Cara meruntuhkan teori evolusi

Mitos mengenai runtuhnya teori evolusi telah tersebuar begitu luas, thanks to Harun Yahya. Tentu saja, runtuhnya teori evolusi adalah sebuah klaim sepihak yang sama sekali kosong. Seperti yang anda saksikan dalam situs-situs sains terkemuka, evolusi menjadi menu keseharian dimana setiap hari terisi paling tidak satu penemuan baru yang semakin memperkokoh teori tersebut, bahkan melebihi teori gravitasi. Douglas Theobald, Ph.D. dengan percaya diri mengetengahkan 30 prediksi teori evolusi dari para biolog evolusioner dunia dan tidak satupun dari prediksi ini yang meleset. Bagaimana bisa teori ini dikatakan runtuh? Untuk memuaskan Harun Yahya dkk, para ilmuan mengajukan 27 tantangan berikut. Bila satu saja dari tantangan ini berhasil dipenuhi Harun Yahya dkk, barulah teori evolusi akan terguncang.

1. Satuan dasar kehidupan

Ribuan spesies baru ditemukan setiap tahun, dan baris DNA dan protein diuraikan setiap hari dari spesies yang sebelumnya belum diperiksa (Wilson 1992, Ch. 8). Pada laju saat ini, yang bertambah secara eksponensial, hamper 38 juta barisan basa baru dibaca setiap hari. Masing-masing merupakan ujian bagi teori evolusi. Hanya berdasarkan pada teori evolusi dan genetika dari organisme yang telah diketahui, kita dengan yakin meramalkan kalau kita tidak akan pernah menemukan satupun spesies modern dari filum manapun yang dikenal di bumi ini dengan bahan genetic asing non-asam nukleat. Kita juga meramalkan dengan penuh keyakinan kalau semua spesies yang akan ditemukan yang merupakan anggota filum yang telah dikenal akan memakai kode genetic standar atau turunan dekatnya. Sebagai contoh, menurut teori, tidaksatupun dari ribuan serangga yang baru dan tidak diketahui sebelumnya yang terus ditemukan di hutan hujan Brazil akan memiliki genome non-asam nukleat. Tidak pula akan spesies serangga yang belum ditemukan ini akan memiliki kode genetic yang bukan turunan dekat dari kode genetic standar. Dengan ketiadaan teori evolusi, adalah mungkin setiap spesies akan memiliki kode genetic berbeda, spesifik padanya, karena ada sebanyak 1.4 x 1070 kode genetic yang ekuivalen secara informasional, semuanya memakai kodon dan asam amino yang sama seperti kode genetic standar (Yockey 1992). Kemungkinan ini akan sangat bermanfaat bagi organisme, karena akan menyingkirkan infeksi virus antar spesies. Walau demikian, ini tidak diamati di alam, dan teori evolusi secara efektif menjelaskan kenapa pengamatan demikian tidak mungkin didapat.
Sebagai contoh lain, sembilan spesies baru lemur dan dua marmoset (semuanya primate) ditemukan di rimba Madagaskar dan Brasil tahun 2000 (Groves 2000; Rasoloarison et al. 2000; Thalmann and Geissmann 2000). Ten new monkey species have been discovered in Brazil alone since 1990 (Van Roosmalen et al. 2000). Tidak ada yang melanggar hukum biologi bila spesies-spesies ini akan memiliki kode genetic yang tidak digunakan sebelumnya-tidak ada, yaitu, kecuali teori evolusi. Walau demikian, kita sekarang tahu dengan pasti bahwa lemur-lemur baru ini memiliki DNA dengan kode genetic standar (Yoder et al. 2000); para marmoset belum lagi diperiksa. Lebih jauh, masing-masing spesies dapat menggunakan polimer berbeda untuk katalisis. Polimer yang digunakan dapat tetap identik tapi memiliki siralitas berbeda pada spesies berbeda. Ada ribuan jalur glikolisis yang ekivalen secara termodinamis (bahkan bila memakai sepuluh langkah reaksi yang sama namun urutannya berbeda), jadi adalah mungkin setiap spesies akan memiliki jalur glikolisisnya sendiri-sendiri, dirancang untuk kebutuhannya sendiri. Penalaran yang sama berlaku pada jalur metabolic inti lainnya, seperti siklus asam sitrat dan fosforilasi oksidatif. Terakhir, banyak molekul lain selain ATP yang dapat menjadi alat tukar energi dalam berbagai spesies (CTP, TTP, UTP, ITP, atai molekul mirip-ATP lainnya dengan satu dari 293 asam amino yang diketahui atau satu dari selusin basa lain yang dapat menggantikan adenosis). Penemuan adanya hewan atau tanaman yang memuat salah satu dari contoh yang disebutkan di atas akan menjadi penemuan yang meruntuhkan teori evolsui, namun mereka belum pernah ditemukan.

