Migrations. 3 vols. London, 1880.
MOERENHOUT, J. A., Voyages aux iles du Grand Océan. 2 vols. Paris, 1837.

Kepulauan Banks

Asal usul manusia pertama dari sebuah batu yang membelah.

Referensi
1. HUTCHIN, J. J. K., "Traditions and some Words of the Language of Danger or Pukapuka Island," in JPS xiii. 513-4 (1904).
4. CODRINGTON, R. H., The Melanesians. Studies in their Anthropology and Folk-Lore. Oxford, 1891.

Maiana, Kepulauan Gilbert

Na Arean duduk sendirian di angkasa seperti seberkas awan yang mengambang di ketiadaan. Ia tidak tidur, karena tidak ada apa yang namanya tidur. Ia tidak lapar, karena belum ada rasa lapar. Maka ia tetap diam untuk waktu yang lama, sampai suatu pemikiran muncul dalam pikirannya. Katanya pada diri sendiri, “Aku akan membuat sesuatu.”

Oceania/Polynesia

Dalam mitologi orang Oceania, selamanya selalu ada. Begitu juga kegelapan dan juga lautan. Menjelajah lautan tanpa ujung, sang laba-laba tua menemukan seekor kepah raksasa dan membukanya dan merayap kedalamnya. Sangat gelap, dan membingungkan namun ia menemukan seekor siput, yang ia minta membuka cangkang sedikit sehingga ia punta ruangan lebih luas.
Siput itu menurut. Lalu sang laba-laba tua mengambil siput itu dan meletakkannya di barat dan menjadikannya bulan, memberi sedikit cahaya pada kegelapan. Dengan bantuan siput lainnya, Sang laba-laba tua mendorong sangat kuat atap cangkang, mengangkatnya dan jadilah langit, yang disebut Rangi. Dengan usaha keras, sang laba-laba tua lalu mendorong bagian bawah cangkang kepah itu, dan ia melebar dan menjadi bumi. Bumi disebut Papa, atau ibunda bumi. Mitos penciptaan dasar ini diajarkan diseluruh oceania, dalam dua sudut pandang: satu, Tuhan (Po atau Io) menciptakan segalanya; yang lainnya, entitas mistik (Laba-laba tua) atau tuhan (Lukelong) menciptakan langit dan kemudian bumi.

Pada taraf apapun, langit, bumi, laut tercipta di awal, bersama dengan Papa bumi dan Rangi langit, di ruang yang sangat sempit. Ruang sempit ini diperluas baik oleh tuhan (Tangaroa, Tanaoa, dll) atau oleh Rangi dan Papa. Cahaya dibiarkan masuk, kepah itu melebar dan penciptaan berlanjut. Pertama , Papa dan Rangi membuat tanaman dan bunga, pohon dan rumput; lalu segala jenis hewan, dengan burung dan kupu-kupu di udara dan ikan di laut sekitar mereka. Di beberapa pulau, mitologi mengatakan kalau bumi diciptakan dari laut – oleh seekor kupu-kupu. Di tempat lain, sebuah batu jatuh dari langit ke laut, dan menjadi bumi. Papa bumi adalah tuhan perempuan, dan Rangi langit adalah tuhan laki-laki, bersaudara. Mereka menciptakan leluhur pertama umat manusia. Mereka juga menikah dan menciptakan tuhan-tuhan lainnya. Para kepala suku polynesia dan oceania melacak leluhur mereka hingga ke garis keturunan papa dan rangi. Setelah pernikahan pertama mereka, tindakan demikian antara sesama saudara menjadi tabu dan hukumannya mati, untuk melindungi suku dari konsekuensi inses. Pasangan Papa dan Rangi dijelaskan sebagai pengayaan garis keturunan para tuhan (mana, kekuatan) namun lebih jauh dari satu generasi, sifat ketuhanan ini melemah dan lenyap, menjadikan tindakan demikian sebuah kesalahan besar (tabu). Tabu ini memperkuat daya para kepala suku dan meyakinkan keberagaman generasi selanjutnya. Masih sangat ramai di dalam cangkang kerang, dengan semua hewan, tanaman dan keturunan. Anak-anak mereka menyadari hampir mustahil memisahkan Papa bumi dari kekasihnya Rangi langit, namun mereka putus asa. Mereka memanggil Kane, tuhan lembut hutan untuk mendorong, dan dengan usaha keras Kane akhirnya mampu, dan seluruh penghuni, tanaman, manusia dan tuhan akhirnya lepas dari keramaian cangkang kerang. Mereka merayakan kelapangan mereka, namun Rangi dan Papa sedih karena terpisah. Ia menangis setiap malam untuk Papa bumi, dan air mata ini menjadi sumber embun di pagi hari.

Hawaii

Berbulan-bulan Pele mengikuti sebuah bintang ke timur laut, yang lebih terang dari lainnya, dan bermigrasi ke arahnya. Suatu pagi, Pele bangun mencium sesuatu yang akrab di udara. Dalam kejauhan ia dapat melihat gunung yang tinggi dengan asap menyembunyikan puncaknya. Pele tahu kalau ia telah menemukan rumah barunya. Ia menamakan pulau itu Hawai'i.
Pele, membawa tongkat ajaibnya Pa'oa, naik ke atas gunung dimana sebagian bumi jatuh ke tanah. Ia meletakkan tongkat itu ke tanah. Pele menyebut tempat ini Kilauea. Di dalam kawah Kilauea ada lubang besar. Ia menamakannya Halema'uma'u, maumau adalah hutan pakis yang mengelilingi gunung berapi. Halema'uma'u akan menjadi rumah barunya.
Ada tuhan api yang tinggal di Kilauea bernama ‘Ailaau (pemakan hutan). Ia dan Pele ingin menjadikan Kilauea sebagai rumahnya. Mereka mulai melemparkan bola api satu sama lain, menyebabkan kerusakan besar. 'Ailaau lari dan tetap bersembunyi di gua bawah tanah. Pele sendiri akan mengatur pulau Hawai'i. masyarakat pulau ini mencintai dan menghargai tuhan pele. Telur yang diberikan ibunya menetas menjadi seorang gadis cantik. Pele menamakan saudara barunya Hi'iaka'i-ka-poli-o-Pele. Kamohoali'i, tuhan hiu mengajarkan Hi'iaka seni berselancar.
Pele jatuh cinta dengan orang yang ia lihat dalam mimpi. Namanya Lohi'au, pemimpin pulau Kaua'i. Pele mengirim saudara perempuannya untuk mengajak Lohi'au di Kaua'i ke Hawai'i untuk tinggal dengan Pele. Hi’aka perlu waktu 40 hari untuk membawa Lohi’au atau Pele akan menghukum gadis ini degnan menyakiti temannya Hopoe. Saat mencapai Kaua'i, Hi'iaka menemukan Lohi'au telah mati. Ia dengan cepat menggosok tubuhnya dengan herba dan berdoa pada para tuhan untuk membantu; memberi sang pemuda Kaua'i kembali hidup. Berterima kasih atas bantuan Hi'iaka's, Lohi'au setuju kembali dengannya ke Pulau besar.
40 hari telah lewat. Pele menduga Hi’iaka dan Lohi’au jatuh cinta dan tidak kembali. Ia marah, Pele meledakkan gunung dan merubah Hopoe menjadi batu. Saat kembali ke Hawai’I dengan Lohi’au, Hi’iaka menemukan Hopoe telah menjadi batu. Hi'iaka, penuh kesedihan dan kemarahan memutuskan balas dendam. Ia membawa Lohi'au ke ujung kawah Halema'uma'u dimana Pele dapat melihatnya, Hi’iaka meletakkan tangannya di sektar Lohi’au dan memeluknya. Dengan marah, Pele menyiram Lohi’au dengan lava dan api.
Kedua bersaudara, marah. Satu kehilangan teman, satu kehilangan kekasih. Pele memutuskan menghidupkan lagi Lohi’au dan membiarkan ia memilih siapa yang akan ia cintai. Pele yakin Lohi’au akan memilihnya. Lohi’au memilih Hi’iaka. Pele, Dengan aloha, memberi berkat kedua kekasih itu dan Hi’iaka dan Lohi’au berlayar pulang ke Kaua’i.
Pele tetap tinggal di Hawai’I dimana ia mengatur sebagai dewa gunung berapi. Bau belerang mengingatkan penduduk asli kalau ia masih tinggal dirumahnya, Halema'uma'u, lavanya membentuk pulau batu di selatan, bernama Loahi.

