Ateisme dan kecerdasan

Richard Dawkins berargumen dalam bukunya The God Delusion bahwa tidaklah cerdas orang yang percaya tuhan itu ada. Akademisi RICHARD LYNN, JOHN HARVEY & HELMUTH NYBORG memutuskan untuk melihat bukti klaim ini – apakah ada hubungan negatif antara kecerdasan dan keyakinan beragama.
Riset mereka menunjukkan pada kita adanya hubungan negative di AS dan Eropa, dan dalam sebuah sample dari 137 negara menunjukkan korelasi antara IQ nasional dan ketidak yakinan pada adanya tuhan itu signifikan.

Kecerdasan dan keyakinan agama pada Negara
Kita pada awalnya tidak mengatakan adanya hubungan negative antara kecerdasan dan keyakinan agama dalam suatu Negara. Fenomena ini pertama kali diamati tahun 1920 an dan 1950 an oleh para peneliti yang menyimpulkan bahwa "mahasiswa yang cerdas cenderung tidak menerima keyakinan ortodoks, dan cenderung tidak menunjukkan perilaku yang pro-agama". Bukti-bukti datang dari empat sumber kami.
(1) Korelasi negative antara kecerdasan dan keyakinan agama.
Sebuah pandangan terbaru dalam literature riset melihat pada 43 studi, dimana 39 diantaranya menunjukkan korelasi negative. Dalam studi lebih baru lagi di Amerika Serikat, anak-anak ditanya "Seberapa beragamakah anda?". Respon di kode berdasarkan "tidak beragama sama sekali", "sedikit beragama" "beragama moderat" dan "sangat beragama". Hasilnya menunjukkan kalau kelompok "tidak beragama sama sekali" memiliki tingkat IQ rata-rata tertinggi (103,09), dilanjutkan dalam urutan turun pada tiga kelompok lain (IQ = 99,34, 98,28, 97,14).
(2) Orang beragama memiliki persentase lebih rendah dalam elit berkecerdasan tinggi disbanding populasi umum
Dalam studi tahun 1990an pada anggota dari American National Academy of Sciences menunjukkan kalau 7% percaya adanya tuhan, dibandingkan 90% dalam populasi umum. Di Inggris, telah dilaporkan kalau 3,3% saja anggota Royal Society yang percaya tuhan ada, sementara 78.8 % tidak percaya. Disaat yang sama poling menunjukkan 68,5% masyarakat umum percaya tuhan itu ada.
(3) Menurunnya agama pada anak dan remaja
Juga konsisten dengan korelasi antara kecerdasan dan keyakinan agama adalah penurunan keyakinan agama pada saat remaja dan dewasa seiring peningkatan kemampuan kognitif.
Ini telah ditemukan di Amerika Serikat untuk jangkauan usia 12-18 tahun. Pada usia 12 tahun 94% memberikan pernyataan "Saya percaya tuhan itu ada", sementara pada usia 18 tahun, persentase ini jatuh menjadi 78%. Serupa pula di Inggris, penurunan keyakinan agama pada jangkauan usia 5-16 tahun telah diungkap.
(4) Penurunan keyakinan beragama pada arah abad ke 20 saat kecerdasan populasi meningkat
Terdapat bukti adanya penurunan keyakinan beragama pada 150 tahun terakhir atau lebih, sementara di saat yang sama kecerdasan populasi meningkat. Penurunan keyakinan agama telah ditunjukkan secara statistic oleh kehadiran di gereja dan keyakinan pada tuhan dalam jajak pendapat. Sebagai contoh, di Inggris sendiri dilaporkan kehadiran mingguan jemaah di gereja dalam sensus, menurun 40% dari populasi tahun 1850, 35% tahun 1900, 20% tahun 1950 dan 10% tahun 1990.
Di Amerika Serikat, mahasiswa di Bryn Mawr ditanyakan keyakinan mereka pada keberadaan tuhan yang bisa menjawab doa. Respon positif diberikan oleh 42% mahasiswa tahun 1894, 31% tahun 1933, dan 19% tahun 1968. Mahasiswa di University of Michigan diundang untuk memberikan sebuah pilihan agama. Tahun 1896, 86% mahasiswa mengikutinya, tahun 1930 jumlahnya turun menjadi 70% dan tahun 1968 menjadi 44% saja.