Daftar Pustaka

Groves, C. P. (2000) "The genus Cheirogaleus: Unrecognized biodiversity in dwarf lemurs." International Journal of Primatology. 21(6): 943-962.
Rasoloarison, R. M., Goodman, S. M., and Ganzhorn, J. U. (2000) "Taxonomic revision of mouse lemurs (Microcebus) in the western portions of Madagascar." International Journal of Primatology. 21(6): 963-1019.
Thalmann, . U., and Geissmann, T. (2000) "Distribution and geographic variation in the western woolly lemur (Avahi occidentalis) with description of a new species (A. unicolor)." International Journal of Primatology. 21(6): 915-941.
Wilson, E. O. (1992) The Diversity of Life. Cambridge, MA, Harvard University Press Yockey, H. P. (1992) Information Theory and Molecular Biology. New York: Cambridge University Press
Yoder, A. D., Rasoloarison, R. M., Goodman, S. M., Irwin, J. A., Atsalis, S., Ravosa, M. J., and Ganzhorn, J. U. (2000) "Remarkable species diversity in Malagasy mouse lemurs (primates, Microcebus)." Proc Natl Acad Sci 97(21): 11325-30. http://www.pnas.org/cgi/ content/full/97/21/11325

2. Hirarki bersarang spesies.

Akan menjadi sangat problematic bila banyak spesies ditemukan memiliki karakteristik gabungan dari beragam kelompok. Sebagai contoh, sebagian tanaman tak berpembuluh dapat saja memiliki bunga atau biji, seperti tanaman berpembuluh, tapi ternyata tidak ada. Gymnosperma (seperti melinjo atau pinus) dapat saja memiliki bunga, tapi tidak pernah ditemukan. Tanaman tanpa biji, seperti pakis, dapat saja memiliki kayu; walaubegitu hanya sebagian angiosperma yang memiliki kayu. Begitupula, burung dapat saja memiliki kelenjar susu atau rambut; sebagian mamalia bisa saja memiliki bulu (ini sangat berguna untuk isolasi). Ikan atau amfibi tertentu dapat saja memiliki gigi terdiferensiasi, tapi ini hanya dimiliki oleh mamalia. Sebuah karakteristik campuran seperti ini akan membuatnya sangat sulit di organisasi secara objektif dalam hirarki bersarang. Tidak seperti organisme, mobil memang memiliki karakter campuran, dan ini persis mengapa hirarki bersarang tidak dapat secara alami dipakai untuk klasifikasi mobil.

Bila mustahil, atau sangat bermasalah, menempatkan spesies dalam skema klasifikasi bersarang yang objektif (seperti pada mobil, kursi, buku, unsure atom dan partikel elementer), teori evolusi akan runtuh secara efektif. Lebih tepatnya, bila pohon filogenetis dari semua kehidupan memberikan nilai rendah dari sinyal filogenetis (struktur hirarkis), teori evolusi akan hancur.
Faktanya, adalah mungkin memiliki pola resiprokal dari hirarki bersarang. Secara matematis, sebuah hirarki bersarang adalah hasil dari korelasi spesifik antara karakter atau organisme tertentu. Saat tingkat evolusi cepat, karakter menjadi tersebar secara acak satu sama lain, dan korelasi melemah. Walau demikian, karakter juga dapat anti korelasi – adalah mungkin bagi mereka berkorelasi dalam arah berlawanan dari apa yang dihasilkan hirarki bersarang (Archie 1989; Faith and Cranston 1991; Hillis 1991; Hillis and Huelsenbeck 1992; Klassen et al. 1991). Pengamatan pola anti korelasi demikian akan menjadi sebab keruntuhan teori evolusi, tanpa perlu melihat pada tingkat evolusioner.

ci.gif

Gambar 1
Ukuran yang dipakai secara luas untuk struktur hirarkis kladistik adalah indeks konsistensi (CI). Sifat statistic dari ukuran CI diteliti dalam paper terkenal oleh Klassen et al. (Klassen et al. 1991). Nilai pasti CI tergantung pada jumlah taksa dalam pohon filogenetis yang diteliti. Daam paper ini, penulis menghitung nilai berapa yang signifikan secara statistic untuk beragam jumlah taksa. Nilai CI yang tinggi menunjukkan derajat tinggi strutur hirarkis.