Māori

Mitos penciptaan maori menceritakan bagaimana langit dan bumi dulunya menyatu sebagai Ranginui, ayah langit dan Papatuanuku, bunda bumi, saling berpelukan erat. Mereka punya banyak anak yang tinggal dikegelapan diantara mereka. Anak-anak ingin tinggal dalam cahaya dan memisahkan orang tua mereka dengan paksa. Ranginui dan Papatuanuku terus memanggil satu sama lain saat ini. Air mata Rangi jatuh sebagai hujan ke arah Papatuanuku untuk menunjukkan betapa ia mencintainya. Saat kabut naik dari hutan, inilah ratapan Papa saat kehangatan tubuhnya diberikan kepada suaminya dan terus menghidupi umat manusia.
Referensi:

SMITH, S. P., 1913, "The Lore of the Whare-wananga; or Teachings of the Maori College on Religion, Cosmogony and History," in Memoirs Polynesian Society, iii.

Asia Selatan

Dhammai

Sebelum ada segalanya, ada Shuzanghu dan istrinya, Zumaing-Nui. Di saat itu ia melahirkan seorang anak perempuan (bumi) dan anak laki-laki (langit). Bumi dan langit kawin dan melahirkan pegunungan. Mereka lalu membuat dua ekor katak yang menikah dan melahirkan manusia-manusia pertama. Manusia-manusia ini tertutup rambut lebat, namun saat mereka kawin keturunannya nampak seperti manusia sekarang ini.

Jainisme

Menurut keyakinan Jain, alam semesta tidak pernah tercipta dan tidak pernah musnah. Ia abadi namun berubah, karena melalui siklus-siklus tanpa akhir. Masing-masing siklus ini terbagi dalam enam zaman (yuga). Masa kini adalah zaman kelima dari siklus ini, yang bergerak turun. Zaman disebut “Aaro” seperti zaman pertama disebut "Pehela Aara", zaman kedua disebut "Doosra Aara" dan seterusnya. Zaman terakhir adalah Chhatha Aara" atau zaman keenam. Semua zaman ini memiliki durasi tetap ribuan tahun.
Saat tingkat terendah tercapai, bahkan jainisme akan lenyap seluruhnya. Maka, pada siklus selanjutnya, agama jain akan ditemukan kembali dan di kenalkan kembali oleh para pemimpin baru yang disebut Tirthankaras (pembuat lintasan), dan akan lenyap lagi pada akhir siklus, dan seterusnya.

Sikhisme

Kitab Sikh, , Sri Guru Granth Sahib (SGGS), tercatat pada abad ke 16, menjelaskan perencanaan dan eksekusi oleh sang pencipta sebagai berikut (halaman dari SGGS): sebelum penciptaan, semua yang ada adalah tuhan (Vāhigurū) dan kehendakNya (hukam). Tuhan merenung dalam tak terbayangkan masanya dalam kegelapan saat hanya ia sendiri yang ada. Saat perencanaan selesai semua sumber yang dibutuhkan untuk penciptaan diciptakan dan dimasukkan dalam sebuah telur. Saat tuhan berkehendak, seluruh alam semesta diciptakan saat telur pecah dan semua unsur alam semesta mulai bergerak menjauh dari titik letusan (hal 839). Dikatakan kalau dalam proses penciptaan termasuk penciptaan kemampuan mahluk hidup dan mahluk hidup tercipta (hal 130). Dari awal ini, tuhan melengkapi maya, atau persepsi manusia atas kenyataan.

Surat Shabda Yoga

Kosmologi Surat Shabda Yoga menceritakan seluruh penciptaan makrokosmos sebagai dipancarkan dan disusun secara spiritual dalam hirarki berjenjang, sering dirujuk sebagai telur, daerah atau bidang. Ada delapan tingkat spiritual yang ada di atas bidang fisik, walau nama dan pembagian dalam tingkat ini akan beragam menurut misi dan guru. (Satu versi penciptaan dari sudut pandang Surat Shabda Yoga diceritakan dalam situs memorial Sant Ajaib Singh Ji mengenai “The Grand Scheme of All Creation”.) semua bidang dibawah wilayah spiritual murni adalah subjek siklus penciptaan dan pemusnahan (pralaya) atau kepunahan (maha pralaya).
Penciptaan individu (mikrokosmos) adalah replika tepat dari makrokosmos. Akibatnya, mikrokosmos terdiri dari sejumlah tubuh, masing-masing sesuai untuk berinteraksi dengan bidang atau daerah yang bersesuaian dalam makrokosmos. Tubuh-tubuh ini berkembang dalam yuga melalui involusi (memancar dari bidang lebih tinggi ke bidang lebih rendah) dan evolusi (kembali dari bidang rendah ke bidang lebih tinggi), termasuk lewat karma dan reinkarnasi dalam beragam tahap kesadaran.

Eropa

Finnish

Orang finnish kuno percaya kalau dunia tercipta dari telur yang pecah.
Seekor burung terbang di atas laut, melihat tempat untuk bersarang dan bertelur. Ia mencari kemana saja, tapi tidak menemukan apapun kecuali air. Lalu ia menemukan tempat kering pertama. Dalam sebagian cerita itu adalah sebuah pulau, di kisah lainnya adalah kapal dan ada kisah lain yang mengatakan kalau itu bagian tubuh dari mahluk mengambang, seperti penyihir Väinämöinen. Tempat itu terlalu tidak stabil untuk bersarang: gelombang besar datang dan memecahkan telurnya, membuatnya berhamburan. Walau begitu telur-telur itu tidak sia-sia: bagian atas cangkang telur menjadi langit, isinya menjadi matahari, dan bagian bawah cangkang menjadi bumi. Manusia pertama adalah Väinämöinen, ia lahir dari perawan udara Ilmatar yang dibuat hamil oleh lautan. Väinämöinen memerintahkan hutan untuk ditanami dan memulai kebudayaan manusia.

Romawi

Sebelum ada bumi atau laut atau langit, yang ada hanya kekacauan: tanpa bentuk, tanpa aturan, tanpa kehidupan. Ada lawan dalam segalanya: panas berkonflik dengan dingin, basah dengan kering, berat dengan ringan, dan keras dengan lembut. Akhirnya satu tuhan, sebuah kekuatan sakti alam, menengahi konflik, memisahkan bumi dari langit, memisahkan tanah kering dari air, dan membagi udara cerah dari awan, sehingga mengatur semua hal dalam satu kesatuan keseimbangan. Begitu juga tuhan itu, siapapun tuhan itu, mengatur massa kacau dengan memisah-misahkan komponennya, lalu mengaturnya pada sebuah keharmonisan.

Lalu tuhan itu membentuk bumi menjadi bola raksasa dan menjadikan lautan menyebar ke segala arah.
Bumi yang ia atur dibagi dalam lima wilayah, begitu juga langit, yang dibagi menjadi dua daerah di kiri, dua di kanan dan satu di tengah. Dibawah ether dan diatas bumi menggantung udara, dimana tuhan membentuk kabut dan awan, meletakkan petir dalam awan. Pada masing-masing angin yang ada empat, ia memberikan batasan dan tujuan. Ia menyebabkan bintang-bintang, yang sebelumnya di tutup dengan tirai kegelapan, bersinar di langit.