Kecerdasan dan keyakinan agama antar bangsa
Untuk menyelidiki hubungan antara kecerdasan dan keyakinan agama antara Negara kita mesti mengambil IQ Negara yang diberikan oleh Lynn and Vanhanen (2006) dalam bukunya IQ and Global Inequality.
Data untuk IQ bangsa dan persentase ketidakyakinan pada tuhan untuk 137 negara menunjukkan hanya 17% Negara (23 dari 137) memiliki perbandingan populasi masyarakat yang tidak percaya tuhan ada di atas 20%. Ini semuanya terdapat di Negara maju.

Hipotesis saat kami memulai studi ini adalah adanya hubungan negative antara IQ dan keyakinan agama. Kami telah meninjau bukti-bukti untuk hubungan negative ini pada individual di Amerika Serikat dan telah menambahkan data baru yang membenarkan ini.kami memperluas hipotesis ini pada pemeriksaan apakah korelasi negative antara IQ dan keyakinan agama ada antara Negara. Memakai data 137 negara kami menemukan korelasi 0,60 antara IQ nasional dan ketidak yakinan adanya tuhan. Jadi kami menyimpulkan kalau korelasi negative antara IQ dan keyakinan agama yang telah ditemukan dalam beragam studi dalam Negara tertentu juga ada antar Negara.
Kesimpulan ini memunculkan pertanyaan mengapa harus ada korelasi negative antara IQ dan keyakinan pada tuhan. Banyak rasionalis tidak ragu menerima argument yang diajukan oleh Frazer dalam The Golden Bough bahwa peradaban mengembangkan "pikiran yang lebih bersih yang menolak teori agama pada alam karena tidak cukup … agama, dipandang sebagai penjelasan alam, digantikan olehsains" (pikiran yang lebih bersih yang dimaksud Frazer adalah pikiran yang lebih cerdas).
Yang lain menganggap secara eksplisit maupun eksplisit orang yang lebih cerdas lebih berani mempertanyakan dogma agama yang irasional dan tidak terbukti. Sebagai contoh, sekitar 60 tahun lalu, Kuhlen dan Arnold mengajukan kalau "kedewasaan intelektual yang lebih besar dapat diduga menaikkan skeptisme pada masalah agama". Inglehart dan Welzel menyarankan kalau di dunia pra industri, manusia punya sedikit saja kendali pada alam, jadi "mereka mencari cara mengkompensasi kekurangan mereka dalam kendali fisik dengan menganggap adanya kekuatan metafisik yang mengendalikan dunia: penyembahan terlihat sebagai cara untuk mempengaruhi nasib seseorang, dan lebih mudah menerima ketidakmampuan seseorang bila ia tahu hasilnya ada di tangan mahluk yang maha kuasa yang pemurah yang dapat dimenangkan hatinya lewat aturan ibadah yang ketat dan dapat diduga…satu alasan untuk menurunnya keyakinan agama tradisional dalam masyarakat industri adalah bahwa suatu kendali teknologis pada alam mengurangi kebutuhan untuk bertopang pada kekuatan supernatural."
Ada beberapa pengecualian pada hubungan yang secara linear antara IQ dan ketidakyakinan pada tuhan sepanjang Negara. Dua yang paling tidak sesuai adalah Cuba dan Vietnam, yang memiliki persentase ketidak yakinan pada tuhan lebih tinggi (40% dan 81%, berurutan) maka akan di duga dari IQ mereka 85 dan 94 (berurutan). Ini sepertinya disebabkan karena Negara ini bekas komunis dimana adanya propaganda ateistik yang kuat melawan keyakinan agama. Sebagai tambahan, sering disarankan kalau komunisme sendiri adalah sebuah agama dimana Das Capital adalah kitab sucinya, Lenin sebagai sang messiah (utusan/nabi) yang datang membawakan surga ke bumi, sementara Stalin, Mao, Castro dan lainnya adalah para rasul yang menyebar ke berbagai Negara. Pada pandangan ini, dapat diargumenkan kalau kebanyakan penduduk Cuba dan Vietnam memeluk sebuah varian dari keyakinan agama yang lebih konvensional pada tuhan.