Sebagai contoh, CI 0,2 diperkirakan dari data acak 20 taksa. Nilai 0,3 walaubegitu adalah signifikan sekali secara statistic. Paling menarik pada point saat ini adalah fakta bahwa CI 0,1 dari 20 taksa juga sangat signifikan secara statistic, namun ia terlalu rendah-ia adalah indicator dari struktur anti kladistik. Klassen et al. mengambil 75 nilai CI dari kladogram yang diterbitkan dalam tahun 1989 (digabung dalam tiga paper) dan menemukan bagaimana mereka sangat signifikan secara statistic. Kladogram yang dipakai mulai dari 5 hingga 49 taksa (yaitu spesies berbeda). Tiga dari 75 kladogram jatuh dalam batas kepercayaan 95% dari data acak, yang artinya mereka tidakd apat dibedakan dari data acak. Semua sisanya merupakan nilai CI yang tinggi signifikansinya secara statistic. Tidaksatupun menunjukkan nilai rendah signifikan; tidak ada yang menunjukkan pola anti hirarkis, anti korelasi. Catat, studi ini dilakukan sebelum ada ukuran signifikansi statistic yang dapat memungkinkan peneliti menyingkirkan kladogram yang buruk. Dapat diramalkan, tiga himpunan data buruk memiliki dibawah sepuluh taksa-tentu saja lebih rumit menentukan signifikansi statistic dengan sangat sedikit data. 75 studi independent dari peneliti-peneliti berbedam pada organisme dang en berbedan dengan nilai CI tinggi (P < 0.01) adalah konfirmasi luar biasa pada tingkat astronomis dari signifikansi statistic gabungan (P « 10-300, Bailey and Gribskov 1998; Fisher 1990). Bila sebaliknya yang benar-bila studi memberikan nilai CI signifikan secara statistic (yaitu struktur hirarkis kladistik) yang rendah dari yang diharapkan dari data acak- teori evolusi akan runtuh dengan seketika.

Perlu dicatat bahwa ada 1,5 juta spesies yang diketahui saat ini, dan mayoritas spesies ini telah ditemukan semenjak Darwin menyatakan hipotesis evolusinya. Walau begitu, semuanya cocok dengan pola hirarkis bersarang dalam error metode kita. Lebih jauh lagi, diperkirakan hanya 1 hingga 10% dari semua spesies hidup telah kita catat, belum lagi diteliti secara detil. Spesies baru ditemukan setiap hari, dan masing-masing merupakan ujian untuk teori Evolusi (Wilson 1992, Ch. 8).

Daftar Pustaka

Archie, J. W. (1989) "A randomization test for phylogenetic information in systematic data." Systematic Zoology 38: 219-252.
Bailey, T. L., and Gribskov, M. (1998) "Combining evidence using p-values: application to sequence homology searches. Bioinformatics. 14: 48-54
Faith, D. P., and Cranston, P. S. (1991) "Could a cladogram this short have arisen by chance alone?: on permutation tests for cladistic structure." Cladistics 7: 1-28
Fisher, R. A. (1990) Statistical methods, experimental design, and scientific inference. Bennet, J. H. ed., Oxford: Oxford University Press
Hillis, D. M. (1991) "Discriminating between phylogenetic signal and random noise in DNA sequences." In Phylogenetic analysis of DNA sequences. pp. 278-294 M. M.
Miyamoto and J. Cracraft, eds. New York: Oxford University Press
Hillis, D. M., and Huelsenbeck, J. P. (1992) "Signal, noise, and reliability in molecular phylogenetic analyses." Journal of Heredity 83: 189-195.
Klassen, G. J., Mooi, R. D., and Locke, A. (1991) "Consistency indices and random data." Syst. Zool. 40:446-457.
Wilson, E. O. (1992) The Diversity of Life. Cambridge, MA, Harvard University Press

3. Penentuan independent dari filogeni historic

Saat menjadi mungkin untuk membariskan molekul biologis, realisasi dari pohon berbeda berdasarkan bukti molekuler independent akan menjadi hantaman keras bagi teori evolusi, walaupun jauh dari hasil yang paling mungkin. Lebih tepatnya, teori evolusi akan runtuh bila pohon filogeni universal yang diperoleh dari bukti morfologis dan molekuler yang independent tidak cock dengan signifikansi statistic.Lebih jauh, kita kini dalam posisi mulai membangun pohon filogenetis berdasarkan pada garis data lain yang independent, seperti organisasi kromosom. Secara umum, jumlah dan panjang kromosom serta posisi gen pada kromosom semuanya independent dari identitas morfologi dan barisan. Filogeni yang dibangun dari data ini harus menunjukan pohon filogenetis yang standar pula (Hillis et al. 1996; Li 1997).

