Astronomi

Astronomi … adalah sains yang menyajikan kepada kita bukti kesia-siaan terbesar di alam.
— Richard A. Procter, Our Place Among Infinities, p. 40.
Sekarang kita tahu bukan hanya ada banyak sekali ketidak teraturan di langit – kehancuran dan kerusakan terjadi berulangkali – namun evolusi memberik ita penjelasan yang sepenuhnya alami kenapa ada keteraturan demikian. Tidak ada astronom terkenal yang menemukan jejak “jemari Tuhan” di langit; dan astronom adalah mereka yang paling tahu tentang hal ini.
JOSEPH McCABE, The Story of Religious Controversy, p. 86 .

Astronomi berasal dari bahasa yunani, astron yang artinya bintang dan nomos yang artinya hukum. Astronomi adalah studi ilmiah benda langit (seperti bintang, planet, komet dan galaksi) serta fenomena yang muncul di luar atmosfer bumi (seperti radiasi latar belakang kosmik). Ia membahas evolusi, fisika, kimia, meteorologi dan pergerakan benda langit, begitu juga pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Astronomi adalah salah satu sains tertua. Astronom peradaban kuno melakukan pengamatan metodis pada langit malam, dan artifak astronomis telah ditemukan dari masa purba. Walau demikian, penemuan teleskop diperlukan sebelum astronomi mampu berkembang menjadi sains modern. Secara sejarah, astronomi telah memuat beragam disiplin seperti astrometri, navigasi langit, astronomi pengamatan, pembuatan kalender, dan bahkan astrologi, namun astronomi profesional masa kini dipandang sinonim dengan astrofisika. Sejak abad ke 20, bidang astronomi profesional terpisah menjadi cabang teoritis dan pengamatan. Astronomi pengamatan berfokus pada mendapatkan dan menganalisa data, terutama memakai prinsip-prinsip dasar fisika. Astronomi teoritis berorientasi pada perkembangan model komputer atau analitis untuk menjelaskan benda dan fenomena astronomis. Kedua bidang ini saling membantu, dengan astronomi teoritis mencoba menjelaskan hasil pengamatan, dan pengamatan dipakai untuk menguji kebenaran hasil teoritis.

Astronomi amatir

Astronom amatir telah menyumbang banyak penemuan astronomis penting, dan astronomi adalah satu dari sedikit sains dimana para amatir masih dapat berperan aktif, khususnya dalam penemuan dan pengamatan fenomena transien.
Astronom amatir mengamati beragam benda langit dan fenomena yang kadang dilengkapi peralatan yang mereka buat sendiri. Target umum astronom amatir adalah bulan, planet, bintang, komet, hujan meteori dan beragam benda langit dalam seperti kluster bintang, galaksi dan nebula. Cabang astronomi amatir, yaitu astrofotografi amatir, melibatkan pengambilan foto langit malam. Banyak amatir senang mengkhususkan dalam pengamatan benda atau tipe benda tertentu, atau tipe kejadian yang menarik bagi mereka.
Sebagian besar amatir bekerja pada panjang gelombang tampak, namun sedikit minoritas melakukan percobaan dengan panjang gelombang diluar spektrum tampak. Ini termasuklah pemakaian saringan inframerah pada teleskop biasa, dan juga memakai teleskop radio. Perintis astronomi radio amatir adalah Karl Jansky yang mulai mengamati langit pada panjang gelombang radio tahun 1930an. Sejumlah astronom amatir memakai teleskop buatan sendiri atau memakai teleskop radio yang awalnya dibuat untuk riset astronomi namun kini tersedia buat para amatir (misalnya Teleskop One-Mile).