Lalu manusia lahir. Entah tuhan itu yang menciptakan manusia buatan bumi ini dari benih ilahi, atau Prometheus, mencampur citra para tuhan dari segumpal tanah yang telah baru saja dipisahkan dari ether dan berarti masih memiliki sifat ilahiahnya. Siapapun pencipta manusia, mahluk baru ini dibuat berdiri tegak dengan mata menghadap ke langit dan bintang-bintang, tidak seperti hewan lainnya yang menggantung kepala mereka dan memakan rumput di tanah.

Hungaria

Gelombang laut abadi bergolak dan menghempas. Gelombangnya mengguncang dan buihnya mendesis. Tidak ada bumi dimanapun, namun di ketinggian tak terkira, diatas rumah emasnya, duduk bapak surga agung di singgasana emasnya.
Ia tua, dengan rambut putih dan janggut putih, tuhan yang abadi. Di jubah hitamnya ada ribuan bintang berkelip. Disisinya duduk istrinya, bunda langit agung. Di jubah putihnya (palast) ada ribuan bintang berkilau. Ia adalah bahan purba dimana segalanya diciptakan. Mereka ada selamanya di masa lalu dan masa depan abadi.
Di depan mereka berdiri anak berambut sinar matahari emas, tuhan matahari Magyar. Anak ini bertanya pada ayanhya: “kapan kita menciptakan dunia manusia ayahku?”
Gelombang laut abadi tetap bergolak dan menghempas. Gelombangnya mengguncang dan buihnya mendesis. Bapak langit berambut abu-abu tua merendahkan kepalanya. Ia memikirkan pertanyaan itu sementara lalu ia mengangkat kepala berambut putihnya dan berbicara pada anaknya.
— Anakku yang berambut emas, mari kita menciptakan dunia untuk manusia, sehingga, mereka yang akan jadi anakmu akan memiliki tempat untuk hidup.
— Bagaimana kita menciptakan dunia itu, ayahku?
— Ini adalah caranya. Di kegelapan lautan biru keabadian ada mata-mata yang tertidur (benih), biji-biji yang tertidur [sem=mata/biji kecil] Magya yang tertidur [Mag=benih, Magyar=manusia]
Kemudian turunlah ke kedalaman laut besar dan bawa naik benih-benih tertidur dan mata-mata bermimpi itu, sehingga kita dapat menciptakan dunia dengannya.
Sang putra mengikuti petunjuk ayahnya, ia mengguncang dan merubah dirinya menjadi burung emas, menjadi bebek penyelam emas. Lalu ia terbang ke lautan.
Ia berenang sebentar di atas air dan ia terhantam ombak laut sebentar. Ia lalu menyelam ke dalam lautan biru, mencari ke dasar, namun tidak dapat mencapainya. Ia kehabisan napas sehingga naik lagi ke permukaan.
Ia berenang ke atas lagi, terombang-ambing lagi oleh gelombang, ia mengumpulkan kekuatan sejenak. Setelah mengambil napas dalam ia menyelam lagi ke kedalaman lautan, ke dalam kegelapan, perlahan mengeluarkan udaranya, yang seperti mutiara bergetar naik ke atas dan meletup di permukaan lautan yang bergelora.
Akhirnya paruhnya menghantam dasar laut, ke pasirnya. Ia mengambilnya dengan paruh dan seperti panah, ia menembakkannya ke permukaan air. Dari permukaan dasar lautan, ia membawa mata-mata/biji-biji tertidur, "ügyücske" [mata kecil?] perak. Mata-mata yang tertidur bangun, mata-mata yang mengantuk terbuka dan tumbuh menjadi mahluk hidup.

Yunani

Plato, dalam dialognya Timaeus, menjelaskan mitos penciptaan melibatkan mahluk yang disebut demiurge.
Hesiod, dalam karyanya Theogony, mengatakan kalau pada awalnya ada Chaos, kemudian melahirkan Gaea (bumi), Tartarus (dunia bawah tanah), Eros (nafsu), Nyx (kegelapan malam) dan Erebus (kegelapan dunia bawah). Gaea menciptakan Ouranos, langit berbintang, sejenis dengannya dan menutupinya, bukit-bukit dAn lautan yang dalam, Pontus, “tanpa cinta” keluar darinya. Namun setelah itu, tutur Hesiod, ia berbaring dengan langit dan menghasilkan samudera dunia Oceanus, Coeus dan Crius dan para Titan : Hyperion dan Iapetus, Theia dan Rhea, Themis dan Mnemosyne dan Phoebe dari mahkota emas dan yang terkasih Tethys. "Setelah mereka lahir Cronos anak termuda dan paling buruk, dan ia benci dengan nafsunya.” Cronos, atas perintah Gaia, mengebiri Uranus. Ia menikahi Rhea yang melahirkan Hestia, Demeter, Hera, Hades, Poseidon, dan Zeus. Zeus dan saudara-saudaranya menjatuhkan Cronos dan titan lainnya, lalu membagi-bagi pemerintahan. Zeus mengambil langit, poseidon mengambil lautan, dan hades mengambil dunia bawah. Bumi diperebutkan dan tidak ada seorangpun yang berhasil menguasainya, seperti ditunjukkan oleh kemarahan Posedion saat Zeus memaksanya meninggalkan medan perang dalam Iliad.

Hermetisisme

Dalam Hermetisisme, keyakinan asal usul tidak diambil secara literal, namun dipahami secara metafora. Tidak semua hermetisis memahaminya sama, dan umumnya bersifat pribadi. Kisah yang diberikan dalam buku pertama Corpus Hermeticum oleh Nous Tuhan pada Hermes Trismegistus setelah banyak meditasi. Juga, tidak semua Hermetisis terlalu perduli dengan teks simbolik dan mungkin tidak tahu tentang cerita ini.
Ia berawal saat tuhan menciptakan unsur-unseur setelah melihat ala semesta lain lalu menciptakan alam semesta kita dengan unsur dan jiwanya sendiri. Dari sini, tuhan, yang pria sekaligus wanita ini, memegang Firman, melahirkan Nous kedua, pencipta dunia. Nous kedua ini menciptakan tujuh kekuatan (sering dilihat sebagai Merkurius, venus, mars, yupiter, saturnus, matahari dan bulan) untuk bergerak melingkar dan mengatur nasib.
Sang Firman lalu mematerialisasi unsur-unsur, yang membuat mereka tidak cerdas. Nous lalu membuat para pengatur ini berputar, dan dari materi mereka muncul mahluk-mahluk tanpa suara. Bumi lalu dipisahkan dari air dan hewan (selain manusia) dibawa ke bumi.
Nous yang maha kuasa lalu menciptakan manusia, hermafrodit, dalam gambaran nya, dan diserahkan ciptaannya. Manusia dengan hati-hati mengamati saudaranya, nous kecil, dan menerima perintahnya dan perintah ayahnya. Manusia lalu naik ke atas jalan bola untuk melihat ciptaan lebih baik, dan menunjukkan bentuk tuhan pada alam. Alam jatuh cinta, dan manusia, melihat dirinya sendiri dalam refleksi air jatuh cinta dengan alam dan ingin tinggal dengannya. Segera manusia menyatu dengan alam dan menjadi budak keterbatasannya sendiri seperti gender dan tidur. Manusia lalu tidak dapat berkata-kata (karena kehilangan sang Firman) dan menjadi kembar, jasadnya tidak abadi namun ruhnya abadi, menguasai segalanya tapi dikuasai takdir.
Kisah ini tidak berkontradiksi dengan teori evolusi, kecuali pada penciptaan manusia, namun sebagian besar Heremetisis sepenuhnya menerima teori evolusi sebagai landasan kokoh penciptaan segalanya dari materi dasar hingga manusia.