Daftar Pustaka

Hillis, D. M., Moritz, C. and Mable, B. K. Eds. (1996) Molecular systematics. Sunderland, MA: Sinauer Associates.
Li, W.-H. (1997) Molecular Evolution. Sunderland, MA: Sinauer Associates.

4. Bentuk peralihan

Penemuan apapun dari bentuk peralihan separuh mamalia separuh burung akan tidak konsisten dengan teori evolusi. Banyak contoh dari bentuk peralihan yang tidak mungkin berdasarkan pohon standar (Kemp 1982; Stanley 1993; Carroll 1997; Chaterjee 1997).
Sebuah point penting adalah sebuah penafsiran kladistik evolusioner yang ketat mengeluarkan kemungkinan menemukan leluhur sejati; hanya bentuk peralihan dapat ditentukan secara positif. Bukti non kontroversi satu-satunya dari hubungan leluhur-keturunan adalah pengamatan kelahiran; jelas ini secara normal mustahil dalam catatan fosil. Bentuk peralihan tidak perlu sama pasti dengan yang leluhur yang diramalkan; faktanya, hamper mustahil kalau mereka sama. Hanya karena pertimbangan kemungkinan, bentuk peralihan yang kita temukan sepertinya bukanlah leluhur sejati dari spesies modern manapun, tapi akan paling berhubungan dengan leluhur yang diramalkan. Jadi, bentuk peralihan yang kita temukan akan memiliki karakter turunan tambahan yang menunjukkan mereka merupakan bentuk peralihan. Karena pertimbangan ini, saat sebuah fosil peralihan baru dan penting ditemukan, paleontolog yang hati-hati akan sering mencatat bahwa spesies peralihan pada studi mungkin bukan leluhur, namun “wakil dari leluhur bersama” atau sebuah “cabang tetangga” evolusioner. Semakin sedikit karakter turunan tambahan yang dimiliki sebuah fosil peralihan, semakin tinggi kemungkinan kalau fosil peralihan ini leluhur yang sejati.

Daftar Pustaka

Carroll, R. L. (1997) Patterns and Processes of Vertebrate Evolution. Cambridge: Cambridge University Press
Chaterjee, S. (1997) The Rise of Birds: 225 million years of evolution. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press.
Kemp, J. S. (1982) Mammal-like reptiles and the origin of mammals. New York: Academic Press
Stanley, S. (1993) Earth and Life Through Time. New York: W. H. Freeman.

5. Kronologi leluhur bersama

Akan sangat tidak konsisten dengan teori evolusi bila urutan kronologis terbalik dalam contoh reptile-burung dan reptile-mamalia. Bahkan menemukan bahwa tidak ada korelasi keseluruhan antara stratigrafi dan filogeni konsesus dari taksa utama akan sangat problematic untuk teori evolusi. Sebagai tambahan, korelasi yang teramati dapat menurun pada bingkai waktu lewbih panjang atau saat kita mendapat lebih banyak data paleontologist – namun tidak pernah terjadi (Benton et al. 1999; Benton and Storrs 1994). Berdasarkan pada keyakinan tinggi dalam beberapa cabang pohon filogenetis, sebagian batasan temporal sangat kaku. Sebagai contoh, kita tidak akan mungkin menemukan fosil mamalia atau burung pada atau sebelum deposit Devon, sebelum reptile berpisah dari garis tetrapoda amfibi. Ini mengeluarkan deposit prakambria, kambria ordovisian, dan silur, memuat 92% sejarah geologis bumi dan 65% sejarah biologis organisme multiseluler. Bahkan satu saja temuan fosil mamalia, burung atau bunga dari pra devon akan meruntuhkan teori evolusi dalam seketika (Kemp 1982; Carroll 1988; Stanley 1993; Chaterjee 1997).

Daftar Pustaka

Benton, M. J., Hitchin, R., and Wills, M. A. (1999) "Assessing congruence between cladistic and stratigraphic data." Syst. Biol. 48: 581-596
Benton, M. J., and Storrs, G. W. (1994) "Testing the quality of the fossil record: paleontological knowledge is improving." Geology 22: 111-114
Carroll, R. L. (1988) Vertebrate Paleontology and Evolution. New York: W. H. Freeman and Co
Chaterjee, S. (1997) The Rise of Birds: 225 million years of evolution. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press.
Kemp, J. S. (1982) Mammal-like reptiles and the origin of mammals. New York: Academic Press
Stanley, S. (1993) Earth and Life Through Time. New York: W. H. Freeman

