Asal usul Tuhan

Douglas Adams pada Digital Biota, 2 September 1998 menulis:

Darimana datangnya ide Tuhan? Well, Saya pikir kita memiliki cara pandang yang amat aneh tentang banyak hal, tapi mari kita coba melihat darimana asalnya cara pandang kita. Bayangkan orang purba. Orang purba adalah, seperti semua makhluk, makhluk yang berevolusi dan ia menemukan dirinya di suatu dunia yang mulai ia kuasai. Ia mulai menjadi pembuat-alat, menguasai lingkungannya dengan alat yang dibuatnya dan ia membuat alat-alat, untuk mengubah lingkungannya. Sebagai contoh bagaimana manusia beroperasi bila dibandingkan dengan binatang lain, renungkan spesiasi, yang, seperti kita tahu, akan muncul bila sekelompok kecil binatang terpisah dari kelompoknya dikarenakan suatu perubahan geologi, tekanan populasi, kelangkaan pangan atau apapun dan menemukan dirinya di suatu lingkungan baru dimana mungkin sesuatu yang berbeda sedang berlangsung. Ambil contoh yang sangat sederhana, mungkin sekelompok binatang tiba-tiba menemukan diri mereka di suatu tempat dimana cuacanya lebih dingin. Kita tahu bahwa dalam waktu beberapa generasi, gen-gen yang menghasilkan kulit yang lebih tebal akan lebih sering muncul dan akhirnya kita akan menemukan binatang-binatang tersebut memiliki kulit yang lebih tebal.

Manusia purba, yang merupakan pembuat alat, tidak perlu melakukan ini. Ia dapat menempati habitat-habitat yang amat sangat beragam di bumi, dari tundra sampai Gurun Gobi. Ia bahkan bisa hidup di New York!. Dan alasannya adalah ketika ia tiba di lingkungan baru, ia tak perlu menunggu beberapa generasi. Bila ia tiba di lingkungan yang lebih dingin dan ia melihat binatang yang memiliki gen yang menghasilkan bulu tebal, ia akan berkata “Ah, saya ambil saja kulit binatang itu”. Alat telah membuat kita mampu berpikir secara niat, untuk membuat benda-benda dan untuk melakukan hal-hal untuk menciptakan sebuah dunia yang lebih cocok dengan kita. Sekarang bayangkan seorang manusia purba yang sedang mensurvei lingkungannya setelah seharian bekerja membuat alat. Ia melihat sekeliling dan ia melihat sebuah dunia yang sangat membahagiakannya. Dibelakangnya ada gunung dengan gua-gua. Gunung bagus karena ia dapat lari dan bersembunyi di gua bila hujan turun dan juga beruang tidak dapat menjangkaunya. Di depannya ada hutan. Di dalam hutan ada kacang dan buah berry dan makanan lezat. Ada sungai di dekat situ, yang berisi air. Air bisa diminum, dan ia bisa mengapungkan perahu di atasnya dan melakukan banyak hal dengannya. Ini dia saudara sepupunya Ug datang dan ia berhasil memburu seekor mammoth. Mammoth bagus, dagingnya bisa dimakan, kulitnya bisa dipakai sebagai baju, tulangnya bisa dibuat menjadi senjata untuk berburu mammoth lain. Ia berkesimpulan ini dunia yang sangat bagus, fantastis. Tapi manusia purba kita punya waktu untuk berpikir dan ia pun berpikir, ‘well, dunia yang sangat menarik yang saya tinggali ini’ lalu ia pun bertanya pada diri sendiri suatu pertanyaan yang sangat berbahaya, suatu pertanyaan yang sama sekali tidak berarti dan menyesatkan, tetapi pertanyaan seperti itu muncul karena memang seperti itulah sifat dari manusia, sifat makhluk yang berevolusi menjadi seperti itu dan sifat makhluk yang berhasil hidup karena ia berpikir dengan cara tertentu.

Manusia si pembuat alat melihat dunia dan berkata ‘Jadi siapa yang membuat dunia ini?’ ‘Siapa pembuatnya?’ – Anda dapat melihat kenapa pertanyaan tersebut menyesatkan. Manusia purba berpikir, ‘Well, karena hanya ada satu jenis makhluk yang saya tahu yang mampu membuat benda-benda, siapapun yang membuat dunia ini pastilah lebih besar, lebih kuat dan pastilah tak terlihat, salah satu dari kaumku dan karena aku yang lebih kuat dan mengerjakan semua pekerjaan, si pencipta ini mungkin laki-laki’. Dan kitapun menciptakan konsep Tuhan. Lalu, karena ketika kita menciptakan benda-benda dengan tujuan memakainya untuk sesuatu, manusia purba bertanya pada dirinya sendiri. ‘Bila Ia membuatnya, untuk apa dia membuat dunia ini?’ Sekarang jebakan sesungguhnya bekerja, karena manusia purba berpikir, ‘Dunia ini sangat cocok untuk saya. Disini tersedia semua hal yang mendukung saya dan memberi makan saya dan menjaga saya. Ya, dunia ini sangat cocok untuk saya’ dan ia pun tiba pada kesimpulan bahwa siapapun yang membuatnya, membuat dunia ini untuk dia.

Ini seperti bila anda membayangkan seekor anjing pudel yang bangun di suatu pagi dan berpikir. ‘Ini dunia yang sangat menarik tempat saya bangun, lubang yang sangat menarik tempat saya berdiri ini sangat cocok dengan ukuran tubuh saya, bukan? Bahkan, teramat cocok dengan saya, pastilah dibuat khusus untuk saya!’ Ini merupakan pemikiran yang sangat kuat sehingga ketika matahari terbit dan udara memanas dan ketika, secara bertahap, anjing pudel itu makin mengecil, ia masih berpegang pada pemikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena dunia ini diciptakan khusus untuknya, jadi ketika ia tiba-tiba menghilang, ia pun terkejut. Saya pikir ini sesuatu yang harus kita waspadai.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License