Ateisme dan moralitas

Ateisme adalah bukan sistem etika (sistem menentukan perbuatan mana yg benar/ salah), ateisme hanyalah tidak adanya kepercayaan pada Tuhan. Ateisme punya kelebihan karena tidak perlu mendasarkan keputusan etikanya pada buku yg ditulis oleh orang2 jaman kuno (abad ke 7/ abad ke 1), dimana buku tsb menunjukkan nilai2 etika dari orang2 tersebut. Ateisme juga memungkinkan anda untuk merendahkan hati dan mengakui bahwa nilai2 etika anda adalah nilai2 dari anda sendiri dan bukan hukum alam. Ateisme memberikan anda baik kebebasan dan tanggung jawab untuk menentukan perbuatan mana yg etis/ tidak etis bagi diri anda sendiri. Bagaimana dan apakah anda memenuhi tanggung jawab tsb dgn baik tergantung dari diri anda sendiri.

Sebagian besar teis sebenarnya menciptakan nilai2 etikanya sendiri, seperti juga ateis. Kemudian teis memilih2 secara selektif ayat dari kitab suci untuk mendukung mereka. Hanya golongan fundamentalis yg mengambil semuanya yg ada di dalam buku suci mereka secara serius, dan orang2 tsb biasanya tidak bisa kita sebut etis.

Menurut Sam Harris " Moralitas kita, makna yang kita temukan dalam hidup, adalah sebuah pengalaman langsung yang saya yakin memiliki, dengan memakai istilah bermuatan, sebuah komponen spiritual. Saya percaya adalah mungkin untuk secara radikal merubah pengalaman kita tentang dunia untuk ssuatu yang lebih baik, lebih mirip dengan seseorang seperti Yesus, atau seseorang seperti Budha, saksikan. Ada kebijaksanaan dalam spiritualitas kita, dalam sastra2 kontemplatif, dan saya cukup tertarik dalam memahaminya. Saya rasa meditasi dan doa atau sholat tersebut mempengaruhi diri kita untuk menjadi lebih baik. Pertanyaannya adalah, apakah beralasan untuk percaya pada basis transformasi2 tersebut?"

Menurut Richard Dawkins "Bolehkah saya memulai dengan analogi? Sebagian besar orang percaya bahwa nafsu seksual berkaitan dengan gen2 yang berpropagasi. Kopulasi di alam cenderung menuju reproduksi dan berarti penyalinan genetic. Namun dalam masyarakat modern, sebagian besar kopulasi melibatkan kontrasepsi, dirancangdengan teliti untuk mencegah reproduksi. Altruisme mungkin memiliki asal seperti nafsu tersebut. Dalam masa lalu prasejarah kita, kita mungkin hidup dalam keluarga2 yang meluas, dikelilingi oleh keinginan naluriah untuk menolong karena mereka memiliki gen kita. Sekarang kita hidup di kota2 besar. Kita bukan diantara masyarakat yang murni atau masyarakat yang selalu akan meresiprokasi perbuatan baik kita. Itu tidak perduli. Sama seperti mereka yang berhubungan seks dengan kontrasepsi tidak sadar didorong oleh keinginan memiliki bayi, tidak pula terlintas dalam pikiran kita bahwa kita berbuat baik dengan sesama karena kita dimasa lalu tinggal bersama dalam keluarga yang kecil. Namujn bagi saya ini adalah penjelasan yang sangat baik untuk darimana moralitas, perbuatan baik kita berasal."

Hasil Statistik

1. M.Hauser, P.Singer: "Morality without religion".
membandingkan 3 kasus untuk menilai moralitas org
http://www.utilitarian.net/singer/by/200601--.htm

2. Sam Harris: "Letter to Christian Nation"
membandingkan red-state dan blue-state di amerika (negara bagian yg dikuasai oleh partai republican (kristen konservatif) dan demokrat)
dari 25 kota dengan tingkat kejahatan terendah 62% di blue (democrat) dan 38 di red (republican).
dari 25 kota paling berbahaya 76% di red dan 24% di blue.

3. Gregory S Paul: "Journal of religion & society (2005)"
secara sistematis membandingkan 17 negara berkembang, dan mencapai kesimpulan bahwa: "tingkat kepercayaan yg tinggi dan penyembahan terhadap pencipta berkorelasi dengan tingginya pembunuhan, kematian pd usia muda, infeksi STD, kehamilan remaja, dan aborsi".
Detilnya (metode, hasil, dsb) bisa dibaca di: http://moses.creighton.edu/JRS/2005/2005-11.html

4. Perbandingan prosentase Kristen dan Ateis di penjara. Lihat: http://www.holysmoke.org/icr-pri.htm

Topik yang berkaitan:

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License