6. Struktur Vestigial anatomis

Tidak ada organisme yang dapat memiliki struktur vestigial yang sebelumnya tidak fungsional dalam salah satu leluhurnya. Jadi, untuk setiap spesies, pohon filogenetis standar membuat sejumlah besar prediksi mengenai karakter vestigial yang boleh dan mustahil untuk setiap spesies.
Karakter yang dimiliki bersama dan data barisan molekuler, bukan karakter vestigial, menentukan filogeni dan karakteristik leluhur bersama yang diprediksi. Jadi, bila teori evolusi salah, karakter vestigial sangat mungkin tidak dapat dijelaskan secara evolusioner. Sebagai contoh, paus digolongkan mamalia atas dasar banyak criteria, seperti memiliki kelenjar susu, plasenta, satu tulangdi eahang bawah, dll. Ular begitupula digolongkan reptile karena memiliki fitur turunan lainnya. Walaudemikian, adalah mungkin secara teoritis kalau ular atau paus digolongkan sebagai ikan (seperti yang dilakukan Linnaeus pada awalnya). Bila ini kasusnya, kaki vestigial dari paus atau tulang paha vestigial pada ular tidak akan masuk akal secara evolusioner dan tidak akan konsisten dengan teori evolusi.

Selanjutnya, maka, kita tidak akan pernah menemukan putting susu vestigial atau tulang incus vestigial pada amfibi, burung atau reptile. Tidak ada mamalia yang akan ditemukan memiliki bulu vestigial. Tidak akan ada primate yang akan ditemukan memiliki tanduk vestigial atau sayap terdegenerasi tersembunyi dibalik kulit punggungnya. Kita tidak akan menemukan anthropoda manapun yang memiliki tulang belakang vestigial. Ular dapat memiliki kaki atau tangan vestigial, namun mereka tidak akan memiliki sayap vestigial. Manusia dapat ditemukan memiliki caecum vestigial, karena kita keturunan dari mamalia herbivore, namun tidak akan pernah satupun primate dapat memiliki gizzard vestigial seperti yang ada pada burung. Mutatis mutandis ad infinitum.

7. Atavisme

Pada dasarnya sama dengan tantangan pada struktur vestigial di atas.

8. Struktur Vestigial molekuler

Akan sangat membingungkan bagi teori evolusi bila kita tidak menemukan pseudogen L-gulano-γ-lactone oxidase atau gen vestigial lainnya. Sebagai tambahan, kita dapat memprediksi kalau kita tidak akan pernah menemukan gen kloroplas vestigial dalam metazoan (yaitu hewan) manapun (Li 1997, pp. 284-286, 348-354).

Daftar Pustaka

Li, W.-H. (1997) Molecular Evolution. Sunderland, MA, Sinauer Associates

9. Ontogeni dan biologi perkembangan

Berdasarkan pada pohon filogenetika standar kita, kita bias menduga kalau menemukan sarung ingsang atau kulit telur pada suatu saat di masa perkembangan embrionik (dan kita benar-benar menemukannya). Walaubegitu, kita tidak pernah menduga kalau bisa menemukan puting, rambut, atau tulang inkus telinga tengah pada saat apapun dalam embrio ikan, amfibi atau reptil. Begitujuga, kita bisa menduga menemukan gigi dalam mulut sebagian embrio burung (dan memang ditemukan), namun kita tidak menduga kalau bisa suatu saat menemukan paruh mirip burung dalam embrio mamalia eutheria (etheria adalah mamalia dengan plasenta seperti manusia, sapi, anjing atau kelinci). Kita bisa menduga menemukan embrio manusia dengan ekor (dan benar kenyataannya, lihat gambar 2) namun kita tidak akan pernah menemukan tonjolan kaki atau tangan dalam embrio pari, belut, ikan teleostoi atau hiu. Penemuan demikian bila terjadi akan langsung bertentangan dengan teori evolusi. (Gilbert 1997, esp. Ch. 23).

human_embryo.jpg

Gambar 2 : Embrio manusia pada usia janin 32 hari. Perhatikan ekor post anal pada kiri bawah di bawah kepala.

Daftar Pustaka

Gilbert, S. F. (1997) Developmental Biology. Fifth edition. Sinauer Associates.

10. Biogeografi masa kini

Dari pengetahuan yang terbatas pada persebaran spesies, kita meramalkan kalau kita tidak akan pernah menemukan gajah di kepulauan Pasifik, bahkan kalau mereka mampu bertahan hidup disana. Serupa pula, kita meramalkan kalau kita tidak akan menemukan amfibi di pulau-pulau terpencil, atau kaktus asli dari Australia. Spesies yang berkerabat dekat dapat tersebar seragam di dunia, sesuai dengan habitat manapun yang sesuai dengannya. Bila ini adalah pola biogeografi uang umum, maka ini akan menjadi sebuah hantaman keras untuk teori evolusi (Brown and Lomolino 1998).

