Besi Bukan Rahasia Dalam Al Quran

Di Surah 57:25, banyak apologis islam akan mengklaim bahwa Allah "menurunkan besi" adalah ramalan ajaib dari pemahaman ilmiah modern mngenai munculnya besi di tata surya. Karena teori2 kosmologis terakhir mengatakan bahwa besi memasuki tata surya dari luar, saat matahari tidak cukup panas untuk menghasilkan besi in situ, "menurunkan besi" mencrminkan ini. Tentu saja, penafsiran demkian, yang medahului kebenaran landasan evolusioner yang mendasari teori ilmiah, bertolak belakang dengan penciptaan sekejab yang diajarkan Qur'an (Surah 2:117) dimana Allah berfirman "Jadilah!" Lalu jadilah ia. Bahkan tidak merujuk ini, argumennya mengambang bila kita menganggap teori kosmologis benar. Teori2 ini mengatakan bahwa tata surya terbentuk dari pengumpulan secara induksi gravitasi dari unsur2 pra ada (dari big bang, supernova sebelumnya, silakan pilih) yang seiring waktu membentuk planet, bulan, matahari, dan lain-lain. Sekarang, bila besi ada di tata surya di saat pembentukan teoritis, maka ia telah dimasukkan ke bumi pada saat itu. Tapi, frase "kami menurunkan (memakai istilah arab nazal, yang berarti "menurunkan") menunjukkan bahwa bumi telah ada di saat besi di turunkan (bila tidak tentu saja tidak ada yang diturunkan, sperti yang dikatakan dengan elas daam bahasa arab disini). Maka, argumen apologis adalah sebuah usaha menyatukan islam dengan sains modern yang tidak berdiri kokoh didepan penyelidikan bernalar.
Sebuah catatan ebih lanut, saya benar2 meihat sebagian apologis muslim bertindak lebih lanjut dan mengatakan bahwa sangat ajaib karena surah yag mengandung ayat ini (berjudul Al-Hadid, "Besi") bernomer (dalam urutan susunan surah) sama dengan berat atom dari besi. Walaubegitu, karena Al-Hadid adalah surah ke 7 daam susunan sekarang, dan berat atom besi adalah 55.847 dalton (yang bisa kita bulatkan menjadi 56), argumen ini tampak dipaksakan. Bahkan di hadapan ini, sebagian apologis akan tetap berpendapat bahwa, bila kita tidak menghitung Al-Fatiha (surat pembukaan Qur'an, Surah 1), maka Al-Hadid bernomer 56 dan denan demikian jatuh pada garis berat atom besi. Saya melihat ini menarik karena baru kali ini ada muslim yang menyarankan unuk mengabaikan satu surah dari Qur'an!
Menariknya, klaim bahwa Allah (atau tuhan manapun) menurunkan besi tidak bermula dalam Qur'an. Keyakinan bahwa besi diturunkan dari langit telah menjadi sejarah lama dari banyak masyarakat kuno disekitar Mediterranean dan timur tengah. Keyakinan ini, seperti di tunjukkan oleh Bauval*, sepertiya berasal dari asal usul meteoritik dari besi yang mungkin membentuk sumber utama pertama dari besi untuk orang masa lalu. Di antara orang Mesir kuno, besi dikenal dengan kata "Bja", sebuah kata yang juga berarti "bahan yang dibuat langit", menunjukkan sebuah keyakinan pada bagian asal usul besi yang suci dari bangsa mesir.** McCall menceritakan bahwa bangsa Phrygiansdari abad ke7 SM menyembah sebuah meteorit besi berbentuk kerucut*, dan Bauval uga memberi beberapa contoh batuan yang "jatuh ke bumi" yang disucikan oleh orang masa lalu, termasuk meteorit hitaam yang ada di ka'bah (Hajar Aswad). Maka, kisah dalam Quran ini memiliki asal pra islam yang jelas.
Referensi:
*R. Bauval, "Investigation on the origins of the Benben Stone: Was It An Iron Meteorite?", Discussions in Egyptology, Vol. 14 (1989)
G.A. Wainwright, "Iron in Egypt", Journal of Egyptian Archaeology, Vol. 18 (1931), p. 11
*** G.J.H. McCall, Meteorites and Their Origins, p. 17

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License