Ovidus, Metamorphoses

Ketika dia, siapapun tuhan itu, mengatur dan memisahkan massa yang tidak beraturan, dan mengurangi, memisahkannya menjadi bagian-bagian kosmik, pertama kali ia membentuk bumi menjadi sebuah bola yang amat besar sehingga bentuknya akan sama dari setiap sisi. Dan, karena tiap wilayah tidak boleh tidak ada mahluk hidupnya, maka bintang-bintang dan bentuk-bentuk ilahiah mendiami tingkatan-tingkatan langit, lautan didiami ikan-ikan yang bercahaya, bumi mendapatkan penghuni binatang-binatang buas, dan burung mendiami udara yang mengalir. Kemudian lahirlah manusia: meskipun hewan-hewan lain kurang baik, dan selalu memandang ke tanah, ia memberi manusia wajah yang tengadah dan membuatnya berdiri tegak dan melihat ke langit.

Norse & Jerman

Voluspa menceritakan kisah penciptaan alam semesta Norse:
ceritA masa lalu yang kudapat jauh. Aku ingat saat Ymir hidup; tidak ada laut dan tidak ada gelombang dingin, tidak ada pasir, tidak ada bumi, tidak ada langit dan tidak ada rumput.
Pada awalnya tidak ada apapun kecuali es Niflheim, ke utara dan api Muspelheim, ke selatan. Diantaranya ada celah besar : Ginnungagap , dan dalam celah ini beberapa potong es bertemu dengan beberapa sulutan api. Es mencair memebentuk Eiter, yang menjadi tubuh raksasa hermafrodit Ymir dan sapi Auðumbla, yang memberi susunya pada Ymir. Auðumbla makan dengan menjilati es, dan perlahan menumbuhkan rambut manusia. Setelah sehari ia memiliki wajah. Setelah sehari lagi, ia sepenuhnya menjadi manusia: Búri.
Ymir menjadi ayah dari Thrudgelmir, dan dua manusia, laki-laki dan perempuan. Búri menjadi ayah Borr. Borr punya tiga anak, Vili, Ve, dan Odin, yang membunuh raksasa Ymir. Dalam banjir besar darah Ymir, kedua manusia pertama mati. Thrudgelmir juga tenggelam, walau sebelumnya ia telah menjadi ayah dari Bergelmir. Bergelmir bersembunyi dalam sebuah kayu lobong dan selamat. Odin dan saudaranya memakai tubuh Ymir untuk menciptakan alam semesta: mereka menghancurkan dagingnya menjadi tanah, dan belatung yang muncul dalam dagingnya menjadi kurcaci yang tinggal dibawah bumi. Tulangnya menjadi gunung dan Odin mencampakkan otaknya ke langit untuk menciptakan awan. Alam semesta terdiri dari sembilan dunia, dimana bumi (Mannheim) ada di tengahnya.
Mereka meletakkan empat kurcaci Nordri (utara), Sudri (selatan), Austri (timur), dan Vestri (barat) untuk memegang tengkorak Ymir dan menciptakan langit. Lalu memakai api dari Muspelheim, para tuhan menciptakan matahari, bulan dan bintang. Saat Odin dan dua tuhan lain (suku Edda mengatakan mereka adalah Hœnir dan Lóðurr, mereka dianggap nama lain dari Vili dan Ve) berjalan di pantai, mereka menemukan dua potong kayu hanyut. Dari ini, mereka menciptakan manusia-manusia pertama (dua yang sebelumnya tenggelam dalam banjir darah Ymir), Ask dan Embla. Alis Ymir dipakai untuk menciptakan tempat tinggal untuk umat manusia, tempat yang disebut Midgard.[5]
Tuhan-tuhan mengatur perjalanan siang dan malam, dan pergantian musim. Sol adalah tuhan matahari, anak dari Mundilfari, dan istri dari Glen. Setiap hari, ia mengelilingi langit mengendarai keretanya yang ditarik dua kuda bernama Arvak dan Alsvid. Jalan ini disebut Alfrodull, yang berarti “kejayaan para kurcaci”, yang kemudian juga menjadi sebutan buat matahari. Sol dikejar Skoll seharian, Skoll adalah serigala yang ingin memakannya. Gerhana matahari menunjukkan kalau Skoll hampir menangkapnya. (Di takdirkan kalau Skoll akan pada akhirnya menangkap Sol dan memakannya pada akhir dunia; walau begitu, ia akan digantikan oleh anaknya.) saudara Sol, bulan Mani, dikejar oleh Hati, serigala lainnya. Bumi dilindungi dari panas sepenuhnya matahari oleh kurcaci Svalin, yang berdiri di antara bumi dan Sol. Rambut berapi Arvak dan Alsvid memberi cahaya untuk bumi.

Elephantine

Khnum menciptakan alam semesta dalam keramiknya
Ia merancang juga tuhan, hewan dan manusia bumi
Penjelasan mendetil mengenai bagaimana ia menciptakan manusia ditemukan dalam kuil Esna. Ia menjelaskan bagaimana ia mengatur aliran darah untuk menutupi tulang, dan membuat kulit menutupi tubuh. Ia lalu membuat sistem pernapasan dan pencernaan makanan.