Daftar pustaka

Brown, J. H., and Lomolino, M. V. (1998) Biogeography. Second edition. Boston, MA: Sunderland.

11. Biogeografi masa lalu

Kita dengan percaya diri meramalkan kalau fosil dar hewan yang baru berevolusi seperti kera dan gajah tidak akan ditemukan di amerika selatan, antartika atau Australia (kecuali, tentu saja, kera yang berlayar dengan perahu). Akan sangat menyedihkan nasib teori evolusi bila kita menemukan di amerika selatan fosil dari Epihippus atau Merychippus (atau bentuk peralihan di antaranya) dari Zaman Paleosen, Eosen, Oligosen, Miosen, atau kapanpun sebelum Panama muncul menghubungkan amerika utara dan selatan (sekitar 12 juta tahun lalu). Lebih lanjut, kita tidak akan pernah menemukan fosil leluhur kuda di Australia atau antartika dari era geologis manapun (MacFadden 1992; Brown and Lomolino 1998).
Kita juga tidak mengharap mendapatkan fosil Australopithicus, Ardipithecus, atau Kenyanthropus di Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, Siberia atau pulau samudera manapun yang jauh dari Afrika. Penemuan demikian akan meruntuhkan teori evolusi dengan seketika.

Daftar pustaka

Brown, J. H., and Lomolino, M. V. (1998) Biogeography. Second edition. Boston, MA: Sunderland.
MacFadden, B. J. (1992) Fossil Horses: Systematics, Paleobiology, and Evolution of the Family Equidae. New York, Cambridge University Press.

12. Parahomologi morfologis

Catatan fosil dapat menunjukkan sebuah kemajuan kronologis dimana sayap burung perlahan berubah menjadi tangan reptile; walau begitu, kebalikannya yang selalu terjadi. Sebagai tambahan, sebuah hantaman besar akan muncul bila secara positif ditunjukkan kalau struktur primitive dari organisme yang diramalkan teori evolusi tidak beralasan termodifikasi menjadi struktur turunan organisme modern. Contoh yang sangat jelas, dan sepenuhnya serius, adalah mustahil secara evolusioner menemukan mahluk yang namanya Pegasus. Karena seekor Pegasus harusnya mamalia yang berkerabat dekat dengan kuda, jadi sayapnya akan dinilai sebagai karakter turunan. Tapi, sayap Pegasus tidak mungkin merupakan modifikasi struktur leluhurnya, karena leluhur yang diramalkan dari pegasi dan kuda tidak punya struktur yang mungkin untuk dimodifikasi (Futuyma 1998, p. 110).
Secara analog, kita meramalkan kalau kita tidak akan pernah menemukan burung dengan sayap dan tangan sekaligus, atau kerang dengan kloroplas, walau struktur ini akan sangat membantu organisme ini. Begitupula, akan sebuah penyebab runtuhnya teori evolusi bila pohon filogenetis tidak memiliki kontinuitas structural, namun kontinuitas fungsional atau bahkan tidak punya kontinuitas sama sekali.

Daftar pustaka

Futuyma, D. (1998) Evolutionary Biology. Third edition. Sunderland, MA, Sinauer Associates.

13. Parahomologi Molekuler

Protein melakukan fungsi yang baru berevolusi harus memiliki kesamaan signifikan secara statistic dengan protein yang melakukan fungsi inti. Adalah sangat problematic secara evolusioner bila ini tidak terjadi. Lebih lanjut, akan tidak konsisten dengan teori evolusi bila kita menemukan gen yang terlibat dalam fungsi multiseluler lebih dalam berakar dalam filogeni mereka (yaitu bila gen ini lebih purba dari gen fungsi inti) (Li 1997; Chervitz et al. 1998).

Daftar pustaka

Chervitz, S. A., et al. (1998) "Comparison of the complete protein sets of worm and yeast: Orthology and divergence." Science 282: 2022-2028
Li, W.-H. (1997) Molecular Evolution. Sunderland, MA, Sinauer Associates.

14. Analogi morfologis

Kita tidak akan menduga spesies yang baru ditemukan apakah itu lumba-lumba, paus, penguin, atau kerabat dekat mamalia manapun memiliki insang (analogi yang mungkin dengan ikan), karena leluhur mereka tidak memiliki insang atau struktur mirip insang yang dapat menurun pada mereka. Ini adalah ramalan teori evolusi, walau faktanya insang akan sangat menguntungkan bagi mamalia dan burung air.