Amerika serikat juga anomaly dengan persentase masyarakat yang tidak percaya tuhan ada itu rendah (10,5%) untuk Negara IQ tinggi. Persentase orang yang tidak yakin pada tuhan di Amerika serikat jauh lebih rendah dari Eropa barat laut dan tengah (contohnya Belgia, 43%; Belanda, 42%; Denmark, 48%; Perancis, 44%; Inggris, 41.5%). Salah satu factor yang dapat memberikan penjelasan yang mungkin adalah bahwa banyak orang amerika adalah katolik, dan persentase orang beriman pada Negara katolik di eropa pada umumnya lebih tinggi dari Negara protestan (contohnya Italia, 6%; Irlandia, 5%; Polandia, 3%; Portugal, 4%; Spanyol, 15%). Kontribusi lain yang mungkin adalah imigrasi yang terus berlangsung dari populasi yang memegang keyakinan adanya tuhan. Factor lain yang mungkin adalah jumlah emigrant dari eropa yang datang ke Amerika Serikat karena keyakinan agama mereka yang kuat, sehingga mungkin keyakinan ini telah ditransmisikan sebagai sebuah warisan budaya dan bahkan genetic pada generasi selanjutnya.
Bacaan lanjut
Argyle, M. (1958). Religious Behaviour. London: Routledge and Kegan Paul.
Argyle, M. and Beit-Hallahmi, B. (1975). The Social Psychology of Religion. London: Routledge and Kegan Paul.
Beit-Hallahmi, B. and Argyle, M. (1997). The Psychology of Religious
Belief and Experience, London, Routledge.
Bell, P. (2002). Would you believe it? Mensa Magazine, Feb., 12-13.
Dawkins, R. (2006). The God Delusion. London: Bantam Press.
Francis, L.J. (1989). Measuring attitudes towards Christianity during childhood and adolescence. Personality & Individual Differences, 10, 695-698.
Frazer, J. G. (1922). The Golden Bough. London: Macmillan.
Giddens, A. (1997). Sociology. Cambridge, UK: Polity Press.
Gilliland, A.R. (1940). The attitude of college students towards God and church. Journal of Social Psychology, 11, 11-18.
Goldman, R.J. (1965). Do we want our children taught about God? New Society, 27 May.
Heath, D.H. (1969). Secularization and maturity of religious belief. Journal of Religion and Health, 8, 335-358.
Hoge, D.R. (1974). Commitment on Campus: Changes in Religion and Values over Five Decades. Philadelphia: Westminster Press.
Howells, T.H. (1928). A comparative study of those who accept as against those who reject religious authority. University of Iowa Studies of Character, 2, No.3.
Inglehart, R. and Welzel, C. (2005). Modernization, Cultural Change, and Democracy: The Human Development Sequence. Cambridge: Cambridge University Press, 2005).
Kanazawa, S. (2007). De gustibus est disputandum 11: why liberals and atheists are more intelligent. (Unpublished).
Kuhlen, R.G. & Arnold, M. (1944). Age differences in religious beliefs and problems during adolescence. Journal of Genetic Psychology, 65, 291-300.
Koenig, L.B., McGrue, M., Krueger, R.F. and Bouchard, T.J. (2005). Genetic and environmental influences on religiousness: Findings for retrospective and current religiousness ratings. Journal of Personality, 73, 471-488.
Larsen, E.L. and Witham, L. (1998). Leading scientists still reject God. Nature, 394, 313.
Leuba, J.A. (1921). The Belief in God and Immortality. Chicago: Open Court Publishers.
Newcomb, T.M. and Svehla, G. (1937). Intra-family relationships in attitude. Sociometry, 1, 180-205.
Rindermann, H. (2007). The g-factor of international cognitive ability comparisons: The homogeneity of results in PISA, TIMMS, PIRLS and IQ-tests across nations. European Journal of Personality, 21, 667-706.
Roe, A. (1965). The Psychology of Occupations. New York: Wiley.
Sinclair, R.D. (1928). A comparative study of those who report the experience of the divine presence with those who do not. University of Iowa Studies of Character, 2, No.3.
Turner, E.B. (1980). General cognitive ability and religious attitudes in two school systems. British Journal of Religious Education, 2, 136-141.
Verhage, F. (1964). Intelligence and religious persuasion. Nederlands tijdschrift voor de psychologie en haar grensgebieden, 19, 247-54.

Zuckerman, P. (2007). Atheism: Contemporary Numbers and Patterns. In M. Martin (Ed) The Cambridge Companion to Atheism. Cambridge: Cambridge University Press.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License