Celtic

Suatu ketika, tidak ada waktu dan saat itu tidak ada tuhan dan tidak ada manusia di permukaan daratan. Namun ada lautan, dan dimana laut itu bertemu daratan, seekor kuda betina lahir, putih dan tercipta dari busa lautan. Dan namanya adalah Eiocha. Di daratan, dekat dimana daratan bertemu lautan, sebuah pohon oak tumbuh, kuat dan keras. Di oak itu, tumbuh sebuah tanaman yang bijinya tercipta dari air mata busa lautan. Untuk bertahan hidup , Eiocha memakan biji itu, bentuknya seperti berry putih dan merubahnya. Eiovha tumbuh semakin berat dengan anak dan melahirkan tuhan, Cernunnos. Begitu besar rasa sakitnya di waktu lahir sehingga ia merobek kulit salah satu pohon dan melemparnya ke laut. Kulit kayu itu diubah oleh laut dan menjadi monster lautan dalam.
Cernunnos kesepian dan ia melihat monster laut yang banyak, jadi ia kawin dengan Eiocha dan lahirlah para tuhan, Maponos, Tauranis,dan Teutates serta Epona. Eiocha lalu keletihan dan kembali menjadi mahluk buih laut, menjadi Tethra, tuhan laut dalam, kadang disebut juga Tethys.
Para tuhan kesepian karena tidak ada yang bisa mereka perintah dan tidak ada yang mereka sembah. Para tuhan mengambil kayu daru satu pohon oak dan merancang laki-laki dan perempuan pertama.
Cernunnos juga membuat hewan dari satu pohon oak, rusa dan anjing, beruang dan elang, kuda dan ular. Ia adalah tuhan para hewan, dan ia memerintahkan pohon oak untuk menyebar dan tumbuh, menjadi hutan untuk anak-anaknya.
Epona juga membuat hewan, namun ia hanya membuat kuda untuk mengingat Eiocha.
Teutates mengambil ranting sebuah pohon dan merancang busur, panah dan pemukul.
Tauranis mengambil salah satu dahan pohon dan membuat petir dari api dan suara. Ia naik ke puncak pohon tertinggi dan melemparkan senjatanya ke tanah. Tanah akan bergetar, rumput akan terbakar dan hewan akan lari ketakutan.
Maponos juga mengambil ranting sebuah pohon, namun ia merancang harpa. Ia merentangkan dawai angin dari ranting itu dan menghabiskan harinya di hutan Cernunnos. Angin akan ikut dalam melodinya dfan hewan akan datang dari dekat dan jjauh untuk mendengar permainan Maponos.
Monster laut melihat para tuhan senang di darat, dan mereka cemburu, karena mereka tidak punya sesuatu untuk diperintah dan menyembahnya. Maka para monster laut berperang dengan tuhan; mereka akan membanjiri daratan dan menenggelamkannya. Namun Tethra mendengarkan rencana mereka dalam gelombang dan ingat saat ia menjadi Eiocha dan ia memperingatkan anak-anaknya. Para tuhan bersiap untuk datangnya para monster.
Para tuhan mengungsi ke sebuah pohon oak. Tauranis melempar petirnya dan membelah daratan, dan laut melewati celah itu. Maponos memecahkan langit dan menjatuhkannya pada para monster. Teitates menyerang dengan panah dari satu ranting pohon yang membunuh banyak monster. Para monster bukan tanpa senjata, mereka punya kekuatan gelombang.
Para tuhan mengerubungi para monster tapi tidak dapat menghancurkan mereka. Monster dari kegelapan laut dibawa kembali ke laut, dan Tethra memerangkap mereka di sana. Namun beberapa ekor kabur jauh dari jangkauannya. Mereka menyebut diri mereka Femor dan membangun kehidupan di bagian terujung dari bumi. Namun Fomor ingin kembali dan sekali lagi menguasai dunia para tuhan. Dari pertarungan mereka, sejarah kita telah bercerita banyak.
Laut kembali surut dan Maponos memperbaiki langit. Dan para tuhan mencari Epona karena ia tidak ada saat kemenangan. Epona telah menyelamatkan satu laki-laki dan satu perempuan dari banjir dan kehancuran, dan tiga dari mereka menunggu dalam kegelapan hutan Cernunnos. Dari orang-orang yang diselamatkan Epona inilah menurunkan manusia yang ada di bumi sekarang. Para tuhan meninggalkan kegelapan hutan Cernunnos dan kembali ke rumah mereka di dekat pohon Oak yang masih tegak berdiri, dan berry suci yang masih putih seputih buih lautan.
Saat maponos memperbaiki langit, beberapa bagian langit yang rusak di buang dan jatuh ke laut, dan lahir menjadi tuhan-tuhan baru. Tuhan Belenus dan saudarinya Danu muncul dari dari api langit. Tuhan Lir lahir dari air laut yang hampir terbakar. Dari Lir, sebagaimana di katakan sejarah, muncul sang hebat Manannan, sang cantik Branwen dan sang bijak Bran. Nmun dari Danu banyak anak yang dilahirkan, Dagda, Nuadha sang tangan perak, sang bijak Dienceght, sang pandai besi Goihbhio , sang pemberani Morrigan dan sang lembut Brighid. Anak-anak Danu dan anak-anak Lir adalah dua ras raksasa yang pernah ada di dunia para tuhan.

Karibia

Voodoo

Damballah (loa ular berbisa langit dan arketipe Bapa yang pengasih) menciptakan semua air di bumi. Dalam bentuk ular, gerakan 7 ribu putarannya membentuk bukit dan lembah di bumi dan memunculkan bintang dan planet di alam semesta. Ia menempa logam dari panas dan mengirim petir untuk membuat batuan suci.
Saat ia melepas kulitnya di matahari, melepaskan semua air ke daratan, matahari bersinar di air dan menciptakan pelangi. Damballah menyukai keindahan pelangi dan membuat istirinya, Aida-Wedo. (Aida-Wedo mencerminkan kekuatan langit dan dilambangkan dengan pelangi; istri dari Damballah, ia berfungsi sebagai pelindung alam semesta dan pemberi berkat).
Pewahyuan dari tuhan (loa) turun ke negeri orang beriman pertama di Ife, sebuah kota legendaris di Nigeria. Mka, semua kekuatan hidup dan spiritual datang dari Ife. Negeri asal para penganut voodo, dimana Ife berada, adalah Ginen, dimana mereka dipaksa pindah dalam Diaspora Afrika. Dalam kematian, jiwa yang tinggi akan kembali ke Ginen (dunia orang mati, dikatakan berada di bawah air dibawah bumi) untuk tinggal dengan loa dan ruh nenek moyang. Karena ini, semua pelaku voodo menyebut diri mereka ti guinin, anak dari Ginen.

Asia Utara

Mansi

Tradisi penciptaan suku Mansi dari Siberia melibatkan dua loon yang menyelam kedalam air purba untuk emndapat sekeping tanah dan meletakkannya di atas air. Dari sanalah bumi tumbuh. Seiring waktu, untuk membantu anaknya, ruh langit memerintahkan saudaranya, ruh dunia bawah menciptakan manusia. Saudaranya membuat tujuh figur dari tanah liat dan dihidupkan oleh saudarinya , Bunda Bumi.

Mongol

Tidak ada kisah penciptaan tunggal untuk mongol, namun beragam kisah dari suku-suku mongol dari asia tengah, sebuah gambaran umum dapat ditarik. Penciptaan dunia dapat dinisbahkan pada seorang lama bernama Udan yang sering dianggap tuhan atau buddha sakyamuni oleh suku-suku yang dipengaruhi buddhisme tibet. Dunia purba biasanya dikatakan gelap dan bumi dengan langit menyatu. Konstruksi alam semesta dalam beragam bentuk. Salah satunya mengatakan kalau 99 tiang emas menopang langit. Dalam pandangan ini dunia memiliki tiga tingkat, teratas adalah surga dimana para tuhan tinggal, yang tengah adalah bumi dimana manusia tinggal dan terbawah adalah tempat dimana manusia yang telah mati tinggal. Langit adalah ayah dan bumi adlah ibu semua hewan, manusia dll. Kisah lain mengatakan kalau sang pencipta membagi bumi dan langit dan menciptakan 9 tingkat langit dan 9 tingkat bumi dan 9 sungai. Dalam kisah lain, dunia pertama adalah samudera yang luas, namun debu dan pasir naik menutupi permukaan samudera dan menjadi bumi. Dalam kisah lain, tanah diletakkan diatas punggung katak emas yang ditusuk panah yang menyebabkan api dan air keluar dari tubuhnya di beragam tempat.
Setelah penciptaan bumi itu sendiri, lelaki dan perempuan pertama diciptakan dari tanah lait. Mereka akan menjadi leluhur umat manusia. Beragam suku dan bangsa diletakkan dengan beragam sifat. Di utara, laki-laki dipasangkan dengan domba betina sebagai pasangan seksual dan ini mengawali etnik Mongol sementara Cina Han berasal dari perkawinan dengan ayam betina sementara suku Dorbed dan Buryat adalah keturunan dari para pemburu dan perawan-perawan angsa.
Cerita lain menceritakan kalau pada awalnya tujuh matahari naik di langit sehingga sungai dan tanaman di bumi kering, maka orang meminta sang pemanah Erkei-Mergen memanah matahari dari langit. Sang pemanah mengenai enam matahari, namun saat ia akan memanah yang ketujuh, seekor martin terbang di depan matahari itu dan terkena panah di ekornya. Sejak itulah burung martin memiliki ekor yang seperti gunting dan hanya ada satu matahari di langit. Sang pemanah depresi sehingga ia lari ke padang rumput, memotong ibu jarinya karena malu, dan menjadi leluhur dari marmot.