15. Analogi Molekuler

Parahomologi dan analogi adalah ramalan khusus teori evolusi dan prinsip dari oportunisme evolusioner. Adalah mungkin ada sebuah dunia dimana tidak ada kasus parahomologi atau analogi biologis. Sebagai contoh, organisme hidup dapat disusun dalam bentuk modular, seperti sebagian besar ciptaan antropogenik, dimana setiap struktur memiliki fungsi khusus.

16. Suboptimalitas Anatomis

Sebuah bukti kuat yang dapat meruntuhkan teori evolusi dalam hal ini adalah penemuan mamalia tanpa persilangan antara saluran pencernaan dengan saluran pernapasan, atau reptile atau mamalia tanpa titik buta di matanya, dll. Ini karena rancangan yang buruk tidak dapat cocok lewat proses evolusioner, bahkan bila memperbaiki masalah ini akan bermanfaat bagi organisme. Satu-satunya pencocokan yang diizinkan oleh teori evolusi adalah modifikasi relative kecil pada apa yang telah ada.
Catatan: Anggota dari kelas argument ini dapat dimentahkan bila sebuah struktur suboptimal sebelumnya pada kenyataannya ditemukan efisien secara fungsional. Walau demikian, untuk sebagian besar contoh, penemuan sebuah fungsi penting pada susunan structural tertentu tidak merubah kesimpulan dasar. Sebagai contoh, mungkin titik buta retina pada vertebrata sesungguhnya punya fungsi penting, atau mungkin saat ini tidak diketahui fungsinya pada hewan darat. Faktanya, sebagian anti evolusionis telah mengajukan kalau mata vertebrata yang masuk ke dalam rongga yang rumit, yaitu bintik buta, dibutuhkan untuk kehidupan darat, sementara mata keluar pada cepalopoda penting untuk pandangan bawah air (Bergman 2000). Namun pertanyaannya – kenapa ikan vertebrata punya mata kedalam? Untuk ikan, bidang mata vertebrata dengan kompleksitas tambahan yang tidak diperlukan adalah suboptimal, karena semakin elegan, semakin efisien, semakin sederhananya mata cepalopoda dapat melakukan fungsi bawah air yang sama baiknya. Argument suboptimalitas belum terpatahkan; penekanan telah diberikan terus dari satu organism eke organisme lainnya. Lebih lanjut, hipotesis teori evolusi akan tetap dapat runtuh dengan penemuan ikan tulang vertebrata dengan mata keluar.

Daftar pustaka

Bergman, J. (2000) "Is the inverted human eye a poor design?" Perspectives on Science and Christian Faith 52: 18-30.

17. Suboptimalitas molekuler

Karena evolusi tidak punya pandangan ke depan, dan tidak dapat merencanakan fungsi masa depan, akan sangat mencurigakan bila system molekuler biologis dirancang secara efisien. Kembali, ini tidak mengeluarkan kompleksita – tapi efisiensi mekanisme.

18. Berlebihnya protein fungsional

Tanpa menganggap teori evolusi, hasil paling mungkin adalah barisan protein sitokrom c dalam semua organisme akan sangat berbeda satu sama lain. Bila hal ini yang terjadi, sebuah analisis filogenetis akan mustahil, dan akan memberi bukti kuat kalau tidak ada kaitan keturunan antar spesies (Dickerson 1972; Yockey 1992; Li 1997).
Lebih lanjut, dasar utama dari argumen evolusi akan runtuh dengan mudah bila ada yang bisa menunjukkan:

  1. kalau protein spesifik spesies sitokrom c secara eksklusif fungsional dalam spesies yang bersangkutan, atau
  2. tidak ada barisan sitokrom c lain yang dapat berfungsi dalam organisme itu selain barisan sitokrom aslinya, atau
  3. sebuah mekanisme yang teramati dalam pewarisan dapat menyebabkan barisan protein berlebih berhubungan secara sebab akibat dengan morfologi organisme tertentu

Daftar pustaka

Dickerson, R. E. (1972) Scientific American. 226: 58-72.
Yockey, H. P. (1992) Information Theory and Molecular Biology. New York, Cambridge University Press.
Li, W.-H. (1997) Molecular Evolution. Sunderland, MA, Sinauer Associates.

19. Berlebihnya koding DNA

Hasil yang paling mungkin adalah kalau barisan koding DNA untuk protein menstinya berbeda secara radikal. Ini akan menjadi penyebab runtuhnya teori evolusi, dan menjadi bukti kuat kalau simpanse dan manusia tidak berkerabat dekat secara keturunan. Tentu saja kemungkinan salah dari nomor 18 juga berlaku untuk barisan DNA.

20. Bukti molekuler – transposon

Lihat nomor 21 dan 22, prinsipnya sama.