Sejarah astronomi

Astronomi lama atau purba jangan sampai disalah artikan dengan astrologi, sistem keyakinan yang mengklaim kalau urusan manusia terkait dengan posisi benda langit. Walau kedua bidang memiliki asal yang sama dan sebagian metodenya sama (yaitu pemakaian ephemerides), keduanya berbeda.
Beberapa penemuan astronomis penting dilakukan bahkan sebelum ditemukan teleskop. Sebagai contoh, kelengkungan ekliptik diestimasi oleh astronom Cina tahun 1000 SM. Astronom Chaldea menemukan kalau gerhana bulan terjadi secara berkala dalam siklus yang diberi nama saros. Di abad kedua sebelum masehi, ukuran dan jarak bulan ke bumi telah dihitung dengan teliti oleh Hipparchus.
Pengukuran yang hati-hati dari posisi planet telah memberikan pemahaman yang kokoh mengenai perturbasi gravitasional, dan kemampuan menentukan posisi masa lalu dan masa depan dari planet dengan ketelitian tinggi, sebuah bidang yang disebut mekanika langit. Pelacakan benda-benda dekat bumi yang lebih baru akan memungkinkan peramalan perjumpaan dekat, dan potensi tabrakan, dengan bumi.
Satu-satunya Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini (2008) yang memiliki Program studi astronomi adalah ITB. Riset astronomi di ITB dibagi menjadi tiga sub-KK, yaitu Galaksi dan Kosmologi, Fisika bintang dan Tata Surya.

Astronom dan Tuhan

Dalam sebuah paper yang muncul dalam edisi tanggal 23 Juli 1998 jurnal ilmiah terkemuka Nature karya Edward J. Larson dan Larry Witham: "Leading Scientists Still Reject God." Nature, 1998; 394, 313.], peneliti memberikan kuosioner pada 517 anggota National Academy of Sciences AS dalam bidang sains biologi dan fisik ( yang dimaksud bidang fisika adalah matematika, fisika dan astronomi). Yang tidak percaya tuhan ada dan tidak percaya kalau keabadian jiwa ada pada para ilmuan biologis NAS adalah 65.2% dan 69.0%, dan pada ilmuan fisik adalah 79.0% dan 76.3%. Sisanya adalah agnostic pada kedua masalah, dan sedikit sekali orang beriman. Ditemukan pula persentase keyakinan tertinggi ada pada matematikawan NAS (14.3% percaya tuhan ada, 15.0% percaya keabadian jiwa ada). Ilmuan biologis adalah yang paling ateis (hanya 5.5% percaya tuhan ada, 7.1% percaya keabadian jiwa ada), dan ahli fisika dan astronom (7.5% percaya tuhan ada, 7.5% percaya keabadian jiwa).