Orok

Suku Orok menafsirkan keberadaan anjing-anjing matahari sebagai bukti adanya tiga matahari di langit zaman dahulu kala.
Kisah penciptaan suku Orok dari Sakhalin berawal dengan tiga matahari di langit. Bumi sepenuhnya cair, namun cairan itu perlahan lenyap dan bumi mengeras. Dibawah pengaruh panas, tebing dan batu mendidih. Saat itu, di bumi tidak ada yang hidup kecuali satu keluarga dari seorang bernama Hadau. Saat bumi mengeras, Hadau menembakkan panahnya ke dua matahari, pertama membunuh kakak matahari dengan satu panah, dan kemudian adik matahari dengan panah lain sehingga tersisa matahari kita sekarang. Anjing-anjing matahari dikatakan menjadi bayangan dari dua matahari sebelumnya, dan seolah berada di dua sisinya. Setelah ini, Hadau menciptakan sekeluarga elang dan sekeluarga gagak. Maka kalau orang Orok melihat elang saat berburu, ia mengatakan mereka kakek mereka. Penerbangan burung-burung ini memungkin orang menyebar diseluruh muka bumi.

Asia Barat

Sumeria

Mitos penciptaan sumeria, yang tertua diketahui, ditemukan dalam tablet tanah liat yang dikenal sebagai “Penciptaan Eridu”, berasal sekitar abad ke 18 sebelum masehi. Isinya termasuk mitos banjir.
Di awal tablet diceritakan Tuhan An, Enlil, Enki dan Ninhursanga menciptakan Sumeria (orang berkepala hitam) dan hewan. Lalu para raja turun dari langit dan kota-kota pertama dibangun - Eridu, Bad-tibira, Larsa, Sippar, dan Shuruppak.
Setelah bagian yang hilang dari tablet, kita belajar kalau para tuhan memutuskan mengirim banjir untuk memusnahkan umat manusia. Zi-ud-sura, raja dan pendeta gudug, mempelajari ini. (dalam versi Akkadia, Ea, atau Enki di Sumeria, tuhan air, memperingatkan sang pahlawan (Atra-hasis dalam kasus ini) dan memerintahkannya membuat bahtera. Ini hilang dalam fragmen Sumeria, namun diceritakan tentang Enki yang menunjukkan peran Enki dalam versi Sumeria juga).
Saat tablet meresume ia menjelaskan tentang banjir. Sebuah badai dahsyat mengguncang bahtera selama tujuh hari tujuh malam, lalu Utu (Tuhan matahari) tampak dan Zi-ud-sura menciptakan sebuah bukaan di bahtera, bersujud dan mengorbankan sapi dan domba.
Setelah break lain dalam teks, diceritakan kalau banjir tampaknya berakhir, para hewan turun dan Zi-ud-sura bersujud di depan An (tuhan langit) dan Enlil (tuhan para tuhan), yang memberinya hidup abadi dan membawanya ke Dilmun untuk menjaga para hewan dan benih umat manusia. Sisa puisi lainnya hilang.

Babilonia

Mitos penciptaan Babilonia dijelaskan dalam Epik penciptaan yang disebut juga Enuma Elish. Epik penciptaan babilonia berasal dari akhir milenium kedua sebelum masehi.
Dalam puisi ini, tuhan Marduk (atau Assur dalam versi puisi Assiria) diciptakan untuk mempertahankan mahluk-mahluk suci dari serangan tuhan samudera Tiamat. Perjanjian yang ditawarkan Marduk untuk menyelamatkan para tuhan hanya bila ia diangkat sebagai pimpinan mutlak dan dibiarkan tetap demikian walau ancaman telah lenyap. Para tuhan setuju pada tawaran Marduk. Marduk menantang Tiamat untuk bertarung dan menghancurkannya. Ia lalu menyobek mayatnya menjadi dua bagian yang ia jadikan langit dan bumi. Marduk lalu menciptakan kalender, mengatur planet, bintang, bulan, matahari dan cuaca. Para tuhan setia pada Marduk dan ia menciptakan Babilonia sebagai bagian kebumian dari dunia para tuhan. Marduk lalu menghabisi suami Tiamat, Kingu memakai darahnya untuk menciptakan umat manusia sehingga mereka dapat bekerja untuk para tuhan. Untuk menciptakan manusia darah Kingu dicampur dengan tanah liat.
Sumber:
Foster, B.R., From Distant Days : Myths, Tales, and Poetry of Ancient Mesopotamia. 1995, Bethesda, Md.: CDL Press. vi, 438 p.
Bottéro, J., Religion in Ancient Mesopotamia. 2004, Chicago: University of Chicago Press. x, 246 p.
Jacobsen, T., The Treasures of Darkness : A History of Mesopotamian Religion. 1976, New Haven: Yale University Press. 273

Bahá'í

Bahá'í percaya kalau umat manusia, alam semesta dan segalanya adalah ciptaan Tuhan dan dibentuk serta dikembangkan olehNya. Walau begitu, ciptaan tidak sepenuhnya stabil di alam semesta material, dan benda material individual, seperti bumi, tampak muncul seketika lalu perlahan meluruh seiring waktu. Maka alam semesta sekarang dianggap sebagai bagian dari proses lama (skala waktu kosmologis), berevolusi hingga keadaannya saat ini. Baha’I percaya kalau umat manusia diciptakan untuk mengenal tuhan dan mencapai tujuannya. Mengenai mekanisme atau bingkai waktu pencptaan atau prosesnya, Baha’I merujuk pada ajaran agamanya pada keselarasan sains dan agama.

yahudi

Versi kedua dari penciptaan manusia terdapat di Genesis 2:4-25 dimana sebelumnya manusia diciptakan sekaligus pria dan wanita tapi disini pria diciptakan lebih dahulu, yaitu Adam. Hawa diciptakan selanjutnya dan mereka tinggal dengan harmoni bersama tuhan di taman Eden, hingga mereka mendapatkan pohon pengetahuan baik dan jahat (versi Yahudi mengatakan pohon pengetahuan segalanya) dan dibuang dari Eden ke bumi.
Tidak ada kosmologi tunggal atau komprehensif dalam injil yahudi, jadi sulit untuk mengatakan dengan yakin bagaimana dunia diciptakan oleh tuhan yahudi. Kitab Ayyub menjelaskan tiang-tiang penopang bumi, landasan dunia, gerbang yang menutupi lautan dan memberikan batasnya, ruang penyimpanan langit untuk salju, dan saluran-saluran yang menuangkan air hujan dari langit ke bumi. Ada tiga lapis langit, yang terdekat dihiasi bintang-bintang dan yang tertinggi adalah tempat Yahweh duduk di singgasananya.
2 Peter menjelaskan mengenai alam semesta versi yahudi: “dengan firman tuhan, langit itu tua, dan bumi berada di atas dan di dalam air” ini adalah air kekacauan yang memenuhi seluruh alam semesta. Inovasi utama kristen adalah doktrin creation ex nihilo, penciptaan dari ketiadaan. Gereja dari abad-abad pertama Masehi, menulis dan berpikir dalam pengaruh yunani, ketimbang yahudi, dan menarik banyak gagasan filsafat yunani seperti Philo dari Alexandria (pemikir yahudi abad pertama SM yang mencoba menyatukan Yahudi dengan Platonisme), gereja kehilangan keraguan dalam teks yahudi dan menggantinya dengan kejelasan Yunani dan “Pada awalnya Tuhan menciptakan langit dan bumi” menjadi bacaan yang diterima dari Genesis 1 baik untuk kristen maupun yahudi.
Gereja tidak, walau begitu, literalis dan komentator injil sepanjang masa membahas derajat mana dalam penciptaan yang mesti dipandang literal atau alegoris. Meimonides, misalnya, berkomentar kalau penciptaan tidak boleh dipandang secara literal.