21. Pseudogen berlebih

Duplikasi gen yangteramati adalah peristiwa langka dan acak. Jadi, hamper mustahil kalau mamalia lain akan memiliki pseudogen berlebih yang sama pada lokasi kromosom yang sama, dengan mutasi yang sama yang merubah fungsi normalnya. Sebagai contoh, pada dasarnya mustahil bagi tikus untuk membawa pseudogen 21-hydroxylase, di lokasi genomic yang sama, dengan delesi delapan pasangan basa yang sama yang menghancurkan fungsi enzimatisnya.

Lebih lanjut, sekali sebuah gen terduplikasi dan mutasi memberinya psedogen berlebih, ia akan diwarisi semua keturunan. Jadi, sekali satu organisme ditemukan membawa pseudogen yang sama, teori evolusi mensyaratkan kalau semua organisme secara filogenetis peralihan harus juga membawa pseudogen. Sebagai contoh, anggap kita menemukan kalau manusia dan monyet dunia lama memiliki pseudogen yang berlebih yang sama. Menurut teori evolusi, semua kera (termasuk simpanse, gorilla, orang utan, dan siamang) harus juga memiliki pseudogen berlebih ini pada lokasi kromosom yang sama. Kesimpulan ini berdasarkan pada premis kalau tidak ada mekanisme untuk menghilangkan pseudogen dari genome (atau mekanisme yang sangat efisien untuk itu). Ini tampaknya benar untuk vertebrata, namun sebagian organisme dengan waktu perkembangbiakan pendek, seperti bakteri, protista dan Drosophila memiliki mekanisme yang dapat membuang DNA berebihnya.

Catat, kemungkinan salah ini independent pada apakah pseudogen tertentu memiliki fungsi atau sepenuhnya non fungsional. Seperti unsure genetic atau struktur organisme lainnya, oportunisme evolusioner dapat mengambil pseudogen dan menekannya menjadi fungsi baru dan berbeda.

22. Retrovirus Endogen

Akan tidak masuk akal secara evolusi, bila mamalia tertentu (misalnya anjing, sapi, platypus, dll) memiliki retrogen yang sama di lokasi kromosom yang sama. Sebagai contoh, akan sangat tidak mungkin anjing juga memiliki tiga insersi HERV-K yang unik pada manusia seperti pada gambar, karena tidak satupun primate lain memiliki barisan retroviral ini.

23. Perubahan Genetik

Saat bahan genetic diperoleh, adalah jelas kalau bagi evolusi untuk menempuh sejumlah besar perubahan yang dibutuhkan dalam bahan genetic. Bila pengamatan umum ahli genetika adalah kalau genomic stasis dan tidak memiliki perubahan genetic signifikan, itu akan menjadi bukti kesalahan teori evolusi. Sebagai contoh, adalah mungkin kalau kapanpun kita memberikan mutasi pada genome organisme, DNA dapat melakukan mutasi ulang ke keadaan awalnya. Walau begitu, sebaliknya lah yang terjadi – genome sangat plastis dan perubahan genetic diwariskan dan pada dasarnya irreversible (Lewin 1999).

Daftar pustaka:

Lewin, B. (1999) Genes VII. New York, Oxford University Press

24. Masa lalu bumi yang aneh dan catatan fosil

Penyangkalannya akan sangat sederhana—sedimen dari bumi dapat mengandung komposisi spesies yang sangat serupa dengan kehidupan modern sejauh yang bisa kita lihat dalam lapisan berurutan.

25. Tahap Spesiasi

Bila semua spesies yang dikenal secara genetic sepenuhnya terisolasi satu sama lain, dan tidak ada hibrida, akan sangat sulit untuk membenarkan secara rasional postulasi jutaan pada jutaan peristiwa spesiasi bertahap di masa lalu.

26. Tingkat perubahan morfologis

Bila tingkat modern yang teramati dari evolusi tidak mampu menunjukkan tingkat yang ditemukan dalam catatan fosil, teori evolusi akan sangat sulit menjelaskan. Sebagai contoh, tingkat evolusioner Equus pada kenozoikum akhir dapat ditemukan secara konsisten lebih besar dari 80 ribu darwin. Dengan diberikan tingkat yang diamati pada populasi modern, sebuah tingkat yang tinggi akan mustahil dijelaskan. Karena tingkat evolusi rata-rata dalam peristiwa kolonisasi ~400 darwin, bahkan tingkat rata-rata 4000 darwin dalam catatan fosil akan menjadi penyebab keruntuhan teori evolusi.

27. Tingkat perubahan genetic

Dapat terjadi kalau mutasi genetic yang diukur dalam pengamatan organisme modern besarnya kurang dari yang diperlukan oleh tingkat catatan fosil dan persebarang barisan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License