Saat, kurang dari dua abad lalu, Laplace yang terkenal ditanya oleh Kaisar Napoleon mengapa Tuhan tidak disebutkan olehnya dalam karya besarnya, "Mechanique Celeste," dan sang astronom ini menjawab. “Tuan, saya tidak perlu hipotesis itu,” ia mengatakan kebenaran yang sepenuhnya didukung oleh sains di masanya. Astronomi sekarang tidak pula membutuhkan hipotesis Tuhan seperti halnya di masa Laplace: fakta kalau riset kosmologi sepenuhnya memusnahkan kejayaan terakhir penafsiran teistik. Kita hidup, dibuktikan oleh astronomi, dalam alam semesta tanpa tuhan. [“Anda mestinya lebih siap daripada orang lain,” kata Napoleon pada LAplace, “untuk mengakui kalau Tuhan ada, bagi anda, lebih dari siapapun, karena telah melihat keajaiban penciptaan.” Tentu saja kalau Napoleon tidak sadar penyebab ateisnya Laplace karena Laplace telah melihat begitu banyak ke langit sehingga menjadi ateis. (Lihat Emil Ludwig's Napoleon, p. 602.)]
Bagi individual yang terlibat banyak dalam memikirkan bintang, dunia diatasnya menyajikan gambaran sempurna dari hubungan yang harmoni. Ia memegang kunci ke keluasan birunya langit yang bergelimang kerlap-kerlip dunia yang jauh. Ia melihat pada presesi keberadaan planet-planet, terbit dan tenggelamnya matahari setiap hari! Keindahan keteraturan langit, keteraturan musim, fakta kalau planet kita tidak bertabrakan, atau kalau bulan kita tidak jatuh ke bumi atau bumi kita ke matahari, membuat mereka seolah menunjukkan keberadaan Tuhan; kehangatan dan cahaya matahari, ketelitian yang membuat bumi berevolusi tepat waktu, pergantian siang dan malam, semua cenderung menunjukkan padanya keteraturan dan harmoni dalam asumsi teistiknya. Bagi astronom, faktanya adalah sebaliknya: makna dan implikasinya jauh lebih dalam daripada indikasi permukaannya, dan ia melihat sebuah alam semesta tanpa tujuan tanpa ada tanda-tanda panduan kecerdasan. Ini karena tidak ada “pengamat dan pencipta” yang mengawasinya saat ia meneliti bintang-bintang. Baginya, telah cukup fakta dalam astronomi untuk membuyarkan teisme.
Sebagian besar kebingungan masyarakat kita dalam sains berada pada kontemplasi terhadap fakta. Sebuah kisah mengatakan seorang professor astronomi yang telah menyimpulkan dalam kuliahnya mengenai system planeter, meminta pertanyaan dari hadirin. Seorang mahasiswa berdiri dan bertanya : “Saya tidak mengerti, anda telah menjelaskan semuanya, bagaimana astronom menghitung berat planet dan mengukur jaraknya dari matahari, namun apa yang mengganggu saya adalah, bagaimana mereka dapat menemukan nama planet-planet itu?”
Pola pikir yang sama tampak pada orang biasa yang bertanya, “Siapa yang membuat bintang?” Sangat jelas kalau pertanyaan yang semestinya diajukan oleh orang yang memahami astronomi bukan “Siapa yang membuat bintang?” tapi “Apa yang membuat bintang?”. Astronom punya jawaban yang jelas. Mereka tahu bukan hanya “Apa” yang membuat bintang, tapi “Apa saja” yang menentukan pergerakan mereka dalam ruang angkasa. Tidak ada “Siapa” atau kepribadian ilahiah terlibat dalam kegiatan bintang.
Menanyakan seorang astronom, “Siapa yang membuat bintang?” sama halnya dengan bertanya pada seorang fisikawan, “Siapa yang membuat debu yang menempel pada etalase counter ponsel saya?” Jawabannya bukanlah Tuhan sama halnya jawabannya bukanlah Spiderman. Dalam lingkungan terpelajar, masanya telah lewat bagi personalitas tak terlihat dan mahluk tak berujud yang dianggap ada hubungannya dengan peristiwa alam. Kita telah meninggalkan masa kanak-kanak dalam tahap perkembangan mental kita.
Astronom cukup puas kalau bintang dan planet bergerak dengan sendirinya, atau tanpa stimulus luar dari karakter sadar. Pengaruh teistik dan spiritualistiknya dari sains yang telah memasukkan Tuhan dalam studinya, padahal ini tidak membantu sama sekali dalam kemajuan astronomi.
Adalah sangat penting dan mendasar dalam memahami astronomi agar isu ini dipahami. Alam semesta – bintang, meteor, tiram dan sel otak – tersusun dari materi. Filosof Amerika Santayana benar dalam mengatakan kalau materi mesti disebut sesuai dengan namanya yang benar, seperti kita menyebut Indra, Indra, dan Joko, Joko – dan juga menyebut dirinya sendiri “seorang materialis yang memutuskannya sendiri.”
Astronomi tidak akan pernah mencapai puncak pencapaiannya bila ia mendengarkan apa kata metafisika. Bintang adalah benda fisik: mimpi dunia terbuat dari mimpi; dan hanya untuk para visioner. Bagi ilmuan, bintang adalah benda nyata yang bergerak di langit.

Pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab oleh astronomi antara lain

1. Seberapa tua usia alam semesta?
2. Seberapa besar alam semesta?
3. Bagaimana proses terjadinya big bang?
4. Apa itu dark matter?
5. Bagaimana galaksi terbentuk?
6. Seberapa banyak lubang hitam yang ada?
7. Ada berapa banyak planet di tata surya?
8. Apakah kita sendirian?
9. Bagaimana nasib jagad raya nantinya?
10. Apa yang akan terjadi pada kehidupan di bumi?
11. Apa itu energi gelap?
12. Apakah letusan sinar gamma itu?
13. Akankah asteroid memusnahkan kehidupan di bumi?
14. Apakah air mesti ada untuk adanya kehidupan?
15. Apakah ada kehidupan di mars, titan atau europe
6. kenapa mars menjadi kering?
17. Dari mana bulan datang?
18. Dari mana meteorit datang?
19. dapatkah kehidupan lepas dari lubang hitam?
20. Mana yang muncul lebih dulu, bintang, galaksi atau lubang hitam?
21. Dari mana sinar kosmik datang?
22. Apa hubungan antara komet dan asteroid?
23. Ada berapa banyak planet di luar tata surya?
24. berapa banyak asteroid yang terkunci di sabuk kuiper?
25. Apakah teori string benar?
26. Apa yang menyebabkan gelombang gravitasi?
27. Apa yang terjadi bila dua lubang hitam bertabrakan?
28. Kenapa ada anti materi?
29. Apakah setiap galaksi memiliki lubang hitam di pusatnya?
30. Apakah ada planet lain yang seperti bumi?
31. Apakah teori inflasi benar?
32. Haruskah Pluto dipandang sebagai planet?
33. Kenapa Venus memiliki sumbu terbalik?
34. Bagaimana cara menemukan kehidupan di alam semesta?
35. Apa yang menyebabkan cincin Saturnus tercipta?
36. Dapatkah sebuah objek yang gelap dan jauh mampu mengakhiri kehidupan di bumi?
37. Apakah kita hidup di dalam multijagad?
38. Bagaimana Galaksi Bima Sakti tercipta?
39. Bagaimana tata surya tercipta?
40. apa yang terjadi saat dua galaksi bertabrakan?
41. Bagaimana bintang besar meledak?
42. Apa yang akan terjadi pada matahari kelak?
43. Apakah komet membawa kehidupan ke bumi?
44. Bagaimana quasar tercipta?
45. Akankah Bima sakti menyatu dengan galaksi lain?
46. Berapa banyak bintang cebol coklat eksis?
47. Apa yang terjadi di pusat kluster galaksi?
48. Apakah jupiter sebuah bintang yang gagal?
49. Berapa galaksi yang ada di grup lokal?
50. Apakah neutrino memiliki kunci rahasia jagad raya?

Referensi
1. Albrecht Unsöld; Bodo Baschek, W.D. Brewer (translator) (2001). The New Cosmos: An Introduction to Astronomy and Astrophysics. Berlin, New York: Springer. ISBN 3-540-67877-8.
2. Eclipses and the Saros NASA. http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/SEsaros/SEsaros.html
3. Hipparchus of Rhodes School of Mathematics and Statistics, University of St Andrews, Scotland. . http://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/%7Ehistory/Biographies/Hipparchus.html
4. Calvert, James B. (2003-03-28). "Celestial Mechanics". University of Denver. http://www.du.edu/%7Ejcalvert/phys/orbits.htm
5. The Americal Meteor Society".http://www.amsmeteors.org/
6. Lodriguss, Jerry. "Catching the Light: Astrophotography". http://www.astropix.com/
7. F. Ghigo (2006-02-07). "Karl Jansky and the Discovery of Cosmic Radio Waves". National Radio Astronomy Observatory. http://www.nrao.edu/whatisra/hist_jansky.shtml
8. "Cambridge Amateur Radio Astronomers". http://www.users.globalnet.co.uk/%7Earcus/cara/
9. American Association of Variable Star Observers". AAVSO. http://www.aavso.org/
10. 23 July 1998 , Nature . Edward J. Larson and Larry Witham: "Leading Scientists Still Reject God." Nature, 1998; 394,
11. "Einstein Rejects Curved Space," Literary Digest, May," 1932
12. Richard A. Procter, Our Place Among Infinities, p. 40.
13. JOSEPH McCABE, The Story of Religious Controversy, p. 86 . http://www.infidels.org/library/historical/joseph_mccabe/religious_controversy/
14. Emil Ludwig's Napoleon, p. 602
15. The Universe Around Us

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License