Chaldean

Xisuthrus diperingatkan adanya banjir yang datang oleh tuhan Chronos, yang memerintahkan Xisuthrus menulis sejarah dan membuat sebuah bahtera (5x2 stadia) untuk kerabat, teman dan dua hewan dari semua jenis. Setelah banjir mulai masuk, ia mengirim beberapa burung, semuanya kembali. Pada pengiriman kedua, burung-burung ini kembali, tapi kaki mereka tertutup lumpur. Pada pengiriman ketiga, burung-burung tidak kembali. Orang-orang turun dan memberikan persembahan kepada para tuhan. Xisuthrus, istrinya, anak perempuannya, dan nahkoda kapal dibawa untuk tinggal bersama para tuhan.

Mandaeisme

Menurut tradisi mandaeisme, penciptaan dimulai dari entitas tanpa bentuk maha kuasa, dimana ruang dan waktu penciptaan bersifat spiritual, eter dan dunia material dan mahluk. Pembuatan ini diwakilkan olehNya ke pencipta yang berasal dariNya. Alam semesta diciptakan oleh manusia Archetypal, yang membuatnya dalam kemiripan wujudnya. Inheren pada penciptaan ini adalah dualisme, dalam bentuk ayah dan ibu, cahaya dan kegelapan, kiri dan kanan, syzygy dalam bentuk kosmis dan mikrokosmis. Ketimbang pleroma besar, mandean percaya dalam perbedaan diskrit antara gelap dan terang. Penguasa kegelapan disebut Ptahil (serupa dengan penciptaan Gnostik) dan asal dari cahaya (yaitu tuhan) hanya diketahui sebagai “kehidupan agung pertama dari dunia cahaya, yang maha kuasa diatas segalanya”. Saat ini dipancarkan, mahluk spiritual lainnya menjadi semakin jahat dan mereka serta Ptahil menciptakan dunia kita.

Zoroastrianisme

Kisah penciptaan Zoroaster memiliki Ahura Mazda yang menciptakan 16 negeri, satu demi satu, sehingga memuaskan bagi penghuninya. Saat ia selesai pada tiap negeri, Angra Mainyu melakukan sebaliknya, memberikan wabah dan segala jenis dosa. Gagasan dualistik ruh asali ini disebut kembar oleh Zoroaster, dan ditelusuri hingga prototipe Indo-Eropa. Karena gagasan dualisme datang dari gagasan tuhan tidak dapat menciptakan kejahatan, maka kejahatan dan kebaikan telah ada sebelum adanya waktu.

Amerika Selatan

Pirahã

Mungkin unik dalam kebudayaan, masyarakat Piraha dari rimba amazon tampaknya tidak memiliki kisah penciptaan. Mereka juga tidak punya konsep waktu, sejarah, matematika dan hampir tidak punya seni. Walau begitu, ahli bahasa Daniel Everett elaporkan kalau Piraha memiliki morfologi verbal paling rumit yang saya kenal dalam bentuk masyarakat paling bahagia dan pecinta kesenangan yang saya ketahui.” Everett menawarkan hipotesis Sapir-Whorf sebagai penyebabnya, “kebudayaan Piraha membatasi komunikasi pada subjek non-abstrak yang ada dalam jangkauan pengalaman pembicara.”

Inca

Suatu pagi Pachacamac, sang matahari, terbit dari danau Titicaca. Ia begitu cerah sehingga tidak ada yang dapat dilihat di langit sehingga ia membuat bulan dan bintang. Pachacamac menciptakan manusia pertama dari batu namun tidak berhasil karena mereka mudah tenggelam, mereka juga tidak tahu apa-apa. Bulan dan matahari memiliki anak-anak yang akan membantu manusia ini. Mereka dikirim ke bumi untuk membantu. Matahari mengajarkan manusia membuat rumah, menanam dan bertani. Anak perempuan mereka mengajarkan wanita bagaimana menenun dan memasak. Anak laki-laki tuhan matahari menjadi inca pertama. Setelah lama di bumi, manco capac, sang suami dan mama occlo, sang istri berkelana di dunia mencari tempat yang bagus untuk tinggal. Mereka meletakkan salah satu tongkat emas pachacamac ke tanah setiap kali mereka menemukan tempat tinggal yang bagus. Di Huanacauri, tongkat yang mereka tancapkan tenggelam ke bumi. Manco capac memutuskan mereka harus tinggal disana dan membangun kuil matahari pertama di bumi. Manco capac dan mama occlo berpisah untuk mengajak orang-orang tinggal dengan mereka. Manco capac pergi ke utara dan mama occlo pergi ke selatan. Keturunan pachacamac mendukung dan mencintai ayah mereka. Banyak orang bergabung dan mengikutinya. Di Huanacauri para pengikut istri inca membuat kota di sleatan bernama Hurin-Cuzco sementara pengikut Inca membangun Hanan-Cuzco di utara lembah. Sejak itu, kota-kota Inca selalu terbagi antara utara dan selatan, laki-laki dan perempuan.

Australia

Arunta

Pada awalnya dunia tertutup air asin, laut perlahan tersingkir ke utara dan daratan muncul.
Pada masa kemunduran samudera asali ke utara ada dua mahluk di langit utara yang ada dengan sendirinya dan tidak diketahui asalnya. Dari posisi mereka, mereka melihat ke timur sejumlah Inapertwa, “manusia kasar yang belum sempurna, sehingga adalah misi mereka untuk menyempurnakan mereka.” Inapertwa ini memiliki bentuk beragam dan tinggal di tepi pantai. “Mereka tidak punya tangan dan kaki atau mata, hidung dan telinga, tidak makan dan bentuknya hanya seperti benda bulat dengan garis-garis cikal bakal organ di sekitarnya.” Kedua mahluk langit turun dengan membawa pisau batu besar, lalu mulai merubah bentuk ini menjadi manusia. “Pertama mereka melepaskan tangan, lalu jari ditambahkan dengan membuat empat sayatan di ujung tangan; lalu kaki dan jari kaki dengan cara yang sama. Bentuk itu kini dapat berdiri dan setelah ini hidung di buat kemudian lubang hidungnya dibuat dengan jari. Sayatan pisau membuat mulut…sayatan di lebih keatas di kiri dan kanan membentuk celah mata, dimana bola mata telah ada di dalamnya, beberapa kali penyempurnaan karya, dan kemudian Inapertwa, pria dan wanita terbentuk.” Kisah penciptaan yang kurang lebih sama diceritakan oleh aborigin tengah (Loritja, Dieyeri, Kaitish, Unmatjera), tenggara (Yuin, Wathiwathi) dan Tasmania.

Referensi:
1. SPENCER, B., and GILLEN, F. J., 1899, The Native Tribes of Central Australia. London, 1899.
2. STREHLOW, K., 1907, Mythen, Sagen und Märchen des Aranda-Stammes in Zentral-Australien," in Veröffentlichungen aus dem städtischen Völker-Museum, Frankfurt am Main, i, part I.
3. STREHLOW, K., 1908, "Mythen, Sagen und Märchen des Loritja-Stammes: Die totemistischen Vorstellungen und die Tjuringa der Aranda und Loritja," in Veröffentlichungen aus dem städtischen Völker-Museum, Frankfurt am Main, i, part 2
4. GASON, S., 1874, The Manners and Customs of the Dieyerie Tribe of Australian Aborigines. Adelaide, 1874
5. HOWITT, A. W., and SIEBERT, C., "Legends of the Dieri and Kindred Tribes of Central Australia," in JAI xxxiv. 100-29 (1904).
6. HOWITT, A. W., The Native Tribes of South-East Australia. London, 1904.
7. CAMERON, A. L. P., "Notes on Some Tribes of New South Wales," in JAI xiv. 344-70 (1885).
8. WEST, J., History of Tasmania. 2 vols. Launceston, 1852

Aborigin Victoria

Pada awalnya Pundjel membuat dua laki-laki dari tanah liat. Dengan pisau besarnya ia memotong kulit kayu. Di salah satu kulit kayu, ia meletakkan tanah liat, dan mengerjakannya dengan pisau. Saat tanah liat itu lembut, ia memindahkan separuhnya ke kulit kayu yang satunya lagi dan ia membentuk tanah liat itu menjadi manusia, mulai dari kaku, lalu badan dan tangan dan terakhir kepala. Ia membuat masing-masing satu manusia di tiap kulit kayu. Ia bangga dengan pekerjaannya dan melihat ke karyanya lama sekali dan ia menari-nari di sekelilingnya. Ia lalu mengambil ijuk dari sebuah pohon…membuat rambut dan meletakkannya ke kepala mereka, dan ia semakin senang lalu menari mengelilinginya. Sekali lagi ia menghaluskan tubuh mereka dengan tangannya, dari kaki hingga kepala, lalu ia hembuskan nafas ke mulut mereka, ke hidung dan dan telinga, dan mereka bergoncang dan bernapas untuk pertama kali. Ia menari mengelilingi kedua manusia ini ketiga kalinya. Ia lalu membuat mereka bicara dan menyuruh mereka berdiri, dan mereka bangkit, dan tampak sebagai pria dewasa.
Satu hari Pallyan, anak dari Pundjel, pembuat laki-laki, bermain di lubang air dalam dan ia menepis-nepis air dengan tangannya hingga semakin tebal dan berlumpur. Akhirnya ia melihat sesuatu, dan membagi sesuatu itu dengan sebuah ranting, ia menemukan tangan dan dua kepala, akhirnya ia menemukan dua bentuk wanita, mereka adalah wanita pertama di dunia dan diberikan sebagai istri dari kedua laki-laki yang telah diciptakan Pundjel.
Setelah manusia berkembang biak, mereka menjadi jahat; dan Pundjel, turun dari langit dengan marah, ia dan Palluan dibawa oleh angin setelah mereka membuat manusia pertama, dengan pisau besar ia memotong manusia menjadi potongan-potongan kecil yang bergerak merangkak seperti cacing. Angina besar muncul dan menyebarkan potongan-potongan ini seperti salju ke seluruh penjuru dunia, dan dimanapun ia jatuh, ia akan menjadi manusia kembali.
Referensi:
1. SMYTH, R. B., The Aborigines of Victoria. 2 vols. Melbourne, 1878.
2. THOMAS, W., Letters from Victorian Pioneers. (Quoted in R. B. Smyth, The Aborigines of Victoria, i. 425, note. Melbourne, 1878.)

Aborigin Proserpine River

Bulan menciptakan pria dan wanita pertama, pria diciptakan dari batu dan digosok seluruh tubuhnya dengan abu hitam dan putih, sementara yang wanita dibentuk dari pohon dan digosok seluruh tubuhnya dengan Lumpur dan rumput.

Referensi:
ROTH, W. E., Superstition, Magic and Medicine (North Queensland Ethnography, Bulletin No. 5). Brisbane, 1903

Aborigin Selatan

Manusia diciptakan dari kotoran yang dibentul dan digelitik, sehingga ia tertawa dan akhirnya hidup.
Referensi:
1. MEYER, H. A. E., 1879, Manners and Customs of the Aborigines of the Encounter Bay Tribe, South Australia. (Reprinted in J. D. Woods, Native Tribes of South Australia, pp. I 85-206. Adelaide, 1879.)
2. ROTH, W. E., Superstition, Magic and Medicine (North Queensland Ethnography, Bulletin No. 5). Brisbane, 1903

** Kaitish**

Atnatu, tuhan maha kuasa di langit, marah pada anak-anaknya sehingga melempar mereka turun ke bumi lewat sebuah lubang di langit dan ini menjadi leluhur suku Kaitish.

Referensi:
1. SPENCER, B., and GILLEN, F. J., 1899, The Native Tribes of Central Australia. London, 1899.

Aborigin Australia

Tidak ada kisah penciptaan tunggal pada masyarakat aborigin, yang memiliki beragam mitologi. Sebagian tradisi mengatakan kalau bumi diciptakan oleh salah satu tuhan waktu mimpi, yang lain mengatakan kalau mahluk tertentu diciptakan oleh tuhan atau roh leluhur yang berbeda. Yang paling umum adalah pandangan kalau walau tidak dibuat, bumi sendiri adalah abadi.

Aranda, Australia Tengah

Pada awal mula segala sesuatu berada di dalam kegelapan abadi, malam mengalahkan segalanya seperti semak belukar yang tidak bisa ditembus

Modern

Spiritualitas evolusioner

Kisah besar, kisah alam semesta atau epik evolusi adalah judul keyakinan inti dari sebuah gerakan sosial yang mengatakan sejarah alam semesta itu ilmiah sekaligus suci. Ia mengartikulasi sains modern – khususnya sains evolusioner dari evolusi bintang hingga evolusi biologi dan evolusi budaya – sebuah kisah penciptaan suci, seperti mitos penciptaan tradisional yang diteruskan lewat kebudayaan oral dan tulisan suci.

Mormonisme

Anggota gereja yesus kristus santo hari akhir (umumnya dikenal sebagai Mormon) memiliki penafsiran mereka sendiri pada penciptaan menurut Genesis; mereka percaya kalau kenyataan fisik (ruang, materi dan/atau energi) adalah abadi, dan berarti tidak punya asal mutlak. Sang Pencipta adalah arsitek dan pengatur materi dan energi pra manusia, yang mengatur alam semesta sekarang dari bahan baku. Sebagai tambahan dari organisasi bumi pra manusia dari materi sebelumnya, Joseph Smith mengajarkan kalau, “tidak ada materi immaterial. Semua roh adalah materi, namun lebih murni atau halus, dan hanya dapat dilihat oleh mata yang lebih murni; kita tidak dapat melihatnya; namun saat tubuh kita dimurnikan kita akan melihat semua materi itu.” (Doctrine and Covenants 131:7,8) Juga ditemukan dalam kitab Ibrahim, kitab dalam daftar kitab santo hari akhir, menyebutkan Jehovah, yang kemudian lahir sebagai Kristus, dan Elohim, yang merupakan Tuhan sang Bapa, bapak dari kristus dan semua penghuni bumi.

Raëlisme

Raelisme adalah agama UFO modern yang didirikan oleh mantan wartaman balap motor Claude Vorilhon, tahun 1974. raelian percaya kalau alien humanoid bernama Elohim, menciptakan kehidupan di bumi beserta kondisi untuk menopangnya, lewat penggunaan terraformasi, rekayasa genetika dan nanoteknologi.

Keacakan

Sebagian filsuf seperti Hakim Bey dan mistikus seperti Peter Carroll memikirkan keacakan, chaos atau prinsip ketidakpastian mekanika kuantum adalah penggerak utama sesuai sains dan harus diperlakukan sebagai ilahiah.

Scientologi

Scientolog percaya seorang alien bernama Xenu (juga Xemu) adalah diktator konfederasi galaktik yang, 75 juta tahun lalu, membawa miliaran rakyatnya ke bumi dalam pesawat antariksa mirip DC-8, meletakkannya di sekitar gunung-gunung berapi dan membunuh mereka memakai bom hidrogen. Scientologi percaya kalau esensi mereka masih ada, dan kalau bentuk mereka ada pada masyarakat modern membuat mereka merasakan gangguan spiritual.

Wicca

Wicca modern muncul relatif baru, dan walau beberapa puisi relevan ada, tidak ada konsensus pada penganut Wicca mengnai mitos apa, bila ada, yang sesuai dengan teologi Wicca. Banyak pengikutnya percaya dengan penjelasan ilmiah seperti big bang dan menggabungkannya dalam beragam mitos penciptaan yang telah ada.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License